LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
66 Rohim dan Dokter Non Muslim


Tiba di kediamannya Laila bertanya ada apa dengan pesan Munir.


"Ada kabar Apa Bi?" Tanya Laila Pada Rohim.


"Ibu lagi sakit, kita pulang ya Dik..." Ucap Rohim sambil mengganti bajunya.


Semenjak mereka menikah Laila dan Rohim baru satu kali pulang. Laila pun mengangguk pelan.


"Ya sudah, besok kita ke kota ambil uang. Terus anak-anak di pondok bagaimana kalau kita pergi semua mas..." Ucap Laila sambil menyerahkan baju ganti untuk sang suami.


Rohim pun duduk di sisi tempat tidur. Sambil memandang ke tiga buah hatinya. Ia ingin sekali pulang bersama keluarganya. Apalagi ibunya belum bertemu dengan cucunya. Akhirnya malam itu sepasang suami istri tersebut berdiskusi. Mereka pun membuat keputusan jika Rohim akan pulang ke kampung halamannya.


Keesokan harinya Rohim pun kekota untuk mengambil uang tabungan. Saat tiba dirumah, ia dibuat terharu akan dewasa dan cinta istrinya.


"Ndak usah... Ini bawa saja buat mas. Nanti kalau butuh apa-apa bagiamana. Dik Munir masih kuliah. Laila masih punya simpanan lain kalau untuk kebutuhan Laila dan anak-anak." Ucap Laila sambil menyerahkan kembali beberapa lembar uang pada suaminya.


Laila mengemasi pakaian suaminya. Ia pun tak lupa menggoreng kopi sendiri. Ia paham betul suaminya yang pecinta kopi tersebut. Selama beberapa hari kedepan ia tak akan bisa melayani suaminya. Maka ia pun berusaha menyiapkan semua kebutuhan dan kesukaan suaminya di sana.


~~


Pagi ituru Rohim berangkat seorang diri menuju kampung halamannya. Ia yang kehabisan tiket bis menerima saran istrinya untuk naik travel. Sehingga ia tak perlu ke terminal karena travel menjemput kerumahnya. Saat menunggu kedatangan travel, Rohim melihat kedatangan seorang dokter yang tergopoh-gopoh.


Dokter tersebut tinggal di desa sebelah. Ia mengenal Rohim cukup baik. Rohim adalah teman suaminya. Karena Saat beberapa santri Rohim terkena muntaber, Rohim dan Laila yang harus begadang bersama beberapa wali santri di puskesmas. Disana ia berkenalan dengan dokter Wayan.


Dokter Wayan ketika mengenal Rohim betul-betul merasa senang ketika mengobrol. Ia seolah bertemu teman-teman kuliahnya. Dokter ketut dan Istri adalah sepasang suami istri yang berprofesi sebagai dokter. Mereka baru satu tahun di desa tetangga.


"Ada apa dok?" Tanya Laila ketika melihat raut cemas dari dokter Ayu.


"Saya butuh bantuan Ustad Rohim..." Ucap dokter Ayu sambil menangis.


"Ada apa ceritakanlah, mudah-mudahan suami bisa bisa bantu." Ucap Laila sambil memeluk dokter ayu untuk menenangkan hati dokter yang asli dari Bali.


"Tolong saya ustad. Suami saya di tuduh melakukan pelecehan sama perempuan. Dan saya tahu itu tidak benar. Bukan saya membela suami saya. Sekarang suami saya ada di kantor desa, ia diminta untuk menikahi perempuan itu. Saya tidak tahu siapa yang bisa membantu saya. Setahu saya anda orang cukup terpandang dan dekat dengan suami saya. Suami minya saya kemari." Ucap Dokter Ayu sudah penuh tangis.


Rohim pun melihat ke arah jam dindind di ruangan depan rumahnya.


"Ya sudah kita kesana." Ucap Rohim.


Ia pun bergegas ke kampung sebelah menggunakan sepeda motornya. Dokter Ayu mengikuti dari belakang menggunakan sepeda motornya. Tiba di sebuah rumah, ia melihat banyak kerumunan orang-orang. Rohim pun mengucap salam.


Seketika beberapa orang yang dari tadi berteriak penuh amarah terdiam. Kharisma Rohim sebagai sosok ulama di kecamatan itu tak diragukan lagi. Tanpa ia bicarapun orang-orang akan diam membisu melihat kejadiannya.


"Saya tidak pernah melakukan hal terhina itu Ustad Rohim...." Ucap Dokter Wayan.


Rohim melihat ada tokoh agama disana. Ia duduk dan bertanya masalah yang ada. Ternyata dokter Wayan dianggap melakukan pelecehan seksual ketika memeriksa salah satu warga desa mereka yang masih gadis.


Rohim terdiam sejenak, dan ia pun bertanya apakah ada saksi yang melihat kejadian tersebut. Orang-orang terdiam, karena bahi Rohim cukup aneh kejadiannya. Dimana pasien yang katanya pingsan dan memanggil dokter kerumahnya. Tetapi ketika tiba dirumah si pasien malah berteriak minta tolong ketika dokter lelaki itu memeriksa pasiennya.


Dokter Wayan dan Dokter Ayu sebenarnya ditugaskan selama dua tahun di kecamatan itu. Suatu program sukarela bagi dokter yang ingin mengabdi karena di beberapa daerah kekurangan tenaga dokter. Sepasang suami itu pun dengan sukarela ikut program pemerintah dan terpilih di desa itu.


Beruntung mereka meminta tolong Rohim. Yang betul-betul bijaksana ketika menyelesaikan masalah yang biasanya hadir.


"Sekarang yang dilecehkan apa sudah di konfirmasi?" Ucap Rohim.


Karena ia hanya melihat beberapa orang laki-laki yang sibuk meneriaki dokter Wayan. Rohim justru curiga ada unsur lain di balik tuduhan tersebut.


"Ustad ini bagaimana malah membela Kafir." Ucap salah satu tokoh agama di desa sebelah.


Rohim tersenyum, ia sebenarnya tak sependapat ketika menyebut warga non Muslim dengan sebutan Kafir. Karena mereka pun beragama. Di agama mereka pun ada istilah kafir. Maka dalam konteks sama-sama warga negara tentu hal itu menyakiti hati non muslim.


Dimana mereka tinggal di Indonesia yang banyak suku, bangsa dan agama. Dimana masing-masing agama bisa melaksanakan ibadah mereka tanpa saling memusuhi maka bagi Rohim non muslim lebih baik untuk disematkan pada warga yang berbeda keyakinan bukan menyebutnya dengan kafir.


"Rasulullah bahkan berhubungan baik dengan non muslim. Selagi non muslim tidak memusuhi agama kita dan kita. Kenapa kita harus memusuhi dan menyakiti mereka. Bukankah mereka juga makhluk Allah?" Tanya Rohim lada tokoh tersebut.


Tokoh tersebut sektika diam. Ia tahu ilmu memang ada kisah dimana Rasulullah berhubungan baik dengan non muslim. Bahkan salah satu kisah di perang Uhud, Rasulullah memuji salah satu non muslim yang ikut berperang karena gugur ikut membela Rasulullah. 'Dia Yahudi Terbaik'.


"Coba ibu-ibu disini atau buk kades, atau istrinya bapak-bapak tokoh disini tanya sama anaknya. Apa betul di lecehkan. Perkara seperti ini harus mendengarkan dua pendapat tak bisa hanya satu pendapat. Saya lihat disini ada kesalahpahaman." Ucap Rohim


Akhirnya beberapa ibu-ibu tadi pergi ke kediaman anak perempuan yang katanya di lecehkan. Setelah mendapatkan hasil mereka pun mengatakan jika ternyata betul anak perempuan tadi tidak sadar diri. Ibunya yang bermaksud membuat teh meninggalkan dokter Wayan sendiri di kamar ketika akan memeriksa.


Gula yang habis membuat sang ibu ke warung. Ibu tersebut tidak memberitahu sang dokter. Dan ketika anak itu tiba-tiba sadar. Ia berteriak karena melihat dokter tersebut berada di kamarnya.


Maka dokter Ayu yang sedang bertugas di puskesmas segera ke lokasi karena mendengar sang suami di tahan beberapa warga dan kepala desa. Rohim pun akhirnya bisa bernafas lega begitupun dokter Wayan dan Ayu. Sepasang suami istri itu saling menguatkan.


"Baiklah, jadi sudah jelas toh... Kalau begitu saya permisi dulu. Karena saya khawatir mobil sudah menjemput. Saya akan pulang kampung." ucap Rohim pada kepala desa.


Ia menolak ketika akan dibuatkan kopi. Dokter Wayan dan Ayu segera bergegas ke arah Rohim. Mereka mengucapkan terimakasih. Kejadian tersebut membuat dokter Ayu trauma. Ia yang merasa hidup menjadi minoritas di kalangan muslim yang selalu memandang mereka rendah memutuskan untuk pindah ke desa sebelah. Desa dimana Rohim tinggal. Hari itu juga mereka mencari rumah kosong di Kali Bening.


Begitulah Rohim, ia selalu menjadikan sosok Rasulullah sebagai tauladan terbaik bagi dirinya. Dimana Rasulullah menebar rahmat menjadi agama yang begitu ramah, agama yang penuh kasih sayang, agama yang tak mengkafirkan orang yang sudah islam, agama yang bisa hidup berdampingan dengan non muslim. Sungguh Islam adalah agama yang Rahmatan Lil Alamin.


(Maaf ya Laila lama update. Kemarin aku sibuk di Realita. Eh ponselnya rusak karena lcd hp nya hancur. Dimana kerangka novel laila ini aku buat di ponsel dan belum aku copy ke drive. Jadi ini aku buat kerangka baru. Semogaha pembaca bisa bersabar. Maaf atas ketidaknyamanan ini.)