
Setelah mendapat restu dari Windi tanpa membuang waktu lagi Okta dan Vika sepakat untuk segera melangsungkan pernikahan. Pernikahan kedua ini dilangsungkan sederhana dan hanya keluarga saja yang mereka undang.
Baik Okta dan Vika sama-sama ingin merasakan pernikahan yang lebih intim. Elnara serta Almira dengan sangat antusias mempersiapkan pernikahan Okta dan Vika. Mereka ingin yang terbaik untuk keduanya.
Seperti saat ini, Elnara tengah sibuk mempersiapkan berbagai hal. Bahkan wanita itu menitipkan Alzam pada Vika.
"Lo yakin nitip Alzam sama gue?" Vika bertanya heran.
"Yakin dong, sudah nikmati waktu lo sama baby Alzam. Tenang saja anak gue nggak rewel kok, nanti kalau persiapan nikahan lo sudah beres gue ambil lagi anak gue." Elnara menjawab dengan santai seolah tidak ada hal besar yang terjadi.
Vika tahu tujuan Elnara menitipkan anaknya, dalam hati Vika bersyukur Elnara bisa mengerti dirinya. Hari ini dia akan menghabiskan waktu bersama Alzam dan menikmati perannya sebagai Ibu meski hanya sebentar.
*
*
Vika sudah kembali ke rumahnya ditemani Okta. Pasangan itu memutuskan untuk menjaga Alzam seharian. Zayan yang melihat tindakan Elnara hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kamu yakin nggak apa-apa nitip Alzam sama mereka?" tanya Zayan saat hanya tinggal berdua dengan Elnara.
"Yakin Mas, biarkan mereka nebus rasa rindu mereka. Hitung-hitung mereka belajar jadi orang tua yang baik. Nah, karna Alzam lagi dititipin sekalian kita habiskan waktu berdua ya." Elnara bersandar manja pada Zayan yang hanya menghela napas.
"Jadi, semua cuma akal-akalan kamu biar bisa berduaan sama Mas? Perasaan Mas dengar tadi kamu bilang mau persiapkan pernikahan Okta."
Elnara hanya mampu tersenyum lebar karena niat terselubungnya dengan mudah terbaca oleh Zayan.
"Kamu mau kemana?" Zayan bertanya dengan lembut.
"Jalan-jalan? Sudah lama kita nggak jalan berdua, pokoknya hari ini kita harus habiskan banyak waktu berdua!" Elnara berseru riang membayangkan menghabiskan waktu berdua dengan Zayan.
"Oke, kalau gitu ayo berangkat sekarang!"
Dengan senang Elnara menggandeng tangan Zayan sembari berceloteh tempat mana saja yang ingin dia kunjungi.
*
*
Di tempat lain ada Okta dan Vika yang dengan semangat mengurus segala keperluan Alzam. Seperti kata Ibunya, Alzam tidak rewel dan itu cukup melegakan bagi Vika.
"Menurut kamu Alzam mirip siapa?" tanya Okta tiba-tiba.
Vika menatap wajah menggemaskan Alzam sebelum menjawab, "mirip Mas Zayan."
"Iya, benar-benar copyan Zayan. El pasti kesal karna nggak ada satupun kemiripan dia sana Alzam." Okta tertawa puas membayangkan betapa kesalnya Elnara karena Alzam tidak mirip dirinya.
"Kalau Tuhan kasih kita anak nanti, semoga mirip kamu ya." Okta menatap dalam pada sosok Vika yang hanya bisa tersenyum.
"Semoga Tuhan kasih yang terbaik untuk kita ya, Mas."
"Aamiin,"
Keduanya kembali disibukkan dengan bermain bersama Alzam sampai panggilan masuk dari Almira mengalihkan perhatian mereka.
"Halo Mi, ada apa?" sapa Okta setelah menjawab telepon dari Almira.
"Kamu di mana, Okta? Mami sibuk ngurus persiapan nikah kalian, tapi kalian malah enak-enak pacaran berdua!" Almira berteriak kesal sampai Okta harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Loh, kata El dia mau bantu Mami makanya kami yang jaga Alzam. El nggak bilang sama Mami?"
"Bantu Mami apa? Itu anak dari tadi nggak ada nongol. Mami telepon nggak diangkat, padahal WO sudah nanya-nanya."
"Duh Mi, maaf banget ya. Kayanya El nipu Okta sama Vika, dia pasti berduaan tuh sama Zayan. Mami marahin mereka deh, Okta sama Vika nanti nyusul ke hotel."
"Emang dasar anak itu, si Zayan mau juga diajak berduaan. Sudah lupa mereka kalau punya anak? Ya sudah, kalian jaga Alzam saja biar di sini Mami yang urus. Mami harus kasih hukuman buat El sama Zayan!"
Setelah mengucapkan salah Almira segera mengakhiri panggilan. Okta hanya bisa menghela napas lelah. Bisanya Elnara menipu dia dan Vika demi menghabiskan waktu berdua dengan Zayan.
Okta harus menjewer telinga adiknya itu sampai sadar dengan kesalahannya. Memang sih Okta bersyukur Elnara mau menitipkan Alzam pada mereka, tapi cara yang digunakan wanita itu jelas salah.
"Sabar ya Mas, El 'kan lumayan ajaib tingkahnya." Vika tertawa kecil melihat wajah kesal Okta yang merasa benar-benar ditipu.
Di sisi lain, ada Elnara dan Zayan yang baru selesai menonton film romantis seperti keinginan Elnara. Namun, saat Zayan memutuskan untuk ke tempat lain Elnara menolak dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa, El?" tanya Zayan khawatir.
"Mas, El kangen baby Alzam. El ngerasa bersalah ninggalin dia," dan pada akhirnya Elnara hanya mampu menangis.
Zayan menggelengkan kepalanya, tingkah ajaib Elnara semenjak jadi Ibu semakin menjadi-jadi. Memang selama ini Elnara dan Alzam tidak pernah berjauhan sangat lama karena itulah Zayan mewajarkan tingkah Elnara.
"Ya sudah, kita pulang dan ketemu Alzam. Jangan nangis lagi, Mas malu diliatin orang-orang nanti dikira Mas mau nyulik kamu lagi." Dengan lembut Zayan menghapus air mata Elnara sembari sedikit bercanda.
"Ih Mas Zayan!" Elnara tersipu malu mengingat betapa memalukannya dia.
Inilah warna warni kehidupan 2 pasangan yang berbeda karakter. Banyak lika-liku kehidupan yang mewarnai hari-hari mereka.
Bersambung ~~