Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 15 - Kado untuk Elnara


Elnara butuh seseorang untuk menjadi teman curhatnya karena itulah dia memutuskan untuk bercerita pada Vika mengenai permintaan sederhananya pada Zayan.


Mendengar cerita Elnara tentu saja Vika marah besar. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Elnara yang entah mengapa terlalu mencintai Zayan, padahal jelas sekali Zayan bukanlah suami yang baik.


"Lo kenapa sih, El? Segitu cintanya lo sama suami lo itu?" tanya Vika kesal.


"Gue berharap ini bisa jadi jalan yang baik untuk gue sama Mas Zayan. Aku cuma mau punya kenangan indah sama Mas Zayan, setelah ini kalau memang kita nggak bisa bersama lagi, gue ikhlas."


Vika menarik napas berat, sangat susah berbicara dengan orang yang jatuh cinta.


"Setelah itu apa? Kalau kalian akhirnya tetap pisah, gue yakin kenangan indah yang lo maksud itu cuma bawa luka baru buat lo."


Apa yang dikatakan Vika memang benar, tapi hati Elnara hanya ingin memberi 1 kesempatan. Tidak bisa dipungkiri jika dia berharap Zayan bisa jatuh cinta padanya dan mereka tidak harus berpisah.


"Tiga minggu lagi, gue harus berjuang tiga minggu lagi. Mungkin perjuangan gue selama satu bulan ini berbuah masih."


"Berhenti ngasih harapan buat diri lo sendiri, yang ada lo cuma nyakitin hati lo. Gue sayang sama lo, El. Gue nggak mau harus sakit hati terus menerus, lupakan suami lo dan mulai buka hati lo untuk yang lain."


Elnara menunduk sedih, haruskah dia menyerah saja? Akan tetapi perkataan Mikha yang mengatakan memiliki banyak kenangan indah bersama Zayan membuat Elnara juga ingin merasakan hal yang sama. Elnara hanya butuh 1 harapan kecil saja untuk melanjutkan ini semua.


"Sebagai sahabat, gue cuma mau bilang berhenti untuk berjuang dan coba untuk buka hati lo buat Fian. Dia masih cinta sama lo, dia benar-benar tulus cinta sama lo."


"Gue cuma anggap Fian sebagai sahabat, gue nggak bisa anggap Fian lebih dari itu. Perasaan gue cuma untuk Mas Zayan, walaupun perasaan gue nggak berbalaskan."


Mendengar ucapan Elnara membuat Vika memilih bungkam. Dia tidak bisa memaksa Elnara karena perasaan tidak bisa dipaksa. Satu-satunya hal yang bisa Vika lakukan hanyalah menyiapkan pundaknya untuk tempat Elnara bersandar.


Demi kebahagiaan sahabatnya, Vika akan mendoakan semoga perjuangan Elnara kali ini berhasil. Elnara gadis baik dan pantas untuk dicintai, hanya saja Zayan pria bodoh yang tidak bisa menerima cinta tulus Elnara.


*


Elnara berusaha melupakan apa yang dia dengan hari itu. Dia hanya ingin menikmati waktu yang tersiksa, terlebih lagi hari ini adalah ulang tahunnya. Sedikit berharap setidaknya Zayan ingat akan hari spesial ini karena tahun kemarin pria itu bahkan tidak mau repot-repot mengucapkan selamat ulang tahun.


Elnara ingin mengatakan pada Zayan bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun, Elnara masih tidak siap jika harus menelan kekecewaan lagi.


"Saya ada meeting di luar, kemungkinan sampai malam." perkataan Zayan menyadarkan Elnara dari lamunannya.


Elnara harus menelan pil pahit lagi karena Zayan benar-benar tidak mengingat ulang tahunnya. Pria itu bahkan menghabiskan waktunya di kantor.


"Iya Mas," sahut Elnara pelan.


Zayan sudah akan kembali bersuara katika dering ponsel Elnara menyita perhatiaan keduanya. Zayan melirik sekilas dan melihat panggilan masuk dari Fian. Elnara segera meminta izin pada Zayan untuk mengangkat telpon.


"Halo, Fian!" sapa Elnara dengan semangat membuat Zayan mengalihkan pandangannya.


"Malam ini ada acara?"


"Nggak ada, Kenapa, Fian?"


"Mau makan malam berdua? Nanti aku yang minta izin sama suami kamu."


"Nggak usah, biar aku yang minta izin. Pasti diizinin kok, kamu kasih tahu aja tempatnya."


"Oke, sampai ketemu nanti malam."


Percapakan keduanya berakhir membuat Zayan yang diam-diam mendengarkan langsung mengalihkan tatapannya.


"Mas, El izin nanti malam keluar ya sama teman El. Kami mau makan malam di restoran langganan kami, boleh ya Mas?"


Tidak ada pilihan lain untuk Zayan selain mengiyakan permintaan Elnara. Meski dia tidak suka melihat kedekatan Elnara dengan pria yan bernama Fian itu, tapi sayangnya dia tidak bisa menyuarakan ketidak sukaannya. Dia tidak mau Elnara salah paham dan menganggap dia cemburu.


Elnara sendiri merasa senang karena setidaknya dia tidak akan kesepian malam ini. Terlebih Vika berada di kampung halaman Ibunya karena sang Kakek meninggal. Belum lagi Papi dan Maminya yang masih berada di luar negeri karena urusan pekerjaan, sungguh suram ulang tahun Elnara tahun ini.


*


Fian menyiapkan acara makan malam ini dengan romantis. Dia ingin membuat Elnara merasa terkesan karena kini Fian tahu seperti apa hubungan Elnara dengan suaminya.


Meski terdengar jahat, tapi Fian benar-benar mendoakan Elnara agar segera pisah dari suaminya. Fian ingin memperjuangkan kembali cintanya.


"Makasih ya Fian, aku nggak nyangka kamu masih ingat ulang tahunku." ucap Elnara yang masih mengagumi dekorasi romantis yang disiapkan oleh Fian.


"Aku selalu ingat apapun tentang kamu. Nah, sebelum kiata pulang, aku mau ngasih kamu sesuatu." Ujar Fian sambil mengambil sesuatu dari kantong jasnya.


Dengan senyum lembutnya Fian menyerahkan sebuah kalung indah pada Elnara yang terlihat terkejut.


"Fian, kamu nggak seharusnya ngasih aku ini. Aku nggak bisa nerima hadiah ini," tolak Elnara dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaan Fian.


"Please, jangan nolak ya. Anggap aja ini kalung persahabatan dari aku, kalau suami kamu marah biar aku yang jelaskan." Fian berucap dengan nada memohon agar Elnara luluh.


Demi menghargai Fian, mau tidak mau Elnara menerima hadiah itu. Dia tidak mau mengecewakan Fian yang begitu baik padanya. Elnara akan menganggap kalung ini adalah kalung persahabatan, lagipula dia tidak yakin akan terus memakainya.


Di tempat lain, ada Zayan yang ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Elnara. Untuk mengucapkan selamat ulang tahun rasanya Zayan tidak mampu karena itulah dia hanya menyiapkan hadiah kecil untuk Elnara. Setidaknya sebagai tanda bahwa dia benar-benar mengikuti keinginan Elnara untuk menjadi suami yang sebenarnya.


Zayan akan menitipkan kado ini pada Pak Bambang, supir yang biasa mengantar jemput Elnara. Dia sedikit berharap Elnara menyukai kado sederhana darinya.


"Pak, ini saya titip untuk Elnara. Saya masih ada meeting di luar, jadi Bapak bisa pulang duluan." Ucapn Zayan seraya memberikan tas kecil berisikan kotak hadiah untuk Elnara.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi." Pak Bambang menerima tas itu dan segera masuk ke dalam mobil meninggalkan Zayan yang sudah berjalan masuk ke dalam restoran.


Zayan tidak tahu jika diam-diam Mikha mendengar ucapannya. Rasa iri dan tidak terima menguasai Mikha, dia tidak akan membiarkan Elnara senang atas kado dari Zayan.


Sebelum Pak Bambang pergo, dengan lancang Mikha masuk ke dalam mobil. Wanita itu menampilkan wajah polos ketika melihat Pak Bambang menatanya kaget.


"Maaf Pak, saya buru-buru. Tadi Pak Zayan minta saya ambil kembali yang beliau titipkan, katanya Pak Zayan mau ngasih sendiri ke istrinya." Mikha berkata dengan wajah polosnyam berusaha meyakinkan Pak Bambang bahwa dia tidak berbohong.


Pak Bambang yang mengenal Mikha sebagai sekertaris Zayan tentu percaya begitu saja ucapan wanita itu. Dengan tanpa rasa curiga Pak Bambang memberikan kado itu pada Mikha yang bersorak senang dalam hati.


"Maaf El, kamu nggak berhak untuk kado ini, akulah yang berhak karena hanya aku yang dicintai Zayan. Aku nggak mau kamu bahagia karena kamu nggak pantas." Mikha berkata dalam hati merasa puas karena kini kado milik Elnara sudah berada ditangannya.


To Be Continue ~~>>