LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
Bab 90 Reuni Kali Bening


"Astaghfirullah... ada apa dengan Ayra,Fur." Tanya Umi Laila pada putra sulungnya.


Furqon hanya 'ndikluk'. Ia tak ada keberanian menjawab pertanyaan Umi Laila.


"Abi menunggu Umi di puskesmas,Mi." Ucap Furqon.


Umi Laila pun bergegas mengikuti Furqon. Ia mengurungkan niatnya untuk membesuk tetangga yang juga jamaahnya. Hujan sedari sore membuat Umi Laila tak terlalu risau saat Ayra tak kunjung pulang. Ia bahkan bingung bagaimana Kyai Rohim sudah bersama Ayra. Setahunya, Abi Furqon itu pergi menghadiri acara selamatan desa sebelah.


Sedangkan Ayra tadi berpamitan untuk ke Kali yang tak jauh dari rumah bersama Yeni, ditemani Furqon. Di dalam mobil, Furqon baru memberanikan diri menderita kejadian atau musibah yang menimpa Ayra. Putri almarhum Munir itu hanyut. Beruntung ia diselamatkan oleh seseorang, namun ia harus dirawat karena tubuhnya yag mengigil, lemah dan dahinya juga harus di jahit.


Tiba puskesmas, Ayra telah sadar. Sepupu Furqon itu sedari tadi hanya menangis saja. Ia menangis tanpa suara tapi air matanya kian detik kian deras membasahi kedua pipinya. Kehadiran Umi Laila baru bisa membuat Ayra mengeluarkan satu kata.


"Umi.... Hiks... Umi." Uca Ayra saat mendapatkan pelukan daru Umi Laila.


Umi Laila, Kyai Rohim, Furqon dan Yeni berpikiran jika Ayra takut di marah oleh Abi dan Umi nya. Namun keluarga besar Kali Bening itu tak tahu bahwa hati putri almarhum Nuaima itu sedang dilanda kegundahan. Namun ia malu untuk menceritakan nya. Hari demi hari, Ayra tampak murung, ia bahkan sedikit bicara, malam-malam lailnya kian hari kian terdengar lirih tangisan Ayra. Hingga satu malam ia menceritakan kegundahan hatinya pada Umi Laila.


"Semua itu musibah Ra, kamu tidak bisa menyalahkan dirimu. Semua yang terjadi di atas muka Bumi ini adalah atas izin Allah. Termasuk musibah mu." Nasihat Umi Laila pada putrinya.


"Lantas bagaimana bisa menjadi cermin ajaib Mi, jika cermin ini memiliki noda. Bagaimana bisa memantulkan gambar yang baik, sedangkan diri ini..." Ucap Ayra.


Nasihat demi nasihat. Didikan demi didikan yang diberikan Umi Laila pada Ayra membuat Ayra pun kembali fokus pada cita-citanya. Menjadi perempuan yang terdidik, kuat dan tangguh. Tidak hanya Ayra yang fokus, tapi beberapa alumni pondok pesantren Kali Bening yang telah menjadi kupu-kupu indah, kini ikut memberikan motivasi Ayra untuk fokus pada kualitas dirinya sebagai perempuan untuk kelak siap tidak hanya ilmu tapi juga mental.


Di bulan syawal, Kali Bening sedang ada pertemuan di sebuah Aula yang berada di Sudut lahan pondok pesantren. Sebuah acara pertama kali diadakan di pondok pesantren itu. Salah seorang penggagas acara tersebut adalah Ayu,salah seorang santriwati atau santri angkatan pertama Kali Bening.


Acara baru saja selesai. Puluhan peserta reuni itu tampak ada yang telah meninggalkan tempat tersebut. Tapi tidak dengan beberapa santriwati yang masih berada di sebuah Gazebo yang biasa di pakai untuk para santriwati sebagai tempat setoran hapalannya di Pagi hari.


Tampak beberapa santri duduk di Gazebo tersebut, menanti kehadiran sosok yang begitu ingin mereka temui secara pribadi atau di waktu khusus. Mereka memang di minta untuk tidak pulang oleh istri Kyai Rohim. Ia ingin bertemu dengan anak-anak didiknya yang telah lama tak berjumpa.


Seraya menanti kehadiran Umi Laila di tempat itu, mereka bercengkrama. Ayra merasa terhibur dengan adanya reuni tersebut, setidaknya membuat ia belajar dari kisah-kisah hidup mbak-mbak alumni santri ndalem Kali Bening itu. Begitupun dengan Furqon. Bagaimana tidak, ia dulu begitu sering diasuh oleh Ayu dan Lulu, santri pertama Umi dan Abi nya. Disaat Umi dan Abi nya masih hidup serba pas-pasan. Disaat kedua orangtuanya harus membuat kamar dadakan untuk Mbak Ayu dan Mbak Lulu. Santri pertama Kali Bening, santri yang menjadi saksi perjalanan rekosoh nya Umi Laila dan Abi Rohim.


Kini mbak-mbak santri itu telah menjadi istri orang. Ayu bahkan sedang mendirikan pondok pesantren bersama suaminya di pulau Sumatera Selatan.


Santri pertama Umi Laila itu mengucapkan terimakasih kepada Furqon. Sulung Umi Laila itu bingung dengan ucapan Ayu.


"Kulo ajeng sanjangaken matur nuwun kalih Gus Furqon." Ucap Ayu sopan.


{Saya mau mengucapkan terimakasih sama Gus Furqon.}