
Zayan dan Okta sudah tahu siapa yang membantu Mikha selama ini. Namun, mereka dengan sengaja berpura-pura tidak tahu apapun. Mereka ingin mengikuti permainan yang sudah Mikha rencakan karena saat ini yang terpenting mengumpulkan semua bukti.
Keduanya tengah berbicara dengan serius di ruang tamu ketika Elnara datang sembari menyodorkan ponselnya. Terlihat isi pesan dari nomor asing.
"Dia neror El dan terus desak El biar Mas Zayan segera ambil keputusan." Lapor Elnara setelah mengambil kembali ponselnya.
"Untuk sementara biarkan dulu El, kita nggak punya cukup bukti untuk menjatuhkan dia." Okta bersuara lebih dulu sebelum Zayan sempat menjawab.
"Dia pasti merasa senang karena Mas Zayan nggak bisa berbuat apa-apa. Bukti yang dia punya cukup kuat, aku takut dia semakin berani nantinya."
"Saya sudah mempersiapkan semuanya, kamu jangan khawatir. Saya hanya perlu bukti CCTV orang yang mengantarkan saya ke hotel. Setalah bukti sudah ditangan semua akan selesai." Zayan berucap dengan sangat lembut hingga berhasil menenangkan kekhawatiran Elnara.
"Apa yang dibilang suami kamu benar, lebih baik kamu fokus sama kuliah. Kamu tenang saja, di kampus nggak akan ada yang berani ganggu karena Vika sudah mengatasi masalah." Okta menyahuti dengan tenang, tetapi terdengar jelas nada bangga saat menyebut Vika sudah mengatasi masalah.
"Oke, El akan berdoa agar bukti segera ditemukan. Mas Zayan jangan lupa istirahat yang cukup, jangan sampai jatuh sakit." Elnara dan Zayan saling tatap sebelum akhirnya tersenyum lembut.
Okta yang melihat hal itu tentu merasa kesal karena diabaikan. Bisa-bisanya mereka saling tatap penuh cinta, padahal jelas ada Okta yang jomblo di sini.
"Silahkan masuk kamar kalau nggak bisa menghargai jomblo di sini!" seru Okta dengan kesal yang sayangnya hanya disambut tawa ejekan dari Elnara
*
Setelah menghilang beberapa waktu, akhirnya Fian kembali muncul di depan Elnara. Pria itu terlihat lebih percaya diri dari terakhir kali Elnara lihat dan seperti alasan utama kepercayaan dirinnya adalah berita yang tengah beredar.
Fian dengan percaya diri mengajak Elnara untuk makan siang berdua. Hal yang sulit untuk ditolak oleh Elnara karena masih menganggap Fian sebagai sahabatnya. Setelah mendapat izin dari Zayan, akhirnya Elnara menyetujui untuk makan siang bersama dengan Fian di restoran langganan mereka.
"Maaf El, belakangan ini aku sibuk di kantor dan baru bisa punya waktu untuk ajak kamu makan siang bareng." Ujar Fian penuh sesal, tapi senyum diwajahnya tak kunjung menghilang.
"Nggak masalah, aku juga lagi sibuk belakangan ini." Elnara membalas dengan santai sembari menikmati makan siangnya.
"Aku sudah dengar berita yang beredar, maaf aku baru tahu dan nggak bisa menguatkan kamu." Fian berucap pelan, ucapan yang sukses membuat Elnara tidak berselera makan.
"Nggak ada masalah besar, itu cuma gosip yang nggak perlu dipikirkan. Kamu nggak perlu merasa bersalah, aku bahkan nggak mikirin masalah itu."
Fian terlihat tidak senang mendengar ucapan Elnara yang begitu santai. Sejujurnya, Fian ingin Elnara marah dan sakit hati pada suaminya agar dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan gadis itu.
"Kamu percaya sama suami kamu?" tanya Fian membuat Elnara semakin kesal.
"Tentu saja, suami istri harus saling menaruh kepercayaan."
"Kenapa aku harus percaya sama gosip murahan itu dibanding suamiku? Kamu mungkin nggak ngerti karena kamu belum berkeluarga, tapi Fian dalam hubungan suami istri kepercayaan itu penting!"
"Nggak akan ada asap kalau nggak ada api. Kamu lupa sama foto yang pernah aku berikan? Aku yakin mereka memang menjalin hubungan dan sekarang wanita itu hamil. Aku juga yakin orang yang menyebar berita itu pasti memiliki bukti yang kuat."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu, Fian? Kamu dan orang lain nggak kenal suamiku dengan baik, tapi kalian bisa seyakin itu kalau suamiku menghamili wanita lain."
"Aku ngomong ini karena peduli sama kamu El, aku nggak mau kamu sakit hati dan terus terluka karena suami kamu!"
"Sudah cukup, Fian! Aku rasa pembicaraan kita cukup sampai di sini. Terima kasih untuk makan siangnya dan aku mohon jangan temui aku kalau kamu masih ingin membahas masalah seperti ini lagi!"
Elnara berkata dengan tegas dan segera pergi meninggalkan Fian yang tidak bisa berbuat banyak. Fian merasa kesal karena Elnara seperti tidak terpengaruh, tapi dia yakin kata-katanya tadi pasti akan Elnara pikirkan.
Fian yakin sebentar Elnara akan goyah dan mulai meragukan suaminya. Saat itu terjadi, Fian akan menjadi orang pertama yang menjadi sandaran untuk Elnara. Dia tidak akan membuang kesempatan berharga itu nantinya.
To Be Continue ~~>>
Rekomendasi novel untuk kalian, yuk mampir dan dukung karyanya 😊
Judul : Dendam Cinta
Author : Lena Laiha
Blurb :
Shena Aulia Raina, seorang istri yang diceraikan oleh suaminya setelah seluruh harta kekayaan dikuasai oleh sang suami. Shena bersama putri satu-satunya diusir dari rumahnya sendiri.
Shena mencoba untuk ikhlas, namun karena Devan tidak membiayai pengobatan putrinya yang sakit, akhirnya putrinya meninggal dunia.
Shena yang sudah mengikhlaskan semuanya berubah menjadi benci dan ingin membalas dendam kepada Devan atas perlakuan Devan terhadapnya.
Shena mulai merubah penampilannya dan berusaha memikat Devan agar tertarik lagi kepadanya.
Apakah Shena akan berhasil membalas dendam?
Ataukah Shena berubah menjadi jatuh cinta lagi kepada Devan setelah berhasil mendapatkan Devan kembali?