
Siang itu Rohim bersama Laila dan si Kecil Furqon berkunjung ke Sumber Waras. Laila mengajak suaminya untuk kerumah Abah Ucup. Ia ingin mengambil ijazah asli untuk di legalisir. Karena akan di kirim ke panitia untuk melengkapi syarat selanjutnya.
Tiba di kediaman Abah Ucup. Kakek dan nenek Furqon itu terlihat senang menyambut cucu mereka. Hampir setengah jam mereka berbincang. Laila pun mengutarakan maksud hatinya.
"Bah, ijazah yang sama Abah biar Laila simpan. Ini sekalian mau Laila legalisir yang SD." Ucap Laila sopan.
Abah Ucup terdiam. Bu Salamah yang baru datang membawakan makanan pun ikut terdiam. Laila melihat ekspresi kesedihan di kedua orang tuanya.
"Ada apa Bah?" Tanya Laila penasaran.
Abah berkali-kali menghembuskan napasnya dari hidung dengan berat. Bahkan pundaknya tampak bergoyang.
"Laila.... Maafkan Abah...." Ucap Abah lirih.
"Ada apa Bah?" Tanya Laila pelan.
"Ijazah mu.... Ijazah mu...." Abah Ucup tak kuasa melanjutkan ucapannya. Ia tertunduk dan menghapus air matanya.
"Ijazah mu semau terbakar Lai." Ucap Bu Salamah cepat dan juga ikut meneteskan air mata.
Laila tertegun sejenak. Ia beristighfar, tak berani bertanya kenapa dan apa yang terjadi. Rohim yang duduk di sisi Laila melihat ekspresi mertua dan istrinya. Ia menggenggam tangan sang istri.
"Tenanglah Dik." Ucap Rohim pelan.
Abah Ucup mengangkat kepalanya. Kedua pipinya telah basah oleh air mata. Lelaki paruh baya itu mencoba mengatur napas sebelum kembali menjelaskan kepada Laila perihal yang terjadi.
Abah Ucup menceritakan peristiwa dimana Waroh membakar Ijazah sang adik juga baju sang adik.
"Innalilahi.... Apa salah Laila sampai Kak Waroh melakukan itu.... Hiks... Hiks...." Tangis Laila pun pecah.
Ia merasakan sesak di dadanya. Selama ini ia tak pernah berbuat tidak sopan apalagi menyakiti kakaknya. Ia bahkan selalu mengalah dari kakaknya. Namun ia tak menyangka jika sampai sejauh itu tindakan Waroh. Dan pertanyaan spontan Laila membuat Abah Ucup melirik Rohim.
"Memangnya alasan apa yang membuat Kak Waroh sampai senekat itu Bah? Apa salah Laila?" Tanya Laila masih sambil menangis.
Kembali Abah Ucup meminta maaf pada putri bungsunya.
"Maafkan Abah Nduk.... semua ini salah Abah. Dulu Rohim sebenarnya datang kerumah bermaksud melamar kakak mu. Tapi Abah malah meminta Rohim melamar kamu. Karena Abah tahu kakak mu tidak akan cocok jika menemani Rohim. Kamu yang pantas untuk Rohim Nduk..." Ucap Abah masih sambil menitikkan air matanya.
Laila menoleh ke arah Rohim. Ia tak mampu berkata. Ia tak ingin mengikuti nafsu dalam hatinya yang menimbulkan satu rasa yaitu marah. Marah pada orang tua, pada Waroh juga suaminya. Ia tahu bahwa saat ini, beberapa ilmu yang sering ia gaungkan pada para ibu-ibu di majelisnya untuk sabar, memaafkan setiap kesalahan saudara ataupun pasangan.
Ia hanya beristighfar, ia tak berani kembali bertanya. Ia khawatir hatinya yang lemah kembali membisikkan banyak rasa dan membuat ia menjadi terbujuk rayu setan untuk meluapkan rasa emosi, marah, benci pada orang-orang yang harus ia hormati, ia sayangi.
Ia hanya menangis. Bu Salamah memeluk putri bungsunya. Laila menangis dalam pelukan Bu Salamah. Ia tak kembali memikirkan kenapa Waroh bersikap begitu. Tetapi hatinya, pikirannya mencari apa hikmah di balik semua yang terjadi. Menit demi menit, Seiring hatinya terus beristighfar. Ia pun mulai bisa berpikir dengan jernih.
Laila memeluk lengan Abah Ucup.
"Laila juga minta maaf sama Abah. Sepertinya cita-cita Abah untuk punya anak pegawai tidak bisa terwujud karena sudah pasti Laila tidak lolos untuk tahap yang satu ini Bah." Ucap Laila dengan suara khas orang habis menangis.
Abah Ucup menoleh ke arah bungsunya.
"Kamu tidak marah dengan waroh Nduk?" Tanya Abah Ucup dan Bu Salamah bersamaan.
Laila menarik kursi dan duduk di sisi kanan Abah.
"Kesal mungkin iya Bah. Putri Abah ini juga manusia. Tapi malu rasanya jika Laila sering meminta para ibu-ibu untuk sabar, untuk memaafkan tetapi Laila sendiri justru mengikuti bisikan nafsu hati Laila untuk marah dan menyalahkan." Ucap Laila pelan.
"Abah ridho kamu mau jadi apapun nak. Yang penting kamu dan Suami mu hidup bahagia. Abah minta maaf belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk kamu dan Waroh." Ucap Abah Ucup yang kembali menangis.
Rohim hanya memandangi apa yang sedang terjadi di keluarga mertuanya. Ia begitu bangga menjadi suami Laila. Ia pun merasa jika Laila adalah istri yang tangguh dalam menjalankan tugasnya, sebagai istri, ibu, anak, juga di Masyarakat.
Saat keluarga Abah Ucup sedang menangis. Satu perempuan yang dari tadi tak berani masuk kerumah. Ia adalah Waroh. Anak sulung Abah Ucup itu bersandar di dinding rumah Abah Ucup. Ia tak ingin kembali di bentak sang ayah. Sehingga ia mengurungkan niat untuk masuk kerumah. Setelah berselang berapa lama. Ia pun baru berani masuk.
Namun seolah hati Abah betul-betul dibuat bahagia hari itu. Waroh menyampaikan pada Abah Ucup jika nanti malam akan ada yang datang. Seorang pemuda yang juga guru di Madrasah Aliyah, lelaki itu bermaksud melamar dirinya. Hal membahagiakan bagi Abah Ucup.
Saat akan pulang Laila dan Rohim pun menyempatkan diri menghibur sang ayah.
"Bah, Allah itu maha Pengasih dan Penyayang. Anak Abah tidak jadi guru atau pegawai. Eh dikasih calon menantu yang juga guru." Goda Laila pada sang ayah.
Abah Ucup pun mencoba tertawa. Ia tak ingin kembali bersedih. Ia ingin Laila tak merasa khawatir tentang dirinya. Abah Ucup juga memberikan pesan pada sepasang suami istri itu.
"Kalian walau bukan pegawai tetapi kalian di hormati boleh banyak orang. Itu sudah menjadi kebanggaan Abah tersendiri. Hati-hati jangan sampai ada rasa sombong dan ingin di hormati orang lain. Nanti kalian malah sibuk ingin di hargai orang lain. Sekarang banyak yang seperti itu. Dan Abah harap kalian tidak berubah." Ucap Abah Ucup sambil menepuk pundak Rohim.
Rohim pun berpamitan. Saat diatas motor, ia menggenggam tangan Laila. sedangkan tangan lainnya memegang kendali motor.
"Terimakasih kamu masih menjaga adab mu, kamu bisa mengendalikan rasa kecewa dan amarah mu Dik."
"Terimakasih karena dulu sudah melamar Laila." Ucap Laila seraya menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.
"Kamu tidak marah atau cemburu?"
"Kenapa harus cemburu? Bukankan pria ini adalah suamiku sekarang? Kenapa harus marah. Bukankah semua yah terjadi ini atas kehendak Allah. Ada Allah yang menggerakkan hati Abah untuk meminta mas melamar Laila, ada Allah yang menggerakkan hati Mas untuk melamar Laila. Dan ada hikmah Kak Waroh membakar ijazah Laila."
"Apa Hikmahnya?" Tanya Rohim sedikit penasaran.
"Ada anak-anak yang ingin belajar dan mondok bersama kita. Mas tidak ingat Lulu dan Ayu yang satu Minggu lalu diajak orang tuanya ke tempat kita? Katanya akhir bulan ini mereka akan kembali ke tempat kita. Mereka akan menitipkan anaknya di kediaman kita. Mas bilang iya kan?"
"Innalilahi....mas lupa. Kita harus menyiapkan kamar untuk anak-anak itu Dik. Untuk kamu mengingatkan. Alhamdulilah Furqon besok Ibu mu ini akan dipanggil Umi atau Bu Nyai... " Goda Rohim pada sang istri.
Laila menepuk punggung Rohim pelan.
"Aamiin... Besok Laila tidak mau dipanggil Umi atau Bu Nyai mas. Biar Lulu dan Ayu panggil mbak saja." Ucap Laila pada Rohim.
"Iya. Mas juga kadang sedikit malu kalau ada warga yang manggil ustadz. Lebih nyaman di panggil kang." Ucap Rohim.
Sepasang suami istri yang harusnya bersedih, siang itu justru bahagia. Karena mereka akan berjuang untuk mentransfer ilmu mereka pada anak didik yang akan terus bertambah seiring waktu.
Sepasang suami istri yang menjadi figur baik dalam akhlak bagi warga Sumber Sari. Mereka juga adalah orang-orang yang dianggap sabar serta bisa merangkul banyak kalangan. Termasuk dari orang tua hingga remaja. Seperti saat Rohim sibuk mencari kayu, para pemuda dan Mukidi yang melihat sang guru sibuk, cepat datang ke kediaman Rohim.
Mereka membantu Rohim membuat satu kamar di dalam rumahnya. Kini ruang tamu itu di sulap menjadi kamar untuk murid pertama mereka yang akan tinggal di kediaman mereka selama 24 jam. Maka bagi Laila dan Rohim. Ayu dan Laila adalah anak-anak mereka.
Masa-masa fitnah pun datang, kesabaran Laila juga kembali diuji saat Ayu dan Lulu tinggal di kediaman mereka. Pagi itu saat Laila membangunkan Ayu dan Lulu untuk mandi karena sebentar lagi masuk waktu Shubuh. Dua kakak beradik itu terlihat sedikit cemberut. Bahkan saat pagi hari pun mereka masih saja cemberut menatap Laila.
Laila paham bahwa hari-hari pertama dan bulan-bulan pertama adalah hal yang paling tak nyaman bagi orang baru mondok. Walau tempat tinggalnya belum bisa dikatakan pondok tetapi dengan tinggalnya dua anak itu, maka dirinya dituntut untuk bersabar mendidik anak yang dititipkan orang tuanya pada ia dan sang suami.
"Praaaaannngg."
Suara benda jatuh dari arah dapur. Rohim yang telah berangkat ke kebun. Laila yang masih memberikan ASI pada Furqon. Membuat putranya itu kembali terjaga.