LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 15 PENANTIAN LAILA


Kernet dari bis yang ditumpangi Oleh Rohim meminta para penumpang untuk turun. Hari telah malam. Mereka berhenti tepat di tengah hutan. Rohim mencoba mengirimkan pesan pada Pak Toha jika ia kemungkinan akan kembali terlambat jika sang bis yang ia tumpangi tak kunjung bisa mendapatkan ban mobil nya.


Karena ada dua ban bis itu pecah bersamaan. Maka ban serep yang hanya satu tak bisa dipakai. Mereka terdampar di hutan itu hingga tengah malam. Rohim pun semakin gelisah. Jika ia berangkat dari tempat itu baru pagi hari maka otomatis ia akan tiba di Sumber Sari siang hari. Sedangkan Abah Ucup telah menunda ijab qobul dari pagi hari menjadi siang.


Ia melihat ponsel itu tak juga bisa menghubungi Pak Toha atau Abah Ucup. Sehingga Rohim lebih memilih duduk di dalam bis sambil memutar biji-biji tasbihnya. Ia menyerahkan kegelisahan hatinya pada Allah. Ia yakin tak ada masalah yang datang pada hambanya tanpa Allah memberikan solusi untuk masalah itu.


Mobil itu terdampar di hutan hingga pagi. Rohim pun bertanya jika ia bisa meminta separuh uangnya Karena ia yang hanya memegang uang sebesar 50 ribu rupiah tak cukup untuk menyewa mobil atau ikut menyambung bis lain menuju sumber Sari.


Rohim pun harus pasrah. Menunggu bis itu kembali bisa melanjutkan perjalanan. Soalnya ponsel Rohim pun kehabisan baterai. Saat pukul telah menunjukkan jam 8 pagi.


Mukidi yang ditugaskan oleh Rohim untuk adzan di masjid. Pagi itu kembali membuat ulah. Ia yang tertidur di masjid dan tak melihat jelas jam yang ada di dinding karena belum mencuci muka.


Ia mengumandangkan adzan Shubuh tepat di puku empat pagi hari. Otomatis Pak Toha yang paling dekat rumahnya dengan masjid, segera berlari ke arah masjid. Tiba di Masjid Ia membekap mulut Mukidi yang sedang mengumandangkan adzan yang hampir selesai.


"Eemmmmm."


"Kamu itu Di... ini baru jam berapa? Adzan kok ga kira-kira. Sembarangan!"


Mukidi yang kaget pun kembali melihat ke arah jam di dinding. Dan kedua matanya terbelalak karena ia melihat masih pukul empat pagi. Sedangkan tadi ia melihat sudah pukul lima kurang.


"Tadi jam 5 loh Pak ..." Ujar Mukidi heran.


"Makanya cuci muka dulu lain kali! Bikin geger saja!" Ucap Pak Toha kesal.


Akhirnya pagi itu pak Toha yang mengumandangkan adzan Shubuh. Mukidi pun setelah shalat Shubuh bergegas pulang kerumah karena ia ditugaskan menjemput Rohim di terminal. Mukidi menjemput Rohim menggunakan motor Rohim.


Menit berganti menit, jam berganti jam. Hampir pukul 12 siang. Bis yang di tumpangi Rohim tak kunjung tiba. Sedangkan Mukidi bertanya di loket tempat bis itu.


"Ini kenapa belum sampai bis nya Neng?" Tanya Mukidi pada penjaga loket.


"Ini semalam pecah ban biznya pak. Dan pagi tadi mesinnya mati." Jawab perempuan tersebut.


Mukidi menanyakan dimana posisi bis itu sekarang. Karena jadwal ijab yang akan di laksanakan pukul dua siang. Mukidi khawatir sahabatnya itu tak jadi ijab qabul. Mendengar bahwa bis itu hanya berada tak jauh lagi dari terminal. Mukidi melihat jam, ia berinisiatif menjemput Rohim menggunakan sepeda motor.


Ia sampai tidak makan siang karena tak terasa lapar. Rasa khawatir pada sahabatnya membuat ia tak merasa lapar. Hampir satu jam ia mengendarai sepeda motor itu. Ia melihat bis yang berhenti di tepi jalan. Bis itu yang ditumpangi Rohim. Saat ia menepikan motor, ia melihat Rohim duduk di pinggir jalan.


"Kang...!" Panggil Mukidi.


Rohim menoleh ke arah Mukidi. Ia tak menyangka jika sahabatnya sampai menjemput ke sana. Mukidi langsung memeluk Rohim.


",Oala Kang... Kang... Sampeyan ini bikin khawatir saja. Ayo kita pulang. Ijab mu jam dua siang kang."


"Masyaallah.... terimakasih Kang. Sebentar saya ambil tas dulu."


Rohim mengambil tas nya di dalam bis. Akhirnya ia menuju Sumber Sari menggunakan bis. hampir dua jam perjalanan. Ia hanya berdzikir untuk menenangkan hatinya. Ia berharap tak ada lagi cobaan menuju pernikahannya.


Naas Kembali terjadi. Mukidi yang gemetar karena belum makan siang. Panasnya cuaca membuat ia gemetar ketika tiba di belokan yang menurun. Sehingga ia hilang kendali. Motor yang mereka tumpangi pun terbalik di tepi jalan. Rohim pun ikut terjatuh.


"Aduh... Sampeyan tidak apa-apa kang?" Mukidi yang terluka di dahinya karena terbentur batu, tak menghiraukan dirinya. Rasa cintanya pada sahabat yang ia anggap guru itu membuat ia lebih mementingkan Rohim.


"Astaghfirullah... sampeyan terluka kang." Ucap Rohim khawatir melihat darah dari dahi Mukidi.


"Alah... ga apa-apa. Ayo kang ini sudah jam satu lewat pasti."


"Sampeyan itu pengantin nya. Kok malah di layani. Nanti kalau saya jadi pengantin baru sampeyan melayani saya."


Namun Rohim cepat menarik kunci motor ditangan Mukidi.


"Sampeyan terluka kang. Kalau sampeyan menikah saya akan melayani dan melakukan apa saja demi sampeyan." Ucap Rohim tulus. Ia tak tega melihat temannya terluka tapi masih ingin menyenangkan hatinya.


Akhirnya Mukidi duduk di belakang Rohim. Rohim sedetikpun tak meninggal dzikir di dalam hatinya. Ia merasa tak tenang, hanya dzikir yang mampu menenangkan hatinya. Ia Memasrahkan semua yang akan terjadi pada Allah. Karena Rohim tahu baik bagi dirinya mungkin tidak bagi Allah. Termasuk perkara Jodohnya.


Di kediaman Abah Ucup para tamu undangan telah memadati bagian tenda dan rumah. Laila pun telah di dandani dengan cantik. pukul telah menunjukkan jam 2. Namun Rombongan Rohim tak kunjung datang. Tak lama terlihat seorang lelaki utusan dari Pak Toha mengatakan untuk menunggu karena Rohim dalam perjalanan dari terminal ke Desa.


Laila duduk di kamarnya menatap jendela. Ia masih melantunkan hapalan Qur'an nya sambil menatap jendela. Hatinya pun gelisah, Ia yang telah siap dengan pakaian pengantin masih menanti calon suaminya yang tak kunjung datang. Bu Salamah yang khawatir kondisi Laila, ia masuk ke kamar. Ia sangat tak percaya jika sang anak tak sedikit pun khawatir. Putri bungsunya justru sibuk melantunkan ayat-ayat suci di kamar. Disaat orang diluar merasa gelisah karena pengantin lelaki tak kunjung datang.


Namun Laila sebenarnya mencoba menenangkan hatinya. Ia menahan air matanya. Karena ia tahu semua yang terjadi atas kehendak Allah. Sebaik-baik manusia merencanakan, maka Allah adalah penentu akhir dari setiap ikhtiar. Di dalam hatinya, Laila berdoa.


"Semoga kita berjodoh Kang. Semoga aku adalah tulang rusuk mu."


Pak penghulu pun harus pergi ke tempat lain yang menjadi jadwal terkahir harusnya. Karena pukul tiga adalah jadwal terakhir ia meng ijab-kabul kan di kecamatan Tegal Rejo. Saat Laila mencoba menenangkan hatinya, Rohim masih berusaha tiba di Sumber Waras dengan selamat, Waroh justru tersenyum bahagia. Karena ia sibuk dengan ponsel terbarunya yaitu Nokia 6600 yang dibelikan Abah Ucup.


Laila yang berniat mengambil tabungannya di rekening untuk memberikan pelangkahan pada Waroh. Karena ia kasihan pada calon suaminya jika harus memberikan pelangkahan yang nominalnya lumayan besar. Laila di larang oleh Abah Ucup, sehingga Abah Ucup sendiri membelikan ponsel mahal itu untuk waroh. Abah Ucup yang telah banyak makan garam dalam berumah tangga. Ia paham betul tahun-tahun pertama biasanya akan butuh biaya untuk memulai hidup baru.


Waroh yang senang karena Rohim tak kunjung datang. Ia duduk diantara para tetangga yang sedang memasak di sisi kanan rumah Abah Ucup.


"Aduh. Kasihan, itulah kalau menikah tapi melangkahi kakaknya." ujar wanita paruh baya di sisi Waroh.


Satu perempuan lainnya pun memberikan sebuah komentar yang langsung di sahut gembira oleh Waroh.


"Roh... kabarnya Laila sudah hamil di Jawa? jadi Abah mu cari lelaki yang mau tanggungjawab? Jadi Rohim yang di suruh tanggungjawab. Betul Roh?"


"Setahu saya juga itu Rohim datang melamar kamu Roh, apa karena Laila hamil jadi Rohim buat nutup aibnya Laila?" perempuan yang berjilbab hitam pun ikut nimbrung.


Waroh menyimpan ponselnya dan menjawab rasa penasaran ibu-ibu tentang isu yang beredar bahwa Laila disuruh pulang dan menikah mendadak karena Hamil duluan. Lelaki yang di Jawa tak mau tanggungjawab sehingga Rohim yang lugu dijadikan tutup (Lelaki yang menikahi Perempuan yang telah hamil lelaki lain, tanpa ia ketahui).


"Ya... saya Ndak tahu. Tapi semenjak pulang ini. Laila itu tidak berani keluar. Mungkin ya benar begitu. Abah juga tidak banyak cerita." Jawab Waroh.


Kembali gayung bersambut, karena rasan-rasan adalah hal yang paling menarik untuk dibahas disaat para ibu-ibu berkumpul.


"Ya kasihan Rohim ya, siapa yang menghamilinya siapa yang nikahin." Ujar Perempuan berambut keriting.


"Apa jangan-jangan Rohim sudah tahu dan dia tidak mau menikah dengan Laila? Kan harusnya pagi ijabnya, sekarang diundur siang. lah sekarang Rohim ga muncul-muncul." Pendapat ibu bertubuh gendut ini langsung mendapat respon dengan kepala para ibu-ibu yang terlihat manggut-manggut.


Tanpa mereka sadari mereka sedang menjadi orang yang merugi. Karena menuduh seseorang melakukan yang tidak ada padanya atau disebut Buhtan. Buhtan lebih besar dosanya daripada ghibah karena buhtan mengandung unsur kebohongan.


Mereka yang menuduh Laila hamil diluar nikah. Itu adalah sebuah kebohongan. Hal itu tercipta karena di desa itu masih menjadi aneh. Jika ada lelaki dan perempuan tidak pacaran tapi menikah. Terlebih menikahnya mendadak. Biasanya hanya anak gadis yang telah hamil diluar nikah yang akan di nikahkan dengan mendadak. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba menikah.


Satu nama yang di jadikan bahan gosip masih sibuk melantunkan hapalannya. Dan ia akhiri ketika adzan ashar berkumandang.


Satu air mata yang ia tahan dari Dzuhur tadi, tak mampu ia tahan untuk tidak jatuh. Ia hanya bisa memasrahkan hajatnya hari itu.


"Jika memang aku dan kang Rohim tak berjodoh, maka kuatkan kami atas takdir yang Engkau berikan pada kami Rabb... Hiks... Hiks..."