LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 53 ROHIM MENDIDIK FURQON


Sebuah kewajiban adalah sesuatu yang harus dijalankan oleh seseorang. Begitu pun dalam biduk rumah tangga. Ada kewajiban dari setiap anggota di dalamnya. Termasuk Rohim, ia memiliki kewajiban kepada anak dan istrinya. Maka lelaki yang merupakan anak paling tua di keluarga nya itu tak pernah mengeluh atau berleha-leha ketika tiba dirumah.


Jika mengikuti jadwal sehari-hari Rohim, ia sangat padat. Dimana pagi hari ia akan ke ladang. Ia akan berkebun, lalu pulang jam 10 ia akan membantu istrinya membersikan rumah atau menjaga anaknya. Siang hari, Rohim akan mengajar anak-anak yang akan dibagi dua waktu. Dari pukul Dua Sampai pukul 3 lewat. dan akan berganti kelas bagi anak yang SMP dari jam 4 sampai setengah 6. Lalu akan di lanjutkan lagi dengan membaca Al Qur'an sambil menunggu waktu Maghrib. Karena Di Masjid Nurul Iman bukan kaset yang menyenandungkan ayat-ayat suci melainkan Rohim atau kadang santrinya.


Saat hari itu Rohim diundang ke kantor kabupaten karena ada acara dimana ia diminta untuk mengisi acaranya. Sebuah karisma dari Rohim memang terlihat ketika ia memimpin majelis Shalawat. Akan tetapi tawadhu nya Rohim. Saat ia yang di gedung itu di hormati bahkan terliha bebrapa orang mencium tangannya.


Saat ia tergesa-gesa pulang. Ia meninggalkan minyak wangi kecil dan tasbih kecil. Seorang kyai yang paham betul dua benda itu. Terutama tasbih kayu kecil itu.


"Antarkan cepat ke beliau. Benda ini biasanya dipakai beliau untuk berdzikir." Ujar salah seorang ustad yang mengagumi Rohim.


Namun tak ada yang searah dengan dirinya. Akhirnya ia berniat mengantar sendiri benda itu ke Kali Bening. Saat tiba di depan masjid ia tak melihat ada orang. Ternyata anak-anak sedang ada acar Perkemahan di kecamatan. Maka lelaki itu langsung ke kediaman Rohim.


Kedua mata Ustad muda itu terbuka lebar. Bagaimana tidak, lelaki yang begitu berwibawa nya di gedung kabupaten tadi memimpin sebuah majelis. Namun saat ini penampilan beliau begitu berbedam Berbanding 180°.


Rohim terlihat menggendong Alya yang berumur hampir 3 tahun. Ia menggendong putri ke duanya itu di belakang. Menggunakan sebuah kain panjang. Belum lagi Rohim hanya mengenakan celana pendek serta kaos dalam saja. Lelaki itu tak menyadari jika ia kedatangan tamu. Ia sibuk mengupas Nangka muda.


Ustad itu mengucapkan salam. Dan Rohim menjawab salam sambil menoleh. Saat Rohim berdiri. Lelaki itu langsung cepat berjalan ke arah Rohim. Ia mencium punggung tangan Rohim. Ia tak menyangka sosok yang begitu di hormati di luar. Justru di rumah begitu sederhana bahkan rela membantu pekerjaan istrinya.


"Duduk dulu." Pinta Rohim mengajak tamunya ke dalam.


,Lelaki itu justru malah mengambil parang di tangan Rohim. Ia menangis tersedu-sedu dan membantu Rohim mengupas Nangka yang akan di jadikan sayur untuk para santrinya yang sore nanti akan pulang dari acara kemah. Laila telah sembuh dari sakit sarafnya akan tetapi hari itu sang istri sedang merawat Furqon. Putra pertama mereka sedang sakit bisulan hampir di sekujur tubuh. Rasa malu yang Laila tanamkan sedini mungkin. Membuat Furqon tak ingin keluar kamar karena malu. Dan tak ingin ditinggal sang ibu.


Maka Rohim yang baru saja pulang dari pengajian, cepat mengambil parang dan mengupas Nangka yang rencana akan di santan untuk makan sore para santri juga keluarganya. Lelaki atau ustadz Reza itu merasa tertampar.


"Ya Allah. saya saja tidak pernah menemani istri saya dirumah. Hanya karena alasan lelah bekerja. Ini Ustadz Rohim, baru pulang langsung menggendong anaknya dan membantu istrinya pekerjaan rumah.


"Ya Allah sungguh figur yang betul-betul menjalankan Akhlak Baginda Nabi.," Batin Ustad Reza.


Bahkan bukan hanya itu saja. Rohim bahkan saat pagi hari sebelum Shubuh sering membantu istrinya sekedar mencuci pakaian atau mengasuh anak-anak mereka. Satu hal yang dianggap para lelaki bahwa mencuci, memasak, mengasuh anak adalah tugas istri.


Padahal rumah tangga adalah kolaborasi dari suami dan istri. Maka Saling bahu membahu dan saling bantu membantu di dalam mengarungi bahtera rumah tangga merupakan satu bagian untuk mencapai sakinah mawadah warahmah. Sekalipun sangat di Hormatinya Rohim diluar rumah. Namun di rumah, ia hanya seorang suami, ayah dan kepala keluarga.


"Sungguh beliau adalah sosok yang tak hanya pandai menasehati tetapi betul menerapkan dalam kehidupannya." Ustad Reza kembali menangis.


Sungguh ia bertambah kagum pada sosok Rohim. Dalam majelisnya, Rohim pernah menyampaikan untuk sabar dalam menjadi pemimpin rumah tangga. Dan menjadi partner bagi istri bukan pemimpin akan membuat rumah tangga terasa menyenangkan. Dan itu bukan hanya ucapan tetapi di lakukan Rohim dalam hidupnya.


Semenjak saat itu, Ustadz mudah lulusan Kairo itu merasa begitu takhdim pada Kyai kampung kalau orang-orang kota atau orang yang merasa lebih hebat dari guru ngaji atau kyai yang ada di desa.


Bahkan Rohim dan istri selalu mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Saat menjelang malam hari, Furqon yang baru kela 1 SD merasa lapar. Sayur sudah habis di makan santri yang pulang dari kemah. Laila baru akan ke warung membeli beras. Betapa kagetnya dia karena uangnya telah ia pakai tadi siang untuk membeli minyak tanah dan minyak sayur.


Namun Rohim ingin anaknya belajar untuk meminta sesuatu pada sang pencipta.


"Furqon... sini nak." Panggil Rohim pada anaknya.


"Iya pak."


"Masih kuat nahan laparnya?" Tanya Rohim


"Masih pak."


"Kita shalat Maghrib dulu ya. Nanti Berdoa sama Allah. Kalau Furqon minta Rahmat Allah. Biar Allah kasih rezeki pada Bapak dan Ibu. Biar Allah kasih rezeki. Nanti kalau Furqon besar. Bukan Bapak dan Ibu yang bisa kasih rezeki. Tetapi Allah. Maka mintalah apa-apa sama Allah dulu."


Furqon mengangguk. Ia cepat memakai sarungnya dan berlari ke arah masjid sambil berebut ingin mengumandangkan adzan. Saat setelah shalat, putra sulung Furqon itu khsuyuk berdoa agar Allah memberikan rezeki pada kedua orang tuanya. Saat setelah shalat Mahgrib. Rohim di hampiri seorang lelaki sedikit tua.


"Kang Rohim... saya lupa tadi untuk kerumah sampeyan. Sampeyan sudah Mahgrib ini ada undangan untuk datang di acara 7 bulanan anak pak Mulyo." Ucap lelaki itu.


Rohim pun pergi memenuhi undangan. Namun tanpa di sadari Furqon yang mendengar bahwa Ayahnya diundang ke acara selamatan tujuh bulan. Maka bisa dipastikan bahwa pulang dari selamatan itu. Rohim pulang membawa Berkat. Berkat adalah nasi yang di masukan di wadah bersama lauk dan pauknya.


Rohim adalah pemuka agama di desa Kali Bening walau ia masih muda. Jadi berkat untuk dirinya di bedakan oleh ahli rumah. Berbeda dari berkat orang orang lain.


Saat pulang Furqon memakan nasi itu dengan lahap. Ia pun di dalam hati semakin yakin Jika Allah maha Pemberi. Ia berdoa agar bapak dan ibunya di beri rezeki. Dan doanya langsung di ijabah. Ia diberikan rezeki makan malam dengan lauk daging kambing.


Laila pun termenung melihat anaknya namun air mata menetes.


"Ada apa Dik?" Tanya Rohim


"Sungguh Laila malu pada Gusti Allah. Tadi sore kita hanya mampu memberi makan anak-anak dengan sayur nangka. Malam ini Allah malah memberi anak kita makan dengan daging kambing." Ucap Laila sambil memeluk Alya yang tertidur.


"Kata kang Mukidi Allah Mboten Sare. Kulo seng keturon Bu." Ucap Furqon sambil tersenyum bahagia karena merasa kenyang dan bisa makan buah jeruk.


"Sungguh kita berhutang Budi pada para ulama terdahulu. Yang mengolah Sebuah tradisi bagus dan dipadu dengan Agama. Sehingga masyarakat bisa bersedekah dengan melakukan dzikir bersama dan anak istri yang dirumah bisa ikut merasakan sebagian rezeki dari pemilik hajat. Bayangkan Dik jika yang menerima berkat ini orang yang betul-betul lapar seperti Furqon. Bagaimana nilai sedekah orang tadi karena memberikan rasa kenyang pada yang fakir di saat lapar?" Rohim pun menahan air matanya.


Ia bersyukur tinggal di Indonesia sebagai bangsa yang begitu Arif. Bagaimana pendahulu para Ulama dahulu membawa agama islam begitu indah tanpa harus menghilangkan tradisi-tradisi yang baik. Sehingga tradisi itu di padu dengan agama. Termasuk Berketan atau kenduri adalah salah satu warisan dari para ulama terdahulu dalam membawa Islam di saat rakyat banyak yang masih susah untuk merasa kenyang. Dan orang-orang masih sulit untuk diajak bersedekah.


Maka aneh sekarang jika suatu yang baik dan memiliki hal positif dan bisa menjalin silahturahmi, dikatakan haram di masa-masa mereka yang baru belajar dan paham akan agama.