LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 28 LAILA TANPA KELUH KESAH


Pagi hari sekali, Rohim telah berangkat ke kebun. Ia yang telah di siapkan bekal oleh Laila. Maka Rohim akan pulang kerumah sekitar pukul sebelas siang. Rohim pergi ke kebun menggunakan sepeda jengki miliknya. Laila pun seperti biasa akan melakukan kegiatan dirumah.


Ketika ia telah mengelap semua kaca masjid, ia pun mengecek air dan WC yang berada di masjid. Semua bersih, maka ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya dirumah. Ia tak membeli sayur hari itu. Karena kemarin di beri Mukidi sebuah nangka Muda atau biasa orang Jawa menyebutnya Gori.


Laila pagi tadi telah memasak Gori itu dengan menu Disantap dengan Krecek atau kerupuk kulit. Laila yang pagi tadi juga diminta Rohim untuk membagikan masakannya kepada para tetangga karena banyaknya sayur Gori itu.


Rohim bahkan membawa cukup banyak sayur Gori tadi, agar bisa berbagi dengan teman di ladang dan di sawah. Sungguh sebuah makanan adalah pemikat hati para ibu-ibu yang berada di dekat kediamannya Laila. Mereka merasa senang karena pagi itu mereka tak memasak sayur karena pagi-pagi sudah diantar sayur yang enak ketika telah matang namun prosesnya susah ketika masih berbentuk buah. Karena banyaknya getah pada buah itu ketika akan dikupas kulitnya.


Saat Laila sedang mengeluarkan beberapa bantal untuk di jemur. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara benda yang seperti jatuh.


"Braaaaakkk."


Laila cepat ke arah belakang. Ia cukup kaget ketika melihat dinding kamar mandi yang tak beratap itu telah ambruk karena di tubruk sapi milik suami Bu Minah. Sungguh Laila adalah perempuan yang tak hanya cerdas juga pandai merawat rumah. Ia yang merasa semua urusan rumah telah selesai, hanya tinggal shalat Dhuha dan mengulang kembali hapalannya.


Setelah ia menunaikan ibadah yang menjadi kebiasaannya di pagi hari itu, Laila megambil golok yang terdapat di dapur. Ia melihat puluhan bambu yang suaminya bawa dari ladang beberapa hari itu. Dinding kamar mandi mereka memang telah cukup rapuh, namun Rohim belum sempat mengganti karena sibuknya di ladang dan mengajar mengaji. Dan pagi itu, dinding itu akhirnya ambruk juga.


Laila yang dulu pernah menemani gurunya saat masih SMP dimana sang guru hanya memiliki segelintir santri. Maka kamar santri di buat dari bambu karena tak memiliki biaya namun banyaknya santri yang ingin mondok. Dan saat itu Laila ikut membantu kyai dan Bu Nyai nya.


Maka bagi Laila sangat mudah memasang bambu itu menjadi pagar. Ia tak ingin menunggu suaminya pulang. Hampir pukul sepuluh pagi, kembali istri Rohim itu diberikan ujian dalam menyelesaikan urusan rumah tangga. Mesin air tidak mau hidup. Sedangkan ia harus segera mandi. Biasanya Rohim akan pulang pukul sebelas. Hari itu juga hari Jumat. Maka suaminya jelas pulang lebih awal. Beruntung tempat penampungan air di masjid telah ia penuhi pagi tadi.


Laila pun mencari tali di dalam rumah. Ia mengikat tali itu di sebuah ember. Maka jadilah sebuah alat untuk mengambil dari dalam sumur yang biasa disebut orang timba. Ia menimba air hingga memenuhi bak untuk mandi. Saat selesai mandi, Laila pun mengisi kembali air kedalam bak itu. Ia menyiapkan air itu untuk Rohim mandi.


Ia masuk kedalam dan mengenakan pakaiannya. Laila menyiapkan makanan untuk sang suami. Saat Rohim pulang dari ladang, Suaminya langsung menuju kamar mandi lewat samping rumah, ia kaget melihat bambu yang ia bawa dari ladang kemarin telah terpasang menjadi pagar.


Istrinya bahkan menutupi bagian atas dengan plastik berwarna hitam yang sengaja Rohim beli di pasar. Ia mencuci Kaki dan tangannya.


Tiba di dapur Laila menyambut Rohim dengan segelas kopi hangat. Laila menarik bangku kecil, ia pun memotong kuku suaminya itu. setiap hari Jumat sudah menjadi kebiasaan Laila ia akan membantu suaminya memotong kuku. Namun saat Laila memotong kuku tangan Rohim, Suaminya memegang tangan istrinya.


"Harusnya mas yang mengerjakan semuanya. Maaf mas belum bisa membantu mu Dik."


"Rumah tangga itu bukan saling mengandalkan mas. Tapi saling melengkapi, selagi Laila bisa. Laila akan bantu mengerjakan semua yang ada dirumah ini selagi Laila mampu, semua demi ridho suami Laila."


Saat Laila selesai memotong kuku suaminya, Rohim pun bergegas mandi dan berangkat shalat Jumat. Namun saat selesai shalat Jumat, Rohim yang tadi mengobrol dengan para tetangganya, pulang cukup terlambat. Ia pun bermaksud kembali mengisi tempat penampungan air untuk shalat ashar nanti.


Rohim mencoba menghidupkan mesin air dan ternyata tak bisa hidup. Kedua matanya melihat ke arah timba air.


Betapa Rohim dibuat haru karena memiliki istri yang begitu melayani dirinya dengan baik. Dari ia pulang tadi, tak ada raut wajah lelah dari Laila, tak ada keluh kesah dari sang istri. Padahal ia baru saja memasangkan bambu-bambu kecil menjadi pagar atau dinding kamar mandi mereka. Dan ternyata saat ia mandi tadi, istrinya menimba air menggunakan tali rafia yang di buat berapa lapis sehingga kuat.


Saat ke dalam rumah. Ia melihat istrinya tertidur di sisi tempat tidur dan tubuh masih diatas sajadah. Rohim pun mengusap lembut kepala istrinya.


"Semoga Allah memberikan kamu kemuliaan Dik, karena kamu begitu pandai memuliakan suami mu ini."


Laila yang merasakan usapan pada kepalanya terbangun.


"Mas.... Mas perlu sesuatu?" Tanya Laila sedikit kaget.


"Mas butuh istirahat bersama istri mas yang telah melayani mas dengan baik setiap hari."


Kedua tangan Laila di genggam oleh Rohim. Ia memegang telapak tangan sang istri yang terasa kasar karena kapalan.


"Kenapa tidak tunggu sampai mas pulang, kenapa harus menimba air sendiri?"


Laila merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami. Aroma parfum Rohim begitu dinikmati Laila.


"Mas tahu, seorang istri memang tidak hanya bertugas memasak, mencuci di rumah. Tetapi juga memberikan contoh pada anak-anak mereka. Sekarang kita memang masih berdua. Tetapi nanti ketika kita memiliki anak, maka anak-anak kita akan melihat seperti apa ibunya, ia akan mencontoh jika sudah menjadi istri. Bagaimana ibunya melayani suaminya, bagaiamana ibunya tak pernah mengeluh saat lelah hadir. Dan itu tidak bisa anak-anak kita dapatkan dari orang lain. Tapi dari diri Laila. Maka hal itu harus Laila biasakan sejak saat ini mas. Agar terbiasa, agar tak kaget. Dan tentu semuanya Laila lakukan karena mengharap Ridho Allah atas apa yang Laila lakukan untuk melayani dan membahagiakan suami Laila ini."


Rohim pun terdiam. Ia pun mengamini apa yang istrinya katakan. Besok mereka juga akan memiliki anak. Maka istrinya adalah madrasah sang anak. Mau tidak mau anak akan belajar, merekam, melihat, mendengar sosok ibu dan ayahnya sehari-hari termasuk dalam memperlakukan pasangannya.


Maka dengan begitu Laila berharap anak-anaknya besok, akan melakukan tanggungjawab dan kewajibannya kepada pasangan hidupnya. Karena hal itu ia contohkan langsung dalam dirinya.