LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 7 LAILA DI LAMAR LAGI


Saat sedang menemani Umi Nafi di ruangan yang biasa digunakan untuk para santriwati setoran hapalannya, Umi Nafi meminta Laila menyimak bacaan santriwati yang baru. karena Umi Nafi di panggil oleh Suaminya. Tak lama, muncul seorang santriwati datang ke ruangan tempat Laila berada. ia memanggil Laila untuk ke kediaman Umi Nafi. Laila pun pergi memenuhi panggilan Umi Nafi. Tiba di kediaman Umi Nafi. Laila hanya menundukkan kepalanya. Ia tak bersuara jika tak di tanya. Tak mengangkat kepalanya.


Diruangan tersebut terdapat Kyai dari salah satu pondok pesantren yang berada di kota sebelah. Ia datang dengan niat ingin melamar Laila untuk putranya. Yang kebetulan sangat putra adalah alumni pondok pesantren tersebut. Putranya yang saat itu kebetulan mendengar suara Laila yang sedang lalaran. Lalaran adalah sebuah metode menghafal ala santri dengan cara menghafal setiap kata ataupun setiap kalimat secara berulang-ulang yang kan di setorkan.


Sehingga ia pun jatuh hati. Namun ia yang sama-sama santri di pondok itu tak berani bermain hati. Sehingga hanya mampu memendam rasa pada Laila. Sampai ia selesai pendidikannya dan telah siap menikah. Ia ingin meminang Laila. Kyai Ali yang mengatakan pada Laila bahwa ia dilamar oleh Adnan. Alumni pondok pesantren yang sama dan anak seorang Kyai. Laila hanya menunduk. Ia tak berani bersuara. Namun perintah Umi Nafi membuat ka menjawab pertanyaan Kyai Ali dengan wajahnya masih tertunduk.


"Maafkan saya Bi. Pagi tadi surat dari abah mengatakan bahwa saya dilamar oleh seseorang di desa. Dan Abah telah menerima lamaran lelaki tersebut."


Suara Laila Pelan sekali. Adnan yang berada di ruangan tersebut melirik ke arah Laila. Ia hampir tiga tahun memendam rasa pada gadis yang sederhana dalam penampilan itu namun manis dipandang. Gadis yang tak terlalu sibuk dengan berbagai kosmetik saat akan ada acara di pondok pesantren melainkan ia akan berada di dapur. Sibuk dengan berbagai menu yang akan dimasak. Ia sedari kecil mondok sudah terbiasa dengan berbagai pekerjaan dapur. Satu kriteria yang Adnan idam-idamkan. Sholehah, rajin dan patuh kepada guru.


Kyai Ali pun manggut-manggut mendengar penjelasan Laila. Adnan beserta kedua orang tuanya paham bahwa tak mungkin mereka melamar perempuan yang telah di lamar orang lain. Sungguh hati Adnan meradang, lagu sebelum berkembang. Namun ia paham ilmu agama bahwa ia mungkin tak berjodoh. Ia pun yang sama dengan Laila, tak mungkin bagi Laila untuk menerima lamaran orang lain saat dirinya telah dilamar.


Selepas kepergian keluarga Adnan. Laila masih diminta tinggal di ruangan itu. Umi Nafi bertanya sesuatu pada Laila.


"Kamu sudah kenal Lelaki yang Abah mu jodohkan Nduk? "


"Belum Umi."


"Lantas apakah tidak adil jika kamu menerima lamaran dari lelaki yang kamu tidak tahu seperti apa akhlak calon suami kita? Menurut Umi, patuh dan taat pada perjodohan orang tua atau Kyai itu memang boleh. Tetapi Umi salah satu yang tak suka perjodohan tanpa saling mengenal lebih dulu. Ya minimal bertemu."


Laila masih tertunduk. Dia yang lama mondok telah belajar kirab Ta'limul Muta'alim, bahwa seorang murid harus menghormati gurunya. Ia tak akan berbicara tanpa gurunya meminta saat ada di hadapan sang guru.


"Lantas kamu menerima keputusan Abah mu Nduk? " Tanya Umi Nafi pada Laila.


"Iya Umi, saya tidak berani membantah perkataan Abah. Disamping itu, Yang saya tahu lelaki itu adalah seorang santri dan mengajar ngaji di desa tetangga. "


Kyai Ali manggut-manggut. Kali ini, sang Kyai bertanya pada Laila.


"Siapa namanya Nduk? "


"Ahmad Rohim." Jawab Laila


"Ahmad Rohim.... Kenapa aku tak asing mendengar namanya." Gumam Kyai Ali.


Umi Nafi bertanya kembali pada Laila.


"Lalu kamu akan boyong berarti nduk? "


Laila menganggukkan kepalanya.


"Kapan?" Tanya Umi Nafi.


"Insyaallah kalau Abi dan Umi mengizinkan setelah penutupan maulid minggu depan."


Laila pun keluar dari ruangan itu dengan posisi berjinjit dan mundur tanpa membelakangi gurunya. Tiba di dalam kamar, Ulfa cepat mendekati Laila.


"Ada apa Lai? "


"Tidak apa-apa. Aku mengatakan pada Umi jika satu minggu lagi aku boyong."


"Kamu betul-betul akan menikah dengan Rohim itu Lai?" Tanya Ulfa penasaran.


Laila membuka kerudungnya. Ia menyampirkan kerudung itu di sebuah hanger. Ia duduk menatap Ulfa.


"Aku kalau pulang ke kampung sering mendengar beberapa remaja masjid dan teman sekolah ku membicarakan nama Kang Rohim itu."


"Kamu pernah bertemu dengan dia? "


Laila menggeleng pelan.


"Lah jadi jatuh hati sama nama nya bukan orangnya? "


Laila mencubit pipi Ulfa yang chubby.


"Bukan jatuh hati. Tapi ketawadhuan pemuda bernama Rohim itu yang bikin aku kagum. Aku malah tak menyangka jika dia melamar ku. Setahu ku dari cerita teman-teman di kampung. Melalui itu selalu menangkup kan tangannya saat bersalaman dengan bukan mahram. Lalu dia itu sosok lelaki yang paham ilmu tetapi tidak sombong akan keilmuannya. Dan poin yang aku tak menolak keputusan Abah ku. Dia lelaki yang seimbang antara urusan dunia, akhirat dan cintanya pada tanah air ini. Bagi ku sulit menemukan lelaki dengan bisa menyeimbangkan dia konsep antara dunia dan akhirat. Dan juga berilmu tapi tidak merendahkan yang belum berilmu."


"Wah semoga dia juga pandai seperti kamu Lai. Karena kalau tidak kasihan suami mu itu, jika sudah membahas suatu masalah bisa pusing dia dibuatnya." Ungkap Ulfa.


Laila kembali mengambil pas foto yang telah berubah menjadi blur.


"Tampan akan hilang seiiring waktu Ul. Kaya pun tak menjamin hidup bahaga dalam mengarungi bahtera tangga. Maka akhlak dan Ilmu adalah modal yang paling penting bagi ku di dalam membina rumah tangga. Dan sepertinya pemuda itu ada satu kesamaan dalam prinsip ku. Pak Toha lebaran tahun lalu ketika berkunjung kerumah ku mengatakan jika prinsip hidup Kang Rohim itu 'Memberikan manfaat dimanapun ia berada'."


Saat Laila menatap pas foto itu. Laial justru menyenhhol lengan Laila.


"Cie yang sudah punya akang... Aduh... Kang Rohim.... Kamu menikung banyak hati... Kamu tahu Lai, bakal banyak yang patah hati kalau kamu boyong (pulang) apalagi tahu kamu dilamar guru ngaji pula, alumni Pondok Pesantren pula. Ckckck.... Sungguh jodoh yang tak disangka-sangka. Semoga jodoh ku jangan tiba sekarang, kasihan Umi Nafi ditinggal rabi santri ndalemnya. Aku belum mau menikah. Masih mau menemani Umi disini."


Laila pun menitikkan airmata. Ia belum ingin meninggalkan pondok pesantren. Namun usia yang telah hampir 23 membuat ia pun harus menikah. Saat ia menitikkan air matanya, ada satu ke khawatiran di benak Laila. Yaitu tentang Waroh, kakaknya itu belum menikah. Maka akan terjadi perdebatan lagi jika ia menikah lebih dulu dari dirinya. Ia hapal karakter kakak perempuan nya itu.


"Semoga Abah dan Kak Waroh tidak berdebat lagi. Kasihan Ibu kalau Abah dan Kak Waroh harus kembali berdebat hanya karena aku. "


Malam hari ketika acara maulid nabi. Laila betul-betul menangis saat tiba di Mahalul Qiyam. Entah kenapa hatinya begitu tersentuh mendengar baik-baik shalawat ketika Mahalul Qiyam. Ia bermunajat sambil menengadah kan tangannya.


"Semoga lelaki yang bernama Ahmad Rohim itu adalah lelaki yang bisa mengimami ku untuk menjalani kehidupan di dunia ini untuk mendapatkan ridho mu Ya Allah. Semoga kami bisa meneladani akhlak mu ya Rasulullah. Ya Nabi salaam A'laika."