
Tampak Pak Toha beserta istrinya datang ke kediaman Kyai Rohim. Sepasang suami istri itu datang guna meminta maaf atas kejadian yang beberapa waktu lalu membuat gempar Kali Bening dan seluruh keluarga besar Kyai Rohim.Semua itu terjadi akibat ulah salah satu anaknya yang kabur dari rumah dan membawa beberapa surat penting.
“Saya mohon maafkan anak kami.” Ucap Istri Pak Toha.
“Kami sudah memaafkan semuanya Bu,” Ucap Umi Laila pelan.
Bu Toha tampak berwajah sendu. Ia begitu malu, bagaimana ia bisa memiliki anak yang ia harapkan bisa membanggakan dirinya, justru terus membuatnya malu.
“Terbuat dari apa hati Umi, dari dulu awal-awal di Kali Bening, hingga kini sudah memiliki anak. Masih tak berubah, selalu memaafkan mereka yang menzolimi Umi.” Ucap Bu Toha.
Umi Laila merangkul istri Pak Toha, ia tak pernah lupa jika dulu awal-awal dirinya di Sumber Sari yang kini berubah nama menjadi Kali Bening, Bu Sri dan istri Pak Toha sudah ia anggap seperti keluarga.
“Cinta itu tempatnya di hati Bu, Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan di hadapan Allah dan Rasulullah nanti. Jika saya yang mengaku mencintai kanjeng Nabi tetapi hati saya di penuhi oleh rasa sakit hati, dendam. Maka bagaimana bisa hati yang kotor bisa merawat cinta untuk beliau hinga akhir nafas kita nanti.” Ucap Umi Laila.
Istri Pak Toha mengucapkan terimakasih atas kebesaran hati Kyai Rohim satu keluarga. Selepas kepergian bu Toha, Furqon dan Ayra yang tadi mendengarkan perbincangan kedua orang tuanya dengan Pak Toha dan istri.
“Padahal dulu, Pak Toha itu begitu alim ya Bi, bahkan Furqon banyak kenangan Bersama beliau ketika masih kecil dulu, bagaimana Mereka akan begitu rajin mengikuti pengajian dan taat.” Kenang Furqon.
“Kadang, orang tua begitu sunggu-sungguh dalam mendidik anaknya. Tapi anak sendiri kadang tak mampu bersyukur. Rendra sedari kecil tak pernah menaruh hormat kepada orang tuanya.” Ucap Umi Laila.
“Itu kadang ada ungkapan yang bilang, anak itu kadang menjadi cobaan, Mi?” Tanya Ayra pada Umi Laila.
“Ya, kadang anak adalah cobaan, musuh dunia dan akhirat bagi orang tua, padahal kelak orang tua akan diminta pertanggungjawabannya.” Ucap Umi Laila.
Kyai Rohim yang baru menikmati sebutir kurma, ia pun menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang di ucapkan istrinya.
“Anak itu cobaan, misal. Anak nakal mungkin cobaan untuk kita orang tuanya. Mungkin melalui anak yang nakal, Allah ridho dengan orang tua dan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.” Ucap Kyai Rohim yang mulai merasakan jika kecerdasan dan kecantikan anak-anaknya,
Termasuk Ayra adalah cobaan. Ada beberapa kyai atau orang tua yang menanyakan perihal jodoh anaknya. Ayra yang baru selesai sekolah Menengah Atas pun sudah beberapa yang berniat melamarnya. Sadar jika putri Nuaima itu ingin masih terus belajar, makai a pun memberikan kebebasan Ayra untuk terus belajar.
“Kalau cobaan dan musuh Bi?” Tanya Furqon.
Kyai Furqon menoleh ke arah Ayra.
“Punya anak cantik juga cerdas juga cobaan. Karena harus berkali-kali menolak lamaran. Karena adik mu ini masih mau mengejar pendidikkannya. Tinggal satu yang belum menyempurnakan agamanya, kapan kira-kira Nduk?” Tanya Kyai Rohim.
Ya, kadang ujian itu tak selamanya berupa kekurangan, kelebihan pun kadang merupakan ujian bagi orang itu sendiri. Baik disadari atau tidak.
“Ayra mau kuliah dulu, Bi. Kemarin ada beasiswa dari salah satu perusahaan untuk yang berprestasi. Swasta tapi nol biaya, asal bisa terus mempertahankan prestasi selama mendapatkan beasiswa.” Ucap Ayra.
“Ya bagus kalau begitu, semoga Abi masih bisa punya alasan untuk kembali menolak lamaran dari orang selama beberapa tahun ke depan.” Ucap Kyai Rohim.
Ayra masih penasaran tentang penjelasan Kyai Rohim terkait anak yang disebutkan Umi Laila.
“Kalau musuh dunia dan Akhirat Bi?” Tanya Ayra antusias.
Ayra dan Furqon mencermati setiap kalimat yang di keluarkan oleh Kyai Rohim.
“Berarti Bi, orang tua harus menyiapkan agama anak-anaknya. Karena pasti Allah akan menanyakan amanah itu kepada para orangtua?” Tanya Furqon.
“Bukan hanya itu, tetapi… Orang tua diminta untuk memperhatikan benar generasi setelahnya, yaitu anak-anak mereka. Tidak boleh hadir generasi lemah sepeninggal orang tuanya. Tanggungjawab besar orangtua adalah untuk membuat anak-anak mereka kuat. Terutama mentalnya, namun pendidikan di sekolah umum tidak menjamin mereka menjadi anak sholih, pendidikan religius lebih menjaminnya. Dan madrasah pertama adalah ibu, maka Umi tidak pernah bosan. Anak perempuan harus serba bisa, harus semangat, tidak boleh malas-malasan. Karena nanti kita akan mendidik anak-anak, generasi penerus bangsa dan ulama.” Ucap Umi Laila.
Kyai Rohim menyentuh hidung Umi Laila dengan punggung jari telunjuknya. Perempuan yang mendidik buah hati mereka menjadi sosok yang kuat secara fisik, mental untuk menghadapi masa depan yang mereka sendiri tidak bisa menjamin untuk kebahagiaan, keselamatan putra-putri mereka. Hanya ilmu dan terbiasa di didik untuk kuat iman, kuat lahir dan bathin untuk menghadapi masa depan.
“Pintarnya… Kalau sudah speak up…” Goda Kyai Rohim yang terkekeh.
Tanpa malu-malu di hadapan putra dan putrinya, Umi Laila pun mencubit pipi Kyai Rohim.
“Istri siapa dulu dong Bi….” Ucap Umi Laila yang dibuat semesra mungkin.
Sepele, tetapi sikap kedua orang tua tersebut menanamkan kepada dua orang anaknya, bahwa orang tua mereka romantis, cerdas dan selalu mesra walau sudah tak lagi muda. Sebuah cara untuk merawat cinta. Hal-hal seperti itu hanya di tunjukan dihadapan anak-anak mereka. Walau kadang Umi Laila yang secara reflek melakukan tindakan-tindakan kecil namun membuat hati para santri jomblo meleleh, sekedar mengelap keringat yang tiba-tiba mengucur dari dahi suaminya saat selesai mengajar atau Kyai Rohim yang akan setengah berlari untuk memayungi Umi Laila yang baru turun dari kendaraan. Melihat rona wajah Umi Laila, membuat Kyai Rohim menatap wajah istrinya seraya mengingat momen dimana dirinya melamar kakak perempuan yang sekarang menjadi teman hidupnya.
Jika dulu ia menikah dengan perempuan selain Laila, apakah ia bisa berjuang seperti Laila yang kini sering dipanggil Umi Laila atau Bu Nyai Laila. Jika ada istilah kalau ingin melihat seorang lelaki, lihatlah istrinya. Maka ungkapan itu pantas disematkan untuk kyai Rohim. Laila adalah cermin bagi Kyai Rohim. Laila yang terbiasa menjadi abdi ndalem,ketika menikah dengan pemuda yang bernama Ahmad Rohim, maka ia melayani kebutuhan suaminya. Namun, saat ia dan suami dititipkan beberapa anak yang bisa disebut santri, Ia tidak hanya melayani suami nya saja, melainkan juga terjun langsung dalam mengurus para santrinya.
Tidak ada kebetulan, maka berjodohnya Umi Laila dengan Kyai Rohim bukan kebetulan, melainkan mereka berdua betul-betul memantaskan diri ketika masih sendiri. Maka sejauh apapun kaki berlari untuk mengejar sosok untuk menjadi pendamping hidup kita, jika ia bukan takdir kita. Maka tak akan bisa kita meraihnya untuk bisa duduk di pelaminan. Begitupun kisah Ahmad Rohim dan Laila. Niat hati ingin melamar kakak Umi Laila namun ia justru menikah dengan perempuan yang tepat untuk menjadi sosok perempuan yang menemani nya hingga akhir hayat, dalam berkhidmah untuk santri, untuk ilmu, untuk masyarakat~~~~.
...“Laila Untuk Kang Rohim.”...
...{TAMAT}...
Ladies, Sudahkah kamu menyiapkan dirimu menjadi pantas untuk dijemput jodoh mu?
Mak, Apakah kamu berpikiran jika menikah itu hidup bahagia, punya banyak uang, pasangan sempurna, tak ada masalah? Kamu Salah, atau kamu sedang bermimpi.
So?
Say to yourself,
“I Will be smart, strong, and high value for my husband, my children. It’s way is I must always learning and Learning”
{Aku akan menjadi kuat, berharga untuk suamiku dan anakku. Dan itu jalannya adalah aku harus belajar dan terus belajar}
Maturnuwun inggil bimbingan Kyai lan Bu Nyai. Estu wonten akhir jaman puniki, kulo mbetahaken sosok ingkang senantiasa mbimbing kita, kangge tumuju tresna ingkang saleresipun , tresna ingkang hakiki, tresna ingkang mboten lekang dening wekdal tresna ing makhluk paling mulia inggih punika kanjeng Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam lan pencipta alam semesta, Allah subhanahu wa ta'ala.
Novel ini terinspirasi dari perjuangan guru saya. Adapun kemiripan nama, tokoh dan tempat serta kejadian hanya kebetulan.
Terimakasih untuk semua dukungan Readers semua. Insyaallah trah nya Umi Laila lanjut ke the tears of wedding. Disana ada sosok Ayu dan Damar yang akan hadir sebagai sosok guru bagi dua insan manusia yang di uji karena tak kunjung memiliki anak. Monggo di subscribe dan like juga komentar.