
Ketika Okta berjuang untuk mendapatkan restu dari Windi, mantan kakak iparnya itu justru melemparkan bom. Bom yang mampu menghancurkan Okta hingga tak bersisa.
Malam itu Windi mengirimi USG serta bukti-bukti bahwa Vika pernah hamil dan dinyatakan keguguran. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada berita mengerikan ini. Okta dihantam rasa bersalah, seakan Tuhan terus menghukumnya atas semua rasa sakit yang pernah dia berikan pada Vika.
Okta pulang ke rumah orang tua Elnara dengan perasaan hancur. Bagaimana bisa dia dengan percaya diri akan membahagiakan Vika, sedangkan sumber derita wanit itu adalah dirinya.
"Mas Okta?" Elnara yang kebetulan terbangun menatap kaget pada sosok Okta yang duduk termenung dalam kegelapan.
Okta menoleh dan Elnara menyadari sorot mata pria itu terlihat berbeda, ada rasa bersalah dan putus asa di mata itu. Elnara menyadari satu hal, Okta sudah mengetahui rahasia Vika.
Elnara mendekat dan duduk di samping Okta. Dia tahu kakak sepupunya itu sedang membutuhkan sandaran dan Elnara siap menjadi sandaran pria itu.
"Mas sudah tahu ya?" tanya Elnara pelan.
"Ya ... rasanya sangat menyesakkan." Okta menjawab lirih, dia menunduk seakan meresapi rasa sakitnya.
"Apa yang akan Mas lakukan?" tanya Elnara lagi.
Okta menggeleng pelan, dia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Rasa bersalah itu seakan menghantuinya.
"Coba Mas bicarakan ini dengan Vika, kalian harus saling terbuka. El yakin setelah saling terbuka dan saling berbagi luka kalian akan merasa lebih baik. Ingat Mas, seburuk apapun masa lalu kita nggak akan bisa mengubahnya. Jadikan ini sebagai pelajaran untuk Mas agar hubungan kalian berjalan baik."
"Kamu benar, terima kasih sudah mau membantu Mas. Besok Mas akan bertemu dengan Vika dan membicarakan semuanya, Mas harap kami sama-sama menerima luka ini."
Elnara tersenyum hangat, dengan pelan wanita itu menepuk pundak Okta. Elnara berharap akan hal yang lebih baik lagi untuk hubungan Okta dan Vika. Elnara tahu keduanya sama-sama mencintai, tapi masa lalu yang rumit membuat mereka terjebak.
*
*
Hari ini Okta dan Vika sepakat untuk bertemu dan membicarakan masalah mereka. Keduanya sama-sama ingin mengakhiri masa kelam mereka.
"Sebenarnya aku baru tahu kalau aku hamil saat berada di kampung Mas. Semuanya terasa singkat, aku hamil yang sayangnya kandungan aku lemah karena stress. Banyak ketakutan yang menghantuiku, bagaimana nasib anakku kelak? Apakah Mas akan menerimanya atau justru menolak? Pertanyaan itu seakan terus berputar dan buat aku semakin tertekan."
Vika menerawang jauh, mengingat saat-saat menyakitkan untuknya. Rasa bersalah itu terus menghantuinya setiap saat. Vika menangis, mengingat sakitnya saat anak yang dia kandung harus gugur karena berbagai tekanan yang dia alami
"Aku salah Mas, seharusnya aku menerima anak kita dengan bahagia dan nggak perlu memikirkan hal lain. Setiap saat aku merasa bersalah, kenapa aku nggak bisa jadi Ibu yang baik?"
Okta menggenggam erat tangan Vika, mereka sama-sama ketakutan dan merasa sakit. Keduanya terluka karena perasaan bersalah yang terus merayapi hati.
"Kenapa kamu nggak ngabarin Mas, Vika?" Okta bertanya lirih.
"Aku nggak sanggup Mas, aku takut kamu akan menolak anak kita. Aku mengingat kalau Mas belum siap memiliki anak karena itulah aku berpikir untuk menyimpan ini sendirian. Saat itu aku berpikir kalau aku nggak mau memiliki ikatan apapun dengan Mas. Aku nggak mau Mas merasa bersalah, tapi ternyata aku salah. Di sini, kita sama-sama tersakiti dan terluka."
"Maaf ... Maafkan Mas atas semua luka yang kamu terima." Okta memeluk erat Vika dan menangis dalam pelukan wanita itu.
"Maafin aku Mas karena nggak bisa menjaga calon anak kita." Vika berbisik lirih sembari mengeratkan pelukannya pada Okta.
Keduanya menangis saling berbagi luka. Keduanya berharap setelah semua ini mereka bisa mengikhalaskan apa yang telah terjadi. Mereka harus menjalani hidup dengan melangkah ke depan dan tidak berlarut-larut tenggelam dalam kubangan duka.
"Bantu Mas meyakinkan Kak Windi, kali ini Mas benar-benar nggak bisa melepasmu. Kamu mau 'kan?" Okta melepaskan pelukannya kemudian dengan hati-hati menghapus air mata Vika yang terus mengalir.
"Ya Mas, mari berjuang bersama-sama. Aku yakin suatu saat Kak Windi akan luluh, dia hanya ingin yang terbaik untukku." Mereka kembali berpelukan dengan erat, kali ini dengan perasaan yang lebih lega.
Tanpa mereka sadari ada sosok Windi yang diam-diam mendengar semuanya. Windi ikut menangis, dialah orang yang terluka saat melihat betapa hancurnya Vika.
Berbulan-bulan lamanya Vika mencoba untuk bangkit dari rasa sakitnya. Windi ingin Vika bahagia dan kebahagiaan adiknya itu ada pada sosok Okta, pria yang Vika cintai.
Bersambung~~