
Rohim menuntun Laila ke kamar. Ia membantu sang istri mengganti pakaiannya. Ia juga telah membentangkan karpet diatas kasur. Laila pun berbaring dengan posisi bantal di belakang tubuhnya sedikit tinggi.
"Tunggu dulu ya Dik. Mas panggil Bu Bidan." Ucap Rohim.
Laila mengangguk pelan. Pada saat itu proses melahirkan masih boleh dilakukan bidan di rumah warga. Tak lama Rohim telah Kembali bersama bidan Dewi. Sang bidan memeriksa Laila. Setelah beberapa menit, bidan Dewi mengatakan jika Laila belum akan melahirkan karena belum ada pembukaan. Masih harus menunggu. Maka Bidan tersebut pulang terlebih dulu. Di desa sumber Sari biasanya ketika ada yang akan melahirkan, ia akan ditemani tukang pijet.
Di desa sumber Sari ada perempuan bernama Mbah Sumi. Ia biasa menemani bidan Dewi saat proses lahiran. Ketika Bidan Dewi pulang. Mbah Sumi yang menemani Laila. Ia mengusap punggung dan pinggang Laila. Ia juga meminta Rohim untuk segera menyiapkan beberapa bahan untuk persiapan jika sang istri betul-betul melahirkan. Dari kunyit, jahe, kencur, telur ayam kampung, daun pepaya muda. Dimana benda-benda tersebut akan digunakan untuk membuat jamu bagi perempuan yang baru melahirkan.
Rohim pun pergi mencari apa yang akan diminta Mbah Sumi. Untuk perlengkapan bayi, mereka telah menyiapkan beberapa stel pakaian bayi dan bedong.
Menit Silih berganti dengan jam. Laila pun mulai merasakan sakit yang hilang timbul. Semakin lama rasa sakit semakin bertambah dan dalam durasi yang cukup lama. Saat malam hari Bu Salamah dan Abah Ucup pun telah berada di kediaman Laila. Mereka di telepon oleh Rohim.
Saat malam hari tepat jam 1 malam, Laila merasakan sakit yang luar biasa pada pinggangnya. Bidan Dewi yang telah menunggu dari pukul 9 malam, akhirnya mulai membimbing Laila untuk melahirkan bayi pertamanya. Satu yang membuat proses melahirkan itu berlangsung cepat adalah tenangnya Laila selama menanti pembukaan demi pembukaan sehingga dua kali mengejan, ia mampu melahirkan seorang bayi laki-laki.
Bahkan tanpa harus di jahit, karena jalan lahir tidak robek. Bidan Dewi yang memberikan arahan, Laila yang sabar menanti aba-aba dari bidan juga Laila yang sangat tenang. Walau sebenarnya ia menahan rasa sakit yang sangat pada bagian pinggang dan bagian bawah perutnya.
Satu kerjasama yang baik antara bidan dan pasien sehingga menghasilkan suatu hasil yang maksimal. Bidan Dewi membersihkan tubuh bayi mungil yang menangis kencang. Tangis yang dinanti oleh Laila dan Rohim. Tangsi yang begitu kencang. Sehingga mereka yang berada di luar ruangan kamar ikut merasa bahagia dan mengucapkan lafaz hamdalah.
Mukidi, Bu Sri dan juga pak Toha serta sang istri yang ikut menanti kelahiran anak pertama guru ngaji Nurul Iman itu ikut bahagia. Rohim pun merasa terharu ketika mengazani Putranya.
Saat bidan Dewi selesai dengan semuanya. Ia pamit pulang, Esok pagi ia akan kembali untuk memandikan bayi dan memeriksa kondisi ibunya. Begitupun dengan Mbah Sumi.
"Besok, pagi-pagi saya kemari lagi. Nak Rohim rebus saja daun-daun yang saya minta tadi dalam Periuk. Nanti buat mandi nak Laila." Ucap Mbah Sumi.
Mukidi mengantar Mbah Sumi menggunakan motor Rohim untuk mengantar tukang pijet ibu hamil itu.
Saat bayi mungil Laila tertidur di sisi ibunya. Laila meraih tangan Bu Salamah. Ia menitikkan air matanya.
"Laila mohon maaf jika selama ini Laila ada salah dan menyakiti ibu ya Bu...." Ucap Laila Lirih.
Ia merasakan sakit sekali saat proses melahirkan. Bahkan sebelum proses melahirkan itu ada rasa sakit yang sangat pada bagian tubuhnya. Setelah melahirkan pun ada rasa sakit pada bagian-bagian tertentu. Ia baru bisa merasakan perjuangan seorang ibu. Jika selama 9 bulan ia merasakan membawa janin itu kemana-mana, ternyata proses melahirkan jauh lebih sakit daripada rasa lelah karena beban di perut selama sembilan bulan.
Bu Salamah menangis. Ia menitikkan air mata karena ingat apa yang menjadi kegelisahan dirinya dan Abah Ucup.
"Kamu Ndak pernah menyakiti ibu Nduk. Ibu yang harusnya minta maaf belum bisa menjadi ibu yang baik buat kamu dan Waroh." Ucap Bu Salamah dengan terisak.
Ia bahkan tidak pernah mendoakan anak sulungnya. Saat anaknya masih balita pun kata-kata kasar, juga bentakan demi bentakan ia berikan pada sang sulung. Maka hal itu kadang uang membuat Bu Salamah menyesal ketika putri Sulungnya telah dewasa sekarang. Ibarat kata sebuah pohon yang memiliki dahan. Kini dahan itu telah menjadi kayu yang kokoh. Sulit untuk dibentuk, berbeda ketika dahan tadi masih menjadi ranting.
"Ibu sudah menjadi ibu yang baik bagi Laila dan Kak Waroh Bu. Kami saja yang kadang membuat ibu marah, kecewa karena kami belum tahu bagaimana beratnya menjalani dua peran sekaligus dalam satu waktu. Menjadi ibu, sekaligus menjadi istri." Ucap Laila Menenangkan hati sang ibu.
Laila pun malam itu istirahat ditemani oleh Bu Salamah, Bu Sri dan Bu Toha.
Pagi hari di kediaman Rohim. Kembali istri Rohim itu menitikkan air matanya. Ia merasa terharu juga sedih ketika sebuah kisah dari kasur butut Rohim dulu Rohim simpan saat Mukidi membelikan dirinya kasur baru.
Kisah itu ternyata disampaikan oleh Bu Toha.
"Loh.... kok aku ga asing sama kasur ini." Ucap Bu Toha pelan. Namun Laila bisa mendengar apa yang diucapkan oleh istri takmir masjid Nurul Iman itu.
Bu Toha memegang kasur itu dan membalik bagian belakang kasur itu. Ia pun seperti kaget.
"Ya Allah.... Ini kasur darimana?" Tanya Bu Toha pada Laila.
Laila menarik kedua alisnya karena bingung.
"Ini kasurnya mas Rohim sebelum menikah Bu. Katanya mas Rohim ini kasur pertamanya dari pertama sampai di desa ini." Jelas Laila pada Bu Toha.
Bu Toha menangis tersedu-sedu. Ia mengelap air matanya dengan punggung tangannya. Ia tak menyangka jika kasur yang dulu ia mau bakar namun tak jadi. Kasur itu sempat di jadikan mainan oleh anak sulung pak Toha. Ditarik kesana kemari menggunakan tali. Lalu saat siang hari kasur yang sudah tak dipakai pak Toha itu pun mau dibakar nanti sore. Bu Toha menyingkirkannya di balik kandang sapi. Ia menggantung kasur itu di sana agar tidak dimainkan oleh anak-anak lagi.
Namun Rohim yang melihat kasur yang mau di bakar Pak Toha, ia meminta kasur itu. Ia bawa pulang dan ia cuci kasur busa itu. Dan setelah bersih dan suci, ia gunakan untuk tidur di kamar nya.
Maka bagaiamana Bu Toha tak menangis tersedu-sedu. Ia dan suaminya yang selalu menganggap Rohim adalah guru bagi mereka selama mendalami ilmu agama Islam. Justru tidur di kasur bekas milik anak mereka. Sungguh merasa malu, sedih. Bu Toha baru kali ini masuk kamar Rohim. Maka pantas ia baru melihat keberadaan kasur butut itu.
Laila pun tak kalah merasa terharu. Ia sudah berkali-kali jatuh hati pada suaminya. Semakin hari cintanya pada sang suami semakin bertambah bukan semakin berkurang. Orang mungkin akan melihat betapa malang ia hidup bersama Rohim dengan semua kesederhanaan.
Namun Laila justru merasa bahagia lahir dan batin. Ia menikah dengan lelaki yang betul mencintai Allah dan Rasulnya. Hampir satu tahun ia menikah dengan Rohim. Suami betul-betul berjuang untuk agama Allah bukan hanya dirinya tetapi juga harta yang mereka miliki. Mereka selalu menerapkan hidup sederhana. Kalaupun ada uang lebih maka itu pasti di tabung dan digunakan saat ada memerlukan bantuan atau mereka ada keperluan mendadak.
Seperti pagi itu, disaat bahagia. Rohim mendapat kabar dari adiknya, Munir.