LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 10 Waroh, Laila dan Mukidi


Malam hari saat Laila penasaran tentang map plastik yang biasa ia letakkan di laci kamarnya. Ia ingin menyimpan ijazah S1 nya bersama dengan ijazah SD,SMP dan SMA yang ia simpan di laci itu.


"Bu, map plastik yang di laci kamar ku dipindah kemana ya?"


Bu Salamah terdiam, ia bingung akan menjawab apa. Yang Ia tahu map dan isinya juga baju yang ada di lemari kamar Laila sudah di bakar oleh Waroh. Walau hanya ijazah SD yang bisa diselamatkan. Lainnya terbakar. Bahkan ijazah SMA Laila tak tersisa.


"Em...."


Baru saja Bu Salamah akan menjawab pertanyaan Laila, Abah Ucup yang baru masuk ruangan itu pun menjawab pertanyaan Laila cepat.


"Abah simpan Nduk. Sini ijazah mu biar Abah simpan. Biar Abah gabungkan dengan berkas lama."


Waroh yang di kamar mendengar jika Abahnya menutupi kejadian sebenarnya. Ia keluar dari kamar dan duduk di depan tv. Ia membesarkan volume televisi. Laila yang tak mengetahui kejadian sebenarnya. Ia tak merasa ada yang berbeda dengan Waroh. Karena sudah seperti biasanya kakaknya itu akan biasa saja menyambut kepulangan dirinya.


Saat hari mulai larut malam, Waroh mendatangi kamar Laila. Gadis yang baru saja menyelesaikan strata satunya itu kaget karena pintunya di ketuk cukup keras. Ketika ia membuka pintu itu sudah ada Waroh yang masuk ke kamarnya dengan kasar.


"Dengar ya Lai. Kamu pokoknya tidak boleh menikah sebelum aku menikah! Pokoknya titik!"


Laila tertegun mendengar perkataan kakak perempuannya. Ia bingung, karena besok malam adalah waktu Rohim dan pak Toha akan tandang ke rumahnya. Dan ia akan memberikan jawaban. Dan dalam pemahaman dirinya tak ada pacaran dan tak ada juga ta'aruf tetapi dalam waktu yang lama.


"Tapi Abah minta saya menerima lamaran kang Rohim kak."


Waroh melihat meja rias Laila. Ia melihat sebuah buku kecil disana. Terlihat catatan tapi bertuliskan huruf-huruf Arab gundul. Kembali ia letakkan kitab kecil itu diatas meja itu.


"Kamu tahu Ndak Rohim itu ga punya pekerjaan. Cuma guru ngaji tok. Ganteng ya enggak. Terus cuma tamatan SD. Nanti kamu nyesal kalau menikah sama dia." Ujar Waroh sambil melihat-lihat isi lemari Laila yang telah tersusun rapi di lemari. Ia melihat koleksi baju adiknya.


"Saya ga lihat harta atau wajahnya kak. Kalau konsep berumahtangga menurut dia sama dengan saya sama. Maka insyaallah itu cukup."


"Halah... mbok pikir nikah cuma modal agama tok bakal kenyang? kamu ga malu nikah sama laki-laki yang cuma tamat SD sedangkan kamu sarjana. Apa kata orang?" Kembali Waroh memprovokasi agar Laila menolak lamaran Rohim.


Laila pun menjawab pelan pertanyaan Waroh.


"Insyaallah saya tidak akan pusing mendengarkan pendapat orang lain. Tak apa kalau calon suami ku bukan sarjana, asal akhlak nya baik. Kita hidup didunia ini justru akan selalu di nilai orang lain kak. Tapi aku Ndak bakal pusing. Toh yang aku cari ridho Ilahi bukan ridho mereka yang suka ghibahin orang."


"Yo wes. Terserah kamu. Tapi satu, kalau kamu mau tetap menerima Rohim itu. Ndak boleh ada pesta. Kamu ijab Tok. Aku ga mau kamu pesta."


"Saya akan terserah Abah dan Ibu. Ndak mungkin saya ngatur orang tua."


"Lah kalau kamu pesta, nanti semua orang tahu kalau aku dilangkahi. Pokoknya ijab Tok. Terus aku minta denda pelangkahan hp Nokia 6600." Ujar Waroh sambil mengangkat satu jarinya ke arah Laila.


Laila melongo tak percaya tentang masalah pelangkahan itu. Disamping itu harga ponsel yang sedang Hits di tahun 2000 an itu harganya masih diatas dua jutaan. Bukan barang yang murah. Laila yang kalau memang menikah, ia tak akan meminta mahar yang memberatkan calon suaminya. Tetapi ini sang kakak justru meminta suatu pelangkahan yang begitu besar.


"Kak. Kang Rohim itu kakak bilang cuma guru ngaji. Kasihan kalau kakak hp yang harganya masih mahal."


"Halah! pokok e titik! nek ga koe ga Entok rabi nek aku urung rabi!"


Waroh meninggalkan kamar Laila. Sedangkan si bungsu Abah Ucup hanya menghela napas pelan.


Saat Laila sedang memikirkan bagaimana jika ia menerima lamaran Rohim, sedangkan kakaknya ingin pelangkahan. Jika masalah pesta pernikahan, Laila memang tak terlalu suka pesta. Apalagi di desa nya menggunakan sebuah musik atau orgen.


seorang laki-laki yang tak lain adalah Rohim sedang membuka celengannya. Hampir tiga tahun ia rajin menabung dari hasil ia bekerja di kebun pak Toha dan mengaji. Maka ketika celengan itu penuh, ia akan memasukannya ke dalam rekening. Malam itu ia menghitung lembaran uang itu. Setelah selesai ia menyimpan uang itu di dalam dompetnya.


"Alhamdulilah terkumpul hampir sepuluh juta jika digabungkan dengan yang ada di rekening. Setidaknya aku bisa buat ajak Ibu kesini." Rohim bersyukur karena jika memang ia menikah, ia ingin pernikahan itu dilakukan dua Minggu lagi. Ia pun akan pulang terlebih dahulu untuk menjemput kedua orang tuanya serta adik satu-satunya.


Rohim mengirimkan pesan ke ponsel tetangganya. Dan ia pun. telah mengirim sejumlah uang ke rekening bapaknya. Serta minta doa dari bapak dan ibunya bahwa besok malam ia akan menemui perempuan yang ia lamar. Jika diterima, Rohim akan pulang satu Minggu lagi untuk menjemput ibu dan bapaknya. Agar bisa jadi di acara ijab qobulnya.


Ia menatap dinding papan yang ada disisi kanannya. Sebuah kalimat yang ia tulis kala ia kehilangan uang tabungan dan tak punya apa-apa. Sehingga hampir satu Minggu ia mencoba berpuasa dan hanya memakan singkong. Hingga kini kalimat itu yang hanya mengingatkan Rohim bahwa hidup hanya sementara dan untuk ibadah. Serta mencari bekal untuk hidup yang sebenarnya.


...Hidup Senang Mati Susah...


...Hidup Susah Mati Senang...


...Hidup, Susah, Mati, Susah...


...Hidup Senang Mati Senang...


...(روهيم)...


"Semoga kamu memang yang Allah jodohkan untuk ku. Dan kita bisa menjalani hidup ini dengan tujuan hanya satu, beribadah kepada Allah."


Rohim pun mulai memejamkan kedua matanya. Namun baru ingin memejamkan kedua matanya. Pintu di ketuk seseorang yang tidak lain adalah Mukidi.


"Assalamu'alaikum. Kang... Kang...."


"Wa'alaikumussallam. Tunggu sebentar kang."


Rohim berjalan menuju ruang depan dan membukakan pintu. Saat ia membuka pintu tersebut, ia dibuat terkejut. Mukidi berlinang air mata.


"Enten opo kang?" Tanya Rohim penasaran.


[Ada apa Kang?]


Mukidi tak menjawab. Ia mengambil kunci kamar peralatan yang tergantung di sebelah jam dinding.


Rohim menggaruk kepalanya. Ia mengikuti sahabatnya. Mukidi bukan lelaki yang cengeng. Jika sampai sahabat nya itu menitikkan air mata. Maka dapat ia pastikan bahwa sang sahabat ada masalah.


Tiba di depan komputer. Mukidi menyalakan komputer. Saat ia mulai memainkan game Onet tersebut, berkali-kali terdengar kata 'Ow... Ow....'.


Masih menghadap layar komputer Mukidi menceritakan jika ia sedang patah hati. Unet gadis penjual tempe ternyata di lamar oleh tetangganya yang pulang dari Jakarta. Karena lelaki itu pulang dianggap sukses, lantas orang tua Unet menerima lamaran lelaki itu. Surat dari Unet pun di berikan Mukidi pada Rohim. Rohim membaca surat itu.