
Hampir satu Minggu para anggota tim sepak bola berkeliling desa. Dari rumah kerumah mereka meminta bantuan seikhlasnya untuk meringankan beban Waluyo dan keluarganya. Masyarakat pun berpariatif memberikan bantuan. Ada yang seribu rupiah, ada yang puluhan ribu bahkan ada yang juga membantu berupa beras Karen baru panen beras.
Malam itu seluruh pemuda yang bertugas berkeliling dari rumah kerumah berkumpul di teras masjid. Mereka membawa proposal mereka yang dari rumah kerumah. Dan juga uang hasil serkiler tersebut. Tak menyangka dari hasil serkiler tersebut hampir terkumpul uang sebanyak enam juta rupiah. Belum termasuk hasil panen seperti beras yang diberikan warga untuk Waluyo.
Namun bukan perjuangan jika tanpa cerita suka dan duka. Termasuk dari salah satu pemuda yang menjadi relawan serkiler itu adalah Paijo. Ia mengalami hal yang tak mengenakan ternyata ketika berkeliling.
"Asem. Aku pas kerumahnya pak Wiwit, masak dibilang kalau uang nya beneran untuk Waluyo. Katanya takut aku belikan minuman..." Ucap Paijo dengan kesal.
Rohim yang berada diujung masih mengamati percakapan pemuda-pemuda dan remaja itu. Rohim memang irit bicara. Ia akan bicara jik ada yang memang harus di bicarakan.
"Mungkin karena kamu dulunya Suka minum, jadi dia tidak percaya mas Paijo." Ucap seorang anggota tim bola yang biasa berada di posisi wing kanan.
"Lah tapi kan sekarang tidak lagi. Wong jelas-jelas bawa proposal loh. Ada tanda tangan pak Kades. Masak uangnya tak untuk beli minuman." Rohim menahan tawa melihat ekspresi Paijo.
Tak lama muncul Mukidi. Malam itu ia sengaja pulang. Sedangkan Waluyo malam itu ditunggu oleh temannya yang lain.
Saat Mukidi mengucapkan salam, Paijo pun langsung menyindir Mukidi.
"Lah apalagi Kang Kidi yang keliling jelas ga mau orang kasih bantuannya." Ucap Paijo ceplas ceplos.
Mukidi yang tak tahu pembicaraan masih diam dia duduk di sebelah Rohim. Paijo pun segera memberitahukan pada Mukidi jika uang yang sudah terkumpul langsung di serahkan kepada istri Waluyo. Mukidi menghitung uang tersebut dan melihat total yang ada di proposal. Setelah itu ia penasaran dengan Komentar Paijo pada dirinya tadi.
"Maksud mu tadi apa Jo?" tanya Mukidi.
"Maksud saya. Saya yang cuma mantan peminum saja keliling narik dana serkiler ini di anggap ga amanah kang. Apalagi samepeyan. Hehe... Maaf loh kang. Hanya berkeluh kesah." Ucap Paijo polos.
"Makanya saya sudah sering bilang sama kalian. Mumpung belum terlanjur nakal kaya aku dulu. Di jaga nama baik orang tua dan nama baik kalian sendiri. Karena kalau sudah jelek, susah buat meyakinkan masyarakat lagi. Aku loh contohnya. Itu butuh waktu lama dan prosesnya tidak sebentar." Ucap Mukidi.
Ia mengenang bagaiamana dirinya berusaha berubah menjadi pribadi lebih baik lagi. Kadang ketika ada yang hilang di desa, orang akan menuduh dirinya. Padahal ia sudah bertaubat. Maka proses dirinya berjuang untuk mengembalikan nama baik dirinya dan citra dirinya itu, ia lalui dengan sabar dan terus di latih. Saat orang mencemooh dirinya, ia berusaha melatih hati dan bibirnya untuk diam dan tak membalas. Jika menuruti watak Mukidi yang dulu. Maka sudah pasti siapa berani berurusan dengan dirinya, maka adu jotos adalah pilihan Mukidi.
Kesabaran Mukidi tentu saja tidak lain adalah peran Rohim sebagai teman yang terus mengingatkan dirinya. Rohim tidak hanya mengajarkan konsep sabar pada Mukidi dalam bentuk teori. Tetapi ia praktekkan langsung dalam kehidupannya.
Paijo pun mengeluh akan teman yang sering ia ajak untuk kemasjid, namun temannya masih susah diajak.
"Ituloh anak-anak yang di pengkolan susah sekali kalau diajak kemasjid Kang." Keluh Paijo karena kemarin ia meminta bantuan salah satu dari mereka untuk menarik dana serkiler. Karena mereka juga anggota tim sepakbola.
Mukidi yang sudah bertahun-tahun bersahabat dengan Rohim bisa mengeluarkan kata-kata bijak. Dan hal itu membuat sudut bibir Rohim tertarik karena tersenyum mendengar kalimat bijaksana sahabatnya.
"Kita hanya bisa mengajak orang untuk menjadi lebih baik atau berbuat baik. Tetapi, apakah orang yang kita ajak tersebut terajak atau tidak, itu bukanlah di tangan kita.Hidayah itu adalah hak prerogatif Allah, Jo." Ucap Rohim sambil menyeruput kopi yang baru saja diantar Laila ke teras masjid.
Seperti malam itu mereka belajar bahwa untuk dapat di percaya dibutuhkan kejujuran. Dan untuk memiliki kesabaran harus di latih. Dan salah satu dari mereka yang masih duduk di bangku SMA bertanya pada Rohim.
"Kang saya mau belajar ngaji. Kemarin pas yasinan dirumah tetangga, saya disuruh mimpin baca Yasin. Lah saya malu kang. Jadi pulangnya kata bapak saya disuruh belajar sama sampeyan. Tapi....." Ucap Adit pada Rohim.
"Tapi apa?" Tanya Rohim sambil melirik ke arah Adit.
"Saya kalau bisa jangan sore bareng dengan anak-anak SD."
Sontak semua yang disana tertawa mendengar permintaan teman mereka.
"Ya kalau mau malam saja. Besok ada dua orang remaja juga dari sumber waras mau ngaji. Nah besok biar saya bersihkan dulu ruangan untuk menyimpan barang. Biar bisa untuk belajar dan tidur." Ucap Rohim pada Adit.
Adit pun mengangguk. Saat hari hampir malam, mereka pun kembali kerumah masing-masing. Saat dalam perjalanan pulang. Mukidi mengatakan pada anggotanya.
"Besok itu kang Rohim di bantu beres-beres ruangan. Lah yang mau belajar kamu. Kok yang repot Kang Rohim. Aku besok pagi harus kerumah sakit lagi dan menyerahkan uang ini." Pesan Mukidi pada teman-temannya.
Mereka pun pulang kerumah masing-masing. Keesokan paginya. Mukidi memberikan uang itu pada istri Waluyo ditemani ibu nya. Saat menyerahkan uang itu. Istri Waluyo menangis tersedu-sedu. Ia tak menyangka anak-anak bola dan masyarakat Sumber Sari begitu baik. Ia dan suami padahal bukan asli warga sana. Ia sudah berusaha meminjam uang pada saudaranya lewat vya ponsel namun tak ada yang membuahkan hasil. Sedangkan ini orang lain, tetangga, memberikan bantuan.
Memasuki usia kehamilan yang masuk tujuh bulan, Laila yang telah memasukan bekas lamaran untuk ikut tes calon Pegawai Negeri Sipil. Esok pagi ia harus ke kota untuk mengikuti tes tertulis. Maka malam harinya ia menyiapkan semua kebutuhan untuk mengikuti tes itu.
Dari mulai perlengkapan tulis, dan pakaian hitam putih. Namun karena ia terlambat membeli koran. Ia baru mendapatkan informasi bahwa dirinya lulus untuk masuk ke tes tertulis. Maka ia pun tak punya baju putih. Rohim membuka kardus yang berisi baju nya. Saat dibuka, ada sebuah baju kemeja putih. Namun warna tak terlalu putih seperti baru.
Laila pun tampak senang, setidaknya syarat untuk ikut tes sudah ada semua. Karena tadi ia bingung kemana akan mencari baju kemeja putih di saat hari sudah malam. Atau besok pagi, sedangkan besok pagi ia harus tiba di tempat tes tepat pukul delapan. Rohim malam itu pergi mencari mobil yang bisa ia sewa. Karena ia tak tega jika Laila ke kota menggunakan sepeda motor dengan kondisi hamil besar.
Saat sudah menyiapkan semuanya. Laila kembali membereskan berkas yang ia siapkan fotocopy nya. Namun ketika membuka map kumpulan ijazah aslinya. Dia baru ingat jika nanti ia Lulus, ia harus melegalisir ijazah asli dari SD, SMP dan SMA.
"*Besok kalau sudah pulang dari kota, apa aku kumpulkan jadi satu saja ijazah yang masih sama Abah ya*." Batin Laila.