LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 30 Hujan Lebat Di Sumber Sari


Malam itu langit begitu kelam. Sejak sore cuaca cukup tak bersahabat. Angin di sertai suara guruh, membuat Sumber Sari cukup sunyi di waktu shalat Mahgrib. Hanya terdapat beberapa orang jamaah yang datang untuk menunaikan ibadah shalat jama'ah.


Rohim masih duduk di dalam masjid menanti shalat Isya. Hal yang biasa ia lakukan. Ia akan membaca wirid sambil menunggu waktu Isya.


Saat tiba waktu Isya, Rohim hanya melakukan shalat bersama Laila. Jama'ah yang lain segera pulang ketika selesai shalat Maghrib karena melihat cuaca diluar sepertinya akan hujan deras. Mukidi pun tak terlihat di Masjid. Lelaki itu biasanya akan datang saat shalat Isya. Namun malam itu, sahabat Rohim tak datang ke kediaman Rohim.


Saat selesai shalat. Rohim dan Laila yang baru akan keluar dari masjid harus sedikit berlari-lari ke arah belakang menuju rumah mereka. Hujan begitu deras mengguyur Sumber Sari. Saat tiba dirumah, suara petir terdengar silih berganti. Bahkan cukup memekakkan telinga. Laila bahkan berkali-kali harus beristighfar Karena mendengar suara petir itu.


Hujan disertai angin cukup kencang. Membuat genteng rumah Rohim dan Laila bergeser. Hal itu membuat hampir seluruh bagian rumah mereka bocor. Bahkan tempat tidur pun terkena tetesan air hujan. Laila menutupi kasurnya dengan karpet plastik yang di belikan oleh Bu Sri saat ia pertama ke Sumber Sari.


Rohim pun membantu istrinya memberikan beberapa ember, baskom dan panci di beberapa titik yang bocor. Hujan turun dengan derasnya. Angin pun. Bertiup dengan kencang.


Sungguh sepasang suami yang memiliki ketakwaan dan ilmu. Mereka tidak seperti kebanyakan penghuni rumah di Sumber Sari. Beberapa pasang suami istri sibuk memberikan penampungan air yang jatuh dari genteng. Sambil berbicara penuh kecaman, marah, jengkel kenapa hujan deras dan petir. Sehingga rumah mereka bocor.


Dua orang yang menjadi guru ngaji di masjid Nurul Iman sebelum itu, mereka berdoa dikalah hujan deras itu. Karena mereka tahu bahwa salah satu doa yang tidak akan ditolak yaitu doa ketika azan dan doa ketika ketika turunnya hujan," (hadis dari Sahl bin Sad.)


Bahkan hadis riwayat Abu Hurairah juga disebutkan pintu-pintu langit terbuka saat hujan turun.


Rohim duduk di bagian sudut ruang tamu disisi Laila yang juga sedang berdoa dalam hatinya. Disaat orang-orang gelisah karena hujan kian deras, petir kian menyambar. Kilat pun tampak silih berganti menunjukkan cahayanya.


Rohim dan Laila tidak gelisah saat hujan turun, mereka panjatkan doa kepada Allah SWT. Doa yang baik dan dipanjatkan kepada Allah subhanallahu wa ta'ala.


Laila berdoa dalam hatinya.


. اَللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيًّا وَسَيِّبًا نَافِعًا


Allâhumma shayyiban haniyyâ wa sayyiban nâfi‘â


Artinya, “Wahai Tuhanku, jadikan ini hujan terpuji kesudahannya dan menjadi aliran air yang bermanfaat,”(Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta)


Rohim masih memegang tasbihnya dan terus memutar biji tasbih kayu itu. Sehingga semakin larut, hujan pun tak kunjung Reda. Pukul telah menunjukkan jam satu malam. Rohim pun mengajak sang istri tidur. Laila pun mengatakan jika tempat tidur mereka bocor.


"Dikamar juga bocor mas. Itu Laila tutup pakai karpet plastik."


"Tabungan kita ada berapa dik?"


"Ada sekitar satu juta mas."


"Besok kita beli seng saja ya. Kita ganti seng. Mas khawatir kamu kalau lagi sendirian dirumah, Mas lagi tak dirumah."


"Mas lupa? Ada Allah dimanapun bersama kita. Maka jangan terlalu khawatir."


Mata yang mulai terlihat merah. Membuat Rohim pun melihat ke kamar. Ia pun tersenyum saat melihat kasur barunya di tutupi oleh sang istri begitu rapat dengan karpet plastik.


"Dik, Sekarang kita istirahat dulu. Ini sudah lewat jam satu."


"Disini saja ya mas. Laila ambilkan bantal dan selimut."


"Sini, kita tidur di kamar saja."


Laila pun dengan paruh mengikuti Rohim.


Tiba dikamar, Rohim membuka sedikit karpet itu. Ia meminta Laila masuk kedalam karpet itu. Senyum manis di wajah Laila membuat Rohim ikut tersenyum. Malam itu, sepasang suami istri yang selalu romantis di saat cobaan datang, selalu bahagia di kala masalah datang.


Sepasang suami itu tidur diatas kasur dan berselimutkan dengan karpet. Laila tertawa terkekeh-kekeh karena suaminya memegang karpet itu agar ada ruang untuk sirkulasi udara yang masuk. Belum lagi suara tetes air dari genteng yang jatuh ke atas karpet itu. Sehingga malam itu suami istri itu tidur di bawah karpet. Satu keadaan yang menjadikan mereka semakin romantis.


Sungguh cinta Rohim dan Laila membuat mereka tak pernah berkeluh kesah saat masalah menghampiri. Seperti saat malam itu, jika sepasang suami istri itu bahagia karena bermesraan di bawah karpet tersebut. Maka Mukidi justru sibuk membenarkan genteng dari arah bawah. Menggunakan sebuah bambu. Ia menggeser-geser genteng yang terlihat tidak pada posisinya. Karena di terpa angin kencang.


"Yang itu Di... geser dikit lagi .... kanan dikit Di..." Kata Bu Sri mengarahkan Mukidi.


Baru saja ia ingin membentak ibunya karena dari tadi sibuk mengarahkan dan ngomel saja. Namun pesan Rohim untuk tidak menyakiti hati ibunya, tidak boleh membentak ibu. Membuat Mukidi cuma bisa menyumbat mulutnya dengan rokok.


"Jannnn.... Mak. Mak... Kok Yo cerewet e pol."


Batin Mukidi. Jika Mukidi sibuk membenarkan genteng, Bu Sri sibuk mengoceh dengan mengarahkan anaknya. Di kediaman Abah Ucup justru lebih ramai dari pasar yang biasanya ada penjual obat herbal.


"Eala Bah. Bah. Kan sudah dibilang dari dulu. Mbok di ganti seng. Kalau sudah begini semua bocor. Kita ga bisa tidur. Ini juga hari kok hujaaaan terus ga sudah-sudah dari tadi. Ndak tahu apa orang mau tidur." Gerutu Waroh karena ia harus menemani ibunya meletakkan beberapa ember di bagian yang bocor.


"Mulut mu itu Roh. Hujan itu Rahmat. Rezeki. Nanti kalau kemarau sibuk minta hujan. Dikasih hujan ngomel!" Gerutu Abah Ucup yang ikut mengelap air yang membasahi lantai Menggunakan kain pel.


"Lah salahnya. Kok ya pakek angin segala. Kan gentengnya jadi geser Pak."


"Oalaa... mulut mu iku. Jadi kamu mau ngatur Tuhan? Hidup mu wae susah diatur kok mau ngatur Tuhan."


Waroh yang merasa kesal pun memanyunkan kedua bibirnya sambil menirukan gaya Abah Ucup yang memarahinya.


"Nyenyeyenye...." Suara Waroh pelan.


Abah Ucup mengelus dadanya.


"Ya Allah... mudah-mudahan anak ku ini di beri kesadaran, biar tidak buat aku darah tinggi terus. Lama-lama bisa mati aku lihat kelakuan kamu itu Roh!" Abah Ucup duduk di kursi yang di depannya ada panci untuk menadah air yang bocor.


Abah Ucup memerintahkan Waroh untuk membuat kopi. Namun sudah menjadi tabiat Waroh harus di suruh lebih dari satu kali baru mau melakukan apa yang di minta orang tuanya.


Waroh yang berjalan ke arah dapur, tiba-tiba saja kakinya terpeleset. Dan ponsel Nokia 6600 nya masuk kedalam mangkuk yang telah penuh air.


"Waaaaaa.....! Hp Ku! Hiks...."


Waroh pun menangis dan menjerit layaknya anak kecil yang tak dibelikan jajan. Giliran Abah Ucup tertawa lepas melihat putri sulungnya menangis.


"Kapok! Syukur! Rasakno... Kui akibat melawan wong tuo. Aku ga mau benerin apalagi beliin hp kamu lagi! Ben mikir! Hehe...."


Bu Salamah hanya diam melihat suami dan anaknya selalu saja berdebat.