Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 50 - Zayan dan Elnara


Hari-hari berjalan dengan baik dan kini kedua keluarga sedang menunggu Elnara yan tengah berada di ruang bersalin. Sejak semalam Elnara mengalami kontraksi membuat Zayan panik luar biasa, beruntung ada Almira yang menenangkannya.


Tidak lama tangis bayi memenuhi ruang bersalin, Elnara menangis haru mendengar suara tangis bayinya.


"Selamat ya, anaknya berjenis kelamin laki-laki, terlahir sehat dan sempurna." Dokter yang membantu persalinan Elnara tersenyum sembari menyerahkan sang bayi ke dalam gendongan Zayan.


Dengan tangan bergertar Zayan menerima putranya. Begitu kecil dan rapuh hingga Zayan takut jika dekapannya bisa menyakiti putrannya.


"Terima kasih ... terima kasih sudah berjuang melahirkan putra kita." Zayan menunduk mengecup lembut kening Elnara, mata pria itu tampak memerah menahan tangis.


"Ganteng, mirip Mas Zayan." Elnara menatap haru wajah putranya, tangannya terulur mengusap lembut pipi sang putra.


"Mas sudah siapkan nama?" tanya Elnara yang sudah tidak sabar ingin tahu siapa nama putra mereka.


"Namanya Alzam Zhafir," ujar Zayan menatap hangat sang putra yang terlelap dalam dekapan Elnara.


"Baby Alzam, nanti harus jadi anak yang baik seperti Papa Zayan ya." Elnara berucap pelan sembari membelai lembut pipi Alzam yang begitu menggemaskan.


Di luar ruangan semua merasa terharu, terlebih Almira yang masih tidak menyangka putri kecilnya kini sudah menjadi seorang Ibu.


"Putri kita sudah menjadi Ibu, Mami nggak nyangka Pi semua seperti cepat berlalu." Almira berbisik lirih memeluk Genta yang berusaha menahan air matanya.


"Papi juga nggak nyangka, kita doakan ya Mi semoga El bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak."


"Aamiin,"


Doni dan Fanya berpelukan sembari menangis bersama. Mereka ikut terharu, rasa syukur tidak lupa mereka ucapan karena rumah tangga Zayan bisa bertahan menghadapi berbagai macam cobaan.


*


Di balik kebahagian Zayan dan Elnara akan kelahiran putra mereka ada sosok Okta yang berusaha menyembunyikan rasa irinya.


Sampai saat ini Okta masih belum mendapatkan restu dari Windi. Dia bahkan tidak tahu apa yang membuat Windi begitu membencinya.


Okta akan menghubungi Vika untuk meminta wanita itu menemaninya mengunjungi Elnara. Namun, sebuah pesan dari nomor yang dia nanti membuatnya mengurungkan niat.


Tangan Okta bergetar saat melihat isi pesan dari Windi. Pesan yang menjawab semua pertanyaan mengapa Windi begitu membencinya.


Ini alasan saya nggak mengizinkan kamu untuk kembali bersama Vika. Bagi saya kesempatan yang kamu miliki sudah habis. Kamu hanya akan membawa luka untuk Vika, jadi berhentilah mendekati Vika. Jauhi dia agar dia bisa bahagia meski tanpa kamu!


Bukan isi pesan itu yang membuat Okta terkejut, melainkan sebuah foto dan sebuah surat dari Dokter. Sekarang Okta tahu inilah alasan Windi tidak memberikan restu untuk mereka.


Windi benar, selama ini Okta hanya memberi luka untuk Vika. Membawa wanita itu pada kesedihan yang tidak kunjung usai. Seharusnya Okta sadar bahwa dia tidak pernah pantas untuk Vika.


"Mas Okta?" suara Vika mengalun lembut membuat Okta tersadar.


"Vika ... mari, kita akhiri ini semua." Okta berucap dengan pelan berusaha menahan rasa sakit di hatinya.


"Apa maksud Mas Okta?" tanya Vika terkejut.


"Aku sudah tahu semuanya, alasan kenapa Kak Windi begitu membenciku. Aku sadar Vika, semua hal buruk yang terjadi pada kamu karena aku. Maaf jika luka yang ku berikan begitu besar hingga nggak ada obat yang bisa menyembuhkannya."


Vika begitu terkejut mendengar ucapan Okta. Pria itu terlihat patah hati dan putus asa. Vika yakin Okta sudah mengetahui rahasia masa lalunya. Apa yang Vika takutkan kini terjadi, benar kata orang bahwa kita tidak akan bisa menyimpan rahasia serapat mungkin.


"Mas, aku ...." Vika tidak tahu harus berkata apa karena semua begitu mengejutkannya.


"Maaf karena telah membuatmu merasakan kepahitan itu seorang diri. Aku nggak pantas untuk kamu, hukuman apapun nggak akan bisa menebus semua kesalahanku."


Vika terduduk di lantai dengan lemas, air matanya terus mengalir. Luka masa lalu itu kembali terbuka dan kini bukan hanya Vika seorang yang terluka.


Keduanya sama-sama terluka oleh masa lalu. Vika dengan luka yang tak kunjung sembuh dan Okta dengan perasaan bersalah yang akan terus menghantuinya.


Dalam benak Okta, dia berandai-andai. Seandainya dia tidak egois, seandainya dia tidak bertindak bodoh dan masih banyak seandainya yang terus menghantui pikiran Okta.


Tanpa keduanya sadari, mereka sama-sama terjebak oleh masa lalu yang belum usai. Kini, mampukah mereka menyembuhkan luka dan memulai semua dari awal? Atau justru mereka akan terus terjebak dalam cerita masa lalu yang tak kunjung usai?


END SEASON 1


Rekomendasi novel untuk kalian, yuk mampir dan dukung karyanya 👇😉


Judul : Rahim Sengketa


Author : Asri Faris



Blurb :


Seorang laki-laki muncul di hadapan Ajeng. Tidak amat tampan tetapi teramat mapan. Mengulurkan keinginan yang cukup mencengangkan, tepat di saat Ajeng berada di titik keputus-asaan.


"Mengandung anaknya? Tanpa menikah? Ini gila namanya!" Ayu Rahajeng


"Kamu hanya perlu mengandung anakku, melalui inseminasi, tidak harus berhubungan badan denganku. Tetap terjaga kesucianmu. Nanti lahirannya melalui caesar." Abimanyu Prayogo


Lantas bagaimana nasab anaknya kelak?


Haruskah Ajeng terima?


Gamang, berada dalam dilema, apa ini pertolongan Allah, atau justru ujian-Nya?