
Hampir 30 hari sudah Rohim berada di kampung halamannya, ia menunggu kondisi ibunya sehat. Andai kondisi Laila tidak sedang memiliki bayi kemungkinan Laila yang akan pulang kampung untuk merawat ibu mertuanya. Namun karena Mida masih berumur berapa bulan membuat Rohim memutuskan untuk pulang.
Hari masih pagi namun kondisi cuaca yang Shubuh tadi hujan membuat banyak warga yang berprofesi sebagai petani tak berangkat ke ladang. Laila memanfaatkan waktu itu untuk berkeliling menjajakan barang dagangannya. Hal itu ia lakukan karena uang yang ia pegang sudah mulai menipis. Sedangkan hasil penjualan sawit dan karet dari tanah masjid yang sekarang di urus oleh warga dan akan di bagi tiga hasilnya, untuk kas masjid, Rohim, dan orang tersebut. Tak mencukupi kebutuhan dirinya dan ketiga anaknya.
Ayu yang sekolahnya masuk siang, maka Mida dititipkan bersama Ayu setelah Laila menyimak bacaan santriwatinya itu.
"Umi titip dik Mida dan Alya ya Nduk." ucap Laila sambil memasukan beberapa kilo Minyak goreng dan gula yang telah ia bungkus.
Ia membeli gula, minyak dalam jumlah banyak dan ia kemas sendiri sehingga ia mengambil untung lumayan untuk mencukupi kebutuhannya. Ia membeli di kota dalam jumlah banyak. Sehingga modal awalnya bisa lebih murah dari harga di warung. Laila paham betul ibu-ibu akan cepat sekali hitung-hitungan jika sudah bab uang belanja dan akan memburu belanjaan yang selisihnya seribu atau dua ribu.
Selepas kepergian Laila dan keranjang barang dagangannya yang ada minya, gula juga beberapa baju dan sarung untuk hari raya. Ia hanya punya waktu dua jam untuk berkeliling karena anak-anak didiknya akan pulang sekolah di jam 12 atau jam 1. Maka sebelum waktu itu ia sudah harus ada dirumah. Karena kalau tidak diawasi waktu makan, maka santri yang masih kecil akan kalah dengan santri yang besar.
Selepas kepergian Laila. Ayu menggendong Mida dan menemani Alya bermain masak-memasak di depan pondok, Ia pun belajar langsung bagaimana menjadi perempuan yang sering diceritakan oleh Uminya. Sungguh guru yang tidak hanya pandai berbicara teori tetapi langsung di terapkan dalam hidupnya.
"Kalian beruntung dik. Lahir dari rahim Umi. Umi kalian betul-betul inspirasi istri, ibu yang luar biasa hebat." Ucap Ayu sambil menggendong Mida yang biasanya akan tertidur ketika sudah di gendong.
Sudah beberapa rumah Laila berkeliling. Namun tiba di rumah Bu Sri. Ia justru di buatkan teh, di sajikan kopi oleh istri Mukidi. Bu Sri ternyata sedang pergi ke luar desa menginap beberapa hari karena ada undangan. Mukidi dan istri akan menyusul keesokan hairnya. Istri Mukidi itu masih kuliah di tingkat akhir. Ia akan ke desa ketika tidak ada jadwal bimbingan skripsi.
Mukidi pun mengobrol seperti biasa. Ia bahkan membeli minyak, gula dalam jumlah yang tersisa dan baju juga sarung ia beli untuk dirinya dan istri juga untuk Bu Sri. Istrinya hanya bisa diam namun ia yakin suaminya akan memberikan penjelasan nanti dari setiap apa yang ia lakukan. Sungguh bahagia Ajeng karena walau Mukidi bukan sarjana, bukan orang kantoran. Tetapi caranya memperlakukan dirinya dan orang tuanya itu dianggap betul-betul membahagiakan Ajeng dan kedua orangtuanya.
Hal itu tentu saja tak lepas dari peran Rohim dan Laila juga doa dan tirakat Bu Sri. Sebenarnya Mukidi memborong dagangannya Umi Laila karena ia ingin waktu yang sedikit bisa tetap mendapatkan ilmu dari umi Laila. Sudah menjadi ken!km@tan sendiri bagi Mukidi. Duduk bersama Rohim atau Laila dan mendapatkan petuah untuk bekal hidup agar menjadi benar dan mudah.
"Mi... Saya ini bingung lah wong belum pernah punya mertua. Baru ini, saya bingung bagaimana cara berinteraksi dengan mertua. Khawatir masih salah atau belum bisa benar." ucap Mukidi pada Laila.
Sebenarnya tujuan Mukidi bertanya bukan untuk dirinya. Melainkan untuk sang istri yang kadang susah untuk diajak pulang ke rumah. Karena alasan tak cocok dengan Bu Sri. Namun kesabaran Mukidi yang membujuk sang istri bisa membuat Ajeng mau pulang jika sedang tak ada jadwal bimbingan skripsi.
"Wah sama saja kang, Saya loh belum bisa berbakti sama mertua. Lah sekarang ini mertua juga lagi sakit. Abi nya Furqon malah harus merawatnya." Ucap Laila merendahkan diri.
Orang-orang tidak tahu jika saat ini tabungan miliknya dan Rohim telah tidak ada. Itu karena sudah di pakai buat Rohim ke ke kampungnya dan mengaji lagi untuk bisa mendapatkan ijazah mengajar salah satu kitab. Karena sudah biasa di kalangan santri untuk mengajarkan sesuatu kitab, mereka baru sanadan terlebih dahulu.
Sanadan adalah transmisi keilmuan dan pemberian ijazah (baik ijazah ilmu atau zikir) dari seorang alim atau ulama. Rohim sedang mengikuti sanadan sebuah metode pengajaran agar santrinya bisa cepat membaca kitab Kuning. Juga untuk anak-anak SD bisa membaca Al Qur'an dengan metode yang di sebut Yanbu'a.
"Saya ini sudah rindu dengan Kang. Rohim, masih lama pulangnya Mi?" Tanya Mukidi..
Begitulah Mukidi. Bibirnya sangat sulit memanggil Rohim dengan Abi seperti kebanyakan warga Kali Bening. Tetapi bukan berarti ia tak menghormati atau mencintai Rohim. Justru ia menghormati dan mencintai gurunya tersebut lewat tingkah lakunya, ucapannya yang selalu hati-hati ia jaga agar gurunya, tak mendapatkan cap jelek karena ia yang dianggap dekat dengan Rohim tetapi berkelakuan jelek.
"Mungkin satu Minggu sudah lebaran akan pulang. Sanadan nya sekalian satu lagi kata Abinya Furqon. Mumpung masih di sana." Ucap Laila.
Ajeng hanya diam memperhatikan Umi Laila. Ada keteduhan menatap perempuan yang sederhana dalam bermake-up dan berpenampilan tapi membuat setiap mata memandang akan merasa senang, nyaman dan ada keteduhan di wajah Laila.
"Memangnya di dalam agama juga ada mengajarkan hubungan mertua dan menantu?" Tanya Ajeng penasaran.
Ia orang kota, jarang ada waktu untuk ikut pengajian atau majelis ilmu. Ia hanya sibuk berorganisasi dan kuliah selama ini. Bahkan dirinya banyak belajar dari sang suami.
Laila tersenyum pada Ajeng.
"Sebenarnya konsepnya sama dengan bagaiamana kita pada orang tua kita mbak Ajeng. Didalam agama kita sikap bijak kita biasa disebut Akhlak.Termasuk dari menyingkirkan duri di jalan yang dapat membahayakan keselamatan orang lain sampai berkata yang benar di depan penguasa yang zhalim itu juga disebut akhlak yang baik. Maka Akhlak baik kita pada orang tua juga pada mertua sama saja. Salah satunya menghormati beliau." Ucap Laila.
"Kalau mertuanya tak menghormati kita?" Tanya Ajeng.
"Kita harus tetap menghormati sekalipun kita mendapatkan perlakuan tak menyenangkan. Karena beliau orang tua kita . Hal itu bisa luntur jika kita tak hanya menghormati tapi di tambah menyayangi. Biasanya nih hubungan mertua dan menantu akan tak baik jika sudah tak saling menghormati dan menyayangi. Dan ini dimulai dari kita yang usianya lebih mudah. Kalau mbak Ajeng Ingat Ospek. Kalau zaman saya dulu ada dua pasal yang diberikan oleh kakak senior." Ucap Laila.
"Pasal satu senior tidak pernah salah, pada dua jika senior salah kembali ke pasal satu." Ucap Ajeng sambil tersenyum mengingat masa-masa ospek.
"Ya betul. Maka kita bisa pakai konsep itu. Tapi selagi orang tua tak melanggar syariat Islam. Wajar setiap orang tua sama seperti kita punya pengalaman, cara pandang, cara bersikap berbeda-beda. Dan salah satu akhlak orang muslim itu yaitu yang penyayang atau kasih sayang sesam makhluk Allah. Kira-kira orang tua dan mertua makhluk Allah bukan?" Tanya Laila kembali.
Ajeng tersenyum. Ia betul-betul nyaman berbicara dengan Umi Laila ini.
"Lah kalau misal orang tuanya atau mertuanya tidak baik bagaimana Mi?" Tanya Ajeng lagi.
Laila melirik jam di dinding ruangan itu. Dan menjawab pertanyaan Ajeng.
"Kadang orang-orang cuma bilang jika tidak berkata 'Ah' sudah jadi anak Sholeh. Padahal memberi hadiah pada mertua atau orang tua, apalagi memberikan apa yang dibutuhkan orang tua saat kita dalam keadaan berkecukupan atau keluasan rezeki itu termasuk karakter anak Sholeh." Ucap Laila.
"Lah kalau belum mampu memberikan apapun karena ekonomi anak juga belum mampu?" Tanya Ajeng lagi.
Laila tersenyum. Ia ingat bagaimana dirinya setiap bulan masih tetap mampu memberikan sembako untuk kedua orang tuanya walau hanya sebulan sekali. Belum mengirim uang pada mertua untuk kebutuhan adik iparnya sedang kuliah juga kondisi mertua yang sudah sepuh.
Ia dan Rohim lebih bahagia harta di dunia mereka habis bermanfaat untuk orang tua. Karena itu lebih baik bagi pasangan suami istri itu daripada harta mereka habis untuk hal-hal tak bermanfaat atau lebih parah lagi bermaksiat. Toh konsepnya berbuat baik pada orang tua membuka pintu rezeki itu sendiri.
"Lah seperti saya ini. Saya cuma mampu mendoakan mertua saya. Tak harus lewat hadiah atau pemberian. Mendoakan agar orang tua dan mertua selalu diberikan kebaikan, kesehatan, kemakmuran, kebenaran, dan juga diringankan segala beban yang sedang mereka pikul, itu sudah termasuk akhlak yang baik bagi kita anak. kita memang harus saling mendo’akan. Karena berdo’a merupakan intinya ibadah dan senjata kaum muslimin" kembali Laila menjelaskan apa yang pelajari selama ia menjadi anak dan menantu.
Padahal ia selalu hadir tidak hanya dengan doa tapi juga biaya. Tanpa ia menunggu kaya. Karena ia khawatir kondisi usia yang sepuh membuat ia dan suaminya tak punya banyak waktu untuk berbakti pada mertuanya.
"Tetapi jangan sampai berlebih-lebihan juga ketika kita berbuat baik pada mertua sehingga seseorang melupakan orang tuanya sendiri. Intinya harus adil dengan keduanya agar tak tumbuh cemburu di hati salah satu dari mereka." Ucap Laila lagi.
Mukidi yang dari tadi diam. Ia juga tahu apa tahap selanjutnya namun ia tak ingin istrinya seolah-olah dirinya ingin agar ibunya sering dikunjungi. Maka ia seolah-olah bertanya untuk dirinya sendiri.
"Lah kayak saya ini Mi. Saya disini mertua di kota. Apa cukup lebaran saja mengunjungi mertua?" Tanya Mukidi.
Ajeng menoleh dan mendelik. Laila pun menahan tawanya.
"Sungguh proses agar menyayangi tadi bisa tumbuh kalau kita sering bertemu atau menjenguk dalam rangka bersilaturahim.
Dimana silaturrahim termasuk ibadah kepada Allah yang paling baik dan ketaatan yang memiliki berkah yang besar, serta yang paling umum manfaatnya di dunia dan akhirat. Ndak harus tunggu lebaran. Kalau masih bisa ditempuh tanpa kita meninggalkan tanggungjawab kita seperti mencari nafkah bisa diluangkan." ucap Laila lagi. Melihat jam hampir menunjukkan pukul 12 ia pun berpamitan.
Ia meminta Ajeng untuk singgah kerumahnya, mumpung berada di Kali Bening. Ajeng pun mengangguk. Saat Laila pulang dengan sepedanya. Ajeng bergelayutan mesra di punggung suaminya.
"Ternyata pantas suami ku ini begitu baik akhlaknya pada Ibu dan Ayah juga diriku ini. Umi Laila saja bisa begitu rendah hati dan duduk minum teh saja bisa berapa ilmu yang di dapat apalagi suami ku ini yang sudah lama mengenal Umi Laila itu." ucap Ajeng.
"Terus, benar tidak kalau Mas minta kalau lagi libur kamu menginap di sini. Ibu itu cerewet ya wajar. Lah wong namanya orang tua. Dengar sendiri toh tadi penjelasannya?" Ucap Mukidi yang sudah menutup pintu depan dan menguncinya.
"Lah kok di kunci?" tanya Ajeng.
"Dingin..." ucap Mukidi.
"Aku masih haid." Ucap Ajeng sambil tersenyum menggoda.
Mukidi hanya bisa menepuk dahinya tanda kecewa.