LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 55 Pak Toha dan Keluh Kesahnya


"Ada apa Dik?" Tanya Rohim pada sang istri.


Laila pun mendekat ke arah Rohim yang sedang asyik dengan kitab gundul nya. Ia yang melihat ke arah istrinya.


"Anak-anak mulai tak nyaman dengan kehadiran Mas Imam. Kadang barang-barang mereka di pakai dan diambil tanpa permisi. Belum lagi kadang mas Imam juga bicaranya sama jama'ah suka sembarangan tak pakai adab." Keluh Laila Pada sang suami.


Rohim membuka pecinya. Ia meletakkan kopiah berwarna hitam itu di sisi kanannya.


"Nanti coba mas Pikirkan bagaimana caranya memberi nasehat pada Mas Imam." Ucap Rohim pelan.


Saat sepasang istri itu sedang asyik berbicara di kamar mereka. Terdengar pintu di ketuk dari arah depan. Laila yang mendengar suara Lulu, ia pun keluar.


"Ada apa Nduk?"


"Ada Pak Toha Bu. Katanya nyari Kang Rohim." Ucap Lulu yang duduk di depan pintu dan menundukkan pandangannya. Ia begitu takhdim pada Laila dan Rohim mungkin itu yang membuat ia paling cepat menerima ilmu-ilmu yang di berikan sang guru pada dirinya. Karena rasa hormat dan cintanya pada sang guru. Bahkan ia nyaris tak pernah berpikiran negatif tentang gurunya.


Lulu bahkan sering menangis kala ia mendengar dengan telinganya Sendiri ada wali santri atau masyarakat yang berbicara keburukan gurunya. Namun adab yang diajarkan sang guru untuk hormat pada yang lebih tua membuat bibirnya membisu kala gurunya di fitnah atau jadi bahan ghibahan. Namun matanya pasti berair saat pergi dari orang-orang yang sangat tak suka dengan Laila yang tak memiliki apa-apa di Sumber Sari itu.


Ia betul-betul mengabdikan dirinya, Dzohir maupun batin nya untuk santri, untuk umat.


Selepas kepergian Lulu, Laila memberitahu Rohim jika ada Pak Toha di kediaman santri putra yang mencari keberadaan guru ngaji Nurul Iman yang tak mau dipanggil Ustadz itu.


"Mas, ada Pak Toha di atas." Ucap Laila pada Rohim yah baru akan merebahkan tubuhnya.


(Di atas adalah biasa istilah Rohim dan Laila mengatakan pondok tempat tinggal santri putra yang berada di belakang masjid dan kebetulan tempatnya lebih tinggi dari bangunan yang mereka tunggu bersama santri putri.)


Rohim yang tak pernah menolak siapapun saat mencarinya. Ia pun akhirnya bangkit dari posisinya dan segera menemui Pak Toha. Tiba disana, Rohim pun menyalami Pak Toha. Hal itu diamati oleh Lelaki yang bernama Imam. Sosok santri paling dewasa dan besar di pondok Rohim. Ia mengamati bagaimana Rohim ini selalu memuliakan orang yang lebih tua dari dirinya padahal ia lebih berilmu dari para jama'ah yang memang terlihat sepuh.


Setelah mengucapkan salam. Mereka mengobrol seperti biasa. Dan yang memang membuat hati guru ridho ketika muridnya begitu mengerti apa yang bisa ia lakukan tanpa harus gurunya memerintahkan. Saat Laila akan membuatkan kopi. Lulu justru telah siap dengan 3 cangkir kopi diatas nampan dan sedang berjalan ke arah ruangan santri putra.


"Masyaallah.... Barokah Ilmu Ku Nduk.... manfaat untuk mu dan anak turun mu...." Batin Laila yang baru saja akan membuatkan minum untuk tamunya namun kalah cepat oleh santri pertama yang memiliki cinta begitu luar biasa untuk sang Guru.


Sambil menikmati kopi dan beberapa roti yang berbentuk wafer. Pak Toha akhirnya menyampaikan maksudnya. Sudah menjadi kebiasaan warga Kali Bening, jika mereka memiliki masalah atau kebimbangan dan butuh pendapat Rohim. Mereka akan menunggu hingga jam 10 atau 11 malam.


Karena jam-jam segitu lah guru ngaji itu ada waktu. Karena setelah selesai shalat isya ia biasanya akan mengajar santri dan santriwati nya. Ia sengaja mengambil batas jam 10 atau 11. Karena pagi harinya para muridnya harus berangkat ke sekolah formal.


Pak Toha menyampaikan maksud hatinya.


"Ada apa Pak?" Tanya Rohim.


"Jadi, anak bungsu saya Rendra itu sering sekali menangis saat terjaga dari tidur. Nah banyak yang menyarankan saya untuk ke orang pintar atau dukun. Istri juga sibuk memaksa. Tetapi hati saya menolak Kang. Lah wong saya sholat, ngaji, sholawatan, kok malah perginya ke tempat begitu-begitu. Saya minta pendapat sampeyan." Jelas Pak Toha dengan berat hati.


Ia sudah satu Minggu ini berselisih pendapat dengan sang istri. Istrinya yang mulai merasa lelah karena anak yang sering rewel di jam-jam tertentu. Belum lagi Ibu-ibu dan kerabat mempengaruhi pikiran istri Pak Toha tentang bahwa anaknya kena gangguan atau ketempelan bahasa orang sana.


Sehingga sang istri ingin meminta suaminya untuk pergi ke tempat orang yang memang biasa menangani warga yang mengalami gangguan terhadap hal-hal yang seperti itu. Namun batin Pak Toha menolak keras. Sehingga hari demi hari ia justru sering berselisih dengan istrinya dan berakhir dengan ia akan membentak istrinya.


Ia merasa itu bukan solusi. Akhirnya ia berinisiatif menemui Rohim. Untuk diminta pendapatnya atau solusinya. Ia khawatir jika ibadahnya selama ini tak diterima Allah karena datang ketempat orang-orang seperti itu.


"Memangnya nangisnya waktu-waktu kapan saja?" Tanya Rohim sambil sesekali menyesap rokok miliknya.


"Kalau pada bangun tidur dan mau tidur Kang. Apalagi kalau sudah Maghrib, sama tengah malam." Ucap Pak Toha jelas.


"Sudah berapa lama?" Tanya Rohim


"Ya hampir satu bulan setengah. Saya awalnya dan istri berpikiran jika anak kami itu si Rendra mau mundak akalnya (Mau tambah umur tambah kepintaran)." Ucap Pak Toha.


"Maaf sebelumnya Kang. Saya mau tanya, apa anaknya sampeyan itu sering ditinggal saat tidur?" Tanya Rohim.


Pak Toha pun bingung.


"Ya kalau lagi pagi gitu di tinggal Kang. Istri saya beres-beres urusan rumah." Ucap Pak Toha.


"Ya maksud saya. Apakah dalam waktu yang lama ditinggal. Misal tidur dari jam 1 siang sampai jam 3. Tetapi tidak di lihat-lihat. Lihatnya nunggu dia bangun. Terus itu pun ketika bangun, ada jeda ia sendiri. Tidak ada orang disisinya." Ucap Rohim.


"O... ya mungkin Kang. Lah wong kadang anak saya itu tidak bisa di sambi (di momong sambil menyelesaikan pekerjaan rumah)." Keluh Pak Toha.


"Kadang memang saya perhatikan banyak sekali ibu-ibu sering meninggalkan anak-anak mereka yang tertidur pulas. Dan kadang baru cepat ketempat anak saat anak terbangun menangis. Harusnya ibu-ibu itu berusaha jangan meninggalkan anak-anak dalam waktu lama. Minimal sesekali ketika anak tidur sering dilihat. Dan Usahakan ketika jam-jamnya anak bangun. Kita ada disisi anak itu. Apalagi waktu-waktu yang dimana setan itu bekerja. Contohnya waktu dari akan tiba Maghrib ke masuknya waktu Maghrib dan-" Belum selesai Rohim menjelaskan apa yang biasa menjadi penyebab anak-anak balita sering di katakan ketempelan atau diganggu jin. Dan akan berujung di bawalah anak tadi ketempat yang katanya dukun.


Penjelasan Rohim terhenti karena kehadiran Mukidi.


"Assalamualaikum wa barokatuh." Ucap Mukidi dengan gaya dan suaranya yang khas.