
Sudah hampir satu Minggu Mukidi berada di rumah sakit. Istri Waluyo yang masih merawat anaknya yang berusia satu tahun tak mungkin membawa sang anak ikut tidur di rumah sakit. Waluyo pun telah dipindahkan dari ruang ICU tepat di hari kelima.
Maka Mukidi, Paijo lah yang akan bergantian menunggu Waluyo. Waluyo yang merupakan orang luar Sumber Sari. Ia merantau ke sumber Sari karena ada teman yang menawarkan ia bekerja di Perkebunan namun ia hanya di iming-iming saja. Saat pindah ke Sumber Sari, ia ternyata tak bisa bekerja di Perkebunan karena bukan orang kelahiran daerah itu.
Maka ia membuat tahu dan tempe lalu menjualnya keliling kecamatan. Namun siang saat terjadi kecelakaan, Waluyo tak pernah mengenakan helm itu, ia menabrak pagar dan kepalanya membentur sebuah padas semen atau tempat duduk yang biasa ada di tepi jalan. Sehingga kepalanya terluka cukup parah.
Mukidi masih duduk di depan ruangan Waluyo. Dimana ada tiga orang pasien lainnya di ruangan itu. Mukidi melihat ke arah Paijo yang membawa rantang dan sebuah tas. Mukidi memang merasa lapar dari pagi, ia tak sarapan.
"Kok lama kang?" Tanya Mukidi pada Paijo yang membawa makanan yang selalu di masak gantian oleh istri Waluyo atau beberapa tetangga termasuk ibu Mukidi. Untuk menghemat biaya selama merawat Waluyo. Maka mereka berinisiatif akan mengirim makanan setiap hari. Karena membeli di pasar untuk tiga kali makan biaya akan membengkak sedang Waluyo belum tahu sampai kapan harus di rawat.
"Tadi ada razia kang. Aku ga punya SIM. Jadi nunggu razianya bubar." Ucap Paijo yang bertubuh sedikit pendek dari Mukidi.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Mukidi pada Paijo.
"Sudah Kang. Sampeyan saja."
Mukidi pun mengambil piring dan membubuhkan nasi dan lauk pauk kedalam piringnya. Ia menikmati sarapan dan juga makan siangnya. Setelah makan, Mukidi dan Paijo mencari tempat agak jauh dari ruangan pasien. Mereka menikmati rokok. Paijo pun menyampaikan hasil diskusi ia dan teman-teman bolanya.
"Semalam kami sudah kumpul. Nah kebetulan pas sudah shalat isya itu ada Kang Rohim. Katanya Kang Rohim kalau memang masih lama Mas Waluyo di rawat. Kita bisa buat surat kang. Surat permohonan bantuan ke warga dan harus ada tanda tangan dari pemerintah desa." Jelas Paijo pad Mukidi.
"Lah terus yang bikin suratnya?"
"Ya sampeyan. Kan sampeyan kapten tim sepakbola kita. Nanti kalau urusan keliling ke rumah-rumah nya biar kita kang." Jawab Paijo.
"Jadi aku ya harus pulang dulu?"
"Lebih baik sampeyan pulang saja dulu. Hari ini dan nanti malam biar aku yang jaga Kang Waluyo. Sampeyan temui Kang Rohim saja."
Mukidi manggut-manggut. Ia setuju dengan ide Paijo. Ia pun meninggalkan rumah sakit menuju sebuah toko yang menjual ponsel. Ia membeli sebuah ponsel dari hasil penjualan emas lamarannya kemarin. Ia memilih dua buah ponsel. Ponsel pertama untuk dirinya yaitu Nokia 3660. Sedangkan yang kedua ia pilih Nokia 5510, ponsel yang ini ia beli untuk Ibu nya.
Ia kadang sering khawatir jika pulang kerumah tapi ibu nya tak ada dirumah dan masih di ladang sedang hari akan turun hujan. Maka dirinya berpikir jika itu penting untuk sang ibu.
Saat tiba dirumah. Mukidi yang jahil, ia menghidupkan ponsel ibunya dan meletakkan ponsel itu di kamar sang ibu. Saat ibunya sedang membuatkan dirinya kopi. Ibunya pun kaget saat tiba di ruang tengah dan meletakkan kopi Mukidi diatas meja.
"Trriiiinng.... Triiiinnggg....." Suara nada dering ponsel itu membuat Ibu Mukidi memutar bola matanya.
"Eh copot.... apa itu Di? Suara apa itu?"
Mukidi yang memencet ponsel miliknya di bawah mekar menahan tawa.
"Ya Ndak tahu. Tapi sepertinya mirip suara hp Mak." Ucap Mukidi pura-pura.
Bu Sri setengah berlari ke arah tempat tidurnya. Ia mencari keberadaan suara itu. Dan ternyata ada sebuah ponsel baru di bawah bantal.
"Diiii.... ini ada hp.... hp siapa Di.... apa ada maling mausk rumah kita?" Teriak Bu Sri kaget.
Mukidi sudah berada di depan pintu kamar ibunya. Ia tertawa karena melihat mimik wajah Bu Sri yang kebingungan.
"Mak... Mak... Mana ada maling ngasih hp. Yang ada Ning bawa barang kita kabur." Ucap Mukidi.
Anak satu-satunya Bu Sri itu mendekat ke arah ibunya. Ia meraih tangan Bu Sri, telunjuk bu Sri di pencet di tombol untuk menjawab panggilan.
otomatis ponsel Bu Sri mengeluarkan suara yang sama karena Mukidi menelpon sang ibu.
"Loh suara Mu Di?"
Mukidi cepat menutup panggilannya. Karena ia tahu dari yang menjual bahwa biaya panggilan masih mahal.
"Ini untuk Mak e. Kalau kemana-mana di bawa. Terus nanti kalau mau nelpon begini caranya"
Mukidi mengajarkan ibunya menggunakan ponsel itu. Akhirnya siang menuju sore hari, sang ibu dan anak sibuk memencet tombol hp itu. Bahkan mereka berhenti memainkan ponsel itu saat suara adzan terdengar.
"Ya Allah... Mak... Aku lupa mau ke rumah kang Rohim." Ucap Mukidi sambil tergesa-gesa menuju kamar mandi.
Ibu nya tak memperhatikan, perempuan itu sibuk memainkan permainan cacing di hp Nokia itu. Baginya hal baru yang sangat menarik. Namun bagi Mukidi itu membosankan karena dirinya lebih sering bermain komputer di kediaman Rohim.
Saat Menjelang Maghrib Mukidi pun bertemu Rohim. Namun dia masih berbicara biasa saja. Saat Rohim selesai dengan segala rutinitas mengajarnya, ia pun mengajak sahabatnya ke belakang.
"Bagaiamana kondisi Mas Waluyo?" Tanya Rohim.
"Mas Waluyo sudah lebih baik. Tapi kata dokternya tetap harus kontrol kang. ini juga surat keterangan kemiskinan dari desa kemarin membantu kang. Tetapi untuk obat-obatan yang tidak di sediakan di rumah sakit tersebut, membuat aku haru membelinya di apotik luar kang." Jelas Mukidi.
Rohim membuka kopiahnya. Ia letakkan di sisi kanan tepat si sebelah kopi yang baru saja di buatkan Laila. Istri Rohim itu ikut duduk di teras. Ia juga ingin mendengar kabar dari Waluyo.
Mukidi menanyakan apa yang sebenarnya menjadi maksud Rohim mengatakan perihal surat pada Paijo.
"Jadi begini kang, nanti kita minta bantuan warga untuk meringankan biaya pengobatan Mas Waluyo dan juga kebutuhan istri juga anaknya selama pencari nafkah sedang sakit. Maksud ku, kita adakan serkiler." Jelas Rohim.
Mukidi menggaruk kepalanya.
"Apa itu serkiler kang?"
"Jadi semacam bantuan yang di kumpulkan dari beberapa orang atau kelompok. Dan kata istri ku, hal itu butuh yang namanya proposal. Itu butuh surat yang ada tanda tangan pihak pemerintah desa. Dan untuk iurannya itu bisa sukarela, tidak memaksa." Ucap Rohim.
Mukidi bingung, ia masih memahami kalimat Rohim.
"Ini saya punya contoh proposal nya kang. Nanti saya bantu ketik. Tapi saya butuh nama pemain bola. terus ketua tim nya sekertaris timnya. Untuk tanda tangannya nanti." Ucap Laila.
Rohim melirik ke arah Laila.
"Lah mentang mentang sarjana terus dianggap kita ya ga makan bangku kuliahan ini ga bisa ngetik ya kang?" Ucap Rohim sambil menahan tawa.
Laila melebarkan kedua Pupilnya.
"Kalau cuma ngetik begini saya bisa Neng." Ucap Mukidi. Akhirnya malam itu Mukidi dan Rohim menghabiskan waktu di ruangan kecil di belakang Masjid Nurul Iman. Mereka membuat proposal serkiler untuk membantu meringankan musibah Waluyo dan istri.
Dari sinilah awal mula bagaimana Mukidi dan remaja juga pemuda Sumber Sari merasakan Siapa saja berhak menerbar kebaikan. Tidak mengenal status dan strata sosial. Kebaikan bebas dilakukan siapa saja. Selalu hidup dan menghidupkan. Hidup bermasyarakat bisa aman dan nyaman jika adanya tenggang rasa, gotong royong dan bersatu.
Disini juga para pemuda Sumber Sari belajar pentingnya sebuah kredibilitas diri seorang di butuhkan di tengah masyarakat. Ibarat kata sebuah Organisasi akan melihat organisasi itu lewat anggota nya atau kadernya. Maka Tim sepakbola sumber Sari belajar banyak hal melalui gerakan serkiler yang di prakarsai oleh Rohim dan Mukidi di desa Sumber Sari.