Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 17 - Hari Terakhir


Fian berbuat nekat dengan menemui Elnara ketika gadis itu baru pulang dari liburan singkatnya. Pria itu dengan tidak sabar meminta waktu Elnara untuk berbicara berdua.


Elnara yang percaya pada Fian tidak menaruh rasa curiga apapun. Elnara pikir Fian hanya ingin berbicara biasa seperti apa yang sering mereka lalukan.


Namun, tebakan Elnara salah ketika Fian dengan percaya diri menyerahkan beberapa lembar foto Zayan bersama Mikha. Foto yang pernah Fian berikan pada Okta.


"Maksud kamu apa, Fian?" tanya Elnara yang tampak tidak terkejut.


"Suami kamu itu bosku dan aku sering liat dia sama sekertarisnnya pergi berdua. Aku pikir mereka diam-diam menjalin hubungan di belakang kamu."


"Kamu tahu apa yang kamu lakukan ini beresiko pada karir kamu?"


"Aku tahu El, tapi aku nggak bisa diam aja liat kamu dibohongi seperti itu!" Fian menjawab dengan tegas membuat Elnara menarik napas lelah.


Elnara tidak menyangka akan hal ini, bagaimana bisa Fian mengetahuinya dan sekarang Elnara merasa takut jika orang-orang di sekitarnya juga tahu hal ini.


"Kalau kamu mau tahu, suamiku nggak selingkuh. Aku kenal sama sekertarisnya dan aku tahu pasti hubungan mereka seperti apa."


"Kamu dibohongi El, gimana bisa kamu percaya sama suami kamu begitu aja?" Fian tetap membela diri, dia merasa yakin telah melakukan hal benar.


"Dia suamiku dan jelas aku percaya padanya. Lagipula, benar atau tidaknya tuduhan kamu itu, seharusnya kamu nggak ikut campur. Kamu tahukan ini masalah rumah tanggaku dan kamu hanya orang luar yang nggak bisa ikut campur seperti ini!"


Elnara tahu mungkin ucapannya akan menyakiti hati Fian, tapi dia tidak bisa melakukan hal lain untuk menyangkal tuduhan Fia.


"Seharusnya kamu nggak diam aja El, kamu harus nuntut suami kamu agar jujur dan bukannya diam pasrah seperti ini!"


"Lalu, setelah itu apa? Meminta cerai, begitu? Hubungan suami istri nggak semudah itu, Fian. Bukan karena ada masalah, lalu bertengkar dan berakhir dengan perceraian. Aku menerapkan batasanku sendiri, ketika suamiku melewati batas tentu aku akan bertindak sendiri."


"Maaf, aku nggak bermaksud apa-apa. Aku cuma--" Fian sudah akan membela diri ketika merasa terpojok, tapi Elnara dengan cepat memotong ucapannya.


"Terima kasih untuk kepedulian kamu, tapi aku harap kamu nggak melakukan hal ini lagi."


Elnara dengan segera pergi dari hadapan Fian, dia tidak mau mendengar ucapan Fian lagi. Elnara sudah cukup merasa kecewa dengan tindakan sahabatnya itu.


Sejujurnya, Elnara sedikit cemas setelah melihat foto-foto itu. Namun, melihat sikap Zayan belakangan ini membuat Elnara kembali meyakinkan diri bahwa mungkin Zayan akan memilihnya. Lagipula, foto-foto itu adalah foto lama sebelum Elnara mengajukan permintaan 30 harinnya.


*


Selama 1 minggu terakhir ini berjalan baik bagi Elnara. Zayan sudah mulai membuka diri dan membuat Elnara semakin berharap hubungan mereka masih bisa terselamatkan.


Seperti hari ini Zayan tiba-tiba mengajaknya makan malam berdua di restoran mewah. Sesuatu yang selama ini hanya bisa menjagi khayalan Elnara seorang.


"Makasih ya Mas untuk makan malamnya, El senang Mas ajak El makan malam berdua seperti ini." ucap Elnara yang trerlihat begitu bahagia hingga tidak berhenti untuk tersenyum.


"Saya senang kalau kamu suka dengan makan malam hari ini. Kalau saya ada waktu kita bisa makan malam seperti ini lagi." Mendengar ucapan Zayan membuat Elnara semakin bahagia.


Perkataan Zayan seperti sebuah janji manis yang akan selalu dinanti oleh Elnara. Untuk hal ini bolehkah Elnara kembali berharap bahwa hubungan mereka akan baik-baik saja dan Zayan akan memilihnya ketika hari perjanjian itu berakhir.


Mengingat 30 hari perjanjian itu akan berakhir besok membuat Elnara gelisah. Dia ingin bertanya pada Zayan, tapi dia tidak ingin kecewa karena mendengarn jawaban Zayan yang mungkin akan mengecewakannya.


"Ada apa?" tanya Zayan saat melihat wajah Elnara yang tampak murung.


"Ehm ... Mas, bagaiman dengan perjanjian tiga puluh hari itu?" tanya Elnara ragu.


"Saya belum tahu harus bagaimana," jawab Zayan apa adanya.


"Perjanjiannya berakhir besok Mas, apa Mas belum bisa nentuin siapa yang harus Mas pilih?"


"Saya akan menjawabnya besok, bisa kamu menunggu hingga besok?"


Mau tidak mau Elnara mengangguk pasrah, dia tidak mungkin memaksa Zayan untuk menentukan pilihan sekarang. Lagipula perjanjian konyol itu akan berakhir besok.


"Kalau begitu, Mas bisa meluangkan waktu untuk makan malam bersama? El mau masak spesial untuk Mas, jadi El harap Mas bisa meluangkan waktu."


"Baiklah, tapi mungkin saya akan pulang malam karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan besok."


Elnara mengangguk setuju, setidaknya Zayan bersedia menerima ajakannya. Elnara berharap pekerjaan Zayan bisa cepat selesai dan mereka bisa makan malam bersama.


*


Hari ke-30


Elnara sedari tadi tidak sabar menunggu malam hari tiba. Dia sudah menyiapkan makan malam romantis bersama Zayan. Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Zayan karena itulah Elnara sengaja menyiapakan makan malam romantis untuk suaminya itu.


Elnara juga sudah menyiapaka kado untuk Zayan, serta membuat kue ulang tahun dengan tangannya sendiri. Dia tidak bisa menampik bahwa hatinya berharap malam ini akan berakhir bahagia.


*Mas Zayan pulang jam berapa?


Jangan lupa kita akan malam malam bersama*.


Pesan itu dikirim Elnara sore dan sampai saat ini belum mendapat balasan dari Zayan. Hatinya gelisah karena takut Zayan melupakan janjinya untuk makan malam bersama hari ini.


Pukul 8 malam, Elnara masih menunggu Zayan pulang. Suaminya masih belum memberi kabar dan ketika Elnara menelpon, panggilannya tidak dijawab.


"Mas Zayan mana ya? Jangan-jangan dia lupa lagi, seenggaknya beri kabar dong." Elnara bergumam gelisa sambil mondar-mandir di depan pintu rumah.


Pukul 12 malam, Elnara tertidur di sofa ruang tamu. Dia lelah menunggu Zayan yang tidak tahu kapan pulang. Hingga dering ponsel membangunkan Elnara yang tampak terkejut.


Rumah tampak sepi dan tidak ada tanda-tanda Zayan sudah pulang. Elnara dihantui rasa cemas, kemudian sekali lagi dia mencoba untuk menghubungi Zayan.


Saat Elnara melihat ponselnya, ada sebuah pesan masuk dari Mikha. Perasaan Elnara semakin tidak nyaman saat memutuskan untuk membuka pesan dari Mikha.


"Mas Zayan," gumam Elnara lirih saat melihat isi pesan Mikha.


MIkha mengirimkan beberapa foto dan video berdurasi singkat. Foto dan video itu berisikan perayaan ulang tahun Zayan disebuah restoran mewah bersama karyawan yang lainnya.


Hati Elnara sakit karena Zayan menghabiskan waktu bersama orang lain ketika dia menunggu dengan perasaan cemas. Sebegitu tidak berhaganyakah dia sampai Zayan bahkan tidak mengabarinya.


Seakan belum cukup sampai disitu, Mikha kembali mengirimkan sebuah foto yang membuat Elnara menangis patah hati.


Kini Elnara tahu jawaban apa yang akan diberikan Zayan padanya.


To Be Continue ~~>>