
Okta baru saja tiba di kantor Zayan, bermaksud untuk menemui Elnara. Namun, bukannya pemandangan indah yang Okta saksikan melainkan pemandangan menyakitkan di mana Elnara berlari menuju tangga darurat dengan berlinangan air mata.
Dalam diam Okta mengikuti langkah kaki Elnara yang ternyata berhenti ditangga darurat. Gadis itu duduk dan menangis dengan menyedihkan seorang diri.
"Mami ... rasanya menyakitkan. Kenapa jatuh cinta sesakit ini?" Elnara berbicara seorang diri sembari menangis tersedu-sedu.
Elnara baru saja berjuang dan Zayan kembali mematahkan semangatnya. Sikap baik pria itu ternyata untuk membuat semua berjalan mudah dan ketika waktu yang Elnara pinta telah habis maka Zayan dengan mudah menceraikannya.
Ini semua salahnya, seharusnya dia tidak perlu berharap banyak pada hubungan pernikahan ini karena sedari awal hanya dialah yang berjuang mempertahankan dan Zayan berjuang melepaskan.
Okta mengepalkan tangannya melihat adik sepupu yang sangat dia sayangi itu menangis dengan menyedihkan. Dalam diam Okta berdiri di atas tangga menunggu Elnara menyelesaikan tangisnya.
Okta tahu Elnara tidak akan mau memperlihatkan tangisannya karena itulah Okta hanya bisa menemani dalam diam.
"Lo akan menyesal Zayan karena telah menyakiti hati El. Lo akan tahu seberapa berharganya seorang Elnara ketika dia sudah tidak ada di samping lo." Gumam Okta pelan sebelum akhirnya pergi menuju ruangan Zayan.
Elnara sendiri sudah menyelesaikan tangisnya Meski menyakitkan, tapi dia masih harus berjuang sampai batas waktu yan telah mereka sepakati. Elnara akan membuat momen indah yang bisa dia kenang nantinya.
*
Dengan perasaan marah Okta mendatangi Zayan. Dia akan membuat Zayan mengerti bawah seseorang yang dia sia-siakan adalah orang yang sangat berharga.
Dengan kasar Okta membuka pintu ruangan Zayan dan mendapati pria itu sibuk dengan beberapa dokumen. Tidak ada Mikha di sana, sepertinya wanita itu pergi.
"Ada apa, Okta? Kenapa kamu terlihat marah?" tanya Zayan dengan tenang.
"Ingat apa yang gue katakan sebelum pernikahan lo dan El?" tanya Okta sinis.
Zayan menatap Okta tidak mengerti. Sahabatnya itu tiba-tiba datang dengan wajah marah dan malah menanyakan hal yang aneh.
"Okta, tenanglah. Saya tidak mengerti maksud kamu, bisa kamu jelaskan dengan tenang?" Zayan berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Okta.
Keduanya berdiri berhadapan dan saling tatap. Okta dengan tatapan tajamnya, sedangkan Zayan dengan tatapan tenangnya.
"Apa yang lo perbuat sama El? Mungkin lo lupa apa yang sudah gue katakan sama lo. Sebelum lo nikah sama adek gue, gue ngasih lo pilihan. Buka hati lo untuk El atau lepaskan El. Lo jelas tahu apa yang lo pilih, tapi sekarang lo justru nyakitin hati El."
Zayan masih terlihat tenang meski dia tahu kearah mana pembicaraan ini.
"Okta, sepertinya kamu salah paham. Hubungan saya dan Elnara baik-baik saja, kamu bisa tanya sama dia." Zayan berbicara dengan tenang, tidak menunjukkan emosi apapun.
"Kalau dia baik-baik saja, kenapa dia bisa nangis dengan sangat menyedihkan? Katakan apa yang buat dia nangis seperti itu?"
"Tapi kenyataannya dia nangis! Dia nangis seorang diri dengan sangat menyedihkan, bre**sek!" Okta berteriak marah, mencengkram dengan erat kemeja Zayan.
Zayan sendiri tidak melawan, dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Tadi mereka makan siang dengan tenang dan Elnara terlihat ceria. Namun, Okta justru melihat Elnara menangis sendirian. Apakah mungkin Elnara mendengar apa yang dia bicara bersama Mikha tadi?
"Okta, tolong tenang. Saya nggak mau ada keributan di kantor saya. Saya mengatakan yang sebenernya, tidak ada hal buruk yang terjadi."
Okta melepaskan cengkramannya, berusaha mengatur emosi yang menguasainya.
"Dengar Zayan, ini untuk pertama kalinya gue liat dia nangis seperti itu dan gue sangat marah. Gue sudah pernah bilang kalau mantan lo itu cuma bawa masalah dan gue yakin dialah alasan El nangis seperti itu!"
"Ini nggak ada hubungannya sama Mikha. Ini malah rumah tangga saya dan Elnara, seharusnya kamu ngerti kalau kamu nggak bisa mencampuri urusan rumah tangga kami. Saya tegaskan sama kamu, nggak terjadi apapun dalam pernikahan kami!"
"Masih membela mantan terindah. Gue benar-benar muak sama lo dan mantan t*i lo itu! Sebelum lo semakin nyakitin El, lebih baik lo lepaskan dia. Lepasin dia baik-baik dan kembalikan dia sama orang tuanya."
Perkataan Okta membuat Zayan terkejut. Zayan tidak menyangka jika Okta akan mengatakan hal itu.
"Nggak, saya nggak akan melakukan hal itu!" ucap Zayan dengan tegas menolak permintaan Okta.
"Gue meminta ini dengan baik. Lepasin El dan kembalikan dia sama orang tuanya, gue yang akan tanggung jawab. Urusan Papi Genta akan jadi tanggung jawab gue, gue yang akan bertanggung jawab. Lo cuma perlu kembalikan El sama orang tuanya dan sisanya gue yang urus."
"Kamu gila, Okta!" bentak Zayan marah, kini pria itu menatap tajam pada sosok Okta yang terlihat lebih tenang.
"Iya gue gila, gue gila karena gue nggak mau adek gue terus tersakiti. Lo nggak bisa lepas dari masa lalu lo, jadi lebih baik lo lepasin El sekarang."
Okta tersenyum sinis, menentang setiap perkataan Zayan yang terlihat tidak ingin melepaskan Elnara. Pria itu tidak bisa berbuat tegas.
"Saya nggak akan melepaskan Elnara, sekalipun kamu memaksa saya tetap nggak akan melepaskan Elnara. Saya nggak akan melepaskan Elnara, kecuali dia sendirilah yang meminta saya untuk melepaskannya. Saya akan membiarkan dia pergi ketika dia sendiri yang memilih pergi, bukan karena kamu atau orang lain."
Okta tertawa meremehkan, ucapan Zayan terdengar sangat menyentuh sekaligus menggelikan. Jika Zayan benar-benar mencintai Elnara maka Okta akan senang mendengar ucapan Zayan, tapi sayangnya Zayan tidak mencintai Elnara dan dia mempertahankan gadis itu untuk egonya sendiri.
"Kalau begitu, gue akan buat El pergi dari lo. Gue akan buat dia benci dan memilih pergi ninggalin lo. Gue akan buat lo menyesal karena menyakiti hati El dan ketika itu semua terjadi, gue adalah orang pertama yang akan tertawa paling keras. Gue akan menertawakan lo yang hidup dalam penyesalan!"
Okta segera berbalik pergi, dia tidak mau mendengar segera ucapan Zayan yang sangat konyol itu.
Okta akan membuktikan ucapannya, dia sendirilah yang akan membuat Elnara meninggalkan Zayan dan membuat pria itu menyesal. Dia akan memastikan hal itu terjadi.
Di sisi lain ada Mikha yang diam-diam mendengarkan pembicaraan antara Okta dan Zayan. Wanita itu sedang menyusun rencana untuk membuat Elnara pergi meninggalkan Zayan. Dia akan membuat Elnara pergi sehingga Zayan bisa segera kembali padanya.
To Be Continue ~~>>