LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 32 Cinta Laila da Rohim


Rohim baru pulang dari acara pengajian di desa sebelah. Ia pun berhenti di sisi lapangan bola kaki. Karena Mukidi memanggil dirinya.


"Darimana Kang?" Tanya Mukidi sambil memegang headboard motor Rohim.


"Dari undangan pengajian di desa sebelah."


"Lah kok sendiri, biasa sama Neng Laila?" Tanah Mukidi dengan keringat mengalir karena baru saja latihan sepak bola.


"Hari ini jadwal pengajian Al Barzanji ibu-ibu kang. Jadi Bagi-bagi waktu."


Rohim pun turun dari motor. Ia duduk di tepi lapangan bola. Beberapa remaja dan pemuda tampak sedang beristirahat di tepi lapangan bola yang terdapat tak jauh dari masjid Nurul Iman. Saat mereka sedang berbincang. Tampak dua orang lelaki yang mengenakan sepeda motor berhenti tepat di depan para pemain sepak bola desa Sumber Sari itu.


"Gimana?" Tanya Mukidi.


"Nol. Alias tidak ada hasil." Jawab lelaki bernama Waluyo.


"Sudah tak duga. Kita ini tidak pernah dianggap di desa ini. Sudah bersyukur tidak mencuri, judi sama miras. Tapi tidak pernah di dukung untuk kegiatan positif." Keluh Mukidi sambil mengelap keringatnya.


"Ada apa kang?" Tanya Rohim sambil mengeluarkan rokok dan korek api dari saku bajunya.


"Kami ini kemarin final kang. Nah masalahnya kami ini dua Minggu lagi final. Finalnya di adakan di kota. Lah Mau ke kota kita butuh kendaraan kang. Juga biaya, Kalau makan kita bisa bontot dari rumah kang." Jelas Mukidi pada Rohim.


Mukidi sedari remaja hobi bermain sepak bola. Sampai saat ini pun ia masih bermain sepak bolah. Bahkan grup sepak bola desa mereka sering menang di tingkat kecamatan dan kota. Kali ini mereka yang akan final melawan tim ibu kota kabupaten harus bertanding di ibukota. Kebetulan kas tim mereka lagi kosong karena baru saja di pakai untuk mengobati teman mereka yang patah kaki saat ajang perlombaan bulan lalu.


Rohim pun terlihat menghembuskan asap rokok nya.


"Masih dua Minggu lagi toh lombanya?" Tanya Rohim.


"Iya kang."


"Berarti cuma butuh buat operasional?"


"Iya. Ini tadi minta bantuan desa dan camat. Kemarin sama pak camat diberikan uang cuma lima puluh ribu. Lah buat beli bensi kita berangkat saja Ndak cukup kang." Keluh Mukidi.


Rohim menahan tawanya.


"Begini saja. Kalian kalau yang sudah pulang kerja di ladang atau yang pulang sekolah itu temani aku mengecat masjid dan membuat bangku untuk anak-anak TPQ. Anggaplah saya sewa jasa kalian. Nanti uangnya buat biaya Kalian sewa mobil dan sekalian buat makan. Bagaimana?"


Wajah-wajah pemain sepak bola berusia belasan tahun itu pun tersenyum bahagia. Mereka yang sudah putus asa merasa bahagia mendengar tawaran Rohim. Tim itu terdiri dari anak-anak SMA dan pemuda yang berusia 20 tahun.


Mukidi adalah peserta paling tua umurnya.


"Biar tidak ganggu waktunya. Buat bangkunya malam saja setelah isya. Klo siang kita mengecat saja. Sore kalian kan latihan bola kan?"


Semua anggota tim setuju. Saat pulang kerumah. Rohim yang disambut oleh Laila dengan sebuah baskom. Istri Rohim itu paham betul jika sang suami merasa lelah pulang dari undangan pengajian. Dan Rohim pun menikmati air rendaman untuk kakinya.


"Motornya macet lagi mas?" Tanya Laila karena suaminya pulang cukup terlambat.


"Mau Laila pijat?" Tanya Laila yang duduk di sisi Rohim.


"Tidak usah. Sini mendekat."


Rohim yang duduk di kursi membuat dirinya sedikit menundukkan kepalanya.


"Mas punya simpanan sedikit. Tapi sepertinya kurang. Boleh mas pinjam simpanan mu Dik?" Tanya Rohim.


Laila tersenyum karena bahasa yang digunakan sang suami dengan kata pinjam. Padahal dia adalah pencari nafkah dirumah itu. Hal itu bukan tanpa alasan. Rohim selalu memberikan istrinya uang lebih. Ia yang saat sedang ada rezeki lebih selalu menyisihkan uang dan memberikan pada sang istri namun ia akan mengatakan jika uang itu untuk istrinya. 'Belilah apa yang kamu mau, ini untuk mu bukan untuk belanja dapur'. Dan Rohim tahu jika sang istri hampir nyaris tak pernah membelanjakan uang itu. Ia paling sesekali membeli jilbab atau daster miliknya yang mulai terlihat tak layak pakai.


"Ada, berapa Mas?" Tanya Laila.


"Mas pinjam lima ratus ribu. Ada Dik?" Tanya Rohim.


Laila mengangguk cepat. Ketika ia akan pergi mengambil uang itu dikamar. Rohim menahannya.


"Tidak sekarang. Tapi dua Minggu lagi. Terus besok tolong masak agak banyak, mas minta tolong anak-anak bola mengecat masjid." Jelas Rohim pada Laila.


Laila pun tanpa bertanya buat apa uang itu, ia paham jika suaminya pasti ingin membantu anak-anak bola itu. Hampir 6 bulan menikah dengan Rohim membuat ia sudah tidak kaget jika uang tabungan mereka, digunakan untuk kemanfaatan lingkungan, masyarakat.


"Semoga kelak saat di akhir napas kita, ada cinta pada Rasulullah di hati kita dan Iman pada Allah ya mas."


"Aaamiin Allaahumma Aamiin." Jawab Rohim.


Ia dan Laila sudah berkomitmen bahwa mereka adalah pelayan bagi umatnya kanjeng nabi. Harus ada metode, dakwah yang merangkul dari anak-anak, remaja dan orang tua dengan cara yang lembut. Agar umat nabi di akhir zaman ini mengenal seperti apa sosok beliau. Agar umat Rasulullah di akhir zaman ini bisa menjalankan syariat Allah. Agar umat Rasulullah ini bisa memiliki cinta di hatinya pada Rasulullah. Karena tidak akan masuk surga seorang hamba yang tidak memiliki cinta pada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.


Rohim mengeluarkan kakinya dari ember yang ada di bawah. Laila mengelap kaki sang suami. Rohim. Duduk tepat di hadapan istrinya.


Dengan tatapan penuh cinta.


"Kamu ikhlas Dik menyerahkan hidup kita, perjalanan kita menjadi pelayan bagi umatnya Rasulullah?" tanya Rohim.


Laila akan selalu menitikkan air mata setiap ada pembahasan tentang Rasulullah, tentang istri-istri Rasulullah. Maka ia pun menahan butiran bening di sudut matanya. Dengan diiringi Isak tangis istri Rohim itu mengatakan jawabannya dan sambil menangis.


"Jika Rasulullah saja ketika sakaratul maut, masih memperlihatkan rasa cinta kepada kita ummatnya. Hingga rela meminta agar cukup beliau yang merasakan siksa saat maut datang, jangan Umatnya. Bagaimana bisa kita yang hidupnya jauh lebih enak sekarang karena kemudahan, hanya sibuk dengan hidup kita Mas. Laila ridho apapun yang akan kita lakukan asal itu membuat rasa cinta kita pada beliau semakin hari semakin besar hingga saat mati pun kita dalam keadaan cinta pada beliau dan Allah subhanallahu wa ta'ala."


Rohim pun memeluk istrinya. Dalam pelukan Rohim sang istri pun kembali terisak.


"Bahkan sebelum beliau wafat beliau masih memikirkan umatnya. Agar kita umatnya mendapatkan syafaatnya, Dan di detik-detikt beliau melalui skaratul maut, beliau masih memikirkan kita umatnya. Ummati… ummati... ummati... Hiks.... hiks..." Laila menangis dalam pelukan suaminya. Rohim pun merasa bahagia karena memiliki pendamping hidup yang juga begitu mencintai kanjeng nabi.


Sungguh cinta Rohim dan Laila pada Rasulullah bukan hanya cinta di bibir. Ketika mereka berada di majelis shalawat, maka acara itu bukan hanya acara seremonial saja. Namun sebuah sarana agar tumbuh rasa cinta dari mereka yang hadir, dari mereka yang mendengarkan.


Bahkan wujud cinta mereka adalah dengan tidak meninggalkan shalat lima waktu. Karena di sela-sela maut datang menghampiri beliau. Rasulullah masih mengingatkan tentang jangan meninggalkan shalat lima waktu. Bukan hanya Shalat, Rohim dan Laila menunjukkan bahwa mereka mencintai Rasulullah dengan selalu mengedepankan akhlak yang baik dimana pun mereka berada.


Wujud cinta Rohim dan Laila bukan dari cara mereka berpakaian namun dari akhlak Rasulullah yang mereka terapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Walau kadang mereka hanya manusia tempatnya lalai dan dosa namun mereka punya cinta pada kanjeng nabi Muhammad. Mereka tidak sibuk dengan urusan dunia tetapi akhirat adalah tujuan. Mereka hanya berusaha menjadikan umur mereka bermanfaat untuk orang banyak, khususnya mereka yang Umat Nabi tapi masih belum mengenal Nabi, belum mencintai Rasulullah. Cinta yang bukan hanya di bibir saja. Tapi cinta dengan dzohir dan bathin yang bergerak searah, sesuai yang diajarkan Rasulullah.