Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 22 - Perjuangan


Usai mendengar kata-kata tajam dari Fanya akhirnya Zayan tersadar bahwa mungkin inilah saatnya Elnara meninggalkannya.


Elnara cantik dan pintar, serta memiliki daya pikat yang kuat sehingga mudah saja bagi gadis itu untuk menemukan pengganti Zayan. Memikirkan kemungkinan buruk itu, tentu saja Zayan tidak terima dan merasa panas.


Demi mencegah segala kemungkinan buruk yang akan terjadi pada pernikahannya, Zayan membuang semua rasa gengsinya dan menemui Genta.


"Jadi, ada hal penting apa yang membuat seorang Tuan muda Zayan datang kemari?" pertanyaan bermakna sindiran itu datang dari Genta.


"Maaf mengganggu waktu Papi yang berharga." Zayan segera mengambil posisi duduk di depan Genta, bahkan tanpa dipersilahkan sang pemilik ruangan.


"Saya nggak mau basa-basi, jadi silahkan katakan apa yang mau kamu katakan." Genta bersandar dengan tenang di kursinya seraya melayangkan tatapan mengitimidasi untuk Zayan.


"Zayan mohon sama Papi, tolong bantu Zayan untuk menjelaskan pada Elnara. Zayan tahu kalau selama ini Zayan salah, tapi tolong beri Zayan satu kesempatan lagi."


Zayan sudah tidak memedulikan harga dirinya lagi, sekarang baginya yang terpenting adalah kesempatan untuk memperbaiki. Satu-satunya harapan Zayan adalah Genta karena kini Almira bahkan sangat membencinya.


"Apa yang bisa kamu tawarkan untuk sebuah kesempatan berharga? Dengar Zayan, putri saya itu adalah permata berharga dan kamu sudah menyakitinya seperti itu. Kamu pikir saya tidak tahu apa yang selama ini kamu lakukan pada putri saya."


Suara Genta terdengar sangat dingin, pria itu menunjukkan sikap aslinya. Genta adalah pria yang terkenal dingin dan berkuasa, serta bisa melakukan apa saja untuk orang yang dia sayangi.


"Zayan tahu itu Papi, sekarang Zayan menyesal telah membuang kesempatan berharga itu. Zayan akan memberi seluruh yang Zayan miliki untuk Elnara dan berjanji tidak akan menyakitinya lagi."


Genta terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan keputusan apa yang akan dia ambil.


"Saya akan mempesilahkan kamu menjelaskan apa yang terjadi pada El, tapi semua keputusan ada di tangan El dan kamu nggak bisa memaksanya."


Akhirnya setelah pertimbangan yang cukup lama Genta memberi Zayan kebebasan. Semua hal sudah Genta pertimbangkan dengan baik. Dia yang akan bertindak sendiri jika Zayan kembali menyakiti Elnara.


"Terima kasih Pi, Zayan akan menggunakan kesempatan ini dengan baik." Zayan bergerak cepat, pria itu segera menyalimi Genta dan berpamitan pergi menemui Elnara.


Di sisi lain, Almira sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dia dengan sengaja membiarkan "kesalahpahaman" itu terus berlanjut. Dia ingin melihat seperti apa perjuangan Zayan dalam meyakinkan Elnara.


Almira hanya akan diam mengawasi dan dia akan bergerak jika sesuatu yang tidak dia sukai terjadi. Untuk urusan Mikha akan dia beri pelajaran pada wanita itu nanti.


"Segera cari informasi lebih banyak mengenai wanita bermana Mikha itu!" Almira memberi perintah pada anak buahnya melalui telpon karena dia tidak ingin Genta menaruh rasa curiga.


Untuk sementara Almira akan mencari banyak bukti dan terus mengorek masa lalu Mikha. Jika waktunya sudah tiba dia yang akan meledakkan bom itu dengan tangannya sendiri.


*


Zayan kembali mengacaukan jadwal kerjanya karena demi menemui Elnara yang sedang berada di kampus. Tadi Zayan sudah menemui Okta dan menjelaskan apa yang terjadi serta memberitahu sahabatnya itu tentang kesempatan yang diberikan oleh Genta.


"Gue sudah telpon El dan bilang nunggu dia di depan kampus. Lo bawa mobil gue dulu, nanti gue nebeng Vika." Usai memberi arahan Okta segera keluar dari mobil dan bersembunyi.


Zayan hanya mengikuti arahan dari Okta karena dia yakin ada hal lain yang sedang pria itu rencanakan. Tidak lama Elnara terlihat keluar dari kampus dan kini berjalan menuju mobil Okta yang Zayan pinjam.


"Sorry El lama, tadi Vika--" ucapan Elnara terhenti ketika melhat bukan Okta yang duduk dikursi pengemudi, melainkan Zayan.


Pria itu menatap Elnara dengan dalam, membuat sang istri salah tingkah. Sayangnya, hal itu tidak berlangsung lama ketika Elnara menyadari hal lain.


"Kamu nggak bisa kemana-mana Elnara sampai kamu dengar penjelasan saya!" Zayan dengan cepat mengunci pintu mobil sebelum Elnara berhasil membukanya.


"Kamu apa-apaan sih Mas, El sudah bilang kemariin kita sudah berakhri dan El nggak akan ganggu Mas Zayan lagi! Mas nggak perlu jelaskan apapun karena yang terjadi hari itu sudah jelas!" Elnara berkata dengan marah tanpa rasa takut sedikitpun.


"Saya mohon dengarkan saya kali ini. Semua hanya salah paham, saya memilih kamu Elnara. Perasaan saya sama kamu sudah berubah, bahkan saya nggak sadar kapan saya mulai merasa nyaman sama kamu."


Elnara terdiam, merasa tidak percaya dengan kata-kata manis dari Zayan. Selama ini suaminya itu tidak pernah menunjukkan sikap apapun yang membuatnya percaya.


"Kamu tahu kenapa saya dengan mudah menerima permintaan konyol kamu? Semua karena saya terlalu pengecut untuk mengatakan bahwa saya ingin dekat dengan kamu."


"Bagaimana dengan Mbak Mikha? Mas memiliki hubungan dengan dia dan El nggak mau menjadi penghalang kebahagian Mas Zayan."


"Saya nggak memiliki hubungan apapun dengan Mikha selain bos dan sekertaris. Hubungan kami berakhir bertahun-tahun lalu, saya bersikap baik padanya karena semata-mata merasa kasihan mengingat pengalaman pahit yang dia lalui."


Semua terlalu mengejutkan untuk Elnara, selama ini dia mengira hubungan Zayan dan Mikha lebih dari sekedar bos dan sekertaris. Mereka tampak akrab dan terlihat saling peduli karena itulah Elnara mengira keduanya kembali menjalani kasih.


"El nggak tahu harus beraksi seperti apa, semua terlalu mengejutkan untuk El." Elnara berbisik lirih, membuang pandangannya keluar jendela.


"Saya tahu, tapi saya mohon beri saya kesempatan untuk memperbaiki apa yang sudah saya rusak. Saya nggak mau hubungan kita berakhir, saya bahkan sudah meminta izin pada Papi dan Okta untuk memberi kesempatan pada saya."


Kembali pengakuan Zayan mengejutkan untuk Elnara. Seorang Zayan yang terkenal memiliki ego yang tinggi memohon demi memperbaiki hubungan mereka.


"El takut terluka Mas dan apa yang terjadi malam itu sudah cukup menambah daftar luka yang Mas berikan."


"Saya tahu dan saya minta maaf untuk itu semua. Saya akan berterus terang sama kamu, apapun yang ingin kamu tanyakan akan saya jawab dengan jujur. Termasuk apa yang membuat saya nggak datang malam itu."


Elnara menatap Zayan dengan ragu, sepertinya Zayan tidak tahu pesan apa yang dikirimkan oleh Mikha malah itu. Haruskah Elnara memberi Zayan kesempatan dan memperbaiki hubungan mereka? Sejujurnya, Elnara masih mencintai pria itu dan dia tidak ingin berpisah.


To Be Continue ~~>>