LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
75 Telepon di Pagi Hari


Laila baru saja membangunkan Rohim. Baru saja ayah Furqon itu membuka kedua matanya. Ia justru di kagetkan dengan suara ponsel yang berdering dari atas meja. Ia segera mengangkat ponsel itu, sambil melirik ke jam dinding yang tergantung di sebelah lemari.


Ia melihat Jam baru menunjukkan pukul setengah empat pagi. Namun ada panggilan di telponnya. Tanpa melihat dari siapa panggilan tersebut. Abi Rohim segera menjawab salam dari suara yang diseberang. Namun yang membuat Rohim tersenyum di pagi sebelum Shubuh itu. Lelaki yang menelpon itu berteriak histeris.


"Alhamdulillah Abi.... Ustadz.... kyai.... Ini istri saya lulus. Alhamdulillah.... istri saya lulus." Ucap lelaki itu.


Rohim sedikit mengangkat ponselnya dan melihat panggilan tersebut ternyata dari Pak Bowo.


"Oala... Pak Bowo... Alhamdulillah kalau begitu. Selamat Pak. Saya kira telepon dari adik saya di kampung." ucap Rohim karena ia sempat kaget ketika ponselnya berdering.


Ia khawatir jika ibu atau ayahnya sakit. Karena masih terlalu pagi jika ada orang lain menelponnya. Ternyata Pak Bowo merasa sangking bahagia nya. Ia yang baru membeli koran di pasar pagi. Ia membaca pengumuman untuk CPNS dan ternyata di koran tersebut dari 300 nama. Nama istrinya ada di koran tersebut.


Sangking senangnya. Pak Bowo tidak ingat waktu, jika saat itu masih pukul empat pagi. Abi Rohim bahkan baru saja dibangunkan istrinya. Berkali-kali Pak Bowo mengucapkan terimakasih pada Abi Rohim. Hal itu karena ia merasakan lulusnya sang istri bukan hanya karena usaha sang istri melainkan mengikuti saran sang guru ngaji sekaligus pengasuh pondok pesantren Kali Bening itu.


Ia juga mengikuti saran tak memberikan uang ke pada dua oknum calo yang menawarkan jalan pintas agar sang istri lulus. Maka hal itu sangat membuat dirinya begitu bahagia. saat panggilan tersebut selesai. Rohim bergegas menuju kamar mandi.


Laila yang sudah membangunkan Furqon. Ia bertanya siapa yang menelpon sepagi itu. Ia khawatir kalau ibu atau ayah mertua sakit lagi.


",Siapa Yang telpon Bi?" Tanya Laila.


"Coba tebak siapa?" Ucap Rohim sambil duduk menunggu air jeding atau bak kamar mandi terisi air.


"Dik Munir?" Tanya Laila.


"Bukan. Pak Bowo."


"Pak Bowo yang punya showroom mobil itu?" Tanya Laila.


"Iya. Tak pikir siapa dan mau ngabarin apa. Istrinya lulus PNS kemarin. Intinya dia bahagia karena bisa lulus tanpa mengeluarkan biaya besar. Padahal kemarin dia Minta pertimbangan Abi mau pilih yang mana. Abi ya ga nyaranin keduanya. Abi cuma suruh mereka fokus ke ibadah wajib, hubungan sama orang tua, anak... Itu saja. Ya balik lagi. Itu memang rezeki istrinya." Ucap Rohim sambil berlalu membawa kain ke arah kamar mandi.


Laila sudah meracik kopi ke gelas. Ia tinggal menuangkan air panas jika satu ceret yang ia letakkan diatas kompornya telah mendidih.


Ketika Rohim selesai mandi. Ia seperti biasanya segera ke ruangan dimana santri putra tidur. Disana ia membangunkan santri-santri putra untuk segera bergegas mandi.


Saat selesai shalat Shubuh. Rohim kembali dikejutkan dengan kehadiran Pak Bowo bersama keluarganya. Bukan hanya anak dan istri melainkan mertua dan orang tuanya ikut hadir. Bahkan ia membawa banyak oleh-oleh. Dari sembako, buah-buahan bahkan mainan untuk Furqon, Alya dan Mida.


Rohim yang sebenarnya ada janji untuk kerumah Mukidi namun harus tertunda karena tamu yang datang. Pak Bowo datang ke Pondok pesantren milik Rohim adalah dengan tujuan mengucapkan terimakasih. Ia juga menyerahkan uang kepada Rohim sebagai ucapan syukur. Uang tersebut ia masukkan kedalam amplop coklat. Rohim tampak berkali-kali menolak. Namun ketika Pak Bowo mengatakan untuk pondok pesantren. Rohim akhirnya menerima amplop tersebut.


Setelah hampir menjelang siang. Keluarga Pak Bowo pun pulang. Rohim pun bergegas menemui Mukidi yang memang ia telah memiliki janji pagi menjelang siang itu. Dan saat pulang. Ia lupa menyerahkan amplop tadi kepada sang istri. Saat akan masuk waktu Dzuhur, Rohim sambil akan mengganti bajunya. Ia pun menyerahkan amplop yang diberikan oleh Pak Bowo tadi.


"Mi, ini tadi ada amplop dari Pak Bowo. Katanya untuk Pondok." Ucap Rohim.


Laila pun menerima amplop tersebut. Ia membuka dan menghitung uang tersebut. Ia mengambil buku yang biasa ia gunakan untuk mencatat jika ada uang masuk untuk pondok pesantren. Bahkan ia juga memisahkan tempat menyimpannya.


Sambil menyimpan ke dalam sebuah dompet khusus. Laila pun berkomentar tentang isi amplop tersebut.


"Lah kemarin kata Abi, Pak Bowo itu siap memberikan ke orang yang mau urus istrinya agar keterima PNS. Jumlahnya ratusan juta bahkan ya Bi... Tapi ini. Sudah lulus kok ya sedekahnya malah ga ada 10 persennya dari seratus juta i-" Ucapan Laila terhenti. Ia mengigit bibir bawahnya.


Ia melihat satu telunjuk Rohim mengangkat ke arah atas.


"Hayo... ayo... Hatinya... hatinya... kok bisa nya ngomentari orang. Sudah syukur Pak Bowo itu masih tergerak mau sedekah. Masih syukur beliau bisa berbakti pada orang tuanya. Masalah nominalnya kok kita yang sibuk.... Hati-hati Lo Mi... " Ucap Rohim.


Laila menunduk. Ia tahu ia sudah salah. Ia dengan mudahnya menilai Pak Bowo. Akhirnya di shalat Dzuhur itu Laila pun menangis karena merasa berdosa sudah pandai menilai orang lain. Bahkan saat Furqon kembali dari masjid. Sulung Umi Laila itu menanyakan kenapa mata Uminya sembab.


"Memangnya kalau menangis diampuni?" Tanya Furqon lugu.


"Diampuni atau tidak. Allah punya kehendak. Kita manusia harus terus mengetuk pintu Ampunan nya Allah... Dan Ndak boleh lelah berdoa juga memohon ampun. Kita ini kadang secara ga sadar tapi ternyata buat orang sakit hati," Ucap Umi Laila.




Lima bulan berlalu. Tanpa Rohim sadari, ia sering ke kota mengantarkan Umi Laila membeli kebutuhannya satu dirinya ada keperluan menghadiri undangan. Ia juga sering mampir ke kediaman Pak Bowo. Namun saat Rohim yang sedang menunggu Laila keluar dari Bank. Istri Rohim itu baru saja mengirimkan uang untuk Munir yang akan membayar sidang tesisnya.



Laila pun sudah selesai dengan urusannya.



"Sudah Bi. Telepon saja dulu Dok Munir atau kirim pesan biar bisa diambil." Ucap Laila.



Rohim tersenyum.



"Terimakasih ya Mi... adik ku selalu merepotkan kamu." Ucap Rohim.



"Terus aku juga harus ngucapin terimakasih saat membantu kak Waroh? Suami istri itu kan partner Bi... Adik Abi, adiknya Umi juga. Toh dia sudah menjaga dan merawat Ibu dan Bapak. Kita Ndak bisa." Ucap Laila.



Rohim pun segera mengirimkan pesan pada Munir yang akan sidang tesis. Adik Rohim itu melanjutkan S2. Karena ditawari pihak kampus karena prestasinya. Rohim dan Laila pun mengatakan jangan dilewatkan. Ambil kesempatan itu. Mereka masih sanggup untuk membantu perihal biayanya.



Saat sudah ada di motor, Rohim bertanya pada Laila.



"Mau mampir ke kediaman Pak Bowo?" Tanya Abi Rohim pada sang istri.



"Ndak usah Bi. Ndak enak. Kok ya kesannya kalau kita mampir itu. Umi malu. Mesti itu Pak Bowo kasih uang ke kita. Jadi berasa kayak kita ini ngarep-ngarep pemberian. Lah kadang kalau pas main kesana mau bawa buah, buahnya mereka lebih lengkap. Kadang Umi bingung bawa oleh-oleh apa." Ucap Laila.



"Alhamdulillah... Abi juga mikirnya gitu. Setiap kesana itu kok jadi ngerasa gimana gitu. Pasti dikasih amplop atau uang. Mau nolak takut tersinggung. Diterima kok merasa kita kayak minta imbalan atau gimana gitu ya Mi. Ya sudah kita pulang langsung ya?" Ucap Rohim.