LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
71 Semua ada Sebab nya


Rohim telah kembali dari kampung halamannya. Sore itu ia sedang menyimak santrinya deteksi kata kitab Taqrib pada Fashl 'Sunanul Wudlu'.


Namun Laila menghampiri suaminya.


"Dari tadi ponselnya berdering Bi. Dari Munir, sepertinya penting." Ucap Laila seraya menyerahkan ponsel pada sang suami.


Rohim pun keluar ruangan dan menerima panggilan dari sang adik. Tak lama ia kembali ke dalam kelas. Lalu setelah menyelesaikan tugasnya. Ia pun segera menemui istrinya sebelum masuk waktu Maghrib.


"Mi... Tabungan kita masih ada?" Tanya Rohim pada sang istri.


Laila pun mengatakan bahwa masih ada.


"Ada Bi. Alhamdulilah penjualan madu, sarung juga baju cukup lumayan tahun ini."


"Alhamdulilah, berarti benar kata Kyai ku Mi. Jika kita meniatkan mencari rezeki untuk kemanfaatan. Untuk orang banyak, maka Allah akan kasih rezeki itu dari arah mana saja dan mencukupi semua kebutuhan kita. " Ucap Rohim.


Rohim memang mendapatkan ilmu dari kyai nya bahwa niatkan dalam hati untuk mencari rezeki niatkan untuk membantu orang, keluarga intinya untuk kemanfaatan maka rezeki akan mudah di cari. Itu yang Rohim rasakan. Ia begitu merasakan ketika niatnya ia rubah, jika dulu untuk menafkahi anak dan istri kini niatnya untuk mencari rezeki agar adiknya selesai sekolah, Santrinya yang orang tidak mampu tetap disana.


Namun ketika Laila mengeluh satu hal, Rohim mengingatkan istrinya.


"Bi. Apa Bayaran bulanan anak-anak ditambah ya Bi. Sepertinya malah kita nombok untuk biaya makannya." Ucap Laila yang mulai khawatir karena Munir sebentar lagi menyelesaikan S2 nya dan butuh biaya juga. Belum lagi ketiga anaknya yang juga butuh biaya.


"Mi, kemarin sudah dipesankan Kyai ku. Jangan sampai anak tidak mampu ikut bayar. Lah anak tidak mampu itu jatahnya menerima. Lah kalau di paksa bayar gimana? Bismillah, cukup-cukup. Kalau pun ada orang tua yang keberatan makannya anak mereka tidak sesuai harapan mereka ya harusnya disana ujian orang tua agar anak-anak juga belajar tirakat." Ucap Rohim.


Laila Pun membenarkan ucapan suaminya.


Rohim kembali melanjutkan kalimatnya yang tertunda.


"Dek, Munir butuh biaya untuk ujian tesis dan wisudanya. Tabungan ny bisa dipakai dulu?" Tanya Rohim.


Laila pun mengangguk pelan.


"Ad BI, bisa ambil yang di tabungan saja. Yang dirumah biar nanti kalau sewaktu-waktu kita butuh." Ucap Laila.


Begitu lah Laila, ia tak hanya baik pada keluarganya, atau tetangga disekitar rumahnya. Tetapi juga pada iparnya yang memang dari awal masih membutuhkan biaya untuk melanjutkan pendidikan.


Keesokan paginya, Rohim baru akan mengirimkan uangnya pada sang adik. Tapi pagi-pagi sudah kedatangan tamu salah satu jama'ah yang sering ikut majelisnya.


"Mau pergi Bi?" Tanya Pak Adi saat melihat Rohim berpakaian rapih."


"Iya tapi ya ga papa santai kok Pak."


"Mau kemana Bi?" Tanya Pak Adi.


"Ini ada urusan ke kota mau kirim uang ke bank.


"Wah biar saya antar kalau begitu Kang, saya sekalian mau ambil uang." Ucap Pak Adi salah satu pengepul buah kopi di tempat itu. Maka musim panen seperti ini akan banyak yang menjual ke padanya hasil panen. Baik biji kopi atau biji sawit.


Rohim pun berpamitan pada istrinya. Ia segera mengikuti Pak Adi yang mengendarai mobil bak terbuka. Saat diperjalanan, Pak Adi ternyata memang punya niat untuk meminta pendapat pada sang guru juga teman baginya.


"Begini Bu, sebenarnya saya ini lagi bingung." Ucap Pak Adi.


"Bingung kenapa Pak Adi. Sudah sukses masih susah juga... hehehe." Ucap Rohim..


Rohim pun menyulut rokoknya. Ia menikmati rokoknya. Ia masih menunggu Pak Adi mengeluarkan isi hatinya.


"Saya Ndak berani cerita sama siapapun Bi. Cuma Abi dan Umi yang saya rasa bisa jadi tempat saya ini meminta pendapat." Ucap Pak Adi.


Rohim pun bertanya Apakah kebutuhan istrinya terpenuhi. Pak Adi mengatakan jika uang belanja juga besar.


"Saya itu sampai mikir apa ada tuyul. Ternyata istri sendiri tuyulnya." Ucap Pak Adi.


Rohim otomatis terkekeh-kekeh. Ia mengingat betul bagaimana istrinya Laila. Bahkan uang di baju pun saat akan dicuci pasti kembali utuh kepadanya saat sang istri menemui di kantung baju. Sedangkan Pak Adi, uang di dompet bisa hilang dan katanya diambil oleh istri sendiri.


"Tuyul kudungan ya Pak... Hehehe..." Ucap Rohim yang membuat Pak Adi juga tertawa.


"Semua di dunia ini ada sebabnya kang. Salah satunya istrinya Pak Adi begitu juga pasti ada sebabnya. Sama kayak penyakit. Kita cari penyebab Pak untuk tahu obatnya yang cocok apa." Ucap Rohim.


Pak Adi masih fokus mengemudikan mobil yang biasa ia gunakan untuk mengangkut hasil panennya untuk dijual ke kota.


"Maksudnya Bi." Tanya Pak Adi bingung.


"Coba ingat-ingat kapan dan mengapa istri ambil uang itu di dompet." Ucap Rohim


Pak Adi terdiam. Ia mengingat lagi waktu-waktu istrinya akan mengambil uang di dompetnya.


Ternyata istri Pak Adi mengambil uang dari dompet Pak Adi saat sang istri akan. berkunjung ke rumah orang tuanya atau orang tuanya berkunjung ke rumah mereka. Ia pun mengatakan pada Rohim. Rohim tampak manggut-manggut.


"Yo wajar kang. Ga bisa lantas kita bilang istri kita dosa ambil uang kita di dompet karena ga bilang-bilang. Lah itu ada sebabnya. Bisa jadi sebabnya ingin berbakti pada orang tua tapi tak bisa karena tak ada." Ucap Rohim.


Seketika Pak Adi diam. Ia jadi ingat apa karena ini istrinya sering marah ketika ia memberikan uang pada ibunya.


"Manusiawi kang. Wajar perempuan apalagi istri begitu. Tapi sebelumnya ya maaf, Pak Adi begitu juga ga buat mertua?" Tanya Rohim hati-hati.


Pak Adi menghela napas pelan.


"Tapi kan mertua punya anak lelaki juga pak. Saya baktinya sama ibu saya. Harusnya mertua ya kakak lelaki saya yang memperhatikan." ucap Pak Adi.


Rohim terkekeh lagi.


"Pak Adi, ga bisa begitu Pak. Lah coba dipikir mertua pak Adi itu dari mengandung , melahirkan sampai dewasa seperti ini. Pak Adi enak tinggal bawa kerumah, terus di layani sama istri bapak. Lah ini istri kita yang dulu menafkahi, mendidik dan membesarkan ya mertua. Jadi sama saja Pak konsepnya. Jadi bisa jadi sebab istri Pak Adi tidak suka Pak Adi memberi uang ke ibu Pak Adi karena Pak Adi tidak begitu dengan ibunya. Sama seperti uang yang hilang tadi. Karena ingin berbakti tapi ga ada." Ucap Rohim.


Pak Adi tertegun. Ia mengakui selama ini ia hanya memikirkan kedua orang tuanya saja. Ia tak memikirkan mertuanya. Dan ia baru sadar jika hal inilah yang membuat hubungan istrinya dan kedua orang tuanya tak berjalan harmonis.


"Tak kasih tips kang. Ini istri saya yang masih. Kalau kamu mau kasih orang tua istri. Itu nanti yang ngasih saya kang. Begitu juga kalau saya mau kasih orang tua , istri yang saya minta kasih. Jadi orang tua kita itu merasa bahwa kita ini betul-betul memberi. Tapi kalau kita sendiri kadang orang tua bisa bertanya ini mantu ku tahu apa ga, dan disamping itu tumbuh rasa cinta itu sendiri di hati orang tua. Orang tua itu kang. Gula seperempat aja kalau menantu yang kasih sudah senang. Beda kalau anak yang kasih." Pak Adi pun manggut-manggut.


Ia baru sadar, selama ini ia hanya menikahi istrinya. Tapi tak pernah ia memperhatikan mertuanya. Bahkan hari raya. Ia hanya akan sibuk memberikan banyak hal untuk kedua orang tuanya. Sedangkan mertua mereka akan datang dengan satu rantang sayur dan ketupat. Istrinya tidak mengeluh tapi ya tetap ada rasa cemburu dengan cemberut setiap berkunjung kerumah orang tua pak Adi.


Hari ini Pak Adi baru tahu. Jika istrinya begitu, ialah penyebabnya. Sebab tak adil pada mertuanya. Ia berpegang hanya pada bahwa anak lelaki bertanggungjawab pada kedua orangtuanya. Tapi ia lupa bahwa walaupun sudah menikah seorang perempuan pun masih tetap berbakti menjadi anak Sholeh. Bagaimana bisa jadi istri Sholehah sedangkan tidak menjadi anak Sholehah untuk kedua orang tuanya. Maka semenjak hari itu Apk Adi begitu bijaksana. Setiap bulan 10 persen penghasilannya ia bagi dua. Separuh untuk orang tuanya separuh untuk mertua.


Ia yang memberikan pada mertua, istrinya yang memberikan pada ibunya. Maka sejak saat itu uang di dompet tak pernah hilang. Hubungan istri dan ibunya juga harmonis. Rezekinya juga tambah berkah dan lancar.


(Maaf ya teman-teman ini Laila Untuk Kang Rohim yang punya konsep. Suami ku. Maka aku harus tunggu petuah suami dulu baru bisa merangkai kata disini. Kebetulan ini suami lagi padat jadwal kerja juga kegiatannya di akhir tahun. Ini aku bilang otw endingin. Tapi suami masih belum mau endingin. Alhasil aku manut karep nya suami. Karena yang punya konsep. Ini suami. Jiwa ya Rohim dan Laila itu suami yang betul-betul punya feel. Tapi udah aku pesankan bulan ini harus tamat. 'Aku Ndak mau di marah readers setia ku 😅😅😅😅)