Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Part 1


"Nia dimana ke empat temanku yang sudah membuat kepalamu pusing itu" tanya wanita yang bisa di bilang tidak begitu cantik namun memikat oranglain.


"Mereka seperti biasa sudah berkicau di dalam dan membicarakan dirimu yang bodoh karena ingin menikah untuk status, ada baiknya kamu aliee samperin mereka keburu makin parah" jelas nia sang pelayan bar kepercayaannya.


"Mereka bisa ga sih kalau ngegosip pas ada aku jangan di belakang juga" jelas wanita bernama aliee terbut dengan geram.


"Kalau ngegosip di depan bukan ngegosip aliee."


"Entah lah... lagian aku heran ayu, lidya, putri dan ria itu selalu aja kaya gitu. Aku tau maksud mereka baik, cuma aku mau status aja karena saat ini yang butuh aku adalah keluargaku bukan pasanganku nanti."


"Aku berdoa yang terbaik dan semoga kanu mendukung apa yang kamu lakukan ya" jelasnya dengan langsung pergi dari hadapan anie.


"Dasar anak rese."


Kali ini aliee datang ke meja teman-temannya selalu berada dan tidak pernah pindah tempat dari meja tersebut.


"Anak nakal kalian semua" aliee memukul pelan ke empat wanita itu dengan gemas dan di sambut dengan tawa yang sangat bahagia.


"Ini dia kakak kita tercinta yang mau nikah karena status" ungkap ayu yang sudah mulai tidak bisa di kondisikan untuk kadar alkoholnya.


"Kak ayu... dia belum mau menikah... cuma rencana saja sama orang yang mau nikah karena status" ralat ria dengan tertawa di akhirnya.


"Kak aliee... jangan sampai sakit hati ya kalau nanti sudah berumah tangga dan berbahagia dengan apa yang kakak pilih nanti" lidya memeluk aliee dengan erat.


Aliee manatap ke empat temannya dengan sayang, walau mereka berbicara seperti itu mereka sebenarnya sangat sayang dan perhatian kepada dirinya.


"Kau tidak menambahkan put" kali ini aliee mengedipkan matanya kepada putri.


"Aku cukup mendoakan kau mendapatkan apa yang kau inginkan dan merasakan kebahagian yang sesungguhnya" putri tersenyum bahagia menatap aliee.


"Aku akan bahagia dengan apa yang kalian harapkan untuk diriku, cuma aku cukup berdoa kalau kalian pulang tidak kena omelan karena tidak mengontrol kadar alkohol kalian."


"Kalau aku sama lidya ga perlu cemas kak" jelas ayu dengan sangat percaya diri "akukan berdua ngekos dan ria pasti kena omel mamanya dan kak putri sama suaminya."


"Beruntunglah kalian karena kanu saat ini sedang tidak ada di sini kalau ada kalian akan di usir karena sudah membuat keributan dengan mengejek adiknya."


"Sepertinya Tuhan lagi berkehendak sama kita sehingga membuat kanu di singapur dan makannya kita berani berbuat ribut."


Aliee mengambil gelas yang berisi vodka milik ayu dengan sekali tegak dan dirinya ikut menimbrung dengan temannya tersebut.


Tanpa mereka sadari ada dua orang lelaki yang sedang memperhatikan mereka dengan seksama dan mendengarkan apa yang di ucapkan mereka semua.


"Sepertinya dewi fortuna sedang bersama dengan dirimu gabe, karena kau hanya butuh warga sini untuk perusahaan yang akan kau dirikan dan dirinya hanya butuh status."


"Kau itu selalu saja seperti itu danke, kau lihat dirinya walau seperti itu sebenarnya dirinya sangat butuh seseorang yang memegang tangannya" jelas lelaki yang bernama gabe dengan memperhatikan aliee dengan seksama.


"Dia lucu."


Danke memperhatikan temannya tersebut dengan tatapan tidak percaya karena gabe tersenyum menatap wanita itu dengan mengucapkan kata lucu dari mulut seorang danke.


"Aku ke toilet dulu."


Gabe ingin keluar dari kamar mandi dan dirinya menatap seorang wanita yang masuk dan mengunci kamar mandi pria dan berbicara di telepon.


"Riyan... tolong jemput istrimu sekarng di club biasa kita kumpul dan jangan tanya kenapa karena aku juga terpaksa datang karena di telepon nia. Aku harus mengantar ketiga anak rese itu pulang dengan selamat... Iya-iya aku tunggu sampai kamu datang, makasih yan."


"Ehm nona."


Dengan cepat aliee membalikkan badannya dan menatap sekelilingnya dengan cermat "maaf sepertinya aku salah masuk ruangan."


Kali ini aliee ingin keluar namun tangannya di tarik gabe dan kali ini aliee dengan sigap pasang kuda-kuda. 


"Hei aku tidak akan melukaimu ataupun akan melecehkan dirimu, aku hanya ingin memberikan tawaran kepada dirimu" gabe melepaskan tangannya agar dirinya di dengar aliee.


"Tawaran" kali ini aliee yakin kalau alisnya sudah menukik dengan tajam.


"Ya tawaran" jelasnya dengan memikirkan apa yang akan dirinya ucapkan selanjutnya "ucapan teman-temanmu."


"Oh."


"Syukurlah kau paham, apakah kau mau membicarakan tawaran tersebut" tanya gabe dengan to the point.


"Bisa, cuma aku ga bisa bicara disini" kali ini wajah aliee terlihat cemas akan tingkah temannya kalau sudah mabuk.


"Baiklah sepertinya kamu buru-buru dan ini kartu namaku" jelasnya dengan mengeluarkan kartu namanya.


Aliee menerima kartu namanya dan menatap nama tersebut "gabriel" aliee menatap lelaki itu dan mengangguk membernarkan "baiklah tuan gabriel aku akan menghubungi mu kalau aku tidak sedang sibuk."


"Namamu." 


Tanyanya penuh dengan harap namun aliee sudah pergi meninggalkan dirinya di dalam kamar mandi dengan wajah yang cukup bingung. Biasanya semua orang akan menyukai dirinya dan rela meninggalkan semua nya dan datang kepelukan dirinya.


Gabe mendekati mejanya dan menatap ke arah wanita yang menjadi incarannya tersebut namun dirinya tidak melihat mereka lagi.


"Mereka sudah pulang" danke menjawab apa yang sedang di cari oleh gabe.


"Sayang sekali, padahal aku berharap mengtahui namanya" ucapnya pada dirinya sendiri.


Next episode