LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
74 Meminta Pendapat Abi Rohim


Doa Ibu untuk anaknya disaat ia tak pernah meninggalkan kewajibannya shalat lima waktu, di dengar tepat di bulan kedua. Anak Pak Bowo dan Jelita nyaris tak pernah lagi menangis. Tanpa Pak Bowo dan istri sadari mereka sedang tak mengejar dunia. Mereka sibuk terus memperbaiki ibadah-ibadah mereka. Mereka juga gemar ibadah lain seperti Shodaqoh, melakukan santunan anak yatim, juga memberikan orang tua mereka yang setiap bulan. Rezeki mereka begitu mengalir deras. Penjualan mobil begitu lancar. Dan kembali Allah menambah rezeki Pak Bowo dan istri.


Saat istri Pak Bowo mengikuti tes PNS di salah satu instansi. Ia yang lolos sampai tahap wawancara. Ia bingung karena ada dua orang yang menemui mereka. Oknum dari instansi yang istrinya lamar. Merasa bingung harus memilih yang mana. Mereka yang merasa bahwa sosok Abi Rohim begitu luar biasa. Karena anaknya sembuh tepat sesuai prediksi Abi Rohim. Mereka lupa jika kesembuhan anak mereka karena ikhtiar mereka sendiri disamping itu karena doanya sang ulama juga.


"Kita menemui Abi Rohim saja." Ucap Pak Bowo.


Maka berangkatlah mereka ke pondok pesantren milik Abi Rohim. Tiba di Kali Bening. Mereka bertemu dengan Rohim saat menjelang malam. Ternyata Abi Rohim baru Saja pulang dari acara safari Maulid di kecamatannya.


"Lama tak berjumpa Pak Bowo." Tanya Abi Rohim pada Pak Bowo.


"Iya Bi. Alhamdulillah baru nambah cabang baru Bi." Ucap Pak Bowo yang memang baru membuka cabang showroom mobil baru.


Mereka cukup lama mengobrol seputar tentang agama. Id sudut ruangan ada Mukidi yang sebenarnya ada masalah yang ingin di ceritakan dengan sang Guru sekaligus sahabat. Ia tak berani itu duduk disana. Ia hanya mendengarkan. Baginya bukan hal yang sopan bagi seorang murid ikut nimbrung mengobrol dihadapan tamu sang Guru.


Setelah cukup malam. Pak Bowo pun menceritakan apa yang menjadi hajat nya dan istri ke Kali Bening.


"Jadi begini Bi. Istri saya Alhamdulillah lulus PNS. Tinggal tahap terakhir bisa ikut Diklat. Tapi, saya bingung. Ada dua oknum yang meminta untuk kelulusan istri. Yang satu minta 150 juta. Yang satu minta 200 juta. Saya bingung Bi. Yang mana yang lebih baik saya pilih." Ucap Pak Bowo yang bingung sudah beberapa hari ini akan memilih calo yang mana. Dalam kebimbangan dia bingung.


Rohim tampak menyeruput kopi kental hitam dan manis yang baru disajikan Lulu. Ia pun menjawab apa yang menjadi kegelisahan Pak Bowo.


"Kalau itu memang bagian Sampeyan. Sampeyan ikut alakadarnya saja. Rezeki sampeyan ga bakal diambil orang. Begitupun Rezeki orang ga mungkin pergi ke sampeyan. Termasuk istri sampeyan, tapi kalau bukan bagian nya Sampeyan. Ga bakalan jadi PNS istri Sampeyan. Mau habis ratusan juga juga ga bakal jadi. Karena bukan rezeki istri Sampeyan." Ucap Rohim yang kembali menikmati kopinya.


Suami Laila itu pun kembali melanjutkan apa yang menjadi pemikirannya.


"Kalau mengejar sesuatu yang bukan bagian kita, maka biasanya kurang barokah. apalagi dengan cara yang kurang bagus tapi sudah jadi tradisi. Bagusnya dua-duanya ga usah diambil. Ini pendapat saya. Kan Sampeyan tadi nanya pendapat saya." Ucap Rohim lagi yang sudah menikmati rokoknya.


"Lalu Bi, saya dan istri harus bagaimana?," Tanya Pak Bowo.


"Kalau mau mengabdi secara individu kita di Islam ini. Shalat lima waktu, dan ada waktu khusus dan amalan khusus untuk maksud kita tadi."


"Lalu bagaimana Bi, kondisi kami sudah di tahap wawancara." Keluh Pak Bowo.


"Kalau saya tetap fokus shalat lima waktu saja dibenarkan, hubungan sama orang tua,sama anak, semua di perbaiki. Nanti saya coba beri amalan yang dimana bisa mendapatkan keyakinan Gusti Allah pada kalian." Ucap Rohim.


"Kok pendek begini Bi?" Tanya Pak Bowo.


"Pak, Buk, amalan itu bukan panjang pendeknya. Justru amalan yang sepele, seperti bismillah atau hanya shalawat. Ketika kita mengetahui isi kandungnya. Dan kita tahu suatu kedahsyatan amalan kita tadi, maka bertambah rasa cinta kita pada Kanjeng nabi, pada Allah, pada guru-guru kita. Seluruh orang terdekat kita. Maka di buka kisah Nabi. Kisah nabi itu sangat singkat tapi sangat mengena dihati bukan? Bahkan dijadikan pelajaran bagi kita." Rohim menjelaskan dengan bahasa yang kira-kira dimengerti oleh orang awam.


Ia kembali menikmati kopi panasnya.


"Jagat raya ini, seluruh alam ini, bukan dunia tapi ya..Jagat raya ini ada Saturnus, bumi Bintang, tujuh lapis langit dan bumi serta semua isinya. Itu ketika Nur Kanjeng nabi Muhammad tidak ada. Semua itu percuma termasuk kita-kita ini, kalau tidak ada Nur Kanjeng nabi, jagat raya segini besarnya. Sak isinya termasuk kita-kita ini semua, Tidak bakalan ada." Ucap Rohim lagi.


"Maksudnya Bi?,," Tanya Pak Bowo bingung.


"Maksudnya, amalan sepele jika tahu khasiat nya maka kita akan bisa niatkan dan gunakan untuk keperluan apapun."


Akhirnya dengan penjelasan Abi Rohim tadi, mereka lebih mantap. Mereka berpamitan sambil menyelipi amplop, entah basa-basi atau dari hati, mereka juga tadi tampak membawakan makanan dna buahan.


"Kapan pun Abi ke kota. Silahkan mampir kerumah Bi." Ucap Pak Toha berpamitan.


Saat mereka pulang. Mukidi baru berani mendekat. Begitulah Mukidi, seakrab apapun dia pada Abi Rohim. Disaat ada orang lain atau jamaah lain. Ia tak berani untuk bercanda atau berbicara layaknya teman seperti saat ini.


"Lah kalau aku jadi mereka. Enak uang segitu banyaknya tak kasih sampeyan buat bangun pondok pesantren yang jelas-jelas banyak manfaatnya dan bisa jadi amal jariah ." Ucap Mukidi.


"Ya, kalau aku bilang begitu disangka aku ada maunya Kang." Ucap Rohim.


"Atau tak kasih orang tua ku semua kang...." Ucap Mukidi cepat.


"Masookkk.. Ini baru ajib... Pantes sekarang sudah punya paj3ro.... lah Bu Sri sampai turah-turah uangnya." Ucap Abi Rohim.


"Lah Iyo tho Kang... Didikan sopo dulu... Abi Rohim...." Ucap Mukidi sambil menirukan gaya Bu Tejo.


Hal itu tentu saja membuat Abi Rohim tertawa terkekeh. Laila yang mendengar suara tawa suaminya baru berani keluar.


"Sampeyan kalau lama ga kemarin, Abi Furqon ini Ndak bisa ketawa begitu Kang." Ucap Laila yang telah duduk di sisip Rohim.