LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 29 Mukidi Mendambakan Istri Sholehah


Laila dan Rohim sore itu pergi ke Bidan desa yang berada di sebelah rumah Bu Kadus. Ia ingin memeriksakan kondisi kandungannya. Tiba di sebuah bangunan milik desa, mereka pun masuk. Bidan di desa menyatakan Laila sepertinya hamil. Namun untuk memastikan ia menyuruh Laila menggunakan alat tes urin dan terlihat dari alah berbentuk lidi itu dua garis. Satu garis terlihat kabur tidak terlalu jelas.


Maka berita Laila hamil pun cepat menyebar ke telinga Ibu Kadus. Maka gosip Laila hamil di luar nikah kian mencuat, Karena bagi mereka sulit rasanya Hamil, sedangkan usia pernikahan baru satu bulan lebih. Bahkan Laila di bawakan ibu bidan dua alat tes kehamilan untuk di cek kembali esok pagi saat bangun tidur.


Pulang dari Bidan desa, Laila yang melihat ada Ubi rambat yang di bawa oleh orang tua yang anaknya mengaji di masjid tadi siang, ia merebus ubi-ubi tersebut. Uniknya ubi itu terdapat banyak macam warnanya. Seperti biasa, Rohim pun mengajar hingga pukul sembilan malam.


Saat malam hari, Mukidi selalu hadir di masjid. Karena rintik hujan. Rohim mengajak Mukidi ke teras rumahnya. Laila tak pernah menunggu diperintahkan suaminya untuk membuat kopi saat ada tamu atau teman suaminya. Ia langsung membuat kopi dan membawakan sepiring ubi yang berwarna warni tadi.


Mukidi yang masih galau karena ditinggal menikah Unet, dia pun berusaha mencari gadis pengganti. Ia pun menceritakan ada gadis di kecamatan sebelah yang cukup cantik. Suka ke. desa Sumber Sari karena membeli kayu bakar yang akan kembali di jual oleh nya. Ia gadis yang rajin mencari uang. Ia hanya tinggal bersama ayahnya yang tinggal sendiri.


"Orangnya cantik sekali Kang. Putih, tinggi, semok, pokoknya sempurna Kang." Ucap Mukidi.


Rohim tersenyum simpul. Mukidi pun kembali melanjutkan isi hatinya.


"Dia itu selalu menonton sepak bola Kang. Nah Minggu depan akan ada lomba di kecamatan dia kang."


"Lah terus?"


"Ya saya mau menjadi top skorer kang Biar Maya suka sama saya. Lah wong dia itu kata temen saya selalu hadir klo lomba bola."


Rohim hanya mendengarkan isi hati sahabatnya, ia tak ingin mengatakan langsung pada sahabatnya jangan pacaran. Baginya Mukidi sekarang itu jauh lebih baik. Dengan dia tak maksiat, menjalankan perintah Allah itu sudah cukup untuk ukuran orang biasa seperti Mukidi.


Ia hanya mengomentari isi hati sahabatnya.


"Kalau dia suka sampeyan, saran ku di lamar saja kang. Tapi klo bagus lagi setelah lamaran jangan lama-lama prosesnya. Langsung menikah."


Mukidi pun menikmati satu buah ubi berwarna kuning. Rohim pun mengingatkan sahabatnya.


"Hati-hati kang jangan pilih istri hanya karena cantiknya saja."


"Lah memang tidak boleh Kang klo pilih istri Karena cantik?"


"Boleh kang. Rasulullah juga pernah menjelaskan bahwasannya wanita itu dinikahi atas empat perkara. hartanya, karena kecantikannya, nasabnya, dan karena agamanya. Namun dalam hadits lanjutannya beliau berkata 'nikahilah wanita karena agamanya'."


Mukidi pun kembali mengambil satu buah Ubi dan setelah ia kupas kulitnya ternyata ubi itu berwarna Biru.


"Loh warna ubi nya warna warni ya Kang."


"Hehehe... Ya sama kayak perempuan."


"Loh kok sama kang? Ubi sama perempuan samanya dari mana kang?"


"Warnanya."


Mukidi garuk-garuk kepala, Rohim menyeruput kopinya sambil memandangi sahabatnya.


"Ya sama. Ini yang aku makan warnanya kuning. Sampeyan makan warnanya biru. Tapi kan sama-sama Ubi toh?" Tanya Rohim lalu ia masukan Ubi rambat berwarna kuning itu kedalam mulutnya.


"Lah iya. Namanya juga ubi jalar atau ubi rambat. Ya mau beda warnanya ya tetep Ubi."


"Hehehe.... Sama. Perempuan juga gitu kang. Ada mancung hidungnya, ada yang putih kulitnya. Ada yang baik akhlaknya, ada yang tidak. Tapi intinya ketika kita menikah dengan perempuan, Rasanya juga sama saja kang, mau orang bule, orang Jawa, orang sumatera. Hehehe..."


Mukidi makin menggaruk kepalanya.


"Langsung wae kang. Jangan pakek bahasa orang pintar. Mumet endasku."


"Yang bener?"


Rohim menoleh ke belakang dan melihat Laila yang masih membaca sebuah kitab.


"Ini istriku yang jawab. Dia perempuan, maka lebih pantas klo istriku yang kasih penjelasan."


Laila yang memang mendengar obrolan suaminya. Bagi dirinya selalu ada ilmu saat suaminya mengobrol bersama tamunya. Maka ia selalu memilih membaca sebuah kitab di balik dinding tepat dimana Rohim duduk.


Laila pun bergerak hingga duduk di sisi Rohim.


"Jadi kalau kang Mukidi sudah terlanjur menikah dan teryata pasangan kang Mukidi itu ga sama dengan pasangan orang lain. Bukan mencari pasangan baru apalagi membandingkan nya dengan istri orang lain. Solusinya Kang Mukidi bisa mendidik istri Kang Mukidi dengan sama-sama belajar. Dan itu butuh kesabaran dan doa." Ucap Laila pelan.


Rohim melanjutkan kalimat istrinya.


"Maka itu Rasulullah di akhir penjelasannya tadi lebih mengedepankan kita kalau pilih istri yang agamanya atau akhlaknya baik. Cantik itu akan hilang kang kalau sudah bertambah usia. Kaya itu ga jamin hidup bahagia."


Mukidi pun merenungkan apa yang dimaksudkan oleh Rohim. Ia pun kembali penasaran.


"Lah biar dapat istri yang akhlaknya baik?"


"Sampeyan harus jadi orang yang baik juga. Itu yang saya sering bilang sama sampeyan. Gali potensi dalam diri Sampeyan, saat akhlak sudah ada. Tinggal ilmu."


"Apa bisa kang saya punya istri Sholehah? Karena kata bang Rhoma hanya istri Sholehah yang akan tetap setia dari hidup sampai mati. Hehehe..."


Laila dan Rohim pun tersenyum menahan tawa karena Mukidi melantunkan baik dari bang Haji Rhoma irama.


"Bisa tidaknya itu Allah Kang yang menentukan. Tapi sampeyan harus usaha. Ibarat kata Usaha dan doa adalah kendaraan kita untuk dapat tujuan kita. Sedangkan hasil doa adalah hadiah dari Allah karena usaha kita tadi."


Laila pun kembali mengingatkan.


"Dan jangan khawatir kang. Perempuan pun mereka jika betul-betul paham bahwa membina rumah tangga adalah sebuah hubungan yang harus dilandasi untuk ibadah. Maka salah satunya, perempuan bisa selektif memilih calon suaminya. Karena ibarat suami adalah air dan istri adalah wadah air tersebut. Maka, tentu wadah atau pemilik wadah tadi akan memilih air yang bersih untuk diisi kedalam wadah tadi. Seperti saya memilih Kang Rohim. Bagia saya insyaallah, beliau bisa menjadi tauladan bagi anak-anak saya nanti karena akhlak dan ilmunya." Jelas Laila pada Mukidi yang hampir setiap hari selalu jadi di masjid untuk membantu suaminya sekedar menjemur sajadah, membersihkan masjid dan tentu ketika Rohim ada dirumah.


Rohim pun menggoda Mukidi.


"Wah, jangan manasin Kang Kidi Dik. Nanti pulang dari sini langsung mau lamar anak gadis orang. Hehehe..."


"Yo Ndak toh kang. Aku mau perbaiki akhlak ku dulu. Siapa tahu ada bidadari dunia yang mau sama aku yang hitam dan manis ini."


Entah mengapa kehadiran Mukidi selalu memberikan tawa pada sepasang suami istri yang mungkin tak sempat bercanda jika tidak di waktu pagi dan malam hari.


Laila melihat ada sisa ubi di ujung bibir Rohim. Ia reflek mengelap bekas ubi itu dengan jarinya. Mukidi pun tertunduk malu melihat adegan itu. Rohim tertawa melihat tingkah Mukidi.


"Waduh bikin kepingin cepat menikah ini Neng Laila. Wes tak pamit kang, Ndak aku di bikin iri...."


Laila pun tersenyum kepada Rohim karena sang suami menoleh ke arah Laila sehingga sepasang suami istri itu melihat Mukidi pamit. Dan seperti biasa, Mukidi kembali membuat Laila dan Rohim tertawa. Laila bahkan mengeluarkan butiran bening di sudut matanya karena melihat' tingkah Mukidi.


Mukidi meninggalkan rumah Rohim sambil merentangkan kedua tangannya ke arah langit. Sambil berjalan ia menatap langit dan bersenandung.


"Hanya istri yang beriman bisa dijadikan teman, dalam setiap kesusahan selalu jadi hiburan. Hanya istri yang salehah yang punya cinta sejati, yang akan tetap setia dari hidup sampai mati, bahkan sampai hidup lagi."


Pinggul dan punggung Mukidi meliuk-liuk seperti seorang biduan namun masih sambil melangkah meninggalkan kediaman Rohim.