
Pagi itu suasana Desa Kali Bening cukup sepi karena sedang musim panen. Anak-anak juga sudah pergi ke sekolah. Laila yang sedang menggendong Alya sibuk dengan kaca yang sedang ia bersihkan. Pagi hari setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Laila akan membersihkan masjid.
Saat ia sedang fokus pada kaca dan lap yang ada di tangannya. Ia dikagetkan dengan suara lelaki yang tiba-tiba menyapanya.
"Selamat pagi Mbak." Ucap lelaki itu.
Laila menoleh ke arah lelaki itu. Ia sedikit kaget.
"Ya. Ada yang bisa dibantu?" Tanya Laila pelan.
"Maaf saya mau tanya apakah saya bisa ketemu pimpinan pondok pesantren ini ya?" Tanya nya pada Laila.
Laila pun mengatakan jika Pemiliknya sedang ke kebun. Maka lelaki itu menunggu di teras masjid. Laila pun meninggalkan lelaki itu. Ia menyiapkan masakan bersama Ayu. Tak lupa ia meminta Ayu mengantarkan air putih dan teh ke teras masjid karena lelaki itu tampak masih menunggu Rohim.
Dari penampilannya, lelaki itu dari kota. Celana jeans dan jaket yang berbahan jeans juga tas ransel yang cukup besar, seolah ia tamu dari jauh.
Karena lelah, lelaki itu tertidur di teras itu. Saat ia terbangun hampir pukul sebelas, ia pun melihat lelaki yang sedang memikul kayu bakar dan satu karung rumput. Lelaki itu harus turun dari motor karena rumput yang ada di karung terjatuh dari motor. Ia menarik karung itu dan menaikkan nya kembali ke atas motor. Dan lelaki yang tadi di teras cepat membantu lelaki yang berpakaian baju tani itu. Ia adalah Rohim yang baru pulang dari ladang.
"Terimakasih." Ucap Rohim.
Lelaki itu menganggukkan kepalanya. Ia tak tahu jika orang yang ia tunggu dari tadi adalah lelaki yang baru saja ia tolong. Saat ia kembali ke masjid. Tibalah waktu hampir memasuki shalat Dzuhur. Lelaki itu melihat anak-anak sibuk berlari ke arah masjid. Ada yang berebut menabuh beduk. Ada yang rebutan Microphone untuk mengumandangkan adzan.
Saat adzan telah berkumandang, puji-pujian pun telah di kumandangkan oleh anak-anak yang mondok di sana. Tampak beberapa jamaah yang tergopoh-gopoh menuju masjid. Mereka ada yang baru pulang dari ladang. Ada yang masih berjualan dan cepat bergegas ke masjid.
Rohim Pun masuk ke masjid. Ketika ia masuk ke masjid, tampak santri-santri nya menundukkan kepalanya. Lalu setelah waktu shalat selesai. Lelaki berpakaian serba jeans itu menanti pemilik pesantren Kali Bening di depan teras santri putra.
Tak lama Rohim muncul.
"Mencari siapa?" Tanya Rohim.
"Mencari pemilik pesantren ini." Ucap lelaki itu tak memperdulikan Rohim.
Rohim tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia tadi sudah diberitahu oleh Laila jika ada yang mencarinya. Rohim bahkan sempat menggoda Laila. Karena ia bukan pemilik pondok pesantren itu. Ia hanya merasa sebagai pengasuh pondok pesantren itu.
"Saya pengasuh di pondok pesantren ini." Ucap Rohim pelan dan mempersilahkan lelaki itu duduk di dalam ruangan santri putra.
Tiba di dalam ruangan itu, lelaki itu menghidupkan rokoknya. Terlihat dua orang santri Rohim membawa nampan. Beberapa santri yang lain cepat menyambut nampan itu. Mereka pun makan dengan mengelilingi nampan itu. Rohim pun meminta tamunya untuk makan di kediamannya. Namun lelaki itu lebih tertarik makan bersama santri-santri itu.
Setelah makan, lelaki itu kembali memaksa ingin bertemu pemilik pondok pesantren itu. Dan yang membuat ia kesal. Ia Kembali menunggu hingga malam. Saat tiba waktu Dzuhur. Ia pun segera diminta bertemu pemilik Pondok Pesantren itu. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat yang berkumpul disana adalah banyak orang atau bapak-bapak yang tadi ikut shalat Maghrib berjamaah.
Namun lelaki itu pun melongo kebingungan. karena Para jamaah menunjuk Rohim Rohim menunjuk ke arah jamaah.
"Lah saya serius ini Pak Rohim." Gerutu lelaki itu.
"Loh saya betul. Anda bilang tadi ingin bertemu pemilik pesantren ini. Maka mereka adalah pemiliknya. Lah wong yang bangun mereka. Dan tanah ini dibangun di Tanah Masjid." Ucap Rohim pelan.
Seketika beberapa Jama'ah tertegun. Mereka begitu salut akan kerendahan hati Rohim. Jika orang lain tentu akan sangat langsung mengatakan jika pesantren itu miliknya. Namun ia mengatakan ia hanya pengasuh dan pemiliknya adalah para jamaah.
"Bagiamana ini. Siapa yang benar.?" Tanya lelaki itu kesal.
"Lah sampeyan ini ada perlu apa memang nya mencari pemilik pesantren ini?" Tanya Mukidi tak sabar. Karena lelaki itu terlihat kurang sopan dengan sahabat juga guru bagi dirinya.
"Saya mau belajar di pondok pesantren ini selama satu bulan saja." Ucapnya tegas.
"Oala... Gitu saja kok sewot. Lah Yo ini gurunya, Kang Rohim " Ucap Mukidi.
Lelaki itu menatap Rohim tak percaya. Lelaki yang tadi sore ia anggap petani biasa, ternyata pengasuh dan pemilik tempat itu. Namun karena ia selalu merasa bahwa ia hanya sebagai pelayan untuk mereka yang mencari Ilmu maka ia tak merasa memiliki apa yang dibangun oleh para jama'ah untuk dirinya dan istri di tanah masjid itu. Sehingga ia Memiliki santri dan santriwati.
"Jadi anda kyai nya? Kenapa dipanggil Kang?" Protes lelaki itu.
Para jama'ah semakin kurang suka dengan nada bicara dan cara lelaki itu memandang Rohim. Mereka tak terima lelaki yang telah mengabdikan hidupnya di masjid dan desa itu hampir 10 tahun lamanya direndahkan oleh orang yang tak tahu asal usulnya.
"Maunya sampeyan ini apa? Mau belajar kok merendahkan orang yang mengajar?!" Mukidi mulai terlihat emosi.
Rohim pun mencoba menenangkan hati sahabatnya.
"Sabar kang. Saya yang salah. Saya harusnya dari tadi bertanya detail keperluan mas ini. Tapi saya yang lagi kurang sehat. Kurang fokus hari ini. Maafkan saya, ya saya Rohim dan saya juga istri mengajar di pesantren ini. Kalau anda mau belajar disini. Ya silahkan tetapi kondisinya yang begini." jelas Rohim pada pemuda itu.
Akhirnya malam itu pemuda itu pun menetap di pondok pesantren Rohim sebagai salah satu orang yang mondok. Bisa dibilang santri yang paling tua. Jika dilihat umurnya sekitar 25 tahun. Lelaki itu menghadirkan suasana baru di pondok pesantren Rohim. Ia menguji kesabaran Rohim dan Umi Laila.
Bahkan tingkah laku lelaki itu sangat membuat anak-anak didik Rohim serta jamaah merasa kesal. Hari kedua di sana, lelaki itu telah sibuk membuat para santri putra merasa risih. Ia makan cukup banyak dan menggunakan selimut atau bantal santri yang lain. Namun anak-anak SMP dan SD itu tak berani melaporkan pada Rohim dan Laila.
Sampai satu siang Laila pun harus membicarakan pada sang suami tentang kehadiran lelaki itu yang baru satu Minggu cukup membuat kesabaran Laila diuji.
"Mas...." Ucap Laila saat semua anaknya telah terlelap.