LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 22 Laila mengenal Sosok Mukidi


Saat pagi hari, Rohim mengamati kamar Laila. Ia melihat kamar istrinya itu lebih nyaman dari kamar miliknya di Sumber Sari. Ia menghela napas pelan. Ia pun akhirnya berinisiatif mengajak sang istri untuk ke Sumber Sari pagi itu dengan alasan untuk bersih-bersih. Khawatir besok orang tua atau keluarganya ikut mengantar namun kondisi rumah yang berantakan atau berdebu membuat tak nyaman keluarga yang mengantar.


Pagi itu mereka masih menggunakan sepeda motor milik Abah Ucup untuk pergi ke Sumber Sari.


Tiba disebuah rumah yang terbuat dari papan dengan warna cat hijau. Rumah itu berada tepat di belakang Masjid Nurul Iman. Masih satu pekarangan dengan masjid. Mukidi berlari-lari dari arah dalam ruangan perlengkapan masjid tersebut. Ia yang baru pulang dari ladang segera ke masjid dan bermain game Onet untuk menghilangkan rasa lelah dan jenuh.


"Lah, kok cepat sudah kembali kang? ga bilang-bilang." Tanya Mukidi penasaran.


"Mau bersih-bersih dulu. Besok insyaallah saya pulang."


Mukidi manggut-manggut. Ia menyerahkan sebuah kunci pada Rohim.


Mukidi memberikan sebuah kunci karena selama sahabatnya di Sumber Waras, Ia yang bertugas untuk menghidupkan mesin air untuk mengisi tempat penampungan air wudhu. Dimana saklar mesin itu ada di dalam rumah Rohim.


"Terimakasih Kang. Maaf merepotkan mu." Ucap Rohim sambil berjalan ke arah rumahnya. Sedangkan Laila hanya menunduk tak berani mengangkat wajahnya.


"Ckckck.... pasangan serasi. Cucok. Ibarat kata botol ketemunya ya ketemu tutup botol. Mudah-mudah aku diberi istri yang juga begitu Pemali Gusti...." Doa Mukidi yang masih menatap punggung Rohim dan Laila dari arah belakang. Ia pun kembali ke ruangan tempat ia biasa bermain game.


Rohim mengucapkan salam. Satu kebiasaan nya walau tak ada siapapun di dalam rumah. Ia Selalu mengucapkan salam. Ia lalu membuka pintu yang juga akan berbunyi ketika di dorong.


"Kalau disini aman Dik. Soalnya yang suaranya begini cuma pintu dan jendela. Soalnya suami mu tak punya ranjang." Rohim masih berjalan membuka pintu kamarnya. Laila masih di ruang tamu. Ia melihat di ruangan yang sederhana itu tak ada kursi, meja. Yang ada hanya karpet berwarna biru dan sebuah rak yang berisikan kitab-kitab juga alat Hadroh.


Ia melihat di dinding ruangan tersebut banyaknya gambar ahlul bait atau biasa disebut Habib di Indonesia. Ia pun melangkah ke arah kamar. Ia melihat sebuah kasur yang hanya muat untuk satu orang, sebuah lemari kayu berukuran kecil juga satu meja kecil yang terdapat Al Qur'an dan tasbih di sisi tempat tidur itu.


Rohim membuka jendela kamarnya. Ia menyapu kasurnya menggunakan sapu lidi sambil membaca shalawat di dalam hatinya.


Rohim pun duduk di atas kasur butut miliknya yang hampir sepuluh tahun menemani dirinya di kamar itu.


"Beginilah kondisi suami mu ini Dik. Jauh dari kata nyaman kalau dibandingkan kamar mu, rumah mu yang sudah permanen semua. Bahkan tempat tidurnya hanya seperti ini. Mas belum punya uang untuk membeli yang lebih nyaman dan baik untuk menyambut mu Dik. Uang yang ku siapkan kemarin, ku tinggalkan pada Ibu karena masih dirumah sakit kemarin."


Ungkap Rohim pada Laila yang berdiri di sisi jendela. Ia melihat ke arah luar. Sebuah kebun Ubi kayu yang baru saja di tanam.


Laila pun duduk di sisi suaminya. Ia menatap wajah teduh suaminya.


"Rumah Rasulullah bahkan sangat kecil dengan hamparan tikar usang juga nyaris tanpa perabot."


Tatapan Laila pada Rohim membuat suami putri bungsu Abah Ucup merasa bahagia. Ia bersyukur bisa menemukan Laila sebagai istrinya.


"Mungkin salah satu sebab suami ku ini selalu terjaga pukul 3 karena salah satunya peran kasur ini. Karena Rasulullah pernah meminta Sayyidah Hafsah untuk mengembalikan lipatan tempat tidur beliau yang hanya terbuat dari kulit hewan dan didalamnya diisi sabut kurma. Saat itu Sayyidah Hafsah melipat tempat tidur Beliau menjadi empat agar bisa lebih empuk. Namun rasul tidak menginginkannya karena disebabkan empuknya kasur tersebut, Rasulullah terhalang dari shalat di malam hari." Jelas Laila kala Rohim membahas tentang kasur bututnya.


"Begini saja besok biar mas tambah karpet di kamar ini. Jadi biar mas tidur di karpet itu. Kamu di atas kasur."


Saat ia kembali ke kamar Ia melihat Laila merubah posisi kasurnya. Istrinya bahkan berbaring dengan posisi tubuh bagian atas berada di kasur. Sedangkan tubuhnya dari pinggang hingga bagian kaki ia rebahkan di karpet.


Rohim pun ikut berbaring dengan posisi miring sambil menatap wajah istrinya.


"Ternyata setiap masalah akan ada solusinya ya Dik. Sungguh kamu partner mas yang insyaallah akan menemani mas sama-sama di surga. Aamiin."


Sepasang suami itu menikmati tatapan satu sama lain. Laila yang tak ingin jika suaminya tidur di karpet. Ia lebih memilih untuk tidur bersama diatas kasur butut itu dengan bagian tubuh bagian atas daripada membiarkan sang suami tidur diatas karpet.


"Begini kita akan sama-sama terjaga dini hari Mas."


"Atau malah tidak bisa tidur Dik? Karena ada kamu?"


Sepasang suami istri itu pun menikmati masa-masa pacaran yang biasa dilakukan orang yang sedang jatuh cinta. Namun hal itu harus sedikit terganggu karena Suara khas Mukidi yang ngebas dan nyaring.


"Kaaaang.... Maaf ganggu. Air nya habis. Takut nanti mau wudhu ga ada air."


Rohim mengusap wajahnya dan tersipu malu. Ia bergegas keluar dan menuju ruangan depan.


"Yo. Tak uripke." Jawab Rohim sambil membuka pintu sedikit.


[Ya saya hidupkan.]


Mukidi tersenyum, ia Menggoda Rohim.


"OPO neng Kono diganggu Abah Ucup kang sampai harus ngungsi ke mari? Sabar kang. Besok malam tak doain hujan yang derasssss sekali biar Ndak ada yang ganggu pengantin baru. Hehe.. Maaf Lo Yo ganggu waktunya.."


Mukidi berjalan ke arah masjid sambil berjoget-joget dan bernyanyi riang. Tampak pinggul Mukidi bergoyang-goyang ke kanan- kekiri sambil kedua tangannya ia ayunkan seperti orang berjoget namun masih melangkah maju.


Ia bermaksud menggoda sahabatnya. Jika di Sumber Waras ada Waroh yang mengganggu waktu pacaran Rohim. Di Sumber Sari ada Mukidi.


"Uhuuuyyy... Jatuh cinta berjuta rasanya. Ingin selalu mesra berduaaaaa... Oooooo.... indahnya...."


Laila yang mengintip dari balik jendela kaca tertawa melihat suaminya di goda Mukidi. Dari sana Laila tahu bahwa Mukidi adalah sahabat Suaminya karena sang suami bisa tertawa lepas melihat tingkah lucu Mukidi.


"Hehehehe.... Uaaaseeemmmm sampeyan kang." Tawa Rohim pun membuat Laila menoleh ke arah Rohim yang berdiri di balik pintu.


"Hanya sebuah hubungan yang baik dan telah lama terjalin jika kalian bisa saling menggoda dan menghibur begitu. Siapa kang Kidi itu... Tapi lucu juga orangnya." Batin Laila sambil menatap suaminya yang sedang menunjukkan kedua lesung pipi nya karena tersenyum akan tingkah Mukidi.