
Matahari mulai berada di atas kepala. Rohim dan Laila telah berada di sebuah toko Serba Ada. Sebuah toko yang menjual lengkap perabot rumah tangga yang ada di desa Sumber Sari. Disana mereka akan membeli kasur.
Saat tiba di dalam pelayan yang mengenal Rohim pun menyapa Rohim dan Laila.
"Cari apa kang?" Tanya pelayan yang masih terlihat muda.
"Cari kasur." Jawab Rohim sambil melihat ke arah tumpukan kasur kapuk yang disusun.
"Owh mau ukuran berapa?" Tanya pelayan tersebut.
Rohim melihat ke arah Laila.
"Kalau yang 160x200 berapa Mas?" Tanya Laila sambil memegang satu buah kasur yang bergambar Teletubbies.
"Oh kalau yang itu 500 ribu Mbak. Maaf kalau boleh tahu. Tapi buat siapa ya Kang?" tanya pelayan yang memang tinggal tak jauh dari masjid Nurul Iman.
"Buat saya, rencana nanti ba'da Dzuhur saya pulang ke Sumber Sari." Jawab Rohim.
Terlihat sang pelayan sedikit mengerutkan dahinya. Satu telunjuknya ia letakkan di pelipisnya.
"Lah, tadi itu Kang Kidi sama Bu Sri juga kesini. Beli kasur juga, katanya buat Kang Rohim." Ujar pelayan itu sambil menggerakkan kepalanya.
"Beneran kang?" Tanya Rohim tak percaya.
"Iya kang. Lah wong saya yang antar pagi tadi. Itu masih pagi sekali. Malah tadi saya diminta tolong ambil papan dan kayu di rumah pak Andang. Katanya mau buat pintu." Jelas pelayan itu dengan semangat.
Rohim melihat ke arah Laila.
"Kita pulang dulu Dik. Nanti kalau sudah dapat kepastiannya baru kesini lagi. Lah kalau kita beli, Kang Kidi beli buat kita. Terus yang mau pakai siapa?" Tanya Rohim pada Laila.
Laila pun setuju. Akhirnya mereka tidak jadi membeli kasur di toko Toseerba itu. Mereka pun segera menuju Masjid Nurul Iman. Tiba disana betul saja. Sudah ada Mukidi yang sedang sibuk dengan gergaji dan papan di depan rumah Rohim. Bu Sri pun terlihat menjemur karpet yang biasa di ruang tamu.
Rohim dan Laila mengucapkan salam. Bu Sri pun menghampiri. Laila mencium tangan Bu Sri dengan takhdim.
"Ya Allah.... Bocah kok sopan betul. Aku kalau punya mantu begini jelas ga cepat tua. Ayem." Batin Bu Sri.
"Him. Ibu minta maaf ini terpaksa ibu bersih-bersih sekalian ini kasur sama karpet ibu ganti yang baru."
Rohim yang duduk di sebelah Mukidi menjawab pelan.
"Wah jadi merepotkan Ibu dan Kang Kidi."
Laila pun duduk di teras bersama Bersama Bu Sri.
"Jadi betul kalau ibu membelikan Mas Rohim kasur?" Tanya Laila dengan suara kecil. Istri Rohim itu biasa di pondok sebagai santri ndalem, sehingga suaranya akan nyaris tak terdengar saat orang baru mengenalnya.
"Kasur?"
Laila mengangguk.
"Ya. Kasurnya saya sengaja belikan. Mukidi bilang kemarin. Lah Rohim itu sudah lama berteman dengan Kidi. Bahkan hampir setiap hari itu anak Ibu yang ndablek nya pol, selalu disini. Terus semenjak kenal Rohim, Ibu senang itu Kidi tidak pernah main judi, mencuri, sekarang malah bisa adzan, bisa pakai sarung. Semua itu karena Rohim." Jelas Bu Sri sambil menahan air mata harunya.
Ia mengingat bagaimana susah nya ia saat Mukidi hanya kerjanya main judi, makan, tidur, merokok dan tidak berkerja. Ia harus makan hati bukan hanya melihat tingkah laku Mukidi tetapi omongan para tetangga yang kadang selalu menghina anak nya di hadapan dirinya. Hati ibu mana yang tak akan sakit saat anaknya di jelek-jelekan di hadapan dirinya, walau memang si anak bersalah.
Laila mengusap punggung tangan Bu Sri.
"Bu, Kang Rohim itu hanya teman. Hanya manusia biasa. Hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Maka kalau memang kang Kidi sekarang lebih baik, tentu itu terjadi karena ada Allah menginginkan. Mungkin salah satunya kesabaran Ibu atau doa ibu." Jelas Laila pada sang ibu.
Walau sebenarnya Laila tahu, bahwa Mukidi sedang mendapatkan hidayah dari Allah melalui seorang teman yang ternyata menjadi guru dalam kehidupannya. Karena bagi mereka yang di dunia pesantren, Sebuah ilmu bisa dicari namun sebuah keberkahan ilmu itu hanya bisa di dapat dari ridhonya yang memiliki ilmu dalam hal ini seorang guru.
Seperti saat ini tanpa Mukidi sadari, ia sedang melayani orang berilmu atau biasa disebut Ulama. Terlepas Rohim hanyalah seorang lelaki yang mengajar mengaji, yang hanya orang biasa. Tetapi Rohim adalah sosok yang Istikomah menjalankan hidupnya untuk menjadi pelayan bagi masyarakat yang haus akan ilmu agama. Yang butuh bimbingan untuk menjalankan syariat Islam.
Bahkan cara Rohim berdakwah di Sumber Sari terbilang Unik. Disaat ada orang hajatan, dia yang biasa dipanggil Ustad itu, akan duduk main gaplek bersama warga lainnya. Sehingga bapak-bapak yang biasa berjudi atau main gaplek tadi, tak berani menggunakan uang. Terlebih lagi, saat orang berjudi. Rohim justru duduk di belakangnya, seolah-olah tak melihat. Ia akan sibuk mengobrol dan merokok dengan yang tidak main judi. Namun akhirnya yang bermain judi justru malu dengan sendirinya.
Bahkan Mukidi pernah menjahili mereka yang hobi minuman keras saat ada pesta besar di desanya. Saat itu Rohim duduk bersama pemuda-pemuda yang biasa minum-minuman keras, namun ketika melihat Rohim ada disana. Satu diantara mereka menyembunyikan minuman itu. Mukidi yang usil, mengganti isi minuman itu dengan air teh. Maka setelah Rohim pergi dari sana.
Para pemuda tadi bingung kenapa air minuman keras mereka berubah menjadi teh. Semenjak saat itu para pemuda itu tak akan berani membeli minuman saat ada Rohim. Karena akan kehilangan uang dan tak dapat menikmati minuman haram itu.
Saat Laila berbincang tentang kehidupan sehari-hari, Bu Sri juga menceritakan tentang tentang kisa kehidupannya. Laila pun bertanya berapa biaya yang telah dihabiskan Bu Sri untuk membeli kasur, seprai dan papan juga kayu yang sedang dibuat menjadi pintu oleh Mukidi.
"Wes Ndak usah Neng. Ibu Ikhlas. Anggap saja itu hadiah dari ibu dan Mukidi di hari pernikahan kalian." Ungkap Bu Sri.
"Waduh ya kebanyakan Toh Bu." Jawab Laila pelan.
"Sudah ga apa-apa. Itu juga uang nganggur."
Rohim pun membantu Mukidi memasang paku pada papan tersebut.
"Sampeyan ini kang, ga usah repot-repot. Nanti keperluannya sampeyan malah ada yang di kalahkan..."
"Enggak kang. Aman pokoknya. Yang penting sampeyan jangan pergi kemana-mana. Sumber Sari ini banyak berubah, termasuk aku ini semenjak kenal sampeyan. Kalau cuma begini aku bisa kang. Tapi kalau disuruh mimpin baca Al Barzanji yo aku Ndak bisa kang."
Senyum khas Rohim pun membuat lesung pipinya muncul. Mukidi pun setengah berbisik pada Rohim.
"Tapi aku bantu doakan ya kang. Biar bisa dapat ganti nya Unet. Malam besok dia nikah loh kang."
Rohim tertawa walau tidak terbahak-bahak. Suara tawa Rohim membuat Laila dan Bu Sri menoleh ke arah dua lelaki itu.
"Hehehe..."
Ia merangkul Mukidi.
"Pantes mukul palunya kuat. Lagi kesal karena ditinggal Nikah toh... Hehehe...."
Tanpa disadari Rohim. Sang istri sedang melihat ke arah mereka.
"Sungguh persahabatan yang indah. Entah mengapa sosok kang Kidi ini mengingatkan aku pada sosok Nu'aiman bin Amru bin Rafa'a."
Nu’aiman bin Amru bin Rafa’a adalah sahabat Nabi Muhammad yang sangat lucu, Konyol, gokil. Ia sering membuat rasulullah tertawa.
Ada saja tingkah Nu'aiman yang membuat para sahabat tertawa, bahkan kadang Nu'aiman sangat usil sehingga membuat orang-orang sebal dibuatnya. Bahkan sahabat Ustman bin Affan pernah menjadi korban kejahilan dari Nu'aiman.
Saat sedang shalat, ia dipukul oleh orang buta karena orang buta tersebut di bohongi Nu'aiman. Padahal orang buta tersebut sedang mencari Nu'aiman karena sedang jengkel berkali-kali di bohongi oleh Nu'aiman.
Maka tidak heran jika ada kalangan santri atau malah sekelas Kyai yang biasa guyon, atau humor. Karena di dalam Islam tidak dilarang untuk tertawa atau memberikan lelucon yang tidak menyakiti kepada orang lain. Layaknya Mukidi yang selalu membuat Rohim tertawa dengan tingkah konyolnya.