LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 59 Kekaguman Imam


Saat pulang dari menemani Mukidi. Rohim yang tadi membeli beberapa peralatan untuk mandi dan tidur bagi mas Imam. Ia pun tak langsung pulang. Ia mampir ke tempat santir putra tidur. Terlihat Mas Imam masih menikmati kopi juga beberapa kitab di depannya. Rohim mengucapkan salam pada lelaki itu. Imam pun menjawab. Ketika ia menjawab salam Rohim ia sedikit bingung ketika Rohim menyerahkan kantung kresek berukuran cukup besar.


"Ini buat Mas Imam. Kebetulan saya tadi mampir ke toko. Lah kok kata anak-anak, mas Imam tidak punya alat mandi. Jadi saya belikan ini untuk mas Imam." Ucap Rohim. Ia melihat ke arah santri-santri yang telah berada di atas tikar mereka masing-masing.


Rohim memang hanya membiasakan anak-anak didiknya untuk tidur dengan kasur tipis atau tikar. Dan santri putranya justru lebih senang tidur beralaskan Tikar. Berbeda dengan santri putri yang akan tidur dengan kasur busa yang orang tua mereka belikan untuk anak-anaknya selama menempuh pendidikan di tempat Rohim.


Selepas kepergian Rohim dari tempat itu. Mas Imam hanya termenung menatap isi kantong kresek hitam itu. Ia bahkan tadi tidak mengucapkan terimakasih.


"Sungguh pribadi yang betul-betul sulit ditemui di zaman sekarang. Kenapa dia tidak menegur aku saja. Dia lebih mencari solusi terindah untuk penghuni pondok ini. Caranya menyelesaikan masalah sungguh terasa indah. Inikah alasan aku di minta belajar di sini sementara?" Tanya Imam dalam hatinya.


Ia yang selama di Kali Bening akan senagaja membuat orang-orang atau jamaah masjid gusar atau kesal karena tingkahnya. Ia bahkan kadang sengaja tertidur dan mendengkur ketika Rohim membahas suatu kita di majelis nya. Namun yang membuat orang-orang merasa salut. Suara Imam yang begitu indah ketika melantukan adzan. Rohim pun mengakui point' plus dari santrinya yang paling tua umurnya itu.


Keesokan harinya. Saat suasana pagi itu sedikit ramai di pondok karena anak-anak libur sekolah. Rohim dan Laila yang dikabarkan oleh Bu Salamah jika Abah Ucup sedang tak enak badan. Namun di pondok pesantren itu Imam yang merasa mulutnya masam. Ia ingin meracik sendiri kopinya. Beberapa santri putra bingung karena pagi itu peralatan mandi mereka utuh tak diambil oleh Imam.


Setibanya Imam di dapur tempat beberapa santri yang biasa masak. Ia mengambil cangkir dan karena tubuhnya yang tinggi. Ia melihat tepat di hadapannya ada setoplles gula dan Kopi juga susu bayi. Ia yang baru akan membuka toples itu, setengah terkejut ketika suara Ayu yang sedikit berteriak dari arah tungku yang diatasnya terdapat dandang untuk memasak air.


"Jangan yang itu Kang. Yang itu gula nya mbak Laila." Ucap Ayu sedikit berteriak karena suara dari mesin air yang cukup berisik membuat dirinya harus mengeraskan suara. Di dapur itu juga terdapat beberapa santri putra. Furqon pun terlihat sedang mencuci sepatu sekolahnya.


"Memangnya kenapa? Sama saja toh?" Protes Imam pada Ayu yang merupakan siswa SMA kelas 3.


"Mbak Laila saja tidak pernah menggunakan gula yang dibeli dari uang wali santri. Lah kenapa kita harus memakai apa yang mbak Laila beli dari uang nya pribadi. Kami saja yang lama disini tidak berani karena kehati-hatian. Kita sebagai murid bagaimana bisa sembrono perkara benda yang masuk ke dalam tubuh kita. Jika sang guru saja sangat khawatir jika ada satu makanan yang masuk ke tubuh anak atau keluarganya yang di beli dari uang dengan akad untuk kebutuhan santri. Maka jangan harap ilmu akan mudah menyerap jika kita saja tak mampu mencontohkan apa yang guru kita contohkan." Jelas Ayu panjang lebar tanpa melihat Imam.


Beberapa santri putra dan putri melirik Ayu. Mereka tak menyangka Ayu berani to the point' menyampaikan perihal itu pada Imam. Namun lelaki itu tak marah. Ia justru meletakkan toples plastik bekas permen itu kembali ke hadapannya.


"Sebegitu hati-hati nya Beliau sampai perkara makanan yang masuk ke perut keluarganya pun ia jaga sedemikian hati-hati nya? Hhhh.... aku memang harus banyak belajar dari pasangan ini. Sayang sekali mereka tinggal di tempat yang jauh dari keramaian. Akhlak mereka bukan kaleng-kaleng." Kembali Imam bermonolog dalam hatinya.


Saat ia selesai meracik kopinya. Ia meletakkan kopi itu diatas meja. Ia membantu Furqon yang terlihat kesusahan mencabut tali sepatunya. Ia pun lalu bertanya pada Ayu.


"Lalu sekarang aku tanya kenapa kalian semua tidak memanggil Kang Rohim dengan Kyai atau ustadz? atau Abi? Begitupun dengan Laila. Kenapa pakai mbak? kenapa tidak Umi?" Ucap Lelaki itu sedikit berteriak.


"Karena Mbak Laila dan Kang Rohim merasa belum pantas. Kami saja tahu jika seorang murid mengirimkan hadiah Al Fatihah pada gurunya setelah kami mempelajari satu kitab. Namun beliau-beliau tidak menggunakan bahasa kirim kan hadiah Al Fatihah itu untuk mereka. Tetapi bagi mereka yang cerdas justru di sanalah bahwa jika kita menganggap beliau berdua guru. Maka kita harusnya tidak melupakan beliau-beliau dalam mengirimkan hadiah Al Fatihah." Jelas Lulu.


Ayu melebarkan kedua matanya. Ia tak percaya adiknya memberikan penjelasan seperti itu. Ia yang selama ini tak pernah mengirimkan hadiah bacaan Al Fatihah untuk Laila dan Rohim. Membuat ia berpikir. Apakah karena karomah nya salah satu itu. Adik bungsunya bisa dengan cepat menghapal Al Qur'an. Bahkan adiknya bisa dan siap di simak bacaan Qur'annya Sampai dengan juz 10. Sedangkan dirinya masih berhenti di juz 5.


Imam kembali berdecak kagum.


"Muridnya saja bisa seperti ini. Cerdas, bijaksana. Tentulah Rohim dan Laila ini memang guru yang patut di guguh dan di tiru." Ucap Imam dalam hatinya.


Disaat para santri di Kali Bening sibuk membahas pengalaman mereka selama di Kali Bening. Laila dan Rohim justru harus kembali menahan rasa sakit di hati. Bagaimana tidak ia yang tadi pagi sengaja meminta sang suami menyembelih ayam jago yang Furqon pelihara untuk persiapan kalau lebaran. Namun mendengar Abah Ucup sakit, Laila meminta pada sang anak untuk keridhoan hari agar ayam itu di masak untuk Mbah Kung nya.


Furqon pun mengizinkan. Motor yang tak terlalu besar. Belum lagi Alya yang juga sudah tak bisa diam ketika diatas motor serta perut Laila yang sudah membesar, membuat Furqon tak bisa ikut ke Sumber Waras.


Ketika akan makan bersama. Waroh yang dari dulu selalu dingin dengan adiknya itu kembali membuat hati Laila harus menangis tanpa kedua matanya meneteskan butiran embun.


"Ini bawa lagi. Ga usah dibuka rantang mu. Aku, anak ku dan suami ku tak mau makan masakan mu. Aku sudah masak ayam kesukaan Abah. Kamu jangan cari perhatian sama Abah. Aku sampai kapanpun tak akan memaafkan kamu Lai." Ucap Waroh sambil menyodorkan satu set rantang pada Laila.


Belum juga Laila menjawab Waroh justru kembali membuat hati adiknya terluka tapi tak ia tampakkan pada siapapun.


"Asal kamu tahu. Gara-gara kamu Abah itu sakit-sakitan. Kamu itu sudah tahu hidupnya susah kok ya monak manak aja. Abah itu mikirin kamu yang hidupnya pas Pasan jadi sakit terus." Ucap Waroh sambil memanyunkan bibirnya.


"Astaghfirullah.... kuatkan hamba ya Allah. Kak Waroh adalah saudara kandung ku. Aku tak boleh sakit hati pada saudara ku." Ucap Laila sambil kembali menyimpan rantang nya kedalam kantong plastik.


"Baik kak. Maaf jika selalu menyusahkan kakak. Laila tak pernah mencari perhatian. Laila mohon maaf jika selama ini kak Waroh jadi repot merawat Abah. Laila justru tak punya banyak waktu untuk Abah...." Air mata mengalir dari sudut mata Laila.


Ia justru merasa diingatkan oleh kakak perempuannya jika ia memang terlalu sibuk. Sehingga mungkin kakaknya merasa lelah merawat orang tua mereka.