
Umi Laila pun menarik satu kursi di dapur yang dulu merupakan kamarnya. Ia duduk menatap tulisan yang di gores menggunakan sebuah arang. Sepasang suami istri itu menatap tulisan yang telah usang oleh waktu. Tiba-tiba salah seorang santri datang mengatakan jika ada tamu yang ingin bertemu Kyai Rohim.
“Wonten dhayoh ingkang kajeng kepanggih Yai.” Ucap santri tersebut.
Kyai Rohim pun mengajak istrinya untuk menemui tamunya. Dua hari ini, kali bening tiba-tiba ramai. Saat suatu pagi beberapa mobil datang menemui Kyai Rohim. Lelaki itu mengatakan jika ia telah membeli tanah tersebut dari seseorang. Ia pun mengatakan jika dalam waktu satu bulan kedepan, Kyai Rohim harus meninggalkan lokasi tersebut. Karena ia akan membangun pusat perbelanjaan. Hal itu tentu mengagetkan Kyai Rohim dan keluarga juga semua jamaah. Sehingga seluruh jamaah berkumpul guna mencari apa yang terjadi sebenarnya. Ternyata saat dulu tanah tersebut di hibahkan, tanah itu memang dihibahkan untuk pembangunan masjid bukan pondok pesantren. Dan yang membuat pelik, kedua mertua pak Toha, dulu menghibahkan tanah itu tidak dengan administrasinya. Hanya secara lisan. Surat tanah tersebut masih berada di tangan Pak Toha.
Sungguh mengagetkan bagi Pak Toha ketika ia tahu, salah satu putranya yang kabur dari rumah menjual surat tanah itu juga ke tangan rentenir. Dan bodohnya lagi, disana tertera nama istrinya sebagi ahli waris. Maka kini, Pak Toha ikut dicari keberadaannya. Mukidi, seorang sahabat juga menjadi salah satu saksi bagaiamana seorang Ahmad Rohim, lelaki yang dulu hanya datang untuk mengikuti kakak tingkatnya karena ada permintaan dari ulama setempat, hanya untuk mengajar mengaji, justru kini memiliki banyak santri dan begitu di hormati banyak orang.
Mukidi pun mencium punggung tangan Kyai Rohim, namun cepat ditarik oleh Kyai Rohim. Jika dulu untuk merasa terhibur karena bisa tertawa akan celoteh Mukidi. Kini dihadapan Kang Kidi. Ayah Furqon tampak dengan mata berair menceritakan isi hatinya.
“Kalau saya sadar kang, ini bukan milik kami. Toh selama ini, kami hanya merawat apa yang jamaah titipkan pada kami. Tapi istri saya, sampeyan tahu sendiri kang. Bagaimana awal-awal ia kemari. Bahkan kasur butut bekas yang dibuang di kandang sapi pun menjadi benda pertama yang menyambutnya di kamar kami. Apalagi memorinya akan setiap susah dan senang selama bersama para santri.” Ucap Kyai Rohim.
Kang Kidi yang kini telah menjadi orang kaya, ia memiliki banyak usaha. Konten youtube yang juga mengalir terus,istri yang juga menjadi salah seorang pejabat di salah satu kementrian membuat ia ingin menghibahkan tanah nya kepada Kyai Rohim. Ia memiliki tanah hampir 10 hektar di Sulawesi Selatan. Ia ingin menghibahkan tanah tersebut untuk Kyai Rohim. Masalah pembangunan, nanti bisa dilakukan secara berangsur. Ia baru saja menghabiskan banyak uang untuk membuka usaha dan membeli beberapa properti di Australia karena anak nya ada yang kuliah di negara tersebut. Sehingga ia tak memiliki uang atau meminjam bank untuk membantu sahabat sekaligus gurunya.
“Bukan tempatnya kang, bangunanya, tapi kenangannya…. Berat hati jika harus berpisah dari tempat ini.” Ucap Umi Laila yang datang bersama salah satu santri ndalem yang membawa minuman.
Kang Kidi bisa melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah Umi Laila.
“Pak Toha sudah di cari Bi?” Tanya Kang Kidi.
“Sudah, lusa beliau kemari. Putranya yang bernama Rendra menjual beberapa surat tanah, dan kebun miliknya. Ia tak menyangka jika di jual ke rentenir.” Ucap Kyai Rohim.
“Kalau untuk mengganti biaya yang dulu di keluarkan mereka? Kita beli lagi maksudnya Bi.”Tanya Kang Kidi.
“Saya dan jamaah sudah mencoba untuk bermediasi kang, beliau minta 2M jika ingin mengembalikannya. Kami tidak sanggup.” Ucap Kyai Rohim.
“Lokasi memang strategis, belum lagi sekarang ini menjadi ibukota kabupaten.” Gumam Kang Mukidi. Hari itu juga Kang Mukidi mengumpulkan seluruh teman-teman lama dan jamaah yang biasa mengikuti majelis yang diasuh oleh Kyai Rohim.
“Masih ada waktu dua minggu. Kita semua bergerak. Berapapun hasilnya, kita bertemu lagi satu minggu kemudian. Kita akan lihat kurang berapa. Saya juga akan berusaha semaksimal mungkin.” Ucap Kang Mukidi kepada semua yang hadir disana. Ada banyak jamaah yang hadir, dari jamaah maulid sinthuduror, majelis rotib al haddad, beberapa organisasi yang di pimpin oleh Kyai Rohim dan Umi Laila. Serta alumni Kali Bening yang baru beberapa angkatan.
Tiba waktu yang telah di tentukan, Semua berkumpul lagi. Selama waktu dua minggu lewat, mereka mengadakan open donasi. Sungguh kecpatan media sosial membuat cepatnya informasi menyebar. Banyak yang mengirimkan bantuan ke rekening Mukidi juga beberapa orang yang mencari dana. Setelah terkumpul, Mereka hanya mampu berhenti di 1,6 M. Maka mau tidak mau Kyai Rohim harus meninggalkan tempat yang memiliki sejuta kenangan perjuangannya, dari baru menapakkan kaki di tempat itu hingga kini memiliki ratusan santri. Kyai Rohim dan keluarga telah bersiap. Bahkan semua santri telah dijemput orang tua wali santri. Hingga malam hari, keluarga Kyai rohim duduk di dapur, tempat favorit Kyai Rohim dan Umi Laila saat menemani suaminya beristrirahat saat pulang dari mengajar ngaji.
“Dulu disana, Abi sambil menggendong Furqon atau Alya, akan duduk disana. Mengupas pepaya muda atau membersihkan rebung atau nangka muda untuk disayur. Banyak sekali kenangan yang akan Umi rindukan nanti. Setiap sudut tempat ini memiliki kenangan sendiri.” Kenang Umi Laila.
Umi Laila tak pernah membayangkan memendirikan pondok pesantren apalagi sampai di panggil ‘Bu Nyai’. Ia hanya fokus pada mencari ilmu disaat masih menimba ilmu di pondok pesantren. Manut guru, manut orang tua. Manut guru, karena ia selama menjadi abdi ndalem adalah santri yang selalu menemani Bu Nyai nya di dapur saat semua santri mungkin telah tertidur. Ia bahkan iku mengaasuh putri Bu Nyai saat istri kyainya sedang mengisi satu kajian. Ia anak yang manut, jelas saat masih di pondok, ia pernah dilamar oleh anak Kyai. Namun karena ayahnya lebih dulu menerima Rohim, maka ia pun manut. Karena pertimbangan Abah Ucup kala itu, akhlak lelaki yang melamar putrinya bukan harta, ketampanan atau jabatan. Tapi kini, Umi Laila yang dari masa muda nya tak sibuk mengejar dunia. Disaat usia mulai menua, Dunia mengejar dirinya.
Sunggu setiap kesulitan ada kemudahan, sunggu disetiap masalah ada hikmahnya. Seperti saat ini, Allah memberikan hikmah pada Ahmad Rohim dan Umi Laila. Mereka yang tinggal di komplek pesantren namun tak pernah merasa berhak atas tempat dan bangunan tersebut. Karena akad tanah yang mereka tempati adalah hibah untuk Masjid nurul iman bukan untuk pesantren Kali Bening. Selama ini, Umi Laila dan Kyai Rohim tak sibuk dengan kesana kemari untuk membuat bangunan pesantren terlihat megah.
Mereka lebih fokus pada berkhidmah untuk masyarakat dan anak didik mereka agar betul-betul memiliki ilmu yang bermanfaat dan berakhlak mulia. Maka jika saat ini bangunan ponpes Kali Bening jauh berbeda dari puluhan tahun lalu, itu karena jamaah juga wali santri yang berinisiati untuk membangun atau menambah ruang-ruang untuk santri yang terus bertambah setiap tahunnya dari luar daerah bahkan luar provinsi. Bukan karena Kyai Rohim sibuk memasukan proposal ke pemerintah atau organisasi.
Ayra yang baru pulang lewat dari waktu biasanya. Ia duduk di sisi Umi Laila.
“Sudah siap semua barang mu, Nduk. Kita hanya menunggu kamu. Furqon sudah membawa barang-barang Rahmi dan Mida. Tinggal barang-barang mu.” Ucap Umi Laila yang sedari tadi memang menunggu bungsunya pulang dari mengambil ijazah.
Ayra duduk bersimpuh di hadapan Umi Laila, ia menggenggam sebuah buku tabungan dan ATM juga. Ia letakkan di atas kedua lutut Umi Laila.
Satu hari ini, putri Nuaima dan Munir itu mengurus uang tabungannya. Bulan lalu, jatuh tempo depositonya. Sehingga semua yang dikumpulkan dari uang deposito yang telah dicairkan dan beberapa tabungan yang dulu pernah ditinggalkan oleh kedua orang tua Ayra, terkumpul kurang lebih bisa menutupi kekurangan untuk mengambil kembali kempemilikan tanah hibah tersebut.
Umi Laila membuka buku tabungan tersebut. Ia lihat angka yang tertera, lalu ia menyerahkan buku tersebut ke Kyai Rohim.
Kyai Rohim tak bergeming, ia menyerahkan kembali buku dan ATM tersebut ke Kyai Rohim.
“Ini adalah tabungan mu Ra, untuk masa depan kamu. Ini adalah peninggalan orang tua mu. Kita bisa membangun sebuah bangunan baru di tempat yang baru dari uang yang sekarang telah dikumpulkan oleh Jamaah dan teman.” Ucap Kyai Rohim menyerahkan buku itu pada Ayra.
“Bukan hanya Abi, Umi yang memiliki kenangan di tempat ini. Tapi Ayra, anak-anak Abi dan Umi juga para alumni Kali Bening punya kenangan yang sama. Sekalipun seluruh harta Ayra miliki, Ayra serahkan kepada Umi dan Abi, tidak mampu membalas jasa Abi dan Umi. Sebagai orang tua sekaligus guru bagi Ayra.” Pinta Ayra pada kedua orang tuanya, pipinya telah basah oleh butiran hangat.
Seluruh anak-anak Kyai Rohim pun ikut terharu dengan peristiwa itu, dengan duduk bersimpuh di hadapan Kyai Rohim dan Umi Laila. Umi Laila memeluk keponakan yang telah ia anggap anak karena telah memberikan ASI kepadanya serta merawatnya hingga kini menjadi gadis yang cantik dan cerdas.
“Lalu bagaimana dengan cita-cita mu Nduk?” Tanya Umi Laila.
“Lantas bagaimana nanti kamu akan kuliah, kamu bilang kamu ingin jadi dokter.” Sambung Kyai Rohim.
“Abi dan Umi mengajarkan kepada kami, anak dan santri Abi dan Umi. Bahwa banyak kisah dimana orang atau di zaman nabi dulu, mendapatkan kemuliaan hanya karena berkhidmah kepada gurunya. Izinkanlah anak Umi dan juga santri Umi ini berkhidmah kepada gurunya dan membantu meringakan beban yang ada pada kedua orang tua Ayra.” Ucap Ayra.
Umi Laila memeluk tubuh Ayra, ia usap kepala Ayra. Ayra hanya berpikir, habis harta masih untuk orang tuanya lebih baik daripada untuk maksiat. Memang ia ingin sekali sekolah di kedokteran. Tapi tak mengapa, ia masih bisa mengambil bidang lain. Ia suka di ekonomi, maka mata pelajaran itu kelak bisa ia pilih untuk masa depannya.
'Belum tentu juga jika uang yang ibu dan dan Ayah tinggalkan untuk aku dapat aku gunakan tanpa lepas dari maksiat. Mudah-mudahan kedua orang tua ku pun ikut bahagia seperti bahagianya Umi dan Abi' Batin Ayra seraya mengeratkan pelukannya pada Umu Laila.
Ayra betul-betul ingin berkhidmah pada gurunya. Jika ketiga putri Umi Laila mondok ke pesantren lain. Dirinya dan Furqon yang diasuh serta di didik sendiri oleh Kyai Rohim dan Umi Laila.
Ayra sadar, walau ia cerdas. Tetapi kecerdasan yang ia peroleh, mungkin berkat doa dan keridhoan gurunya. Serta bimbingan dari guru juga orang tuanya. Ayra tahu jika berkhidmah ada tiga macam caranya. Pertama berkhidmah bin nafs atau dengan fisik atau tenaga. Ini biasanya dilakukan santri di pondok pesantren. Biasanya santri ikut di ndalem atau kediaman kiai untuk membantu-bantu pekerjaan rumah tangga kiai atau pondok. Biasa dikenal dengan santri ‘ndalem’.
Ada juga yang baisa di sebut bil mal atau dengan harta. Dulu banyak Kyai-kyai yang memondokkan orang yang bukan siapa-siapanya tidak ada hubungan saudara. Ini seperti yang dilakukan Ahmad Rohim saat memulai merintis pondok pesantrennya, ia bersama istrinya menyekolahkan anak yatim dan juga membantu Ayu dan Lulu untuk sekolah. Bahkan Ayu diantarkan oleh Umi Laila hingga meraih gelar S1.
Ada juga biddu'a atau dengan doa.
“Bagaimana Ayra akan berkhidmah dengan doa, jika zhohir, batin dan harta Ayra belum Ayra khidmahkan untuk Umi, Abi.” Ucap Ayra.
Suasana kediaman Umi Laila dipenuhi isak tangis. Dada Umi Laila bahkan terasa sesak.
Sejak hari itu, Kali Bening di berdiri diatas tanah yang di hibahkan kepada Kyai Rohim. Atas usul Kang Mukidi agar hibah di serahkan kepada Kyai Rohim. Bukan atas nama masjid atau nama yayasan Kali Bening.
“Jika atas nama masjid, bayangkan hampir puluhan tahun pondok pesantren ini berdampingan dengan masjid. Belum satu kali pun saya rasa, Umi Laila mengambil buah kelapa yang tumbuh di tanah masjid ini. Bahkan untuk acara akhirusannah pun, beliau membeli kelapa. Tidak berani menggunakan kelapa yang jelas-jelas berbuah lebat di tanah masjid. Apalagi untuk kebutuhan beliau pribadi." Pinta Mukidi pada para jamaah yang hadir saat akan menghibahkan tanah yang baru saja di beli kembali dari Rentenir.
Semua jamaah pun setuju, malam itu. Akad hibah tanah tersebut di hibahkan kepada Kyai Rohim. Selama ini, banyaknya bantuan yang dari organisasi atau pemerintah ingin memberikan bantuan ke pondok pesantresn itu, tetapi tidak bisa. Terkendala sertifikat tanah bangunan yang atas nama masjid.
Beberapa minggu kemudian, saat santri sudah kembali. Proses belajar dan mengajar kembali berlangsung. Umi Laila kedatangan seorang tamu, ia mencari Umi Laila dan Kyai Rohim. Sepasang suami istri yang tampak merasa bersalah.