Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 11 - Haruskah Menyerah?


Elnara bukannya tidak tahu jika dalam beberapa bulan ini hubungan Zayan dan Mikha kembali dekat. Sakit hati sudah pasti, tapi Elnara tidak bisa berbuat banyak hal. Ingin marah saja rasanya Elnara tidak sanggup karena pada akhirnya hanya dialah yang tersakiti.


Di sisi lain ada Vika yang mulai mengetahui hubungan Elnara dan Zayan yang tidak baik. Sedari awal Vika meragukan pernikahan mereka karena merasa hanya Elnara yang mencintai Zayan, sedangkan pria itu terlihat biasa saja. Namun, Vika tidak bisa berbuat banyak karena dia sadar dia hanyalah orang luar.


Sayangnya, kesabaran Vika sudah habis ketika melihat Zayan makan siang bersama wanita lain dan tampak sangat akrab. Alasan itulah yang membuat Vika akhirnya menemui Elnara untuk memberitahu sahabatnya itu. Saat ini mereka sedang berada di restoran untuk makan siang bersama sekaligus ingin menunjukkan apa yang pernah Vika lihat.


“Gimana kabar suami lo?” tanya Vika tiba-tiba membuat Elnara menatapnya tidak percaya.


“Tumben banget lo nanyain suami gue? Sudah berdamai lo?” Elnara tersenyum menggodaVika yang sedari awal memang tidak menyukai Zayan.


“Sebenarnya ada yang mau gue omongin, tapi gue mau kasih lo bukti dulu.” Ucap Vika sambil sesekali melirik kearah pintu restoran untuk memastikan apakah yang dia tunggu sudah tiba.


Entah mengapa perasaan Elnara menjadi tidak nyaman, dia merasa susuatu yang ingin disampaikan oleh Vika adalah hal yang besar.


Tidak lama yang Vika tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dengan segera Vika memberi kode pada Elnara untuk menoleh kearah pintu masuk restoran. Di depan sana, Elnara melihat Zayan yang masuk ke dalam restoran bersama dengan Mikha. Bisa Elnara lihat keduanya tampak sangat akrab seperti sepasang kekasih.


“Sorry, El kalau ini nyakitin lo. Gue sebagai sahabat lo nggak terima lo dikhianati karena itulah gue ngasih tahu lo hal ini.” Bisik Vika sembari menggenggam erat tangan Elnara, bermaksud menguatkan sang sahabat.


Elnara memaksakan diri untuk tersenyum meski hatinya menjerit sakit. Ternyata apa yang ditakutkan oleh Elnara terjadi juga.


"Dia sekretaris Mas Zayan, kebetulan dia teman lama Mas Zayan jadilah mereka akrab seperti itu." Elnara bercerita dengan santai berusaha untuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada Vika.


Vika mendengus kesal, "sekretaris apa yang hampir setiap hari makan siang sama bos dan terlihat mesra."


Elnara tersenyum kecil, mengalihkan perhatiannya pada Zayan dan Mikha yang terlihat berbicara dengan sangat akrab.


"Kenapa jadi lo yang cemburu? Sudah, biarkan Mas Zayan dengan sekretarisnya. Gue mau balik ke kampus dulu mau ngumpul tugas, gue duluan ya."


Belum sempat Vika menjawab Elnara sudah lebih dulu pergi meninggalkan restoran. Melihat tingkah tidak biasa Elnara membuat Vika semakin yakin ada sesuatu yang ditutupi oleh sahabatnya itu.


Sepanjang perjalanan menuju kampus, Elnara hanya bisa menangis seorang diri. Ternyata rasanya jauh lebih menyakitkan melihat sendiri bagaimana suami yang dia cintai justru terlihat mesra dengan mantan kekasih.


Melihat hal ini, Elnara jadi berpikir apakah dia harus menyerah sekarang sebelum terlanjur semakin sakit hati?


*


Elnara sudah ingin tidur kereta sebuah notifikasi menyita perhatiannya. Sudah pukul 12 malam dan Elnara harus dibuat terjaga oleh pesan yang dikirimkan Mikha.


Bisa kita bertemu besok? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.


"Apalagi maunya dia sih?" Elnara mendengus kesal membaca pesan dari Mikha.


Pesan singkat Mikha berhasil membuat Elnara terjaga hingga pukul 3 pagi. Sekarang dia sudah duduk manis di cafe menunggu Mikha yang baru saja tiba.


"Ada apa, Mbak?" tanya Elnara tanpa basa-basi ketika Mikha sudah duduk di depannya.


"Kamu tidak suka basa-basi ya. Kalau begitu aku akan berterus terang saja." Mikha tersenyum kecil melihat Elnara yang menatapnya tajam.


"Silahkan," ujar Elnara mempersilahkan.


"Kamu tahu hubunganku dan Zayan sudah membaik? Aku sudah menjelaskan alasan kepergianku dan Zayan menerimanya. Aku pikir ini adalah hal baik untuk hubungan kami nantinya." Mikha menjeda sebentar menikmati minuman yang dipesan sebelumnya.


"Lalu? Apa saya harus peduli dengan hubungan kalian?" Elnara bertanya dengan sinis, terlihat muak dengan wajah Mikha.


"Harus, kamu tahukan jika hubunganku dan Zayan membaik artinya kami akan seger kembali bersama."


"Kalau Mbak Mikha lupa, saya dan Mas Zayan sudah menikah jadi Mbak nggak perlu berkhayal hubungan kalian bisa seperti dulu."


"Sekalipun kalian telah menikah, aku yakin Zayan tetap akan memilihku. Kami memiliki banyak kenangan indah bersama dan aku yakin Zayan tidak akan melupakan hal itu. Jadi, sebaiknya kamu mundur dan biarkan kami kembali bersama atau kamu sendiri yang akan sakit hati karena Zayan nantinya akan meceraikanmu."


Elnara tertawa, menertawakan semua ucapan Mikha yang terdengar sangat memalukan. Elnara jadi bertanya-tanya apakah Mikha tidak memiliki rasa malu?


"Silahkan, lakukan apapun yang Mbak mau. Kalau Mbak yakin Mas Zayan akan memilih Mbak buktikan. Dengar, saya tidak akan mundur hanya karena ancaman murahan Mbak. Saya adalah istri sah Mas Zayan dan Mbak hanya mantan kekasih, tanpa bercerita panjang saya yakin orang-orang akan tahu siapa yang jahat di sini!"


Mikha terlihat sangat marah karena Elnara berhasil membalas ucapannya. Mikha pikir, Elnara hanyalah gadis kecil yang tidak berani melawannya dan akan memilih menyerah begitu saja.


"Terserah kamu, jika kamu memilih sakit hati silahkan!" Mikha segera berdiri siap untuk pergi dari hadapan Elnara.


Elnara hanya diam menatap Mikha yang semakin menjauh. Kini hanya tinggal Elnara seorang diri. Gadis itu duduk termenung memikirkan ucapan Mikha.


Benar, Zayan dan Mikha memiliki banyak kenangan indah bersama. Suka tidak suka Elnara harus mengakui hal itu. Sedangkan, Elnara dan Zayan tidak pernah memiliki kenangan indah bersama. Mereka hanya terus bertengkar dan berakhir Elnara yang menangis.


"Benar, kita nggak memiliki kenangan indah apapun Mas." Ucap Elnara lirih sambil menatap nanar layar ponselnya yang tersimpan foto pernikahan mereka.


Elnara ingin menyerah, tapi dia tidak ingin Mikha menang begitu saja. Elnara ingin membuat kenangan indah bersama Zayan. Dia ingin mengabadikan setiap momen indah yang mereka lewati agar jika suatu saat mereka harus berpisah, setidaknya Elnara bisa mengenang kebersamaan mereka nantinya.


Pinta Elnara sangat sederhana, tapi tentu akan sulit Zayan lakukan. Entah harus bagaimana Elnara menciptakan kenangan indah itu.


To Be Continue ~~>>