
Pagi itu Rohim yang sedang tidak pergi ke ladang karena akan memenuhi undangan dari pihak kecamatan. Ia masih dirumah karena menunggu pukul 10 pagi.
Laila yang sedang di dapur cepat mengambil jilbab di gantungan yang berada di balik pintu, karena mendengar suara motor. Ketika ia keluar, Ia cepat menyambut sang ibu. Saat berada di dalam ruang tamu Laila, seketika hati Bu Salamah langsung merasa sedih. Ia melihat kondisi anaknya yang begitu hidup apa adanya.
Tak ada yang berubah dari ruang tamu itu. Dari pertama ia mengantar Laila kesana hingga sekarang anaknya sedang mengandung. Bahkan dengan kehamilan yang masuk 6 bulan itu, Laia masih terlihat lincah. Ia segera ke dapur membuatkan minuman untuk ibunya yang berkunjung. Sungguh hati Laila senang karena ibu dan Kakaknya berkunjung ke kediamannya.
Rohim pun menyambut dengan wajah penuh senyum. Ia tak ingin menunjukkan muka masamnya, walau sebenarnya dari semalam gigi gerahamnya sakit. Ia berusaha untuk menahan rasa sakit tanpa mengeluh dan berwajah masam di hadapan sang ibu mertua. Ia khawatir jika ibu mertuanya merasa tersinggung karena ia bermuka masam atau mengeluh sakit.
Laila cukup aneh karena dari tadi suaminya berusaha memberikan obat pada giginya. Dan belum membeli obat, tapi bisa mengobrol dengan Bu Salamah bahkan bisa sedikit tertawa karena mendengar cerita Bu Salamah tentang Abah Ucup.
"Sungguh adab mu diatas ilmu mas. Saat sakit gigi dari semalam hingga pagi ini pun masih mampu kamu sembunyikan dari Ibu." Batin Lail sambil mempersilahkan sang ibu menikmati teh dan klecok atau pisang yang dicampur kelapa muda dan ketan di masak dengan dibungkus serta di kukus.
Bahkan saat ke dapur pun Bu Salamah kembali di buat miris. Kondisi dapur Laila masih sama. Ia tak banyak perabotan mewah. Masih perabot yang lama.
"Ya Allah Nduk.... kok ibu jadi malah sedih begini." Batin Bu Salamah.
Selama di kediaman Laila, Bu Salamah merasa malu. Ia tak menyangka dengan kondisi serba sederhana itu, Si bungsu justru terlihat bahagia. Tak ada keluh kesah. Tak ada raut sedih atau menyesal karena menikah dengan Rohim.
"Nduk, kamu Ndak pingin ikut tes PNS? itu ada buka katanya pak Yono. Kemarin dia nanya kamu mau daftar apa Ndak?" Tanya Bu Salamah.
Waroh yang dari tadi menemani hanya diam dan bermuka masam. Selama Laila menikah dengan Rohim. Kakak Laila itu tak pernah menegur Laila. Laila lah yang selalu mencoba menyapa dan berbicara dengan Waroh.
Laila melirik Rohim karena pertanyaan Ibunya. Ia tak ada niat untuk tes PNS. Ia hanya ingin mengabdi di sumber Sari menemani sang suami.
Rohim pun seketika merasakan jika orang tuanya mungkin merasa kasihan dengan kondisi mereka. Berharap jika dengan Laila bekerja, kondisi ekonomi bisa sedikit terbantu.
"Ya kalau mau di coba. Coba saja Dik. Lah wong ada ijazahnya." Ucap Rohim pelan dengan sebuah senyuman. Ia masih berusaha menahan rasa sakit giginya.
"Ya nanti Laila lihat dulu Bu." Jawab Laila.
Karena setiap ke Sumber Waras. Rohim dan Laila selalu membawakan satu pak rokok dengan gambar jambu merah di bungkusnya. Belum lagi segala macam jenis sembako dan jajan. Tak pernah anak dan menantunya itu kerumah nya dengan tangan kosong. Bahkan saat Rohim mendapatkan bingkisan mukenah yang bagus bahannya. Itu malah diberikan kepada dirinya oleh Laila. Katanya disuruh Rohim.
Yang membuat ia sebenarnya merasa aneh. Rohim selalu yang memberikan uang jika sedang berkunjung kerumah. Lelaki itu selalu bilang ada rezeki sedikit buat bapak dan ibu. Padahal uang itu kadang di beri orang pada rohim setelah ia membaca Al Qur'an di acara-acara pernikahan atau acara pemerintahan.
Begitupun dengan untuk memberikan kiriman ke keluarga Rohim. Guru ngaji itu Selakau melibatkan istrinya. Jika ia menjalin hubungan yang baik dengan keluarga Laila, maka Istrinya juga yang menjalin hubungan baik dengan keluarga dari pihaknya. Jika sudah mengirim uang. Maka Laila lah yang akan berbicara tau mengobrol dengan Ibu Rohim lewat via ponsel.
Sehingga Rohim dan Laila betul-betul menjadi lem perekat untuk kedua belah keluarga mereka. Sehingga yang dirasakan ibu Rohim, ia memiliki menantu yang pengertian. Menantu yang penuh kasih sayang. Sedangkan bagi Bu Salamah, Rohim juga menantu idaman. Menantu yang tidak pelit. Walau surga nya Laila tergantung Ridho Rohim, tak membuat anak bungsu Abah Ucup itu tak berbakti, tak biss berbagi walau hanya sekilo gula setiap bulannya.
Apalagi akhir akhir ini, kondisi ekonomi Abah Ucup yang menurun. Satu kilo gula, minyak atau sabun, shampo garam yang sering di bawa oleh Laila saat berkunjung, sangat terasa. Waroh saja sebenarnya sering menantikan kedatangan Laila, karena adiknya itu ketika berkunjung pasti membawa makanan atau jajan. Dan itulah sebenarnya tanpa Waroh sadari ia selalu menanti adiknya jika lama sang adik tak berkunjung. Ia bahkan sering SMS bilang kalau Abah Ucup nanya kenapa dia lama tak berkunjung.
Pagi menjelang siang, akhirnya Bu Salamah memutuskan untuk pulang. Ia tak tega jika harus meminta bantuan Laila, kondisi dirinya bahkan lebih baik dari sang anak. Akhirnya ia pulang bersama Waroh tanpa mengutarakan isi hatinya. Namun saat akan keluar dari rumah. Rohim menyalami Bu Salamah dengan sebuah amplop.
"Bu ini ada sedikit rezeki kemarin, kok ya mau nganter belum sempat. Kebetulan ibu kemari." Ucap Rohim sambil tersenyum.
"Apa Ini? Walah kok repot-repot... " Tolak Bu Salamah.
Ia mendorong lagi amplop yang diberikan Rohim pada nya. Walau pemberian hadiah terbaik anak pada orang tua pada anak adalah berbakti. Namun memberikan dalam bentuk materi juga wujud berbakti.
Akhirnya dengan sedikit malu, Bu Salamah menerima amplop itu. Ia tak tahu isi amplop itu. Sebenarnya Rohim pun tak tahu isi amplop itu. Karena semalam begitu selesai memimpin pembacaan doa di acara kenduri. Ia di berikan amplop oleh tuan rumah. Sudah menjadi kebiasaan Rohim, ia tak akan membuka amplop itu. Jika tak ia serahkan pada Laila, maka ia akan berikan pada orang yang kebetulan membutuhkan. Sedangkan Laila, ia akan menyimpan amplop itu dalam sebuah toples. Dam membukanya ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan atau satu kegiatan yang memerlukan dana. Seperti ketika akan pengajian ke kecamatan lain. Ibu-ibu tidak mau pergi ketika harus urunan. Maka amplop-amplop itulah yang dibuka oleh sepasang suami istri itu. Intinya mereka tidak pernah mengandalkan kebutuhan mereka dari uang yang diberikan orang pada mereka.
Mereka akan makan, dan membeli kebutuhan mereka dari uang hasil berkebun Rohim yang telah di bagi dua dengan masjid. Karena Rohim bekerja di ladang dengan Tanah yang merupakan milik masjid.
Saat tiba kerumahnya. Bu Salamah menangis karena isi amplop itu pas untuk membayar tunggakan motor Waroh.
"Ya Allah.... Ibu ridho kamu Laila. Ibu berdoa murah rezeki mu dan suamimu. Sehat,Slamet terus. Ibu doakan kalian dipermudahkan Gusti Allah setiap urusan kalian." Doa Bu Salamah dalam hati sambil menangis.
Tanpa disadari oleh Bu Salamah, doa tulusnya bisa menjadi jalan seorang anak dan suaminya betul-betul Bahagia, murah rezeki dan dipermudahkan segala urusan. Hal yang kadang tidak disadari banyak suami istri ketika berada di kesuksesan. Mereka lupa, ada peran doa orang tua, mertua yang juga berperan bukan karena kerjasama suami istri itu semata. Termasuk ketika tidak suksesnya rumah tangga bisa jadi ada hati dari orang tua atau mertua yang disakiti.