
Pukul telah menunjukkan di angka 16.00 WIB. Pak penghulu telah hadir kembali ke kediaman Abah Ucup. Di kediaman Abah Ucup tak seramai siang tadi. Hanya para tetangga yang datang di sore ini juga saudara Abah Ucup dan Bu Salamah.
Laila masih di temani beberapa ibu-ibu dikamar karena khawatir kalau-kalau pingsan karena Rohim tak kunjung datang. Pak Toha dan istri juga Bu Sri pun menunggu di kediaman Abah Ucup. Pak penghulu yang lelah menanti akhirnya meminta izin pulang karena dari pagi dia telah bekerja.
Abah Ucup dan Pak Toha berusaha menahan pak penghulu tersebut. Namun tak bisa karena ia betul-betul dibuat lelah. Akhirnya ia pun pergi meninggalkan tenda pernikahan itu. Baru tiba di dekat motornya, Rohim dan Mukidi tiba tepat disisi pak Penghulu. Abah Ucup dan Pak Toha yang melihat kedatangan pengantin lelaki cepat menghampiri. Ternyata mereka harus membenarkan ban motor yang rusak velg-nya.
Serta darah yang tak berhenti dari dahi Mukidi membuat Rohim tak tega jika terus melihat sahabatnya itu harus menahan darah yang keluar menggunakan sapu tangan. Rohim mengajak Mukidi ke bidan desa yang berada tiga desa dari sumber Waras. Luka Mukidi dijahit beberapa jahitan.
"Maaf Bah terlambat." Rohim cepat men ci um tangan calon mertuanya dan Pak Toha.
Abah Ucup menangis haru. Ia yang dari tadi mencoba tenang kini merasa lega karena Rohim tidak seperti yang dibicarakan orang-orang. Karena bagi sebagian tetangga, Rohim bingung cara menolak Laila sehingga ia memilih kabur di hari pernikahan. Ia bersyukur Rohim adalah lelaki yang ia kenal. Lelaki yang bisa di pegang ucapannya.
"Ayo Masuk Him. Ini pak calon pengantin lelakinya pak." Ujar Abah Ucup pada pak penghulu yang telah mengenakan helm.
Akhirnya penghulu itu kembali ke dalam tenda. Rohim pun disambut oleh orang-orang. Laila yang berada di kamar mendengar kabar jika Rohim telah tiba, membuat ia menangis karena bersyukur.
"Alhamdulilah ya Allah... "
Laila masih di dalam kamar. Ia memang meminta untuk tidak dihadirkan di proses ijab qobul karena ia ingin keluar setelah ia sah menjadi istri Rohim. Ijab qobul berlangsung di tenda. Saksi pun telah siap. Rohim bahkan tidak mengganti pakaiannya karena sang penghulu sudah tidak sabar untuk segera pulang. Ketika mas kawin telah di periksa, ijab qobul pun di laksanakan. Rohim menjawab mantap ijab tersebut.
Ketika para saksi mengucapkan kata "Sah". Maka Laila yang berada di kamar menangis bahagia. Ia merasa senang karena berjodoh dengan lelaki yang menurutnya memiliki pendirian dan begitu tawadhu. Serta kebijaksanaan Rohim lah yang membuat hati Laila jatuh sebelum memandang wajah manis Rohim.
Saat ia diminta keluar karena harus menandatangani surat-surat nikah. Juga penyerahan mas kawin. Rohim hanya menyerahkan mas kawin yang berada di kotak karena Laila yang mengenakan hijab tak mungkin ia mengenakan kalung seberat 10 gram dengan menyingkap jilbab istrinya di depan banyak orang.
Rohim pun merasakan bahagia tatkala Laila men ci um tangannya dengan lembut.
"Semoga aku bisa menjadi istri yang bisa membahagiakan kamu. Istri yang dirindukan surga..."
"Semoga aku bisa menjadi imam yang baik untuk mu Dik... Semoga Rumah Tangga kita ini menjadi tempat kita beribadah kepada Allah."
Sepasang pengantin yang memiliki niat menikah karena ingin beribadah. Saat selesai ijab. waktu yang menunjukkan hampir Maghrib. Rohim yang berada di kamar Laila cukup kikuk. Lelaki itu hanya duduk dan bingung apa yang harus di bicarakan. Dadanya berdetak tak karuan. Laila pun tak kalah canggungnya. Ia pun berusaha menenangkan hatinya. Ia membongkar isi tas Rohim. Ia menyusun baju-baju suaminya ke dalam lemari.
"Aku mau mandi dulu Dik... Kamar mandinya dimana?" Tanya Rohim pelan.
Laila pun mengambil handuk yang telah ia siapkan khusus untuk suaminya. Ia sengaja membeli handuk itu untuk Rohim.
"Ini handuknya mas. Nanti dibelakang lurus saja. Ada pintu di kiri. Ya itu kamar mandinya." Laila tak berani mengantar Rohim ke belakang. Banyaknya orang yang masih membantu di dapur pasti akan menggoda mereka.
Rohim pun mandi terlebih dahulu. Ia akan bersiap untuk shalat Maghrib. Saat tiba di kamar, Laila pun berpamitan untuk mandi. Namun tak berapa lama, Laila kembali ke kamarnya. Ia membawa baju yang Rohim kenakan tadi.
"Kang.... njenengan terluka?"
"Kang...."
"I-Iya Dik. Ada apa?" Tanya Rohim kaget.
"njenengan terluka?"
Lesung pipi Rohim membuat wajahnya terlihat manis. Laila pun merona malu karena di tatap mesra oleh Rohim.
"Sudah sembuh.,."
"Laila serius kang. Mana yang luka? Kenapa tidak bilang?"
"Sudah tidak apa-apa. Tahunya juga tadi pas di kamar mandi. Tapi sekarang sudah sembuh." Ucap Rohim sambil masih tersenyum.
Laila pun tersenyum malu lalu menundukkan wajahnya.
"Yang mana yang luka?" Tanya Laila pelan.
"Ya bagaiamana mau lihat, lah wong berdirinya jauh begitu." Goda Rohim pada istrinya.
Laila pun mendekati Rohim. Rohim melipat baju bagian tangannya.
"Ini cuma di siku, tapi sudah dibersihkan tadi...."
"Innalilahi.... Kang... kenapa ga bilang? ini lukanya lumayan besar."
Tanpa Rohim sadari ketika terjatuh bersama Mukidi sikunya terluka. Robekan cukup besar. Sehingga terlihat luka menganga di bagian siku Rohim. Lelaki itu terlalu panik tadi dan terlalu fokus dengan hajatnya untuk segera tiba di kediaman Abah Ucup. Hal itu membuat dirinya tak merasakan sakit pada tangannya.
"Kita ke pak mantri ya kang? Takut infeksi." Pinta Laila pada Rohim.
Tiba-tiba Rohim memeluk perempuan yang telah halal ia sentuh.
"Sudah, ndak perlu. Sudah sembuh. Ini obatnya sudah Akang dapatkan. Terimakasih mau menjadi istri ku. Semoga kita bisa menjadikan rumah tangga kita ini menjadi tempat untuk beribadah kepada Allah dan memberikan kebahagiaan pada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam di hari akhir nanti."
Laila yang merasakan detak jantung Rohim terasa berdetak cepat. Dan Kalimat terakhir Rohim membuat pipi Laila merona. Ia paham bahwa kalimat suaminya barusan menandakan bahwa sang suami ingin memiliki banyak anak bersama dirinya. Bukan karena nafsu. Melainkan dengan niat ingin membuat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam merasa bangga. Bangga di hari akhir nanti sebab banyaknya umatnya di hadapan umat-umatnya terdahulu.
Sungguh cinta yang tulus. Rohim tanpa harus mengeluarkan kata-kata rayuan mampu membuat istrinya merona. Laila yang juga perempuan berilmu mampu mengartikan bahasa yang disampaikan oleh suaminya. Satu pasangan yang betul-betul akan memberikan nuansa baru di desa Sumber Sari. Karena Dari desa itulah mereka akan memulai mengabdi pada masyarakat. Menjadi orang yang melayani masyarakat untuk belajar mengenal Islam yang rahmatan Lil alamin dengan metode mereka.