Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 49 - Seseorang di Masa Lalu


6 bulan kemudian.


Waktu berlalu dengan cepat dan kini usia kandungan Elnara memasuki bulan ke-7. Keluarga Zayan dan Elnara sudah bersiap mengadakan acara 7 bulanan.


Semua menyambut kehamilan Elnara dengan bahagia, kecuali Linda. Wanita paruh baya itu merasa sangat iri ketika melihat bagaimana bahagianya Zayan dan Elnara. Dia merasa menyesal karena memilih pria lain dan kini dia menerima karmanya.


Pria selingkuhannya pergi dengan wanita lain setelah berhasil menipunya bertahun-tahun. Kini Linda hanya tinggal sendiri, kesepian tanpa ada yang mau menemani.


"Gimana dedeknya? Pasti aktif banget ya? Mbak El sudah periksa jenis kelaminnya?" tanya Fanya antusias saat melihat Elnara tengah mengelus perutnya.


"Aktif banget, Mbak sampe kewalahan. Kalau jenis kelaminnya masih dirahasiakan, mungkin dia malu." Elnara tersenyum lebar masih sambil mengelus perutnya, anaknya ini sungguh aktif luar biasa.


"Yah, kok dedeknya malu-malu sih. Aunty Fanya sudah penasaran nih," Fanya memasang wajah cemberut mengundang tawa kecil dari Elnara.


"Sini deh Fanya elu dedeknya dulu, siapa tau nanti dedeknya nggak malu-malu lagi." Elnara menarik pelan tangan Fanya dan meletakkannya di atas perut.


Fanya langsung berteriak heboh saat merasakan tendangan kecil dari perut Elnara. Pemandangan itu mengundang senyum bahagia keluarga mereka.


"Seharusnya aku juga ada di sana bersama mereka," gumam Linda.


Linda sudah akan pergi ketika sebuah suara yang sangat dia kenali memanggil namanya.


"Linda!" panggil Doni membuat Linda menghentikan langkah kakinya.


Linda berbalik dan menatap terkejut pada Doni yang berdiri tidak jauh darinya.


"Mas Doni?" gumam Linda lirih.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Doni yang masih tidak menyangka melihat sosok Linda di hadapannya.


Linda terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan dari mantan suaminya itu.


Fanya yang menyaksikan dari jauh segera mendekat. Remaja itu penasaran siapa wanita yang berbicara dengan Ayahnya itu.


"Ayah, siapa Ibu ini?" tanya Fanya penasaran.


Doni dan Linda menoleh kaget, keduanya tidak menyangka ada sosok Fanya yang kini menatap mereka penasaran.


"Fanya, saya--" Linda sudah akan memperkenalkan dirinya saat tiba-tiba Zayan muncul dan menarik pelan lengan Fanya.


"Dia bukan siapa-siapa, sebaiknya kamu masuk. Ayah juga ayo masuk, acara sudah mau dimulai." Zayan segera membawa Doni dan Fanya masuk ke dalam rumah meninggalkan Linda seorang diri.


Zayan bahkan tidak menoleh sama sekali berbeda dengan Fanya yang sesekali mencuri pandang karena penasaran.


Linda tahu inilah bayaran yang harus dia terima karena perbuatannya di masa lalu. Dulu dia yang meninggalkan keluarganya, kini dialah yang ditinggalkan.


Karma itu benar-benar nyatakan?


*


Acara 7 bulanan Elnara telah selesai, para tamu sudah pulang dan kini tinggal keluarga inti yang tersisa. Mereka berkumpul di ruang keluarga karena ada hal yang ingin dibicarakan.


"Fanya, kamu pasti penasaran siapa wanita tadi 'kan?" tanya Doni membuka pembicaraan.


Fanya hanya mengangguk karena masih tidak mengerti apa yang ingin mereka bicarakan.


Doni menghela napas berat sebelum berbicara, "dia adalah Ibu kamu."


Elnara memeluk Fanya dari samping ketika melihat adik iparnya itu tampak terkejut. Selama ini Fanya tidak tahu sosok Ibunya, karena bagi Fanya cukup Zayan dan Doni yang dia kenal.


"Ibu?" Fanya bertanya lirih.


"Fanya mau bertemu Ibu? Ayah dan Mas Zayan akan mengizinkan, mungkin sudah saatnya Fanya mengenal Ibu kandung Fanya." Doni berucap dengan lembut karena tidak ingin menyakiti hari siapapun.


"Nggak, Fanya nggak butuh Ibu. Fanya cuma butuh Ayah dan Mas Zayan!" Fanya menggeleng dengan tegas meski kini remaja itu menangis.


Elnara, Genta dan Almira hanya bisa menatap prihatin pada Fanya. Mereka merasakan bagaimana sakitnya Fanya selama ini. Fanya tumbuh tanpa didampingi sosok Ibu yang seharusnya berperan dalam hidupnya.


*


Hari sudah malam dan Zayan masih terjaga. Pria itu memikirkan banyak hal hingga membuatnya sulit untuk tidur.


"Mas Zayan?" Elnara memanggil dengan suara serak.


Zayan menoleh dan seketika merasa bersalah karena berpikir sudah mengganggu tidur nyenyak istrinya.


"Maaf Mas ganggu tidur kamu, kamu tidur lagi ya." Zayan segera memeluk Elnara berusaha untuk membuat wanita hamil itu kembali tidur.


"Mas Zayan mikirin apa?" tanya Elnara yang sepertinya sudah sulit untuk kembali tidur.


"Mas merasa bersalah pada Fanya, selama ini dia pasti merasa sedih karena tumbuh tanpa mengenal siapa Ibunya."


"Kenapa Mas bisa berpikir seperti itu?"


Zayan terdiam sejenak sebelum menjawab dengan ragu, "entahlah."


"Fanya pasti bersyukur karena dirawat oleh Mas dan Ayah. Dua sosok pria hebat dalam hidupnya. Menurut El, Fanya nggak membutuhkan Ibunya lagi karena bagi dia cukup dengan Mas dan Ayah. Dulu dia pasti bertanya-tanya kemana Ibunya, kenapa Ibunya nggak pernah ada di sampingnya?"


Elnara berhenti sebentar membiarkan Zayan mengerti apa yang dia maksud.


"Tapi setelah dia tahu keadaan yang sebenarnya dia pasti bersyukur karena memiliki Mas dan Ayah dalam hidupnya. Di luar sana banyak yang nggak seberuntung Fanya, mungkin ada yang terlantar atau hidup tersiksa karena nggak memiliki orang tua lengkap. Jadi, Mas nggak perlu merasa bersalah."


"Sekarang dia pasti lebih bersyukur karena memiliki kakak ipar yang hebat seperti kamu." Zayan tersenyum hangat sembari membelai lembut pipi Elnara yang semakin chubby.


"Hidup itu harus disyukuri, kalau nggak sesuai sama yang kita inginkan ya cukup syukuri. Mungkin akan ada ganti yang lebih baik."


"Mas berdoa semoga anak-anak kita nantinya tumbuh hebat karena dirawat oleh kamu. Semoga nggak akan ada yang merasakan pahitnya masa lalu Mas."


"Aamiin,"


Harapan serta doa selalu mereka panjatkan untuk kebahagian keluarga kecil mereka. Semoga setelah cobaan yang mereka hadapi selama ini, akan ada kebahagian yang Tuhan berikan untuk mereka.


To Be Continued ~~>>


Rekomendasi novel keren dan menarik untuk kalian. Yuk, mampir dan dukung karyanya 👇😉


Judul : Dear, Pak Boss


Author : Ika Oktafiana



Blurb :


Stella tidak pernah menduga bahwa dirinya akan jatuh cinta dengan seorang Arshaka Virendra, sang Direktur Utama di perusahaan tempat Stella bekerja.


Kejadian itu bermula ketika Stella merasa tertantang dengan sikap Shaka yang dingin dan kaku. Bahkan, untuk sekedar mengulas senyum saja tidak pernah.


Berbagai cara Stella lakukan untuk membuat Shaka mau tersenyum. "Senyum dong, Pak. Biar semakin tampan," goda Stella tempo hari saat keduanya tidak sengaja bertemu di saat hujan sore hari.


Dikala itulah, awal mula hidup Shaka berubah menjadi lebih berwarna, Stella berhasil menjungkir-balikkan hidup Shaka dan mulai mengenal rasa bernama 'cinta'.


Perlahan, penyebab dari sikap dingin Shaka terkuak, hidup yang keras dan masalalu yang kelam. Hal itu justru semakin membuat Stella begitu kagum dengan sosok Shaka. Seketika timbul rasa ingin selalu ada dan memeluk dikala pelik kehidupan menderanya.


Bagaimana kelanjutan kisahnya?


Baca terus yuk^_^