
...بسم الله الرحمن الرحيم...
"Perjuangan Ku Menjadi Penghapal Al Qur'an"
Mbak Laila....
Tidak... Rasanya aku ingin sekali....
Memanggil beliau dengan أمي
Teruntuk Umi ku.
Semoga Allah senantiasa memberikan rahmatnya untuk njenengan Umi....
Satu bulan ini aku sebenarnya menunggu janji Umi.
Umi bilang akan mengajak ku untuk melihat Pasar malam. Mengajak ku untuk menaiki permainan yang kata teman-teman sekolah ku seru sekali.
Setelah aku hapal juz dua. Dan aku sudah hapal juz dua. Tetapi hari demi hari aku menunggu janji Umi pada ku. Sesibuk itukah Umi... Bahkan dua bulan lalu saat pasar malam itu ada. Umi juga tak mengajak ku. Padahal aku sudah bersungguh-sungguh menghapal Al Qur'an.
Aku paham Umi. Biaya kami disini, kadang sering menggunakan uang umi pribadi. Uang yang dikirimkan oleh orang tua kami jika dihitung untuk makan sehari tiga kali selama sebulan. Itu sudah tidak mungkin mencukupi. Tetapi kami selalu merasa kenyang, dan nyaman.
Belum lagi Umi yang selalu menolong orang lain. Umi selalu mengatakan ada dan bisa.
Bahkan aku yang bodoh ini sering iri dengan Mbak Ayu. Mbak ayu selalu bersama Umi untuk berbelanja naik motor. Aku bisa Mik jika harus naik motor. Tapi aku takut Umi tidak ridho, karena aku hanya ingin ridho umi selama aku mencari ilmu. Agar Allah juga Ridho pada aku yang bodoh, katrok ini Mik.
Maafkan aku yang anak ndeso, anak pendalaman ini Mik. Aku dari kecil ikut orang tua tinggal di kebun. Maka tinggal di desa saja sudah bersyukur. Dulu tidak nyaman karena banyak aturan dari Umi. Tapi sekarang Anak pedalaman mu ini, bersyukur karena hampir setiap hari umi mendoakan kami agar menjadi anak yang Sholeh. Aku pernah mendengar doa umi di tengah malam Mik.
Bahkan Umi selalu mendahulukan kami, bahkan Dik Furqon pun selalu menjadi yang nomor sekian. Dan sekarang saat pasar malam itu sudah ada di desa kita Mi....
Umi malah jatuh sakit...
YA ALLAH..... AKU SEDANG MEMPERJUANGKAN kitab yang isinya kalam-kalam Mulia Mu.
Maafkan Aku yang ndeso, katrok ini. Aku cuma penasaran apa rasanya naik wahana permainan di pasar malam. Bagaimana suasananya pasar malam.
Dan Kebetulan yang menjanjikan adalah orang kehormatan ku (Guru Ku, Ya Allah....)
Mohon Ya Allah.
Barokahnya Kalam Mu
Yang sedang susah-susah nya aku perjuangkan.
Ditengah-tengah teman-teman sekolah yang Serba Ada.
Serba keturutan.
Mohon Kabulkan lah Ya Allah
Ya Rohman....
Ya Rohim...
Ya Allah, sembuhkan Umi ku, Sehatkan beliau. Aku tidak akan mengharapkan pasar malam dengan segala keindahannya. Aku ingin Umi ku sehat dan bisa kembali Ya Allah....
Umi...
Aku cinta padamu.
Jika di dunia Ini, aku belum bisa membalas jasa mu.
Insyaallah, Al Qur'an yang Umi ajarkan dan tanamkan pada ku. Akan menjadikan Penolong, pembela dan kebahagiaan Umi di akhirat nanti.
Aku akan semangat sekarang belajar dan bersungguh-sungguh... tanpa mengharapkan iming-iming apapun.
Biarlah Ridho orang tua, ridho Umi dan Ridho Allah saja yang akan ku harapkan.
Dari aku yang mencintai Guru Ku.
Umi Ku...
Terimakasih Ya Allah telah mempertemukan aku dengan Umi Laila.
*Kenapa Mbak Laila tak mau di panggil Umi. Ingin sekali bibir ini memanggil mu Umi, Mbak.*
Lulu menggenggam erat penanya. Ia tak mampu melanjutkan isi hatinya. Dadanya bergoyang. Satu tangannya menutupi mulutnya. Ia tak ingin ada yang tahu jika ia sedang menangis.
Satu adab, cinta dan semangat yang dimiliki Lulu membuat dirinya begitu merasakan jika dirinya saat ini menjadi lebih baik. Itu karena sosok Laila.
Sedangkan Laila hanya berusaha memberikan ilmunya. Untuk urusan mencerdaskan anak-anak didiknya. Ia pasrahkan pada Gusti Allah dari setiap doa-doa terbaiknya untuk peserta didiknya.
Ia dan Rohim tak pernah ingin dipanggil ustadz, ustadzah. Atau Abi dan Umi. Mereka juga tak sibuk mencari santri. Karena untuk memiliki 12 anak didik seperti sekarang saja mereka tak pernah membayangkan apalagi sampai memiliki pesantren. Rohim dan Laila hanya menjalankan apa yang guru mereka amanat kan. Agar ilmu yang mereka miliki, mereka transfer ke masyarakat, dan mereka yang ingin mencari ilmu.
Sangat mudah bagi Gusti Allah untuk memuliakan hambanya apalagi sekedar mewujudkan mimpi Lulu yang hanya ingin pergi ke pasar malam. Tanpa Lulu sadari, ketika hatinya tak ingin lagi mengharapkan imbalan dunia. Maka dunia itu sendiri mengejarnya.
Keesokan malam, Pak Toha dan istri mengajak anak-anak itu ke pasar malam. Mereka yang melihat ketekunan dan giatnya anak didik Rohim dan Laila itu masih mengulang hapalan mereka disaat Rohim masih sibuk menemani istrinya di rumah sakit.
Dan selama di pasar malam itu. Lulu hanya bisa meneteskan air mata. Disaat sebelas temannya merasa Bahagia dan tertawa menikmati wahana permainan. Lulu justru tak berhenti mengeluarkan butiran embun dari sudut matanya. Ia malu pada Gusti Allah. Bahkan ada bahagia dan sesal dihatinya.
"Ya Allah.... andai pahala ku gugur karena Engkau wujudkan mimpi ku yang ingin ke pasar Malam ini. Aku menyesal ya Allah.... Umi.... Apa yang sering umi bilang betul ternyata.... Hiks... Hiks..." Lulu pun bermonolog dalam hatinya yang sedang terharu karena Allah mewujudkan mimpinya di saat Orang yang kagumi dan sayangi justru sedang terbaring sakit.
Bu Sri dan Bu Toha juga bingung apa yang membuat Lulu dari tadi menangis. Mereka mengira jika Lulu teringat Laila yang sakit.
Malam itu Lulu kembali belajar jika apa yang dikatakan oleh Laila betul.
"Ndak usah sibuk mengejar dunia. Fokus saja pada bekal kita untuk akhirat. Maka dunia akan mengejar kita. Salah satunya belajar bersungguh-sungguh." Ucap Laila pada Lulu yang mulai malas-malasan untuk menghapal ayat-ayat Al Qur'an.
Malam itu Lulu melihat Allah Maha Besar. Allah Maha Berkehendak. Termasuk Allah menghendaki agar Laila dan Rohim membaca isi hati dari anak didiknya. Rohim yang baru saja akan berangkat ke kota, ia bergantian dengan Bu Salamah dan Abah Ucup yang menunggu Laila.
Kedua mata Rohim melihat selembar kertas yang di lipat dan berada di sela-sela Al Qur'an yang biasa Lulu gunakan untuk menghapal. Rohim mengambil surat itu. Si penulis surat telah berangkat ke sekolah. Rohim pun melipat kembali surat itu. Ia tersenyum, setidaknya ia bisa membawa surat itu untuk menghibur istrinya dan menjadi semangat agar istrinya itu cepat sehat kembali dan mendampingi anak didiknya yang merindukan dirinya.
Hampir satu Minggu Laila berada di rumah sakit. Hanya Rohim dan Bu Salamah yang akan bergantian menjaga Laila dan Buah hatinya yang mereka beri nama Shidqia Alya Nihayah. Dan Laila memanggil anak keduanya itu dengan nama Alya.
Saat tiba dirumah sakit, malam harinya. Saat selesai menyuapi Laila makan. Rohim menutup tirai yang berada di sisi kirinya. Ia memberikan selembar kertas dan membukanya tepat di wajah sang istri.
"Dik. Kamu harus baca ini. Buat semangat kamu harus untuk sembuh." Ucap Rohim sambil tersenyum sehingga menimbulkan lesung pipi di kedua pipinya.
Laila membaca bait demi bait tulisan tangan Lulu. Anak bungsu Pak Slamet itu baru-baru di titipkan ke Laila selalu menggunakan kaki untuk menyerahkan barang jika sedang memasak di dapur. Dan Akan selalu bermuka masam saat tugasnya untuk mengerjakan piket. Namun hari demi hari, kesabaran Laila dan atas izin Allah anak Pak Slamet dua duanya bisa berubah 180° baik akhlaknya dan bersungguh-sungguh belajar.
Laila pun menangis sambil membaca surat itu. Genggaman erat pada tangannya membuat ia menoleh ke arah Rohim.
"Insyaallah, dzohir dan bathin ku. Untuk mereka yang ingin terus belajar mas. dzohir dan batin ku Untuk Santri-santri ku." Ucap Laila dengan suara lirih.
Ia bertambah semangat untuk sehat. Ia akan selalu positif thinking. Ia yakin jika Allah memberikan sakit tentu ada obatnya. Maka saat ini mungkin ia sedang di siapkan Allah untuk lebih sehat lagi menjadi pendidik bagi anak-anak didiknya.