LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
67 Orang Tua Bisa Juga Durhaka


Hampir satu Minggu Rohim berada di tanah kelahirannya. Kabar bahwa ibunya sakit membuat Rohim pulang cukup lama. Ingin pulang bersama namun tak mungkin karena kondisi Mida putri ketiga mereka belum terlalu kuat untuk perjalanan cukup jauh.


Laila yang sedang memberikan ASI pada Mida harus dikagetkan dengan dering ponsel Motorola miliknya. Benda itu di tahun 2010 bukan lagi benda mahal. Karena saat itu telah muncul ponsel yang bisa mengirimkan pesan yang dimana para pengguna nya memiliki id masing-masing.


"Assalamualaikum." Ucap Laila sambil memeluk Mida.


"Waalaikumsalam." Ucap Rohim di seberang.


"Bagiamana keadaan Ibu Bi?" Tanya Laila.


"Sudah membaik. Sekarang sudah bisa berjalan. Mi, Abi mau diskusi sesuatu. Kemarin Abi sowan ke Kyai Rahmat. Disana akan dibuka kelas untuk cara mudah juga mahir membaca dan mempelajari kitab kuning. Ini Abi rada bisa jadi bekal kita kedepan untuk mentransfer ilmu-ilmu kita pada para santri kita." Ucap Rohim


"Silahkan Bi. Jika Abi ingin ikut mengambil sanad di sana dulu. Insyaallah Laila akan menjaga anak-anak disini."Ucap Laila sambil mengusap dahi Mida yang masih menikmati ASI nya.


"Abi yakin kalau Umi akan ridho. Tetapi yang Abi tanyakan cukupkah uang yang sekarang ada pada Umi untuk kebutuhan Umi dan anak-anak. Karena untuk mengambil sanad kitab tersebut, Abi harus disini selama 40 hari." Ucap Rohim khawatir.


"Abi tidak perlu khawatir. Istri Abi ini yang menciptakan Allah, begitupun anak-anak kita. Maka setiap makhluk Allah pasti ada rezekinya. Tinggal kita menjemputnya. Umi harusnya tanya, Abi masih pegang uang berapa?"


Sungguh sepasang suami istri yag begitu saling dukung mendukung untuk kebaikan. Sang suami yang mengkhawatirkan istri Istrinya justru mengkhawatirkan suami.


"Abi masih cukup untuk disini. Madu yang Abi bawa kemarin masih ada 50 liter lagi. Kalau itu laku bisa untuk biaya hidup Abi selama disini." Ucap Rohim mantap.


"Umi juga disini masih cukup. Nanti ini kan sudah masuk Ramadhan. Umi bisa menjualkan baju juka mukenah serta sarung yang Abi kirim kan kemarin. Nanti untungnya bisa buat makan." Ucap Laila meyakinkan suaminya bahwa ia akan baik-baik saja.


Sepasang suami istri itu menutup sambungan telepon dengan memeluk ponsel mereka masing-masing.


"Lindungi Istri hamba disana Ya Allah. Mudah-mudahan setiap lelahnya, setiap keringat yang ia teteskan untuk merawat anak-anak kami. menjadi pahalanya yang bisa ia banggakan kelak di hari akhir." Ucap Rohim yang lebih mengenal sang isteri.


"Semoga suami hamba dipermudah dalam segala urusannya dan saya diberikan kesabaran dalam menjaga anak-anak dirumah." Ucap Laila Pelan.


Saat Laila telah selesai memberikan ASI nya, Mida pun ia ajak untuk ke dapur. Namun dari arah depan terdengar suara dari seorang perempuan yang memberikan salam. Laila menjawab salam itu. Ia pun segera ke arah depan. Tiba di depan ia melihat Bu Toha.


"Begini Mi, Saya ini bingung."Ucap Bu Toha terlihat menunduk.


"Kenapa Bu?" Tanya Laila pelan.


Laila pun membaringkan tubuh Mida diatas kasur kecil yang berada di ruangan itu. Bu Toha menceritakan tentang bahwa dirinya sudah telat 3 bulan. Ia bingung dan malu karena usia yang sudah tak terlalu muda namun hamil lagi. Sedangkan anak Rendra masih berusia kurang lebih dua tahun. Ia menceritakan jika ia dan suami sebenarnya tak menginginkan anak itu. Laila pun di dalam hatinya beristighfar. Ia yang paham bahwa salah satu tanda-tanda akhir zaman banyaknya orang tua yang tidak sayang pada anak. Dan hari ini entah Bu Toha orang keberapa yang datang padanya dan berkeluh kesah akan kondisi mengandung lagi namun tak menginginkannya.


"Bu Toha, hati-hati. Salah satu Ridho Allah itu ada di anak-anak kita adalah dengan kita diminta lebih dulu ridho kepada anak kita, lantas bagaimana Allah akan ridho pada anak kita. Jika kita sebagai orang tuanya, belum lahir saja kita sudah menganggapnya musibah." Ucap Laila.


"Lah wong bapaknya Rendra itu sampai beristighfar dan mengucapkan innalilahi ketika saya bilang saya hamil Mi. Saya bingung. Dulu pas hamil Rendra juga begitu, saya lupa minum pil KB." Ucap Bu Toha masih terlihat bingung dan sedih.


Tanpa Bu Toha sadari ketika mereka sebagai orang tua tak menginginkan dan tak menyayangi anak-anak mereka maka Allah pun ikut tak akan senang pada buah hati mereka. Lantas bagaimana Allah akan senang dengan mereka. Laila pun mengatakan pada Bu Toha bahwa ada banyak pasangan yang tak memiliki anak tetapi begitu ingin diberikan anak. Namun masih diminta bersabar. Maka alangkah baiknya sambut anak dari dalam kandungan dengan mencintainya dan menyayangi dirinya sejak dalam kandungan.


"Bagaimana Allah akan menyayangi anak kita kelak, kalau kita sendiri tidak menyayangi mereka. Kita ini orang tua bisa jadi orang tua yang durhaka loh Bu, salah satunya ya itu tidak sayang pada anak." Jelas Laila pada Bu Toha.


Terlihat gurat kesedihan di wajah Laila. Ia tahu salah satu tanda akhir zaman dimana orang-orang tua banyak yang tidak menyayangi anak atau menjadi orang tua durhaka.


Laila mengisahkan pada zaman sahabat Umar bin Khattab.


"Bu, Pada zaman Sayidina Umar beliau pernah menerima keluhan dari seorang ayah. Sang Ayah mengeluh anaknya durhaka pada dirinya. Dan Sayidina Umar memanggil anak tersebut. Sehingga anak dan orang tua bertemu. Sayidina Umar meminta klarifikasi dari sang anak. Ibu tahu, sang anak karena di didik dengan tidak baik ikut mencela orang tuanya." Ucap Laila.


"Astaghfirullah... Lah terus bagaimana sahabat Umar ? Apakah memarahi anak tersebut Umi?" Tanya Bu Toha penasaran.


"Tidak. Sayidina Umar justru memarahi sang ayah, karena berdasarkan penuturan dari sang anak. Ayahnya tidak memberikan nafkah yang cukup pada ibunya dan tidak mengajarinya ilmu agama. Dimana intinya Sayidina menegaskan pada sang ayah agar menjalankan kewajiban sebagai orang tua, sebagai suami. Diantaranya memilihkan ibu yang baik, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan Al Qur'an. Maka jangan salahkan zaman sekarang kita kadang melihat anak-anak banyak sembarang pada orang tua." Ucap Laila.


Ia sering melihat di kehidupan tetangga dan beberapa jama'ah pengajian yang anaknya justru bersikap kasar pada orang tua. Kadang anak tak mendapatkan hak sebagai anak dari ayah dan ibunya. Hak sandang, hak pangan, hak untuk dicintai, hak untuk di perhatikan. Bahkan banyak ibu-ibu akan manis sekali dengan anak tetangga tetapi dengan anak sendiri berbicara selalu membentak, selalu melukai hati anak.


Bu Toha terdiam. Ia jadi khawatir. Rendra juga dulu kebobolan KB. Ia lupa minum pil KB dan lahirlah Rendra. Kondisi anak yang begitu rapat kadang sering membuat sang ibu marah, membentak buah hatinya. Padahal berpuluh-puluh kali anak balita di bentak justru tak akan mengerti kesalahan mereka melainkan mereka belajar cara menegur orang lain dengan cara yang sering ia lihat dan dengar dari sang ibu yaitu membentak dan menatap sinis pada orang tersebut.


Bu Toha menitikkan air matanya. Ia bersedih karena telah menganggap kehamilannya adalah musibah. Ia juga bersyukur karena memiliki tempat curhat yang bisa memberikan solusi dan pasti tak akan sampai kemana-mana hingga menjadi konsumsi publik.