
Sumber Waras diguyur hujan deras. Rohim masih di masjid karena shalat Isya berjamaah. Abah Ucup yang tadi dari rumah pak RT melaporkan untuk urusan siskamling karena dia dalam satu bulan ini berhalangan hadir.
Laila yang baru selesai mengerjakan shalat nya. Ia cepat keluar mendengar suara motor Abah Ucup. Waroh yang mendengar suara motor masih asyik di depan televisi. Ia tak membuka pintu, padahal suara motor Abah Ucup cukup besar.
Abah Ucup dan Bu Salamah masuk kerumah sambil sedikit berlari karena rintik-rintik hujan.
"Buatkan Abah Kopi Roh..." Pinta Abah Ucup pada putri sulungnya.
Waroh pura-pura tidak mendengar. Laila pun berinisiatif membuatkan kopi Abahnya. Ia pergi ke dapur. Abah Ucup menarik napasnya dengan berat.
"Hhhhh.... Roh... Roh..." Ucap Abah Ucup menahan rasa kesal dihatinya. Ia yang ingin marah tak jadi. Karena ingat jika ada menantu nya yang baru berapa hari dirumahnya. Ia tak ingin marah-marah atau meninggikan suaranya. Karena ia yang dulu pernah satu rumah dengan mertua. Ia merasakan jika sakit hati setiap hati saat mertuanya itu marah kepada anaknya yang lain atau membanting sesuatu di saat ia ada dirumah. Sehingga pengalaman pahit Abah Ucup saat tinggal bersama mertua. Ia jadikan bekal saat ia memiliki menantu.
Ia tak berani membentak anak dan istrinya, tak berani meletakkan barang atau mengambil barang dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang keras. Ia juga beberapa hari ini tak pernah bermuka masam. Khawatir nanti menantunya merasa prasangka jika dirinya tidak disukai dirumah itu. Terlebih menantunya adalah orang yang dianggap alim di masyarakat.
Waroh pun masih sibuk dengan televisi dan sesekali melihat ponselnya. Tak berapa lama, Laila muncul membawa secangkir kopi dan ubi rebus. Abah Ucup yang tak melihat sang menantu pun penasaran.
"Rohim Ndak Ngopi Lai?"
"Mas Rohim masih di masjid, belum pulang Bah." Jawab Laila sambil menyerahkan cangkir kopi ke arah Abah Ucup.
"Nah gitu. Panggilnya mas. Suami itu harus di hormati. Sini duduk sini kamu. mumpung Rohim ga ada." Abah Ucup meminta Laila duduk di kursi yang ada di sisi kanannya. Bu Salamah yang baru keluar dari kamar pun langsung menyambar ubi rebus yang ada di meja.
"Abah cuma pesan. Kamu sudah menikah sekarang. Kamu harus patuh sama taat sama suami. Berapapun hasil yang Rohim berikan sama kamu di terima, di syukuri. Jangan sambat (mengeluh) jika memang tidak cukup. Ya bantu kalau bisa kalau tidak ya berdoa." Ucap Abah Ucup sambil menikmati Ubi yang masih hangat.
Laila mendengarkan pesan Abah Ucup dengan menjawab iya.
Bu Salamah pun iku menasehati putri bungsunya.
"Satu lagi, kalau mau beli apa-apa izin suami mu dulu. Kita ini perempuan nafsunya besar. Apa-apa mau di beli. Segala mau dibeli. Nah suami yang cari rezeki. Ibu mu ini loh. Ndak pernah berani kredit apa-apa kalau belum izin bapak mu." Bu Salamah menyeruput kopi Abah Ucup.
"Kebiasaan... ngeneki (begini) klo ada Laila di rumah. Males. Apa-apa ngandelin Laila. Termasuk anak tercantik mu itu." Ujar Abah Ucup sambil memukul pelan punggung tangan Bu Salamah yang baru saja menyeruput kopinya.
Waroh memang tidak memperhatikan atau ikut obrolan itu. Tapi ia memasang pendengaran nya dengan baik.
Bu Salamah pun cuma nyengir disaat melihat ekspresi sang suami. Laila sesekali menoleh ke arah pintu ruang tamu. Ia menanti kepulangan Rohim. Namun sosok yang ditunggu tak kunjung pulang.
Ia pun akhirnya mengungkapkan isi hatinya.
"Bah, Bu. Besok Laila dan Mas Rohim kemungkinan ingin segera ke Sumber Sari. Kasihan santri Mas Rohim terlalu lama ditinggal. Jama'ah nya juga Bah." Ucap Laila.
Abah Ucup kaget mendengar perkataan Laila. Ia berharap jika Putri Bungsu nya bisa tinggal di tempatnya atau minimal di desa Sumber Waras. Bukan di desa sebelah.
"Apa Ndak tinggal disini saja Nduk? tetapi kan masih bisa mengajar dan menghadiri pengajiannya?" Tanya Abah Ucup pada Laila.
"Bah, bagi santri seperti mas Rohim. Ketika dirinya di utus ke suatu daerah untuk mengabdi dan juga belajar bermasyarakat, maka itu adalah tugas dan perintah dari gurunya yang harus ia tetap lakukan dan Istikomah. Maka tidak mungkin Mas Rohim meninggalkan jama'ah nya lalu pindah kemari." Jelas Laila pada Abah Ucup.
Abah Ucup pun menikmati kopinya. Ia sebenarnya sudah berencana akan membuatkan rumah untuk Laila di tanah sebelah rumahnya. Karena ia berharap sang menantu bisa berdakwah di desa nya. Namun melihat putrinya yang menyampaikan hal itu membuat ia diam. Ia tak tahu harus mengizinkan atau meminta Rohim dan Laila tetap di Sumber Waras.
Bu Salamah pun menelisik putri bungsunya.
"Kamu tidak nyaman karena masih pengantin baru toh? Jadi milih ke Sumber Sari daripada tinggal di sini?" Tanya Bu Salamah pada Laila.
Abah Ucup pun Kembali bertanya pada Laila.
"Bagaimana kalau Abah buatkan rumah untuk kamu sama Rohim?"
"Bukan soal tempat tinggalnya Bah. Tapi lebih ke tanggungjawab Mas Rohim kepada Jama'ah yang telah lama ia bangun. beberapa kegiatan atau majelis di Sumber Sari akan menjadi sedikit terganggu jika Mas Rohim di sini." Ucap Laila pelan.
Tak lama terdengar suara salam diucapkan Rohim dari luar.
"Assalamualaikum."
"Wassalamu'alaikum." Jawab ketiga orang yang duduk di ruang tamu. Waroh hanya diam dia tak menjawab. Ia malah merasa kesal mendengar niat Abah Ucup yang akan membuatkan Rumah untuk Rohim dan Laila.
"Yo enakan Laila. Sudah kuliah, mau di buatkan rumah juga. Dasar Abah. Wong tuo durhaka!" Gerutu Waroh dalam hatinya.
Padahal Abah Ucup sudah merencanakan bahwa sesuai janjinya rumah dan kebun akan menjadi milik si sulung. Laila hanya kebagian sebidang tanah yang terdapat di sebelah rumahnya dengan luas 25x50 meter.
Sedangkan Waroh, sudah ia bicarakan dengan istrinya. Putri Sulung nya akan mendapatkan sawah, kebun kelapa, kebun cengkeh dan juga rumah yang sekarang mereka tempati. Karena Waroh tidak kuliah dan dari dulu tidak kemana-kemana.
"Dari mana Him?"
"Tadi pas mau pulang di ajak ngobrol sama Pak Takmir Bah."
"O.... Apa memangnya?"
"Beliau berharap Saya menyempatkan satu malam untuk mengadakan pengajian untuk bapak-bapak seperti di desa sebelah."
"Nah bagus itu. Terus kamu mau?"
"Nah berhubung saya itu kalau malam Jumat sudah ada majelis di Sumber Sari. Maka saya ajak pak Takmir agar bisa bergantian misal Minggu ini di sumber Sari Minggu depan di sini Bah. Soalnya saya tidak mungkin meninggalkan jama'ah yang di sumber Sari." Jelas Rohim.
Laila yang muncul membawa secangkir kopi. Rohim pun merasa bahagia. Ia yang memang pecinta kopi. Ia segera menyeruput kopi itu. Sungguh sebuah candu bagi Rohim kopi buatan Laila ini. Ia merasa takarannya yang pas.
"Him, Laila baru saja mengatakan kalian akan ke Sumber Sari besok. Kenapa cepat sekali?" Tanya Abah Ucup.
Sebuah komunikasi yang baik telah di bangun baik oleh sepasang pengantin baru itu. Rohim pun menjawab hal yang sama persis seperti apa yang di sampaikan Laila. Sehingga Abah Ucup tidak merasa tersinggung karena sang anak terlalu cepat untuk pergi dari rumahnya.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi jangan besok. Lusa saja. Ndak baik klo besok, besok itu hari Selasa. Ndak banyak bahaya. Laila itu lahirnya Senin Legi. Di primbon Ndak boleh berpergian Selasa pahing." Jelas Abah Ucup.
Laila baru ingin menjawab namun Rohim lebih dulu menjawab permintaan Abahnya.
"Iya Bah."
Laila melirik suaminya.
"Sungguh akhlak mu kepada orang tua pun kamu jaga Mas. Padahal kamu punya ilmu bahwa kita hendaknya menjauhi kepercayaan untuk percaya hari baik dan buruk." Batin Laila.
Saat tiba di kamar. Laila bertanya pada sang suami kenapa tak menjelaskan pada orang tuanya perihal percaya tentang hari baik dan buruk berdasarkan primbon.
"Kita memang telah belajar di pondok, tapi Abah itu mertuaku, orang tua. Guru ku sering dawuh (mengatakan) Dik. Jadi orang itu jangan pinter tapi ga punya akhlak atau adab. Nanti pelan-pelan bisa kasih pencerahan sama Abah masalah itu. Kalau sekarang langsung ngasih nasehat, mentang-mentang Mas ini guru ngaji. Dakwahnya Ndak dapat, yang dapat malah khawatir Abah malah Ndak Suka di awal-awal mas jadi mantunya. Nanti kita sama-sama pelan-pelan kasih pemahamannya. Penting buat Abah nyaman dulu. Orang itu kalau sudah nyaman, mau dikasih nasihat apa saja mudah masuk ke hati apalagi momennya pas Dik." Jelas Rohim pada sang istri.
Laila kembali di buat kagum akan penjelasan dan metode dakwah yang di lakukan suaminya. Patutlah sosok suaminya itu begitu di hormati di Sumber Sari walau usianya masih muda. Akhlak sang suami dan caranya berdakwah begitu indah, ramah dan lembut. Ia lebih memilih meraih qolbu insan manusia lebih dulu. Daripada dalil-dalil dan kewajiban yang harusnya dilakukan.
"Memang nya kamu lupa lusa itu hari apa?" Tanya Rohim yang telah mengganti bajunya. Ia pun berbaring di tempat tidur yang akan berdecit saat dinaiki.
"Rabu."
"Dalam kitab ta’limul mutaallim, Rabu itu hari apa?" Rohim sedang ingin melihat pemahaman sang istri yang katanya lama mondok di Jawa.
"Tiada segala sesuatu yang dimulai pada hari Rabu, kecuali akan menjadi sempurna." Laila menjawab sambil berbaring di sisi Rohim.
Dimana dalam penjelasan itu memberikan pemahaman bahwa hari Rabu lebih mencakup segala aktivitas seperti memilih hari untuk memulai bekerja, memulai berdagang, memulai berkebun, memulai buka toko, memulai membangun rumah, memulai pengajian dan lainnya termasuk menuntut ilmu.
(Sumber kitab Ta'limul Muta'allim)
"Kita santri ya rujukannya pada apa yang diajarkan pada ulama ya mas... Hehehe..." Tawa Laila membuat Rohim menarik istrinya kedalam pelukannya. Satu hal yang membuat sepasang suami istri itu kembali tertawa kecil. Karena saat Rohim menarik tubuh Laila, ranjang mereka kembali berbunyi.
"Ngeeett"
"Hehehe... ini bahaya ranjang mu Dik. Suaranya bakal buat telinga yang mendengar berpikiran yang tidak-tidak." Rohim berbisik pada telinga istrinya.
Entah kenapa hati Laila begitu bahagia setelah menikah dengan Rohim. Setiap jam, setiap detik rasa cintanya pada lelaki bernama Rohim itu semakin besar. Bukan karena ketampanannya, tetapi karena akhlaknya dan cara Rohim memperlakukan nya. Begitu lembut, begitu penuh cinta. Sehingga mereka tertidur malam itu dengan penuh cinta.
Saat bangun pukul tiga dini hari, Laila memandangi Rohim yang masih tidur dengan posisi yang sama saat sebelum tidur.
Satu yang Laila amati beberapa hari menjadi istri dari guru ngaji itu. Lelaki itu memiliki sesuatu yang di sebut Istikomah. Bahkan Kopiah atau Peci suaminya itu akan selalu di posisi yang sama saat sang suami akan istirahat. Bahkan posisi tidur sang suami pun dari awal tidur hingga bangun akan masih di posisi yang sama.
Bibir Laila kembali mengucapkan kata cinta untuk sang suami.
"Semoga aku pun bisa memberikan kamu akhlak yang baik sebagai istri. Agar cinta kita kekal dan terus bertambah hingga kita menua Mas...."
"Aamiin..." Jawab Rohim.
Laila tersipu malu karena suaminya ternyata telah bangun dan mendengar perkataannya.