
Makan malam di keluarga Genta berlangsung tegang, karena aura permusuhan yang masih dipancarkan oleh Almira pada Zayan. Tidak ada yang berusaha menghangatkan situasi karena mereka jelas ingin memberi sedikit pelajaran pada Zayan.
Zayan sendiri terlihat biasa saja, tidak merasa terintimidasi atau merasa tidak nyaman. Okta benar-benar dibuat kagum oleh mental baja Zayan.
Makan malam sudah selesai dan kini waktunya Zayan, Okta dan Genta membahas masalah serius. Beruntung Almira tidak ingin ikut bergabung karena bisa dipastikan wanita itu akan terus memojokkan Zayan.
"Zayan, Papi dengar kamu sudah memecat wanita itu." Genta mulai membuka percakapan dengan serius.
"Iya Pi, siang tadi Zayan sudah memecatnya. Maaf karena terlalu lama mengambil tindakan." Jawab Zayan dengan kaku membuat Okta berusaha menahan diri untuk tidak menertawakan pria itu.
"Mau gimana lagi, semua sudah terlanjur. Yang pasti, gue yakin wanita itu sudah membuat rencana lain. Dia terobsesi sama lo dan nggak akan mungkin lepasin lo gitu aja." Okta menyahuti setelah berhasil meredam tawanya.
"Yang dikatakan Okta benar, Papi sudah berbagai macam karakter orang dan Papi sangat yakin sebentar lagi akan ada drama baru."
Okta mengangguk, setuju dengan ucapan Genta. Mungkin untuk alasan inilah Almira belum mengizinkan Zayan dan Elnara tinggal di rumah mereka sendiri.
"Zayan sendiri tidak bisa menebak rencananya. Sepertinya dia mengambil tindakan besar mengingat karirnya yang hancur."
"Mami emang the best!" Okta berseru senang mengingat bagaimana kerennya Almira menutup semua akses Mikha dalam mencari pekerjaan.
"Untuk sementara kalian tinggal di sini dulu. Papi akan menyuruh orang mengawasi pergerakan wanita itu. Kamu fokus saja di kantor, El akan ada Vika dan Mami yang menjaganya."
Zayan mengangguk setuju, belakangan ini dia memang memiliki banyak pekerjaan. Rasanya hampir tidak mungkin Zayan membagi fokusnya karena saat ini dia tengah menangani proyek besar.
Sayangnya, mereka melewatkan sesuatu bahwa kemungkinan Mikha tidaklah bekerja seorang diri. Bukankah sudah dikatakan Mikha adalah wanita licik dan seseorang yang licik tentu memiliki banyak rencana diotaknya.
*
MENANTU KESAYANGAN PENGUSAHA TERKENAL "HAMILI" SEKERTARISNYA??
PENGUSAHA MUDA BERINISIAL "Z" HAMILI SEKERTARISNYA!!
KELUARGA PENGUSAHA TERPANDANG TUTUPI SKANDAL "HAMIL" HINGGA MENGHANCURKAN KARIR SANG WANITA!?
Begitulah headline news yang tengah beredar pagi ini. Genta yang sudah memperkirakan tidak terlalu terkejut melihat berita. Berbeda dengan Almira yang sangat marah, bahkan siap mencekik Zayan jika Genta tidak menghalangi.
"Mami harus sabar, kita harus percaya pada Zayan agar El melakukan hal yang sama. Zayan bilang ini semua jelas fitnah dan sudah pasti pelaku utamanya adalah Mikha." Genta berkata dengan tenang sembari mengelus lembut punggung Almira agar bisa meredakan amarah wanita itu.
"Gimana kalau El baca berita, Pi? Dia pasti nangis lagi dan harus terluka gara-gara berita nggak bermutu ini." Ucap Almira dengan cemas, wanita itu kini berjalan tidak tentu arah di hadapan sang suami.
"Papi sudah menyuruh Okta menutup semua berita dan Vika juga sudah menutup mulut mahasiswi di fakultas mereka."
"Kalau gitu Mami ketemu sama El dulu, Mami harus pastikan dia baik-baik saja." Almira segera berlalu menuju kamar Elnara yang masih tertutup rapat.
Baru saja Almira ingin mengetuk pintu, Zayan sudah lebih dulu keluar kamar dengan pakaian kantornya. Pria itu terlihat biasa saja, tidak seperti orang yang tengah menghadapi masalah.
"Elnara lagi siap-siap Mi," jawab Zayan tenang seolah tidak melihat wajah masam Almira.
"Suruh dia cepat ke ruang makan, Mami nggak mau dia telat sarapan." Almira segera pergi tanpa repot-repot mendengar jawaban Zayan.
Padahal Almira ingin memastikan sendiri keadaan Elnara, tapi melihat ketenangan Zayan bisa dipastikan putrinya itu belum melihat berita yang beredar.
Diam-diam, Almira menyuruh orang suruhannya bergerak cepat. Jangan sampai masalah ini meluas karena yang akan menjadi korban utama adalah Elnara. Sudah cukup Almira melihat putri kesayangannya itu menangis.
Dengan cepat Almira mengirim pesan pada orang kepercayaannya yang selama ini bekerja dengan cepat dan rapi.
Cepat temukan siapa yang menyebarkan berita pertama kali. Setelah itu cari tahu apakah ada bukti yang menguatkan pihak lawan!
*
Zayan tidak bisa menutup telinga ketika mendengar karyawan bergosip di belakangnya. Kesalahan terbesarnya adalah membiarkan karyawan lain melihat kedekatan palsunya dengan Mikha hingga kini menimbulkan spekulasi lain.
Zayan juga yakin Mikha memiliki sesuatu yang akan menguatkannya, tapi Zayan tidak tahu apa itu. Selama ini, Zayan merasa kedekatan mereka tidak pernah melewati batas, kecuali ....
Menyadari sesuatu, Zayan segera menghubungi Okta dengan menceritakan dengan singkat apa yang mengganggu pikirannya.
"Sepertinya saya kecolongan, Okta. Untuk sementara bisa saya minta tolong kamu tangani masalah ini? Saya harus meyakinkan Elnara karena saya yakin Mikha akan segera mengatakan semua pada Elnara."
Di seberang sana Okta hanya bisa menghela napas lelah. Tidak bisakah rumah tangga sepupu dan sahabatnya itu tenang-tenang saja?
"Lo tenang aja, biar gue yang urus. Lain kali, harusnya lo minta bantuan gue kalau ada yang mau lo lakuin."
Zayan sudah tidak mendengarkan ceramah dari Okta karena fokusnya kini pada Elnara. Dia yakin target utama Mikha adalah istrinya.
Mereka baru saja berbaikan dan berjanji saling membuka diri. Sayangnya, obsesi gila Mikha menghancurkan semuanya.
To Be Continue ~~>>
Rekomendasi novel untuk kalian, yuk mampir dan baca karyanya ๐
Judul : My Love And My Obsession
Author : Candy
Sana merupakan gadis sukses yang berprofesi sebagai CEO, kini bekerja di sebuah perusahaan agensi ternama. Ia memiliki teman masa kecil, Victor. Tanpa sepengetahuan Sana, Victor menandatangani kontrak di perusahaan agensi yang di pimpin oleh Sana. Karena hubungan mereka sangat dekat, akhirnya Sana dan Victor memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.
Namun masalah datang ketika orangtua Sana memutuskan menjodohkan Sana dengan anak teman lama mereka, Jay yangย merupakan pemilik agensi yang di pimpin oleh Sana. Keduanya sama-sama tidak tertarik dan tak saling mengenal tetapi seiring berjalannya waktu Sana bimbang akan pilihannya.