LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 65 Mukidi Bikin Gemes 2


Tibalah moment dimana Mukidi mengucapkan ijab dan Qobul. Suasana cukup mendukung dengan hening. Karena Penghulu telah menyerahkan Microphone kepada Mukidi untuk membaca surat Al Fatihah dan beberapa surat pendek. Mukidi memilih surat Al ikhlas sebagai pilihan nya.


Dan saat pengucapan ijab qobul pun Mukidi menjawab mantap ucapan dari ayah Ajeng. Begitu ia selesai menjawab ijab qobul tersebut kedua saksi pun mengatan 'Sah'.


Maka dibacakanlah sebuah doa di hari bahagia Mukidi dan Ajeng. Saat Ajeng di tanya apakah akan meminta Mukidi membacakan Sighat taklik talak setelah melantunkan ijab kabul dalam acara akad nikah tersebut. Ajeng pun meminta dibacakan. Mukidi pun membaca Sighat taklik tersebut.


"Sesudah akad nikah saya (pengantin laki-laki) berjanji dengan sesungguh hati, bahwa saya akan mempergauli isteri saya bernama (pengantin perempuan) dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran Islam. Kepada isteri saya tersebut saya menyatakan sighat taklik sebagai berikut. Apabila saya:


Meninggalkan isteri saya 2 (dua) tahun berlarut-larut." Ucap Mukidi dengan percaya diri.


Sontak para tamu undangan bahkan pak KUA yang berada di hadapan Mukidi tertawa mendengar kalimat berlarut-larut dari Mukidi.


Ibu Mukidi bahkan reflek memukul punggung Mukidi dari belakang. Sedangkan Rohim tersenyum simpul. Ia tak habis pikir di suasana se sakral itu sahabat nya masih saja melakukan tindakan yang tidak di sengaja bisa membuat orang-orang disekitarnya tertawa.


Petugas KUA pun membenarkan kalimat yang di ucapkan Mukidi.


"Berturut-turut Mas..." ucap Pak KUA.


Mukidi menggaruk-garuk kepalanya. Lalu kembali ia letakkan kembali kopiah nya diatas kepalanya.


"Meninggalkan isteri saya 2 (dua) tahun berturut-turut. Tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) tahun lama-"


Belum selesai Mukidi mengucapkan kalimat nya. Beberapa orang kembali tertawa. Pak KUA bahkan sampai mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus air mata di ujung matanya.


"3 Bulan Mas..." ucap Pak KUA setelah Menenangkan dirinya.


Mukidi tersenyum malu dan melanjutkan pembacaan Sighat taklik itu di hingga selesai. Terlihat lelaki yang memiliki akun Cha Ndeso itu sebenarnya begitu grogi. Karena ketika memegang Microphone tangan nya bergetar. Sehingga kejadian-kejadian lucu terjadi. Saat usai ijab pun, ketika duduk di pelaminan kembali para tamu undangan tertawa. Lelaki yang tak pernah menggandeng perempuan itu. Justru ia yang mengalungkan tangannya di lengan sang istri, harusnya istrinya lah yang mengalungkan tangannya di lengan sang suami. Sehingga tampak Mukidi justru seperti merangkul ibunya.


Bahkan fotografer sempat tertawa karena melihat tindakan Mukidi itu. Entah karena malu atau memang sangking bahagia nya lelaki itu. Ia bahkan saat selesai berfoto masih merangkul istrinya di depan banyak orang. Laila pun yang dari dalam rumah Ajeng melihat kemesraan sahabat suaminya itu. Ia sedang me nyu sui bayinya.


Rohim yang dari tadi mencari Laila karena sang Alya mencari dirinya.


"Mi... Alya cari Umi nya ini." ucap Rohim sambil mendekat.


Alya yang melihat ibunya cepat berjalan ke arah ibunya. Ia pun merebahkan kepalanya di paha sang ibu. Rohim yang melihat putri kedua sedang ingin bersama istrinya. Ia mengambil Hamidah atau Mida dari pelukan sang istri. Alya sedari bayi hanya akan tertidur sambil diusap punggungnya oleh Laila.


Sambil mengusap punggung Alya. Laila pun mengusap keringat di dahi sang suami.


"Kang Kidi itu ada-ada saja... Lah wong acara ijabnya saja, bisa dibuat orang-orang terpingkal-pingkal." Ucap Rohim sambil membenarkan posisi topi Muda yang sedikit terangkat.


"Mungkin grogi mas. Tapi Tak menyangka ya mas acaranya bisa meriah sekali seperti ini. Keluarganya Mbak Ajeng sepertinya menerima Kang Kidi. Semoga Kang Kidi bahagia bersama Mbak Ajeng." Ucap Laila.


"Aamiin... Insyaallah kalau Kang Mukidinya sabar ya bisa. Karena secara ga langsung mereka kan dari dua adat dan budaya yang berbeda. Tingkat pendidikan juga berbeda. Tapi kuncinya di sabar tadi." Ucap Rohim.


Saat memasuki waktu makan jamuan yang telah disiapkan oleh pihak tuan rumah. Para tamu undangan dan yang mengantar Mukidi pun mencicipi menu yang telah dipersiapkan oleh keluarga Ajeng. Rohim pun bergantian dengan Laila mengambil makanan. Saat makan pun sesuatu yang mungkin orang akan berpikir jika Rohim dan Laila kelaparan.


Akan tetapi bukan karena mereka kelaparan. Sebuah penghormatan mereka kepada yang namanya rezeki yaitu yang berupa makanan, nasi, lauk dan pauk. Sebenarnya mereka sudah biasa melakukan hal itu. Mereka tidak akan menyisakan sebutirpun nasi di piring mereka.


Namun karena kebetulan Rohim dan Laila makan di ruang tamu Ajeng. Mereka lebih nyaman duduk lesehan saat makan. Saat seorang tamu yang berasal dari kota selesai makan dan meletakkan piring yang masih terdapat sisa nasi bahkan lauk. Ia melirik Piring Rohim dan Laila yang begitu bersih.


"Ckckckkck Pak Radit punya besan dari desa. Makan saja bisa bersih begitu. Mungkin mereka tidak pernah makan enak seperti ini. Secara orang desa." Ucap perempuan yang memakai banyak perhiasan itu.


Padahal jika manusia itu cerdas, ketika akan makan. Ia bisa menggunakan akalnya. Rohim dan Laila biasa memposisikan porsinya. Mereka tidak akan mengambil sesuatu yang banyak, melebihi batas kenyang perutnya. Sehingga cukup mengambil apa yang perlu dan diperlukan untuk menguatkan tubuh mereka. Maka mereka akan kenyang tanpa harus membuang nasi. Karena porsi yang diambil pas.


Begitupun minuman di gelas kemasan. Hampir tak pernah Laila dan Rohim menyisakan nya. Karena mereka berpikir tidak ada yang akan makan dan minum air bekas mereka. Mereka pernah di desa mengalami kemarau cukup panjang selama 8 bulan. Rohim bahkan harus mengambil air menggunakan derigent. Beruntung saat itu mereka baru memiliki satu anak. Saat seterusnya desa mereka tak susah lagi kala kemarau datang karena program dari pusat melalui desa dengan dibuatkan sumur bor dan Pamsimas membuat desa itu tak lagi bingung kala kemarau melanda.


Saat acara selesai. Keluarga dan para warga Kali Bening pun bergegas meninggalkan kediaman Pak Radit. Mereka akan kembali pulang. Bu Sri pun ikut pulang. Ia ingin naik mobil Pak Toha agar bisa satu mobil dengan Rohim dan Laila. Hanya Mukidi yang ditinggal.


Namun saat mereka telah berada di setengah perjalanan. Bahkan mobil yang ditumpangi Pak Toha sudah melewati perbatasan antara kabupaten dan kota. Ponsel Bu Sri berdering.


Ketika ibu Mukidi mengangkat telepon nya. Suara ponsel pun di loud speaker oleh sang ibu.


"Assalamualaikum... "


"Walaikumsalam... Ono opo Di?" Tanya Bu Sri.


"Anu Mak.... Anu..." ucap Mukidi sedikit terbata-bata.


"Anu OPO?" Ucap Bu Sri tak sabar.


Bu Toha dan yang lainnya sudah tersenyum mendengar suara Mukidi.


"Lah tas saya di mobil pagi tadi kok Ndak diturunkan. Lah ini saya mau ganti baju ya Ndak bisa wong tas saya masih di dalam mobil Pak Andang." Ucap Mukidi terdengar sedikit kesal.


"Lah... Mana Mak e tahu. Wong Mak e sama kamu kan turun dari mobil. Nanti Mak tanya dulu sama pak Andang." Ucap Bu Sri.


Bu Toha langsung berkomentar.


"Jangan-jangan Masih di mobil Pak Andang. Terus Pak Andang sudah jauh di depan kita... Wes ajuuur Mukidi ga pakek baju... " Ucap Bu Toha sambil tersenyum.


"Tolong ditelpon Him Pak Andang. Mak e ga punya nomornya." Ucap Bu Sri.


Rohim pun menelpon Pak Andang.


"Assalamualaikum. Pak Andang, apakah tas nya Kang Mukidi masih di bangku belakang mobil njenengan?" Tanya Rohim.


"Sebentar.. Istri saya lihat dulu...." Jawab Pak Andang.


"........"


"Oallaaaa Iya masih di mobil ini Kang. Piye ya. Saya sebentar lagi sampai rumah ini." Ucap Pak Andang.


Sontak semua yang berada di dalam mobil Pak Toha tertawa, hanya Rohim dan Laila yang tersenyum simpul.


"Jaaaaannnn. Mukidi.... Awakmu Yo. Lah Nikah kok bikin geger sak deso...." Ucap Bu Sri sambil memukulkan ponselnya pelan ke dahi nya.


Begitulah kisah pernikahan Mukidi yang tak akan ia lupakan seumur hidup. Karena nervous ia jadi melakukan hal-hal kecil dan terkesan lucu bagi yang melihatnya. Karena memang keseharian lelaki itu sering membuat orang tertawa dengan tingkah konyolnya.


Saat baru menyimpan ponselnya. Rohim menerima pesan. Ketika pesan dibuka ternyata dari Munir adiknya. Dahinya berkerut, Laila yang melihat ekspresi sang suami bertanya.


"Dari siapa Mas?" Tanya Laila.