Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 48 - Kabar Bahagia


Zayan menatap wajah pucat Elnara yang kini tengah menangis. Sepertinya dia tidak menyangka jika akhirnya Zayan bisa menemukannya.


Zayan mendekat, memeluk Elnara dengan erat membuat air mata Elnara semakin deras. Sungguh pemandangan yang memilukan.


"Maaf Mas datang terlambat," bisik Zayan penuh penyesalan.


"El takut Mas, El pikir Mas nggak bisa menemukan El. Di sana gelap dan menyeramkan, El takut gelap." Elnara mengeratkan pelukannya seolah memberitahu bahwa dia sangat ketakutan.


"Semua sudah berlalu, ada Mas di sini. Jangan takut lagi ya, sekarang tenang ada hal penting yang harus Mas sampaikan."


Elnara melepaskan pelukannya, menatap bingung pada Zayan. Entah hal penting apa yang dimaksud oleh Zayan tiba-tiba membuatnya merasa deg-degan.


"Ada apa Mas?" tanya Elnara bingung.


"Kata Dokter kita harus menemui Dokter kandungan, ada hal penting yang harus kita pastikan."


"Dokter kandungan?" Elnara bertanya dengan kaget.


"Iya, semoga apa yang kita harapkan menjadi kenyataan." Zayan berkata tanpa bisa menutupi harapan yang dia miliki.


Tidak lama beberapa perawat yang dipanggil langsung oleh Genta datang. Mereka membantu membawa Elnara menuju ruangan Dokter kandungan. Seorang Dokter wanita yang merupakan Dokter kandungan nomor satu di rumah sakit ini sudah menunggu dengan tenang.


"Ibu Elnara?" sapa sang Dokter dengan ramah.


"Iya, Dok." Elnara tersenyum sembari mere*mas lembut tangan Zayan untuk menyalurkan rasa gugupnya.


"Kita USG dulu ya untuk memastikan keadaan janin, Pak Zayan bisa ikut melihat."


Dengan penuh kelembutan sang dokter membantu Elnara bersiap untuk melakukan USG. Sedangkan Okta dan Genta menunggu dengan cemas di luar ruangan.


Sang Dokter tersenyum lebar melihat janin dalam kandungan Elnara baik-baik saja. Sedangkan Elnara sudah tidak bisa menahan tangis harunya.


"Kandungannya baik-baik saja, tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, untuk Ibu Elnara perlu banyak beristirahat dan tidak boleh stres."


"Kemarin perut saya sangat sakit, Dok. Apa itu tidak masalah?" tanya Elnara yang sudah bisa mengehentikan tangis harunya.


"Di usai kandungan yang masih muda sangat rentan akan hal itu. Mungkin Ibu merasa khawatir dan stres karena itu biasa menjadi pemicunya."


Zayan dan Elnara bernapas lega mendengar penjelasan sang Dokter. Keduanya berharap calon anak mereka selalu sehat hingga lahir nanti.


Okta dan Genta yang menunggu di luar ruangan segera berdiri tegak saat Zayan dan Elnara keluar. Mereka sama-sama berharap mendengar kabar baik.


"Bagaimana?" tanya Genta tidak sabar.


"Selamat, Papi akan jadi Opa dan Mas Okta akan jadi Om." Elnara tersenyum lebar kemudian dengan penuh haru memeluk Genta yang kini menangis.


Genta tidak menyangka akan hal membahagiakan ini. Sungguh sebuah anugerah terindah yang Tuhan berikan untuk keluarga mereka.


"Ayo kita pulang, Mami pasti menunggu kita. Mami harus mendengar kabar membahagiakan ini!" Genta merangkul Zayan dan Elnara penuh semangat, membawa keduanya menuju mobil.


Sedangkan Okta yang tertinggal di belakang hanya bisa menghela napas. Batinnya bertanya-tanya, kapan dia bisa seperti Zayan memiliki istri dan calon anak.


*


Vika dan Almira sudah menunggu dengan cemas kepulangan Elnara. Mereka hanya mendapat kabar bahwa Elnara sudah ditemukan.


Tidak lama yang ditunggu tiba. Elnara keluar dari mobil dengan bantuan Zayan, keduanya segera menemui Almira yang menunggu tidak sabar.


"Bagaimana keadaan El? Ada yang sakit, Nak?" Tanya Almira yang segera memeluk Elnara dengan khawatir.


"El sudah baik-baik saja kok Mi, cuma sedikit kaget saja." Jawab Elnara dengan tenang sembari membalas pelukan Almira.


Genta segera mendekat, sepertinya dia sudah tidak sabar ingin menyampaikan berita bahagia.


"Sebaiknya Mami duduk dulu, ada yang ingin El dan Zayan sampaikan. Okta, Vika ... ayo kita berkumpul di ruang keluarga." Dengan senyum yang tidak bisa ditahan Genta mengajak mereka semua untuk berkumpul.


"Jadi, apa yang mau El dan Zayan sampaikan?" tayan Almira yang sudah penasaran.


Elnara tidak menjawab melainkan mengambil sesuatu yang sejak tadi dipegang oleh Zayan. Itu adalah hasil USG Elnara.


"Selamat, Mami sebentar lagi jadi Oma." Elnara menyerahkan hasil USG ketangan Almira yang menerimanya dengan tangan bergetar.


"Ini beneran? Mami ... Mami bahagia sekali El, terima kasih kalian sudah memberikan hadiah terindah ini." Almira menangis dengan haru menatap hasil USG Elnara.


"Selamat untuk kalian," ucap Vika yang juga ikut menangis.


Tanpa bisa dicegah Elnara kembali menangis, wanita hamil itu memeluk Vika dengan erat sembari membisikkan sesuatu.


Mereka yang melihat pelukan dan tangis Elnara serta Vika menganggap semua adalah bentuk kasih sayang kedua sahabat itu. Namun, mereka tidak tahu ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Alasan dibalik air mata Elnara dan Vika.


To Be Continued ~~>>


Rekomendasi novel menarik untuk kalian. Yuk, mampir dan dukung karyanya


Judul : Pewaris Untuk Musuh


Author : As Cempreng



Blurb :


Kamila Prameswati gadis berumur 19 tahun yang dilelang di duniah bawah dan belakangan dia tahu jika yang membelinya adalah pembunuh ayah-ibu.


Namun, sebuah kehamilan mengacaukan rencananya. Dia mulai terjebak dengan kelembutan sang musuh yang membuatnya jatuh cinta.


Jadi kemanakah dia harus berlabuh?


Pada sang pujaan hati Satria Benjamin atau pria bernama Sam Harry?