
Berbulan-bulan telah terlewatkan. Banyak hal terjadi selama beberapa bulan ini. Okta menjalani kehidupannya seperti biasa, dia mencoba melupakan Vika yang sudah menutup semua akses untuk menghubungi wanita itu.
Malam di mana dia meminta Elnara untuk menghubungi Vika menjadi hari terakhir dia mendengar kabar mantan istrinya itu. Elnara bilang Vika baik-baik saja, akan tetapi dia membutuhkan banyak waktu untuk menyembuhkan lukanya.
Okta memutuskan untuk melupakan Vika karena tidak ingin terus membebani mantan istrinya itu. Sekarang semua terlihat baik-baik saja, hubungannya dengan Elnara juga mulai membaik.
Sekarang dia tengah direpotkan oleh Elnara yang sedang berjuang untuk mendapatkan hati Zayan, sahabat baiknya.
"Mas Zayan itu sukanya apa, Mas Okta?" tanya Elnara yang saat ini duduk tenang di hadapan Okta.
"Mas nggak tahu, kamu tanya sendiri sama orangnya." Jawab Okta sembari menikmati makan siangnya.
Elnara memasang wajah cemberut, Okta ini sama sekali tidak bisa diajak kerja sama. Elnara pikir menyukai Zayan yang merupakan sahabat baik Okta akan mempermudah banyak hal. Ternyata dia salah, Okta sama sekali tidak mau membantu.
Mereka sudah selesai makan siang dan bersiap untuk pulang ketika sebuah panggilan masuk dari orang yang sangat mereka sayang. Elnara terkejut, tidak menyangka setelah beberapa bulan tidak berhubungan akhirnya Vika kembali menelponnya.
"Vika!" Elnara berseru keras begitu menjawab panggilan masuk itu.
"Hai, El apa kabar?" suara Vika terdengar ceria.
"Gue baik, lo gimana? Kapan lo balik ke sini?"
"Gue jauh lebih baik. Oh iya, gue mau kasih surprise buat lo!"
"Syukur deh kalau loh sudah lebih baik. Sudah deh nggak usah sok buat gue penasaran. Lo belum jawab pertanyaan gue, kapan lo balik?"
Terdengar tawa kecil dari Vika sebelum wanita itu menjawab dengan riang, "coba deh lo balik badan."
Elnara segera mengikuti perintah Vika dan betapa terkejutnya dia saat mendapati sahabatnya itu berdiri tidak jauh darinya.
"Vika!" Elnara berteriak kaget sebelum akhirnya berlari memeluk Vika dengan erat.
"Kangen sama gue ya," goda Vika dengan senyum manisnya.
"Banget," jawab Elnara tanpa berusaha menutupi perasaannya.
Keduanya kini sibuk melepas rindu tanpa peduli dengan Okta yang hanya bisa menatap Vika dari jauh. Okta sangat merindukan wanita itu, tapi dia sadar rasa rindu yang dia miliki cukup dia simpan rapat seorang diri.
Okta mendekat, berusaha bersikap santai karena tidak ingin membuat Vika tidak nyaman. Kedatangan Okta membuat Vika dan Elnara menatapnya. Elnara menatap kakak sepupunya itu tidak suka, sedangkan Vika hanya menatap datar.
"Hai Mas, apa kabar?" tanya Vika santai membantu Elnara menatapnya kaget.
"Aku baik ... El yuk, temanin gue jalan-jalan. Gue kangen nih jalan bareng lo." Vika segera beralih pada Elnara dan menarik pelan sahabatnya itu.
Elnara sendiri hanya mengikuti langkah kaki Vika setelah berpamitan pada Okta yang hanya bisa menatap keduanya.
Vika jauh lebih baik dan hal itu membuat Okta sedikit lega, meski dia sedikit merasa tidak suka saat melihat Vika seolah menganggapnya orang asing. Ah, sepertinya memang benar mereka hanya orang asing yang kebetulan berstatus mantan suami istri.
*
*
Setelah menghabiskan waktu setengah hari bersama Vika akhirnya Elnara memutuskan untuk menginap di rumah sahabatnya itu. Dia masih ingin menceritakan banyak hal yang terjadi belakangan ini.
"Jadi, siapa nama pria yang berhasil menaklukkan lo?" tanya Vika yang kini berbaring di sebelah Elnara.
Mereka saat ini sudah berada di kamar Vika dan bersiap untuk sesi curhat.
"Mas Zayan, dia ganteng dan cool banget. Gue nggak nyangka sih bisa jatuh cinta pandangan pertama!" pipi Elnara bersemu merah saat membayangkan wajah tampan Zayan.
"Gue jadi makin penasaran," gumam Vika.
"Doain gue bisa taklukan hati Mas Zayan."
"Iya-iya, gue selalu berdoa yang baik buat lo. Oh iya, bentar ya gue lupa sesuatu." Vika bangun dari tidurnya dan bersiap untuk keluar kamar karena ada sesuatu yang ingin dia lakukan.
"Vi, gue pinjam charger lo dong gue lupa bawa nih." Ucap Elnara sebelum Vika benar-benar keluar kamar.
"Ada di laci meja rias!" jawab Vika setengah berteriak.
Elnara menuju meja rias bermaksud mencari charger handphone. Namun, yang Elnara temukan bukan charger melainkan sesuatu yang membuatnya sangat terkejut.
Vika yang menyadari sesuatu segera berlari menuju kamarnya dan dia menemukan Elnara yang berdiri mematung dengan sebelah tangan memegang sesuatu yang selama ini dia rahasiakan.
"Vika, ini bukan milik lo 'kan?" suara Elnara terdengar bergetar menandakan gadis itu menahan air matanya.
Vika tidak menjawab karena dia tidak tahu apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada Elnara.
Bersambung ~~