LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 9 KEPULANGAN LAILA


Abah Ucup telah menjemput Laila dari pondok pesantren Al Hikam. Saat akan pulang dari pondok pesantren. Laila menangis ketika memeluk Ulfa.


"Semoga Sakinah Mawadah warohmah. Jangan lupa beri kabar ya Lai." Ungkap Ulfah dengan lirih.


Selama tujuh tahun Laila mengenyam pendidikan di pondok pesantren Al Hikam. Ia begitu berat hati meninggalkan pondok itu. Ada banyak kenangan dalam memori Nya tentang kenangan banyak hal. Yang membuat Laila sedih mungkin entah kapan ia akan kembali ke tempat itu. Mengingat jarak tempuh dari desanya ke pesantren itu memakan waktu dua hari satu malam.


Laila dan Abah Ucup menggunakan bisa dalam perjalanan menuju Sumber Waras. Saat malam tiba, Laila yang tak terbiasa dengan AC berasa kedinginan. Ia membungkus kepalanya dengan jaketnya. Ia pun menutup kakinya dengan sarung.


Abah Ucup pun melirik putri bungsunya.


"Sebentar lagi kamu akan jadi istri orang nduk. Semoga kamu bisa menjadi istri sholehah. Biar bapak mu ini ikut senang karena berhasil mendidik satu anaknya." Doa Abah Ucup dalam hatinya.


Sebuah lagu yang mengalun dari suara speaker sang sopir pun membuat Laila tersenyum karena lirik lagu dari wali band yang berjudul Cari Jodoh. Di pesantren ia tak pernah mendengar musik namun saat ke tempat kuliah lagu yang terkenal itu pun akan sering di dengar lewat angkot atau pun di Warung- warung makan.


Laila mencoba memejamkan matanya di bawah dinginnya AC yang berasal tepat di atas kepalanya. Sedangkan Abah Ucup mengirimkan pesan ke ponsel Waroh kalau mereka besok pagi sampai Sumber Sari.


Keesokan paginya, saat Abah Ucup sedang mencari sebuah angkot untuk ia sewa agar bisa mengantarkan mereka ke desa Sumber Waras. Karena dari terminal itu masih butuh waktu sekitar empat jam perjalanan. Laila menunggu Abah Ucup di dalam sebuah mushola yang terdapat di dekat terminal. Ia pun membaca Al Quran kecil yang selalu ia bawa dan letakkan di dalam tas nya.


Tanpa Laila sadari seorang lelaki yang duduk tepat didepan yang hanya terhalang tirai, sayup-sayup lelaki itu mendengar suara perempuan yang begitu cepat membaca ayat-ayat suci itu. Namun sangat kecil, walau tak terdengar jelas. Namun lelaki itu bisa memastikan bahwa perempuan yang membaca ayat-ayat itu adalah seorang santri. Ia pun bisa memastikan jika yang sedang membaca itu hapal bacaannya. Karena dari kecepatan nya.


"Masyaallah... Perempuan ini pasti hapal Al Qur'an."


Rohim pun cepat-cepat keluar dari mushola itu karena ia menoleh ke kanan dan ke kiri tak ada orang lain. Ia pun bergegas ke arah teras. Ia mencari Mukidi yang tadi bilang mau ke toilet namun tak kunjung kembali. Sehingga menyusul.


Saat Abah Ucup kembali, Laila dan Abah Ucup bergegas menuju mobil yang telah siap mengantar mereka. Saat akan meninggalkan musholla tersebut. Kedua netra Laila menatap sebuah kardus yang tertulis "روهيم".


Laila yang berjalan menuju angkot, masih menoleh ke arah kardus itu.Ia membuka kaca angkot yang berada disampingnya. Ia penasaran dengan pemilik kardus itu. Tulisan tangan yang ada di kardus itu sama dengan yang berada di balik pas foto milik Rohim. Saat mobil mulai berjalan dan akan meninggalkan tempat itu. Laila yang sedikit kaget karena mobil itu mengerem mendadak. Ia menoleh ke arah depan.


Namun sayangnya saat ia menoleh kembali ke arah kardus yang tergeletak di depan musholla tersebut, sosok lelaki yang mengenakan sarung tertutupi oleh ibu gemuk yang sedang membenarkan jilbabnya, sehingga yang terlihat hanya sarung lelaki itu yang sedang menunduk membenarkan kardusnya.


"Apakah dia Rohim yang Abah maksud?" Batin Laila.


"Laila, itu kemarin Rohim mintanya segera dilangsungkan acara akad nikah dua Minggu lagi. Nah besok malam dia akan kerumah sama pak Toha. Tadi pak Toha nelpon. Sekalian bertemu dengan kamu. Katanya harus ketemu dulu biar Ndak ada penyesalan."


"Nggeh Bi."


[Iya Bi.]


Ada perasaan berdebar di hati Laila. Ia sudah mendapatkan ridho Kyai Ali dan Umi Nafi. Entah kenapa pesan dari gurunya membuat ka khawatir. Kyai Ali berpesan jika untuk menjalani rumah tangga itu harus punya pondasi yang kuat. Terlebih hidup untuk mengabdi di masyarakat. Maka mental, harus betul-betul setangguh baja. Bagi Laila pesan dari guru itu bukan sesuatu yang omong kosong melainkan harus dijalankan dan dijaga.


Ia yang melihat bagaimana Abah Ucup sekarang lebih banyak berubah. Abahnya itu dulu ketika shalat hanya mengerjakan shalat wajib saja. Selama menjemputnya dan perjalanan pulang. Laila melihat Abah Ucup mengerjakan shalat Sunnah ba'diyah dan Qobliyah, yang berdasarkan penjelasan Abah Ucup. Itu ia dapatkan dari pengajian setiap malam Jumat dari Rohim sebagai pengisi materi juga yang memimpin pembacaan Yasin.


Abah Ucup bahkan rela setiap malam Jumat pergi ke desa sumber Sari karena di desa nya tak ada guru ngaji seperti Rohim. Guru ngaji di desanya seorang yang telah sepuh sehingga tak bisa lagi seperti Rohim yang aktif kesana kemarin dengan niat dakwah.


Berbeda dengan masjid Nurul Iman dimana, kegiatannya begitu padat. Setelah Shubuh itu akan ada kultum dan dzikir bersama. Lalu nanti setelah ashar akan ada anak-anak yang mengaji. Dilanjut setelah shalat isya akan ada ibu-ibu dan bapak-bapak mengaji. Dan semua di handle oleh Rohim.


Saat tiba dirumah. Abah Ucup dan Laila disambut Bu Salamah. Laila men cium punggung tangan sang Ibu. Bu Salamah pun memeluk Laila.


"Sehat Nduk?" Tanya Bu Salamah.


"Ayo masuk, ibu masak makanan kesukaan mu."


Abah Ucup masih membayar angkot. Tiba di dalam ruangan, Laila sedikit aneh karena Waroh tak ada. Biasanya kakaknya itu akan ada di ruangan TV.


"Kak Waroh mana Bu?"


"Sudah berangkat kursus. Baru saja." Jawab Bu Salamah.


"Pantes di telpon kok Ra diangkat-angkat." Gerutu Abah.


Abah Ucup langsung duduk di meja makan dan menyeruput kopi kental manisnya.


"Bu ini ada oleh-oleh dari Umi Nafi."


"Oala... Mesti Buk Nyai mu itu. Lah kalau pulang dibawakan oleh-oleh."


Laila pun ke arah dapur. Ia mencuci tangan, kaki dan wajahnya. Saat ia ke kamarnya. Ia melihat tak ada satupun bajunya di lemari. Ia tak berpikir negatif.


"Mungkin apa karena akan menikah jadi sama Ibu di pindahkan ke lemari lain"


Seketika Laila duduk di ujung kasurnya. Ia kembali teringat tulisan tangan di kardus yang berada di terminal tadi.


"Ah... kok jadi deg deg kan begini." Wajahnya merona. Entah kenapa ia yang melihat tulisan Arab yang tertulis Rohim itu selalu di buat salah tingkah hingga bibirnya tersenyum malu setiap kali ia mengingat nama itu.


Hal yang sama pun terjadi. Di atas motor seorang lelaki yang baru mengirimkan paket ke ibunya sedang tersenyum sambil mengendarai sepeda motornya. Entah kenapa suara perempuan yang tadi di mushola terngiang-ngiang di telinga Rohim. Mukidi yang mengingat kan Rohim bahwa ia baru saja kelewatan jalan menuju desa mereka. Membuat Ia mengerem mendadak ketika Mukidi memukul kuat pundaknya.


"Kang.... Kang.... Salah jalan Kang.... Belok Kanan kang..... Kelewatan kang...."


Ingat Mukidi pada Rohim. Namun Rohim masih sibuk dengan pertanyaan di dalam benaknya.


"Astaghfirullah.... aku sudah melamar gadis lain. Ayolah Him. Kamu jangan sampai zina hati. Untung aku tak mengikuti niat hati untuk melihat wajah perempuan tadi. Suaranya saja bikin begini apalagi wajahnya." Batin Rohim.


"Oala... ngelamun Iki mesti... mentang-mentang mau nikah..."


"Buuughgjhh"


"Astaghfirullah.... Ada apa kang?"


"Kelewatan Kang?!"


"Astaghfirullah.... " Rohim pun menepi dan memutar arah motornya.


"Kamu harus secepatnya menikah Him. Biar pikiran mu tidak liar seperti ini. Ya Allah mudah-mudahan Putri Abah Ucup menerima lamaran ku." Harap Rohim dalam hatinya.


"