Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Part 3


Karena tidak ada kabar dari Aliee saat ini satu kantor mendapat omelan dari Gabe dan moodnya naik turun tidak karuan sehingga dirinya kesal dan menyuruh oranglain untuk mencari tau keberadaan Aliee saat ini.


Gabe tidak mengangkat telepon yang masuk karena tidak ada nama di nomer tersebut dan dia membalikkan telepon tersebut.


"Tuan aku sudah membawa data yang anda inginkan" jelas lelaki yang selalu ada disisi Gabriel.


"Bawa sini liam" pinta Gabriel dengan wajah dinginnya menatap liam yang membawa dokumen yang dirinya inginkan.


Gabriel membaca data diri aliee dengan seksama dan dirinya menatap nomer yang selalu dia tunggu-tunggu. Dirinya meraih handphone yang dari tadi bergetar dan menatap misscall sebanyak 10 kali.


Dirinya menatap nomer yang tertera adalah nomer Aliee wanita yang sudah di tunggu-tunggu untuk menghubungi dirinya. Kini Gabe menatap menatap message yang masuk ke nomernya tersebut.


"Ku harap kau tidak sibuk dan karena kau susah di hubungi bagaimana kalau kita bertemu dihotel JW Marriott besok malam sekitar jam 7 malam. Bila kau tidak bisa silahkan ajukan jam kosong yang kamu miliki agar aku sesuaikan dengan jadwalku. ~Aliee."


Saat itu juga Gabe langsung menghubungi nomer tersebut dan dia kesal tidak di angkat hingga dering terakhir dirinya sudah putus asa.


"Hallo."


Gabe masih terpana akan suara lembut tersebut saat berbicara dengan dirinya.


"Gabe ada apa, bukannya kau sudah membaca pesanku" tanya Aliee dengan suara penasaran.


"Aku bisa dari pagi" jelas Aliee dengan penuh keyakinan "apa tidak sebaiknya kita bertemu disiang atau sore hari saja."


"Bisa saja namun aku sedang ada pekerjaan saat itu sampai jam enam dan kebetulan aku ada urusan di hotel itu" jelas Aliee dengan sangat jujur.


"Baiklah jam tujuh dan aku akan menginformasikan apa yang perlu kita bahas" ungkap Gabe dengan penuh percaya diri.


"Baiklah sampai bertemu di besok malam."


_____


Gabe datang tepat waktu dan dirinya menatap Aliee bersama lelaki paruh baya dan terlihat sangat dekat dan menatap dirinya yang menerima uang dari lelaki tersebut.


Gabe merasa apa yang di lakukan oleh Aliee untuk menikah hanya untuk status karena dirinya hanya ingin bersenang-senang dengan lelaki hidung belang.


"Kau sudah datang" sapa Aliee dengan wajah yang sangat ceria.


"Baru saja datang" Gabe melihat Aliee dengan tatapan tidak sukanya.


Aliee adalah orang yang tidak akan peka apabila orang tersebut adalah orang yang baru dan dirinya tidak memiliki perasaan apapun terhadap orang tersebut.


"Baiklah... apa yang harus kita bahas dengan detailnya" Aliee duduk dengan santai menatap Gabe yang sedang menatapnya dengan lekat.


"Apa syarat yang kau berikan dengan status pernikahan ini" Gabe langsung to the point karena tidak suka dengan sikap Aliee.


"Aku hanya ingin menikah yang di hadiri keluarga saja dan tidak perlu repot-repot mengenai resepsi atau apapun itu. Karena akan banyak mengeluarkan biaya yang tidak perlu, toh kita hanya menikah untuk status" ungkap Aliee yang sama to the point nya.


"Pada intinya seperti itu, aku hanya butuh dirimu untuk usahaku disini dipermudah. Apa kau keberatan" suara dingin Gabe lagi-lagi ingin membuat Aliee takut namun apa yang dia pikirkan tidak terjadi.


"Baiklah dan aku pastikan semuanya dapat dikerjakan dengan sangat baik dan tidak ada kendala sama sekali."


"Aku hanya butuh status dan aku tidak akan mengganggu masalah pribadimu dengan wanita yang kamu miliki setiap hari," jelas Aliee dengan wajah datar.


Gabe hanya tersenyum kecut saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Aliee barusan.


"Kalau kau sendiri ada yang perlu di tambahkan" Aliee menatap Gabe dengan penuh tanya.


"Kau dapat memiliki segalanya milikku kecuali hatiku," kata Gabriel dengan pandangan penuh makna.


"Kau tenang saja aku tidak akan mudah mencintai seseorang" senyum Aliee terpampang dengan sangat jelas menunjukkan bahwa dirinya sangat yakin akan hal tersebut.


"Kalau kau jatuh hati padaku."


Aliee menatap tatapan mata Gabe yang sangat penuh percaya diri hanya di balas dengan anggukan kecil.


"Tidak masalah aku jatuh hati pada dirimu, kau kaya dan seperti yang kau bilang kalau aku memiliki semuanya kecuali hatimu."


Aliee mengangguk kecil dan mencerna apa yang dirinya ucapkan barusan.


"Aku harap kita dapat bekerja sama dengan baik."


Aliee mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Gabe sebagai kesepakatan yang mereka lakukan dan Gabe membalas jabatan tangan tersebut dengan tegas.


"Apa kau memerlukan dokumen untuk hal perjanjian kita" tawar Gabe kepada Aliee.


"Tidak perlu karena aku percaya pada dirimu" Aliee langsung mengambil handphone miliknya dan mengangkat panggilan tersebut.


"Wah tepat sekali anak brengsek" ungkap Aliee dengan semangat "jemput aku di JW Marriott saat ini juga atau ku pecat kau jadi pacar ku."


Gabe menatap Aliee yang sangat bebas dan berbicara apa adanya dengan orang yang di ucapnya sebagai pacarnya.


"Baiklah aku tunggu 30 menit dari sekarang" Aliee menatap jam tangan yang ada di tangannya. "Aku tutup teleponnya dulu ya cantiknya akuh" ucap Aliee dengan nada sedikit menjijikkan.


Aliee malu setengah mati karena bunyi perutnya yang sudah di pastikan dapat di dengar oleh Gabe.


"Ah maaf perutku tidak tau sikon."


Gabe menatapnya dengan wajah bingung dimana wanita yang suka datang ke hotel pasti akan membuat dirinya kenyang dan tidak kekurangan namun yang dilihat dirinya adalah keterbalikan akan hal tersebut.


"Lebih baik kita makan dulu sebelum kita pergi."


Selama jam makan Aliee hanya menatap Gabe dengan seksama dan Gabe merasa risih karena di pandangi oleh Aliee.


"Kenapa kau menayap diriku" tatap Gabe dengan tidak suka "aku tau kalau aku tampan tapi berhentilah menatap diriku."


"Jangan terlalu memuji dirimu sendiri tuan karena ketampanan tidak berangsur selamanya."


Next Episode