
Zayan memang pergi ketika Okta dengan kejam mengusirnya, akan tetapi bukan berarti pria itu akan menyerah begitu saja. Banyak hal yang tidak bisa Zayan jelaskan pada Okta karena dia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.
Untuk saat ini yang bisa Zayan lakukan adalah memberi Elnara waktu untuk menenangkan diri. Namun, bukan berarti Zayan tidak akan mengawasi Elnara karena dia tahu pasti kesempatan seperti ini akan dimanfaatkan oleh Fian.
Yang bisa Zayan lakukan adalah menemui Ayahnya dan meminta sang Ayah memberinya nasehat.
"Ada apa, Nak?" tanya Doni - Ayah Zayan - begitu mendapati putra sulungnya sedang duduk termenung di ruang tamu.
"Ada sedikit masalah, Yah." jawab Zayan lemah, dia bahkan menarik napas dengan berat.
"El?" tebak Doni tepat sasaran.
"Ada kesalahpahaman dan Elnara pulang ke rumah orang tuanya. Dia bahkan menolah untuk mendengar penjelasan dari Zayan."
Belum sempat Doni menanggapi cerita Zayan, tiba-tiba Fanya si bungsu yang entah datang dari mana langsung menyela percakapan itu.
"Pasti salah Mas Zayan, Mbak El itu sabar dan baik jadi nggak mungkin tiba-tiba marah dan pulang ke rumah orang tuanya." sela Fanya dengan cepat, remaja itu bahkan tanpa takut menantang tatapan tajam milik Zayan.
"Fanya, tidak baik saat orang dewasa berbicara kamu menyela begitu saja. Sana ke kamar, ini pembicaraan orang dewasa." Doni menegur dengan lembut seraya menggerakkan tangannya tanda menyuruh Fanya untuk segera pergi.
Namun, Fanya terlalu keras kepala dan yang ingin kedua orang dewasa itu bicarakan adalah Elnara, Kakak ipara yang sangat dia sayangi melebih rasa sayangnya kepada Zayan.
"Nggak, Fanya mau dengar ceriitanya dari Mas Zayan. Fanya harus tahu kesalahan apa yang Mas lakukan sampai menyakiti hari Mbak El." Fanya menggeleng dengan tegas membuat Doni hanya bisa menghela napas pasrah.
"Hanya kesalahpahaman Mas yanag lupa dengan janji makan malam bersama, Mas juga tidak pulang ke rumah karena ketiduran di hotel."
Penjelasan itu semakin membuat Fanya murka, bagaimana bisa Zayan menganggap ini hanya kesalahpahaman.
"Ini bukan kesalahpahaman, Mas! Mas benar-benar salah, gimana bisa Mas lupa sama janji Mas sendiri dan lebih parah malah tidur di hotel!"
"Fanya, jangan berteriak seperti itu!" tegur Doni yang tidak ditanggapi oleh Fanya karena remaja itu sudah benar-benar marah.
"Karena itu Mas mau minta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi." ucap Zayan seraya menghela napas lelah.
"Sudah, sekarang kamu temui El lagi dan minta waktu dia sebenar setelah itu kamu jelaskan dengan baik-baik." Doni dengan cepat menyela ketika melihat Fanya sudah ingin mengamuk lagi.
Usai mengatakan hal itu Doni segera masuk ke dalam kamar. Dia sedang tidak sehat akhir-akhir ini karena itulah Dokter menyarankannya untuk beristirahat dengan baik.
Melihat kepergian Doni, Fanya mendekat kearah Zayan untuk mengatakan suatu hal yang membuatnya curiga terhadap kakaknya itu.
"Mas, Fanya nggak mau ikut campur terlalu jauh, tapi Fanya yakin ada hal yang lebih besar dari kesalahpahaman yang Mas maksud itu 'kan?"
Zayan tidak bisa mengatakan hal apapun karena tebakan Fanya benar, ada hal yang lebih besar dari itu dan Zayan mengakui kesalahannya itu.
"Fanya mengatakan ini bukan karena Fanya sayang Mbak El, tapi ini untuk Mas sendiri. Mbak El itu baik dan tulus, jangan sampai Mas menyesal karena melepaskan istri Mas demi masa lalu Mas itu!"
Setelah mengatakan hal itu Fanya segera pergi menuju kamarnya. Zayan tampak terkejut karena Fanya mengatakan hal itu. Sepertinya Fanya tahu sesuatu mengenai Mikha, tapi remaja itu memilih diam dan tidak mau ikut campur terlalu jauh.
Mikha baru mendapat kabar bahwa Elnara pulang ke rumah orang tuanya. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari berita ini bagi Mikha. Sepertinya usaha yang dia lakukan berhasil dan kini Zayan akan segera menjadi miliknya.
"Bahagia di atas penderitaan orang lain, Mikha?" pertanyaan itu datang dari seseorang yang Mikha tidak kenal.
Gadis cantik bermata tajam itu menatap Mikha seolah siap menguliti wanita di depannya. Gadis itu adalah Vika yang baru saja mendengar apa yang terjadi dari Elnara.
"Kamu siapa ya?" tanya Mikha dengan bingung.
Vika tidak menjawab melainkan hanya menatap Mikha dengan pandangan menilai. Menurut Vika, Elnara jauh lebih cantik dan menarik dari pada wanita di depannya ini.
"Heh pelakor, gue peringatin lo ya untuk berhenti ganggu suami orang! Lo belum tahu seberapa mengerikannya gue kalau marah!" Vika membentak Mikha dengan suara keras hingga membuat pelanggan cafe menatap keduanya.
"Kamu ini ngomong apa? Saya bahkan nggak kenal kamu, jangan seenaknya bicara!" Mikha berdiri menatap Vika dengan marah, dia merasa tidak terima dengan tuduhan Vika.
"Gue bicara fakta, lo itu pelakor yang mau rebut suami sahabat gue! Sekali lagi gue peringatin lo, kalau gue tahu lo buat sahabat gue nangis lagi ... lo end!"
Dengan gerakan mengerikan Vika mengancam Mikha yang hanya menatapnya tidak percaya. Gadis cantik yang tidak dia kenal itu mengancam dan berhasil membuat dirinya takut.
"Kamu sahabatnya El?" tanya Mikha takut.
Vika tidak menjawab, hanya menatap tajam pada Mikha yang semakin takut. Percayalah, Vika itu cantik seperti boneka, tapi bisa menakutkan siapa saja jika sudah marah.
Vika segera pergi setelah berhasil membuat Mikha takut. Dia cukup sampai di sini karena akan ada waktunya dia meledak jika Mikha kembali membuat Elnara menangis. Untuk masalah Zayan, dia akan membuat perhitungan dengan pria itu.
"Apa vue perlu beri beberapa pukulan?" tanya Vika pada dirinya sendiri.
Sambil berjalan menuju mobilnya, Vika menimbang-nimbang perhitungan apa yang akan dia berikan untuk Zayan.
"Vika?" suara itu membuat langkah kaki Vika terhenti.
Vika menoleh dan mendapati Okta yang menatapnya kaget. Seperti tidak pernah melihat Vika sebelumnya, pikir Vika kesal.
"Iya, Mas?" menahan kesal Vika bertanya dengan sopan pada kakak sepupu Elnara itu.
"Kamu dari dalam?" tanya Okta berbasa-basi.
"Iya, memangnya Vika dari mana lagi? Jelas loh Vika lagi di parkiran cafe!" Vika menjawab dengan senyuman meski wajahnya mulai menekuk kesal.
Okta tersenyum kecil melihat wajah cantik itu. Rasa sudah lama mereka tidak berbicara santai seperti ini. Okta tidak akan menampik jika semua ini berawal dari kesalahannya.
"Kalau gitu Vika duluan ya, Mas. Vika ada kelas sebentar lagi," Vika berlalu begitu saja meninggalkan Okta yang masih menatap punggung gadis itu.
Semua terasa rumit, jika saja Okta diberi kesempatan, dia akan mengulang semua dari awal. Atau sebenarnya mereka sudah mengulang dari awal? Ya, mereka mengulang dari awal karena kini hubungan keduanya kembali canggung.
To Be Continue ~~>>