
Laila pun mengamini. Tiba dirumah. Mereka justru sudah di tunggu oleh Mukidi dan istrinya yang juga lulus PNS di salah satu kementerian. Hal itu membuat dirinya mau tidak mau ikut sang istri ke Ibukota. Karena istrinya melamar di kementrian yang bertempat kerja di ibukota Jakarta.
Mukidi bukan sosok sahabat lupa sahabat. Dan Bukan Murid yang lupa jasa Guru. Ia yang sudah sukses, selalu datang ke Pondok pesantren Kali Bening. Bukan hanya datang. Tapi ia pasti datang bersama istrinya. Ia datang selalu membawa dua amplop. Ia memberikan satu amplop untuk pondok pesantren. Dan satu untuk Keluarga Abi Rohim. Saat pulang dari kediaman Abi Rohim, Ajeng istri Mukidi pun bertanya.
"Kenapa sih ribet sekali ya Abi dan Umi Laila itu. Seharusnya Ndak papa ya mas mereka menerima dan menggunakan uang dari orang yang sedekah untuk pondok " Ucap Ajeng sambil memainkan game di ponselnya BB nya.
"Aku kenal baik Kang Rohim itu. Dari masih baru datang ke desa itu sampai sekarang beliau punya santri dan pondok pesantren. Beliau itu hati-hati sekali dengan amanah, akad. Kalau akadnya untuk pondok pesantren. Atau masjid. Jangan harap itu Kang Rohim bakal pakai uang itu. Makanya aku sering buat dua amplop." Jelas Mukidi.
Ajeng memang tak pernah protes tentang nominalnya. Karena baginya punya suami seperti Mukidi yang begitu baik, bertanggungjawab, sabar, dan penyayang. Itu semua bukan hanya karena ibu mertuanya. Tapi juga ada peran Abi Rohim. Karena Mukidi sendiri sering sekali menceritakan pada Ajeng.
"Kamu itu dik. Ga bakal sebahagia ini kalau suami mu ini Ndak kenal Abi Rohim, Ndak dekat dengan Abi Rohim. Karena beliau suami mu ini bisa seperti ini. Termasuk di bab ekonomi." Karena jika ia masih malas bekerja. Mana mungkin Ajeng mau bertahan atau mencintainya.
Dan mana ada suami yang mau memijat istrinya disaat malam hari, namun itu ia dapatkan dari Mukidi. Saat dulu ia baru pertama menjadi menantu Bu Sri. Pola hidup Bu Sri yang sat set dalam pekerjaan rumah. Membuat Ajeng merasa lelah. Ia terbiasa terima bersih urusan rumah. Dan ketika menikah mau tidak mau belajar mengimbangi mertuanya.
Belum lagi Mukidi yang selalu adil. Ia selalu memberikan uang atau hadiah kepada ibu dan mertuanya dalam jumlah yang sama. Dan yang paling Ajeng merasa bersyukur. Mukidi sekalipun tak pernah membentaknya, memukulnya, bahkan suaminya itu dengan sabar menerima banyak kekurangannya. Termasuk di awal menikah ia yang tak bisa memasak. Mukidi kadang duduk disampingnya sekedar untuk mengajari sang istri cara memasak.
"Kenapa senyum-senyum." ucap Mukidi sambil mengendarai mobil Pajero miliknya.
"Ingat dulu waktu baru menikah. Aku ga bisa masak. Mas bela-belain nunggu di sebelah kompor buat ngajarin numis kangkung." Ucap Ajeng yang tersipu malu.
Mukidi ikut tersenyum. Ia ingat betul ketika makan masakan istrinya. Bawang masih terasa mentah karena sang istri tak pernah memasak sewaktu gadis. Maka ia yang pernah mengeluh pada Rohim. Pesan Rohim hanya singkat padat jelas.
"Sekarang Mas kenapa senyum-senyum?" Ajeng balik bertanya.
"Hehehe... Ingat kamu baru belajar masak. Gimana mau enak sayurnya. Lah minyaknya belum panas bawangnya udah dimasukin. Kalau minyak nya panas. Yang dimasukin duluan tomat. Bawangnya terakhir.... Yo ambyaaar sayurnya...." Ucap Mukidi tertawa mengenang masalalunya.
Ajeng memukul lengan suaminya.
"ih... Ndak usah diingat-ingat lagi Mas... malu aku... tapi kan sekarang enak toh masakan ku..."
"Lah siapa yang ngajarin juga hayo..... " Ucap Mukidi sambil membusungkan dada.
Begitulah rumah tangga Mukidi. Dari awal ia menginap rumah tangga. Ia dekat dengan Ulama. Ia juga Selalu bertanya pada gurunya ketika ada masalah dengan rumah tangganya. Beruntung juga Mukidi bertemu Rohim. Seorang Ulama yang apa-apa pasti pakai ilmu juga hati ketika akan memberikan saran pada sahabatnya atau muridnya. Tanpa Mukidi sadari jika diluar banyak suami istri yang bertengkar hanya karena meminta pendapat pada orang yang salah atau curhat pada tempat yang salah.
Bahkan air mata Mukidi selalu menetes dengan sendirinya kala ia mendengar shalawat yang menjadi favoritnya yang berjudul Man Ana. Sebuah shalawat yang merupakan ungkapan rasa terima kasih murid kepada gurunya yang sudah membimbing dan mengajarkan ilmu.
Man Ana yang berarti siapa saya, Shalawat ini diciptakan oleh Al-Imam Al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrahman Assegaf.
Bersambung....