LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 34 Mukidi Melamar Gadis


Mukidi yang telah menyatakan cinta nya pada perempuan bernama Maya. Ia berniat untuk melamar sang gadis karena sebentar lagi akan tiba musim panen. Maka ia akan memiliki modal untuk menikah.


Namun ia tak berani ketika diminta oleh Maya melamar gadis itu pada orang tuanya. Mukidi pun akhirnya meminta bantuan Rohim untuk menemaninya ke kecamatan sebelah. Untuk melamar Maya. Ia menyatakan permintaannya pada Rohim. Suami Laila itu pun bersedia menemani pergi ke kecamatan sebelah. Hari Jumat adalah hari cukup senggang bagi Rohim. Karena anak-anak TPA di tempatnya libur mengaji. Hanya ada kegiatan pengajian ibu-ibu dari rumah kerumah, dimana pengajian itu di bangun oleh Laila. Istrinya itu juga yang menjadi pengisi materi pengajian seputar fiqh perempuan.


Usia kandungan yang masuk 6 bulan, tak menyurutkan semangat Laila untuk tetap Istikomah. Ia akan tetap berangkat ke pengajian walau cuaca cukup mendung. Rohim pun mengantar istrinya. Laila yang tak bisa mengendarai motor, selalu diantar Rohim ketika akan mengisi majelis pengajian. Dan pulang bersama ibu-ibu yang lain.


Mukidi yang telah siap dengan celana dasar dan kemeja lengan pendek yang berwarna hitam pun telah siap di teras rumah Rohim.


"Saya antar istri saya dulu kang. Nanti setelah ini kita berangkat." Ucap Rohim sambil menghidupkan mesin motornya.


"Siap kang."


Mukidi pun menanti di teras. Ia telah membawa sebuah bingkisan yang berupa buah-buahan. Ia sengaja meminta ibunya untuk membelikan. Ini adalah kunjungan pertama Rohim ke rumah Maya. Gadis cantik, seksi dan getol mencari uang.


Hal itu adalah permintaan Laila. Laila mengingatkan pada Mukidi jika ingin bertandang ke rumah Maya, hendaklah membawa buah sebagai hadiah kepada orang tua yang akan ia harapkan restunya. Bahkan rambut Mukidi yang gondrong pun terpaksa ia cukur pagi tadi. Itu juga permintaan Laila.


"Sampeyan ini kang, Lah mau melamar anak perempuan orang kok rambutnya begitu, ya mbok dirapikan rambutnya. Setiap Orang tua itu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Lah kalau pertemuan pertama saja sudah begini ya gimana mau suka dan cinta orang tuanya." Nasehat Laila.


Rohim selalu mengajak Laila untuk berdiskusi masalah-masalah perempuan dan rumah tangga ketika ada Mukidi di teras rumah. Karena Rohim berharap dengan mengobrol bersama, Mukidi bisa mendapatkan ilmu dan pemahaman seperti apa nanti seorang perempuan ketika menikah. Karena bagi Mukidi yang tak nyantri, Dikhawatirkan Mukidi tak paham bahwa ada banyak dari sisi kewanitaan untuk di pahami di mengerti, dan bagaimana sudut pandang wanita. Sehingga ketika Mukidi menikah, sahabatnya itu akan bisa memperlakukan istrinya dengan baik, sesuai dengan apa yang sering mereka obrolkan di teras.


Tak lama, Rohim pun kembali. Mereka berangkat ke rumah Maya. Mukidi duduk di belakang Rohim. Rohim seperti biasa. Ia selalu mengenakan sarung. Satu ciri khas Rohim adalah sarungnya. Baik dirumah maupun kemana-mana lelaki itu selalu mengenakan sarung.


Tiba di satu rumah yang permanen dan memiliki teras yang juga di penuhi kembang mawar. Motor Rohim berhenti tepat di rumah itu. Saat mereka turun dari kendaraan roda dua itu. Rohim dan Mukidi di sambut seorang perempuan berbaju yang cukup sopan, namun cukup menunjukkan keseksian gadis yang bernama Maya itu. Rohim hanya menundukkan pandangannya. Sedangkan Mukidi merasa semangat. Ia sangat bahagia karena disambut ramah oleh sang pujaan hati yang mengenakan baju berwana pink.


Mereka pun dipersilahkan masuk. Mukidi menyerahkan buah tangan yang berisi buah-buahan. Padahal ia sendiri hampir tak pernah makan buah apel, pir dan anggur itu. Namun karena ini kali pertama ia berkunjung di rumah Maya, maka saran dari Laila untuk membawakan buah tangan pun ia turuti.


Dari balik gorden berwarna pink muncul lelaki paruh baya. Lelaki itu terlihat berwajah cukup menyeramkan. Mukidi seketika langsung menciut. Saat bersalaman pun nyali Mukidi makin ciut saat ayah pujaan hatinya itu menggenggam erat tangan Mukidi. Setelah Maya mengeluarkan minuman dan kue. Perempuan itu diminta kembali masuk kedalam.


Lelaki itu pun langsung to the poin.


"Jadi siapa yang katanya akan melamar anak saya?" Tanah Pak Kumis.


Ayah Maya biasa di panggil di desanya dengan panggilan Pak Kumis karena kumisnya yang tebal dan sedikit meruncing ke bawah.


Rohim pun akhirnya mengutarakan jika sebenarnya Mukidi yang berniat melamar Maya. Pak Kumis menatap Mukidi dari ujung kaki hingga kepalanya. Namun tak ada komentar, ia justru memanggil anaknya.


"Maya. Sini kamu."


Maya pun muncul dari balik gorden. Ia duduk di sisi Pak Kumis. Pak Kumis menanyakan pada putri semata wayangnya tentang lelaki yang bernama Mukidi yang ternyata memiliki nama asli Ahmad Anwar Ia sering dipanggil Mukidi karena sedari kecil, ia selalu percaya diri dan suka melucu juga menjahili orang maka sejak ia duduk di bangku SMP, julukan Mukidi pun tersematkan hingga ibunya pun memanggil nama anaknya dengan Mukidi. Bahkan Rohim pun tak tahu nama asli Mukidi.


Namun bagi Bu Sri Mukidi adalah nama yang mungkin cocok untuk panggilan untuk anaknya. Karena ia memberi nama anaknya Ahmad Anwar karena berharap dari nama adalah sebuah doa. Dimana harapan Bu Sri dan suami. Ahmad Anwar menjadi Anak yang memiliki nasib yang beruntung atau memiliki kehidupan yang cerah, cemerlang.


Akan tetapi karena dari kecil Mukidi sering sekali memancing Bu Sri untuk marah. Akhirnya ia pun memanggil anaknya dengan Mukidi ketika kesal dan ingin marah. Ia ingat pesan Pak Toha untuk jangan memanggil anaknya dengan nama Ahmad ketika marah.


Mukidi pun membenarkan posisi duduknya saat Pak Kumis menerima jawaban dari Maya. Dimana sang putri menerima lamaran Mukidi. Pak Kumis berdehem kala Mukidi sumringah menatap Maya yang ada dihadapannya.


"Ehm... Ehm...."


Mukidi menelan saliva nya dengan pelan. Ia kaget mendengar deheman dari Pak Kumis.


"Lah sampeyan siapa?" Tanya Pak Kumis pada Rohim. Lelaki itu hanya menunduk saja dari tadi.


"Saya teman juga sekaligus keluarga Kang Mukidi Pak." Jawab Rohim sopan.


"Juga Guru Ngaji saya Pak." Ucap Mukidi cepat karena ia tak ingin Rohim dianggap remeh karena penampilannya.


Ia pernah berapa kali mengantar Rohim ke beberapa tempat dan ada beberapa orang yang memandang Rohim seperti tak mampu membeli barang karena penampilannya yang mengenakan sarung. Karena di kecamatan Tegal Rejo belum familiar nya orang mengenakan sarung sehari-hari. Sarung hanya dikenakan ketika shalat.


"Oh. Jadi sampeyan ini guru ngaji. Kenal dengan Ustadz Rohim?" Tanya Pak Kumis antusias.


"Wah kalau Ustadz Rohim saya tidak kenal Pak." Jawab Rohim pelan.


"Lah Yo ini klo ustad Rohim Pak." Jawab Mukidi cepat.


Pak Kumis menatap Rohim tak percaya.


Jadi sampeyan ini Ustadz Rohim?" Tanya Pak Kumis.


"Bukan Pak. Saya bukan ustadz. Saya cuma guru ngaji di desa Sumber Sari." Ucap Rohim masih menundukkan pandangannya. Karena tepat di hadapannya ada Maya yang asyik memandangi wajah Mukidi.


"Wah anda benar-benar rendah hati. Berarti benar kabar yang saya dengar tentang anda."


Pak Kumis menatap Rohim kagum, Mukidi merasa calon mertuanya malah sibuk dengan Rohim. Bukan dengan dirinya.


"Jadi saya diterima ga Pak." Tanya Mukidi sambil menatap ke arah Pak Kumis dan Rohim secara bergantian.


Pak Kumis menarik napas dalam. Ia memandangi Rohim dan Mukidi bergantian.